Tahun 2008, ketika sistem pendidikan di Indonesia masih diwarnai kekerasan, aku seorang anak sederhana dari keluarga sederhana, bermimpi bahwa sebuah sebuah pendidikan dapat mengubah nasibku. Dengan pendidikan aku dapat menjadi apapun.
Aku ingin lulus Fakultas Kedokteran.
Aku ingin lulus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.
Aku ingin mewujudkan impian Ayah, karena Ayah adalah pahlawan separuh nyawaku. Tak ada lagi yang aku inginkan selain mewujudkan impiannya. Senyumnyalah yang pertama kali kulihat karena aku dilahirkan ke dunia. Senyuman harapan kepadaku, anak ajaib pemetik bintang harapannya. Kepadakulah semua harapan Ayah bertumpu. Selama sembilanbelas tahun Ayah menunggu akhirnya aku lulus Fakultas Kedokteran, menjadi calon dokter satu- satunya dalam generasi kami. Aku berhasil mewujudkan impian ayah.
Takdir berkata lain, aku divonis buta warna parsial. Akankah aku mencapai cita- citaku, berhasil memetikkan bintang untuk ayah, pahlawan separuh nyawaku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulil jamil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sembilan Belas 3
Aku merangkai warna dari titik- titik itu membentuk patahan siku- siku terbalik yang membentuk
angka lima.
“Tidak mungkin,” kata Ayah.
“Ada yang salah dengan buku ini,” lanjut Ayah lagi.
“Ini buku Ishihara.
Jangan coba untuk menghapalnya karena buku ini ada ribuan versi.” Ancam petugas
itu.
Ada ribuan versi.
Frase tersebut terekam di memoriku.
Mungkin saja petugas itu mengancamku karena ia takut aku akan mencoba untuk menghapal angka angka di dalam buku itu. Aku bisa membacanya tanpa harus melihatnya.
“Baiklah ini kertasnya. Serahkan ke lantai atas.” Perintahnya petugas itu. Pada lembaran kertas
tersebut tertera urutan- urutan pernyataan tentang riwayat penyaki yang semuanya aku negatif. Tapi pada bagian akhir tertera tanda tambah, positif buta
warna. Sebenarnya aku miris. Aku tidak terima, toh aku dapat melihat warna- warni dunia dengan jelas. Kalaupun salah hanya pada sebagian kecil warna. Tapi kertas kekuasaan itu ada pada petugas itu. Ia memvonisku demikian.
Lantai atas begitu ramai. Ayah menyerakan kertas kepada petugas pencetak untuk di print dan ditandatangani oleh kepala rumah sakit. Kami harus menunggu.
“Ayah…” Aku memanggil Ayah.
“Ya Nak. Semuanya akan baik- baik saja,” kata Ayah.
“Ayah. Sebaiknya tidak usah kenduri, gelar acara syukuran dulu.” Aku menyarankan.
Oleh karena bahagianya hati Ayah. Ayah berencana akan menggelar acara syukuran, mengundang
para tetangga untuk merayakan kelulusanku, lulus Fakultas Kedokteran yang tidak semua orang bisa memasukinya. Ayah begitu bangga. Namun bagiku ini sermua belum tentu pasti, segala sesuatu bisa saja terjadi. Aku takut malu apabila gagal di ujung perjuangan sementara Ayah telah mengundang seluruh kampung Gunung Menangis.
“Nak…, kita akan tetap kenduri, bukan hanya bersyukur, tapi juga memanjatkan doa agar Tuhan
melancarkan langkah kita.”
“Berdoa.” Ulang Ayah lagi.
“Ayah…, tapi.” Aku takut.
“Ini hanya riak kecil dalam arus di awal perjuangan kita. Perjuangan kita masih panjang,” potong Ayah.
Ayahku tidak menyerah.
“Liel,” panggil petugas di lantai atas. Dia memanggil nama lengkapku.
“Ya,” jawabku.
“Telah selesai. Administrasi Dua Puluh Lima Ribu.” Ia meminta uang administrasi. Ternyata biaya printing, kertas, dan tinta untuk tanda tangan disini naik berlipat- lipat.
Aku menyerahkan uang dan melihat hasil cetakan itu. Disitu tertera negatif buta warna. Aku dan Ayah
berpandangan.
“Tuhan menolong kita,”
begitu kata Ayah. Aku tahu petugas pengetik tersebut kurang teliti ia hanya mempaste hasil pemeriksaan sebelumnya dengan mengganti data- data bagian atas.
“Hmmm.” Aku diam.
Kenyataan ini membuat aku terhempas. Bayangkan saja gagal masuk kedokteran tergambar di depan mata. Aku sungguh takut membuat Ayah kecewa. Apalagi aku masih tidak setuju dengan rencana kenduri ayah. Aku masih takut. Ketika
menuruni tangga aku terhenti.
“Ayah sebaiknya kita tidak usah kenduri.”
Aku menyarankan kembali.
Ayah diam. Ia berhenti
serius menatapku. “Pasti minggu- minggu ini kamu kekurangan makan vitamin.
Kurang makan buah di Padang. Nanti di rumah mulailah makan Terong Rimbang yang banyak.” Ayah tahu Terong Rimbang yang pahit itu efektif untuk mempertajam penglihatan mata. Begitu kebiasaan
orang- orang di kampung.
“Sore nanti kita akan pastikan ke dokter spesialis mata,” kata Ayah bijak. Ternyata Ayah tidak
menyerah. Ayah tidak pernah menyerah. Ia terus mendorongku untuk terus maju.
Sore harinya kami ke dokter spesialis mata, mencari second opinion sekaligus kemungkinan untuk mensiasati keadaan ini.
***
kenapa aku baru ketemu cerita sebagus ini..
sayangnya yg ngeLIKE sedikit sekali..
baru mampir,baru nemu,baru beberapa chapt udah byk edukasi yg didapat
Saya selalu kagum dengan cara penyampaian Anda.
buka bab awal langsung suka
karena di suguhin sama puisi..
lanjut baca... suka sama karyamu kak...
baru awal udah d gambarin gimana perjuangan seorang ayah buat anaknya...
bakal lanjut bca lagi... 😊
tetep semangat kak buat karya2nya.. 🤗
Mampir novel saya yg masih belajar nulis ya kak IT'S HARD TO LOVE YOU,, good luck
tapi tidak ada kata terlambat,tetap kisah ini membuat saya bersyukur sebagai penyandang buta warna parsial.
karena kekurangan yg d miliki seseorang bukanlah jeruji yg mengurung keterbatasan.
setidaknya dg segala kemauan pasti ada jalan.
terimakasih telah menyuguhkan cerita ini authoooooorr semoga sukses!!!