Ellen disuruh menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam oleh pamannya sendiri namun ellen baru menyadari bahwa pria yang diluarnya dingin didalamnya sangat hangat apalagi perilakunya kepada dirinya membuatnya semakin penasaran siapa sebernarnya pria ini?
Arkana, tuan muda yang tidak pernah berdekatan dengan wanita manapun tiba tiba menikah dengan seorang gadis yang menjadi korban dari utang pria paruh baya yang tidak tau diri itu. Namun siapa sangka bahwa yang akan menjadi istrinya di masa depan adalah gadis yang selama ini ia cari, yaitu cinta pertamanya.
Bagaimana kisah pernikahan mereka disaat ellen tau bahwa suaminya adalah teman sekaligus cinta pertamanya selain mantannya? Dan Arkan tau bahwa istrinya adalah gadis yang ia tunggu selama ini? Bagaimana kisahnya, silahkan ikuti lanjut.
Season2 Kisah Cerita anak anaknya yaa.. Lanjut kok, ditunggu aja..
Beri jejak untuk ceritaku ya.. Terima Kasih..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
|Chapter 23 Kebahagiaan|
❤️Happy Reading❤️
"Jangan terlalu banyak aktifitas ya, tidak ada pantangan makanan atau apapun untuk ibu hamil asal masih pada porsinya saja." ucap Dokter Rena.
"Oh iya Dok, apa kami masih bisa melakukan hubungan itu?" tanya Arkan membuat mata Ellen membola dan wajahnya memerah. Dokter Rena, tersenyum. "Boleh saja, asalkan pelan pelan karena usia kandungan istri anda sudah mendekati waktu lahiran."
Arkan mengangguk paham lalu matanya mengerling kearah istrinya yang masih menatapnya lalu menunduk. "Jangan malu sayang, nanti akan ada waktunya aku mengunjungi jagoan kita."
"Hentikanlah."
Dokter Rena mengulum senyum melihat sepasang suami istri yang sangat harmonis dihadapannya ini, "tidak perlu malu nyonya, itu pertanyaan yang sudah biasa bagi suami untuk menanyakan hal seperti itu. Maka dari itu untuk tuan saya harap jangan terlalu menggebu-gebu karena usia kandungan istri anda sudah hampir 9 bulan. Jika sudah ada kontraksi seperti yang lalu lalu, datanglah kemari dengan segera."
"Baik Dok." lalu Arkan mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang, "kalau begitu kami permisi pulang terlebih dahulu Dok, terima kasih untuk waktunya." ujar Ellen dengan ramah, Dokter Rena mengangguk, "sama sama nyonya, memang sudah seharusnya saya mengulurkan waktu saya. Hati hati dijalan nyonya tuan."
Waktu berlalu begitu cepat, begitupun hari berganti minggu. Saat ini kandungan Ellen sudah pas masuk ke 9 bulan, dan itu membuat seluruh penghuni rumah khawatir jika Ellen berjalan jalan kesana kemari tanpa pengawas, maka dari itu Arkan memindahkan pekerjaannya kedalam rumah, agar ia bisa mengawasi gerak gerik istri mungilnya yang sangat lincah itu.
"Kamu sejak tadi tidak ada henti hentinya bulak balik sembari baca, hati hati sayang."
"Kamu tenang saja, karena ini bagus untuk ibu hamil agar melahirkannya lancar."
"Kamu yakin ingin melahirkan normal tidak operasi saja?" tanya Arkan yang takut dan khawatir kepada istri kecilnya, takut ada yang terjadi dan itu tidak bisa membuatnya tidur tenang, Ellen berjalan pelan menghampiri suaminya yang sangat khawatir kepadanya.
"Sayang, kamu tenang, jangan panik. Aku akan baik baik saja karena aku juga masih ingin hidup lama bersamamu dan baby E. Doakan terus menerus agar lahirannya berjalan lancar." ujar Ellen sembari mengelus rambut suaminya dengan lembut.
Arkan memeluk pinggang istrinya dan menelamkan wajahnya diantara bola gunung istrinya yang sangat empuk itu seperti bantal rasanya. "aku selalu doakan untukmu sayang. Seluruh penghuni rumah ini juga sering kali mengaji dan berdoa untuk kesehatan dan kelancaranmu."
