NovelToon NovelToon
TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:509
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 : HUJAN PENEBUS DOSA DAN JANJI DI BALIK BADAI

Hujan lebat malam itu tidak hanya membasahi jalanan ibu kota, tetapi juga membasahi seluruh jiwa Kirana yang hancur berkeping-keping. Air mata yang meleleh di pipinya menyatu dengan tetesan air hujan yang membasahi pakaian dan rambutnya. Langkah kakinya menyusuri trotoar tanpa arah, menjauh dari kediaman Pratama yang megah namun penuh intrik.

Dalam pekatnya malam, kata-kata Ibu Ratna terus mengiang di kepalanya bagaikan gema tak bertepi. Kesalahan fatal sepuluh tahun lalu... anak ketiga yang gugur...

Kirana menggigil. Bukan hanya karena dinginnya angin malam yang menusuk tulang, tetapi karena rasa kecewa yang luar biasa pada Aris. Pria yang mulai ia percayai, pria yang perlahan membuka pintu hatinya, ternyata menyimpan luka dan Dosa yang jauh lebih gelap dari yang ia duga.

Langkah Kirana terhenti di depan sebuah taman kota yang sepi. Ia merosot di atas bangku kayu yang basah, membekap wajahnya dengan kedua tangan, dan menangis sejadi-jadinya. Di sinilah ia, seorang wanita muda berusia dua puluh empat tahun yang mempertaruhkan seluruh masa mudanya untuk menjadi istri dan ibu tiri, kini merasa diposisikan sebagai boneka pambalas dosa oleh takdir yang picik.

"Kenapa, Mas... kenapa kamu harus menyembunyikan ini dari aku?" bisik Kirana dalam keputusasaannya.

Di saat yang sama, di koridor lantai dua rumah Pratama, Aris masih tergeletak di lantai marmer dingin. Suara deru mobil Kirana yang meninggalkan pekarangan rumah seolah menancapkan sembilu tepat di jantungnya.

"Papa..."

Sebuah suara kecil bergetar memecah keheningan yang menyiksa.

Aris mendongak pelan. Di ujung koridor, berdiri Leo dan Maya. Kedua anak itu terbangun karena ketegangan dan teriakan yang sempat pecah beberapa saat lalu. Maya menggenggam erat tangan kakaknya, matanya yang bulat tampak ketakutan melihat ayahnya tersungkur di lantai.

"Papa... Tante Kirana ke mana?" tanya Leo dengan suara parau, matanya berembun. "Tante Kirana pergi... gara-gara Leo lagi, ya?"

Pertanyaan jujur dari anak laki-lakinya menghantam dada Aris dengan telak. Aris memaksakan dirinya untuk duduk, merangkul kedua anaknya ke dalam dekapan hangatnya. Air mata pria tegar itu akhirnya menetes di bahu anak-anaknya.

"Bukan, Nak... Bukan salah Leo," bisik Aris, suaranya pecah oleh keharuan dan rasa bersalah yang menggunung. "Ini salah Papa. Papa yang jahat... Papa yang bikin Tante Kirana sedih dan pergi."

Maya terisak pelan di dada ayahnya. "Maya gak mau Tante Kirana pergi, Papa... Maya mau Tante Kirana yang nemenin Maya tidur... Tante Kirana hangat..."

Pengakuan polos dari putri kecilnya membuat Aris sadar betapa besar kehadiran Kirana telah mengubah rumah ini dalam waktu singkat. Kirana bukan lagi sekadar wanita muda yang memohon diterima, melainkan tiang penyangga yang menyatukan puing-puing keluarga mereka. Dan malam ini, kebodohan serta keangkuhan Aris hampir saja meruntuhkan tiang itu untuk selamanya.

Aris melepaskan pelukannya, menatap mata Leo dan Maya lurus-lurus dengan keteguhan yang belum pernah muncul selama lima tahun terakhir.

"Kalian tunggu di kamar bersama Mbak Asih, ya?" ujar Aris tegas, menyapu air matanya. "Papa akan bawa Tante Kirana pulang. Papa janji."

Sementara itu, Kirana masih duduk termenung di taman kota yang makin sepi. Tubuhnya gemetar hebat oleh demam yang mulai menyerang akibat terguyur hujan deras. Kesadarannya samar-samar, kepala terasa berat, dan pandangannya mulai kabur.

Sebuah bayangan hitam besar tiba-tiba melangkah mendekat, memayungi tubuh Kirana dari terpaan hujan.

