Seaaon 1 tentang Jill dan Jeff (couple J).
Season 2 tentang Shanum dan Salman (couple S).
Jill kabur dari rumah untuk menghindari perjodohan, ia kemudian bekerja di sebuah perusahaan dan justru bertemu cowok tampan, mapan, dan menawan yang ternyata adalah bosnya.
Shanum terpaksa menggantikan kakaknya menikahi Salman, pria cacat yang tiba-tiba menjelma menjadi pria paling kuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gondok
Jill sedang merobek-robek kertas laporannya ketika Veny memasuki ruangan mes yang mereka tempati. Veny mengedarkan pandangan ke seisi ruangan, lantai hampir dipenuhi sobekan kertas berukuran sangat kecil.
“Jill, keliatannya kamu gondok banget? Pasti gara-gara Pak Jeff tadi, iya?” tanya Veny sembari duduk di sisi Jill lalu meletakkan map yang sejak tadi ia jinjing ke atas meja. Senyumnya mengembang menatap wajah Jill yang cemberut.
“Ya, gara-gara Jeff, manusia aneh dan mengerikan. Sebel banget aku tuh. Uh mulut si Jeff pedes banget,” ucap Jill sembari mengusap air mata yang tiba-tiba merembes ke pipi. “Aku malu dibentak-bentak begitu di depan umum. Kasian banget ya nasib anak bawang kayak aku, belum lama kerja udah diginiin. Rasanya tadi aku kayak masuk kandang serigala ganas. Apa ini cara Jeff untuk nyingkirin aku dari perusahaan ini? apa mungkin dia sebenernya nggak suka sama aku makanya dia membuatku nggak betah dan dia berharap akau akan mundur dengan sendirinya.”
“Itu hanya pemikiranmu aja, Jill. Menurutku Jeff nggak begitu. Kalau dia punya niat buruk seperti yang kamu duga, lantas kenapa dia nggak langsung tolak kamu aja sejak awal?”
“Dia memang udah nolak aku sejak awal. Aku bisa bertahan begini karena Edo. Kalau begini caranya, lama-lama aku bisa mundur beneran. Aku nggak tahan sama perlakuan Jeff.”
“Santai, dong. Bawa rileks aja. Cuekin.” Seperti biasa, gaya Veny yang santai dan lemah lembut terlihat tenang menanggapi situasi yang menurut Jill genting.
“Gimana bisa santai? Mukaku panas banget pas dilempar map. Jeff tuh direktur IC atau macan kelaperan, sih? Kejem banget,” gerutu Jill dengan muka semakin manyun. Kepalanya membayangkan wajah Jeff dan tangannya mengepal ingin melayangkan tinju ke muka itu.
Veny tersenyum lagi.
“Itu belum seberapa. Parahnya lagi, dia pernah bilang aku b*doh. Aku kerja nggak pake otak. Killer parah pokoknya.”
Jill berhenti bicara ketika Tata masuk, janda muda yang bekerja sebagai cleaning service kantor yang merangkap sebagai tukang cuci baju Pak Achen itu berdiri di tengah-tengah ruangan sembari mengamati lantai yang dikotori robekan kertas. Mukanya sinis. Bagaimana tidak? Seluruh ruangan mes menjadi tanggung jawabnya, mulai dari menyapu, mengepel, sampai membersihkan debunya. Dan sekarang, ruangan yang pagi tadi sudah ia bersihkan, kini terlihat kotor oleh robekan kertas.
Tata tinggal di mes yang sama dengan Jill karena kamar mes khusus pembantu sudah penuh.
Semenjak Direktur mengatakan bahwa Tata akan menempati mes itu, Veny yang menjadi penghuni utama di mes pun merasa wajib menerima dengan lapang dada. Serumah dengan pembantu sewot yang selalu merasa punya jabatan lebih tinggi dari kepala staf.
Dengan nada culas, Tata berkata, “Kenapa bisa jadi kotor gini?”
“Nanti biar aku yang beresin,” jawab Veny berusaha meredam kekesalan Tata.
Tata ingin mengumpat Jill yang menurut dugaannya menjadi pelaku atas kotornya lantai, tapi urung melihat Veny yang tersenyum ramah ke arahnya. Maklumlah, Jill adalah pendatang terakhir di rumah itu setelah Veny, Ika dan Tata.
Di awal kedatangan Jill ke mes itu, semuanya menyambut kedatangan Jill dengan senyum ramah, kecuali Tata yang langsung menampilkan ekspresi seram, membuat Jill ingin mencakar-cakar tanah.
Tata berjalan ke ruangan belakang dengan langkah diseret hingga kertas-kertas berhamburan terseret kakinya.
TBC
Jangan lupa masukin favorit yah. Klik like dan sumbangin poin ke cerita ini