"Maka dari itu pasrahkanlah kepada Allah, karena tuhanlah yang menguatkan perasaan hati hambanya. Ayo kita makan aku lapar." ajak Ellen lalu Arkan mengangguk dan menuntun istrinya berjalan dengan sangat pelan menuju ruang makan.
Setelah sampai diruang makan, Arkan menyuruh Ellen untuk duduk saja karena kemungkinan istrinya lelah berjalan terus menerus. Arkan yang sedang mengambil nasi mendengar suara pecahan dari ruang makan dan melihat istrinya yang meringis pelan disamping kursi sembari mengusap perutnya.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Arkan, sepertinya baby ingin keluar."
"Maksudmu?" Ellen yang menahan sakit dibawah perutnya perlahan lahan ia mengambil nafas lalu menatap suaminya yang panik, "aku harus melahirkan sekarang sayang."
"ARGH!!"
Arkan mendengar suara pekikkan istrinya langsung menggendonganya dan berlari keluar dan pas sekali Fahri datang kerumahnya sebelum keluar dari mobil sudah lebih dulu arkan masuk kedalam mobil. "Cepatlah ke rumah sakit. Istriku ingin melahirkan." ujarnya panik, Fahri yang melihat adiknya yang kesakitan langsung menancap gas dan bertujuan ke Rumah Sakit milik keluarganya.
Sepanjang jalan Ellen mencengkram rambut suaminya dengan sangat kuat membuat Arkan mendangak dan mengelus perut istrinya, "nak, tolong tunggu sebentar lagi ya.. Sebentar lagi kami sampai kok."
"Sayang sakit!!"
"Sebentar lagi Ellen, tahan lah."
"Ini sudah menahannya, ABANG!!!" pekiknya kepada Fahri yang langsung berhenti didepan lobby dan segera memanggil dokter dan suster meminta tolong, Arkan keluar sembari menggendong istrinya pas dengan dokter membawa brankar untuk ellen.
"Silahkan tuan baringkan istri anda disini tuan."
"Aku tau, tanpa kau suruh juga. Cepatlah, istriku kesakitan!" Arkan, Fahri serta beberapa suster dan dokter mendorong brankar istrinya dengan segera, tangan Arkan digenggam kuat oleh Ellen begitupun dengan Fahri yang dicengkram kuat oleh adiknya.
"Tenang Ellen, kau akan baik baik saja."
Ellenpun masuk kedalam ruang UGD bersama Arkan yang selalu berada disampingnya sedangkan Fahri segera menghubungi paman Mika, dan bibi Ari untuk datang ke rumah sakit membawa beberapa pakaian untuk Ellen dan Arkan.
"Arkan sakit.." ujarnya.
"Sabar sayang, sebentar lagi Dokter datang." ujar Arkan menenangkan Ellen namun malah dirinya yang panik.
Tak berapa lama Dokter Rena datang memasuki ruang UGD. Arkan sedikit membentak dokter Rena namun diacuhkan dan memilih fokus kepada Elllen, "sudah berapa lama kamu merasa sakit, nyonya?"
"Tadi pas mau duduk tiba tiba mules dok, tapi pas jalan gak mules."
"Sebentar saya cek dulu yah.." ujar Dokter Rena lalu membuka pakaian bawah Ellen dan memeriksa bagian dalam Ellen membuat Ellen memekik sakit.
"Sudah pembukaan 7 nyonya, sebentar lagi akan waktunya. Nyonya saya minta anda mengambil nafas lalu mengeluarkannya secara perlahan agar tidak terlalu sakit."
"Sampai pembukaan berapa memangnya?"
"Sepuluh. Kemungkinan istri anda akan melahirkan sejam lagi. Jika nyonya kuat untuk berjalan bisa sembari mengurangi sakitnya diperut anda, dan mempermudah dede bayi untuk mencari jalan keluar, dan tuan saya harap anda tetap tenang jangan panik yang akan membuat nyonya takut juga." lalu Dokter Rena segera keluar dari ruang UGD untuk mempersiapkan ruang persalinan untuk Ellen, sedangkan Ellen meminta suaminya membantunya tturun dari brankar.
"Sayang kumohon, bantu aku berjalan." Ujar Ellen kepada Arkan yang khawatir jika Ellen berjalan ada suatu masalah. Arkan yang melihat tatapan melas istrinya langsung menghembuskan nafas lalu mengangguk. "Ayo kemarilah."