Kirana mendongak dengan payah. Di balik temaram lampu taman dan derasnya hujan, tampak sosok Aris berdiri dengan napas terengah-engah. Kemeja putih pria itu basah kuyup, wajahnya pucat pasi, dan matanya memancarkan rasa takut yang amat sangat—ketakutan yang jauh lebih nyata dibanding saat ia kehilangan Rina.

"Kirana..." panggil Aris dengan suara bergetar.

Kirana berusaha berdiri, namun kakinya lemas dan tubuhnya oleng. Sebelum ia terjatuh ke tanah yang basah, lengan kokoh Aris dengan cepat menangkap tubuhnya, merengkuhnya rapat ke dalam dada hangat pria itu.

"Jangan sentuh aku, Aris..." bisik Kirana lemah, menepuk dada Aris dengan sisa-sisa tenaganya yang kian terkuras. "Pergi... kamu pembohong..."

"Aku tahu! Aku memang pembohong, aku bajingan, Kirana!" jerit Aris di tengah gemuruh petir, membiarkan air matanya menyatu dengan air hujan yang mengguyur mereka berdua. Pria itu tidak melepaskan pelukannya sedikit pun, justru makin mempererat seolah takut wanita di dekapannya akan sirna ditelan kegelapan malam.

"Dengarkan aku kali ini saja... Aku mohon, Kirana!" pinta Aris, berlutut di tanah yang berlumpur sambil tetap memangku tubuh Kirana yang kian lemas. "Aku akan ceritakan semuanya! Jangan hukum aku dengan caramu pergi seperti ini!"

Kirana menatap mata Aris. Di balik sorot mata pria yang biasanya angkuh itu, Kirana tidak lagi menemukan kebohongan atau topeng kesempurnaan. Yang tersisa hanyalah keputusasaan seorang manusia yang benar-benar telah telanjang di hadapan kesalahannya.

"Cakap... katakan..." lirih Kirana, napasnya memburu dan hangat karena demam.

Aris menarik napas panjang, menahan kepedihan yang menyayat tenggorokannya saat harus membongkar luka terkelam yang selama sepuluh tahun ini ia kunci rapat-rapat dalam peti besi jiwanya.

"Wanita sepuluh tahun lalu itu... bernama Shinta," bisik Aris, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Kirana. "Dia adalah kekasihku sebelum aku mengenal Rina. Kami muda, bodoh, dan penuh ambisi. Ketika bisnis keluarga kami terancam bangkrut, ayahku menjodohkanku dengan Rina untuk menyelamatkan perusahaan. Dan aku... aku pria pengecut yang memilih harta dan takhta, meninggalkan Shinta yang saat itu ternyata sedang mengandung anakku."

Kirana membelalak. Dadanya berdenyut amat nyeri mendengarnya.

"Aku memberi Shinta uang dan menyuruhnya pergi jauh," lanjut Aris, suara tangisnya pecah mengalahkan suara hujan. "Rina tidak pernah tahu hal ini sampai pernikahan kami berjalan tiga tahun. Ketika Rina hamil anak ketiga kami, Ibu Ratna dan Roy entah bagaimana menemukan rahasia itu dan membongkarnya di depan Rina untuk mengencang kendali atas finansialku!"

Air mata Aris menetes deras ke pipi Kirana yang hangat.

"Rina yang kaget dan syok hebat terjatuh dari tangga malam itu... Kematian anak ketiga kami di dalam kandungan membuat mental Rina hancur total hingga ia menderita depresi berat. Dan Shinta... Shinta telah meninggal bertahun-tahun lalu dalam kemiskinan bersama anak yang dikandungnya."

Aris membenamkan wajahnya di leher Kirana, tubuh pria perkasa itu berguncang hebat oleh isakan penyesalan. "Itulah dosaku, Kirana! Rasa bersalah atas kematian Shinta, anak kandungku yang tak pernah kubela, anak ketiga kami yang gugur, dan akhirnya Rina yang mengakhiri hidupnya... Semua darah itu ada di tanganku! Aku adalah iblis yang menyiksa semua orang di sekitarku!"

Pernyataan jujur itu terurai di bawah guyuran hujan malam. Kebenaran yang utuh dan mengerikan akhirnya terhampar tanpa ada satu pun yang ditutupi.