"Terima kasih sayang." ujar Ellen lalu ia mulai melangkah pelan ditemani Arkan dan satu suster dibelakang mereka. "Kamu mau makan? Kita tadi tidak jadi makan bukan?"
Ellen mengangguk, "boleh deh tapi aku mau makan sembari jalan aja, biar gak sakit. Kalau duduk sepertinya aku akan merasakan sakit." lalu Fahri datang bersama Ayah yang sudah menatap khawatir Ellen.
"Kenapa belum lahiran?" tanya Fahri bingung, "masih pembukaan 9, sebentar lagi katanya. Bang nitip Ellen bentar ya, Arkan mau beli makana terlebih dulu."
Baru Arkan melangkah langsung ditahan Fahri, "tidak perlu, biar diriku saja. Kau jaga istrimu, kau juga ingin makan?"
Arkan mengangguk, "thanks."
Ellen masih berjalan pelan ditemani ayah dan suaminya, sedangkan Fahri baru saja datang dengan membawa semangkuk bubur dan sebungkus nasi. "Nih Arkan kau makan saja lebih dulu biar aku yang menyuapi adikku." ujarnya Fahri lalu menyuapkan adiknya yang masih berjalan jalan.
"Bagaimana enak?" Ellen mengangguk lalu ia melahapkan semua suapan yang diberikan abangnya dan ia merasakan sesuatu yang mengalir diantara pahanya setelah ia minum air putih. "Suster, sepertinya sudah waktunya melahirkan." ucapnya dengan tenang membuat ketiga pria bertubuh besar menegang mendengar perkataan Ellen.
Lalu Ellen dituntun oleh suster untuk berjalan kembali masuk kedalam ruang persalinan dan tidur di brankar tersebut dan Arkan masuk dengan sebutir nasi yang masih menempel di pinggir bibirnya. Ellen menahan rasa sakitnya dan mengambil nasi itu lalu memakannya. "Tenanglah aku akan baik baik saja."
Dokter Rena masuk dengan jalan cepat. Dan memeriksa lalu mengangguk kepada susternya untuk bersiap, "nyonya, sudah waktunya anda melahirkan. Tarik nafas dan keluarkan secara perlahan seperti yang saya katakan tadi lalu mengejan untuk mendorongnya saat saya selesai menghitung. Siap nyonya?" tanya Dokter Rena yang langsung dijawab anggukkan oleh Ellen. "siap dok."
"Mari kita mulai nyonya. Satu dua tiga mengejan nyonya."
"Enghh! Huhh... Engghhh! Argh!!"
"Lagi nyonya, sekali lagi. Kepalanya sudah terlihat."
"Huhh..Engghh! Engghhh! Arghh!!"
Oek Oek Oekk!!
"Selamat nyonya, anak pertama anda laki laki dan jagoan didalam keluarga Kennedrik."
Suara tangisan bayi menggelegar seluruh ruangan, Ellen tersenyum mendengarnya sembari mengambil semua udara diruangan ia masukkan kedalam hidungnya. Lalu Arkan yang melihat bayi kecil yang masih berlumuran darah itu menangis, merasa kebahagiaannya sangat besar. Dikecupnya kening istrinya secara berkali kali, "terima kasih sayang, yang sudah memberiku kebahagiaan yang tidak pernah kubayangkan.."
"Sama sama.."
Lalu tak lama suster kembali membawa bayi yang sudah bersih dan ditaruhnya didepan dada Ellen untuk bisa langsung nyusu. Arkan tersenyum dengan tangan yang gemetar ia mencoba mengelus pipi tembam dan alus bayinya.
"Selamat datang Elvano Kennedrik." gumamnya lalu ia mengecup pelan tangan kecil yang menggenggam kencang jari telunjuknya. Ellen tersenyum, lalu mengecup kening Arkan yang menunduk didepannya lalu mengecup kepala anaknya.
"Kalian kebahagiaan didalam kehidupanku. Terima kasih sudah lahir Elvano."
❤️Bersambung...❤️
padahal itu mulesnya udah kurang dari 5 menit sekali .... uuuhhhggg rasanya udah ga bisa mikirin lapar.... yang ada pinggang panas perut mules keringet banjir tak tertahankan