Kirana terpaku. Rasa marah yang semula membakar jiwanya perlahan meluntur, berganti dengan kepiluan yang amat dahsyat. Ia melihat sosok Aris bukan lagi sebagai suami yang manipulatif, melainkan sebagai seorang jiwa yang telah membusuk di dalam penjara penyesalannya sendiri selama bertahun-tahun.

"Lalu... kenapa kamu menikahiku, Mas?" tanya Kirana dengan suara sangat parau. "Apakah aku hanya alat untuk menebus semua darah itu?"

Aris mendongak, menatap Kirana dengan ketulusan yang teramat dalam dan murni.

"Awalnya... ibu yang memintaku, dan aku berpikir pernikahan ini hanya formalitas agar anak-anak memiliki figur ibu," aku Aris jujur tanpa kepalsuan lagi. "Tapi aku salah, Kirana. Takdir menertawakanku karena telah meremehkan keberadaanmu. Di saat aku ingin terus menghukum diriku dalam kegelapan, kamu datang membawa cahaya yang tidak pernah kuminta. Kamu melawan ketidakadilanku, kamu menyayangi Leo dan Maya meski mereka melukaimu, dan kamu mengajariku apa artinya bertahan!"

Aris menggenggam kedua tangan Kirana yang makin dingin, mengecup jemari istrinya dengan rasa hormat yang teramat tinggi.

"Aku tidak memintamu mencucikan dosaku, Kirana. Dosa itu milikku dan akan kupikul sampai mati," tegas Aris, matanya memancarkan kebenaran yang tak terbantahkan. "Tapi cintaku padamu hari ini adalah hal paling jujur yang pernah kurasakan dalam hidupku. Aku mencintaimu bukan karena rasa bersalah, tapi karena kamu adalah Kirana... wanita yang telah menyelamatkan jiwaku dari neraka."

Sindiran takdir itu begitu kuat menghantam dada Kirana. Pria yang selama ini menganggap cintanya telah mati bersama masa lalu, kini berlutut di atas lumpur hujan, menyatakan cinta paling tulus di tengah kehancuran dosanya.

Kirana menatap langit malam yang mulai meredakan curahan hujannya. Air matanya mengalir pelan. Ia tersadar akan satu hal yang teramat agung: inilah makna pernikahan yang sesungguhnya. Pernikahan bukan hanya tentang menyatukan dua insan yang sempurna dalam kebahagiaan, melainkan tentang kesediaan dua jiwa yang terluka untuk saling memeluk, memaafkan, dan berjalan bersama melintasi lembah kelam kehidupan.

Dengan sisa tenaganya, Kirana mengangkat tangannya yang gemetar, mengusap air mata di pipi Aris yang dingin.

"Bawa aku pulang, Mas..." bisik Kirana lembut.

Aris terpaku, seolah tak percaya pada pendengarannya. "K-Kirana... kamu..."

"Bawa aku pulang ke rumah kita," ulang Kirana dengan senyum tipis yang amat indah di tengah wajah pucatnya. "Anak-anak menunggu kita."

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Aris merengkuh tubuh Kirana ke dalam gendongannya, membawanya dengan cepat menuju mobil. Di dalam dekapan Aris yang hangat, Kirana memejamkan matanya, membiarkan rasa lelah dan demam menguasai tubuhnya, namun dengan hati yang akhirnya menemukan kedamaian yang utuh.

Keesokan harinya, sinar matahari pagi menerobos masuk dengan hangat melalui jendela kamar utama kediaman Pratama. Udara terasa begitu bersih dan segar pasca badai semalam.

Kirana perlahan membuka matanya. Rasa pusing masih sedikit menggelayut di kepalanya, namun kompres hangat di dahinya dan aroma minyak aromaterapi di ruangan itu membuatnya merasa jauh lebih baik.

Saat ia menoleh ke samping, pemandangan di depannya membuat air mata haru Kirana kembali menetes.

Aris tertidur di kursi sebelah ranjang dengan posisi duduk yang tidak nyaman, kepalanya tersandar di tepi kasur sambil menggenggam erat tangan kiri Kirana. Di sisi lain kasur, Leo dan Maya tertidur lelap melingkar di dekat tubuh Kirana. Maya memeluk lengan kanan Kirana bagaikan mendekap boneka kesayangannya, sementara Leo tertidur sambil memegang ujung mukena Kirana yang tergeletak di atas meja.

Rumah yang dulunya terasa seperti kuburan dingin yang mencekam, kini berubah menjadi tempat paling hangat di dunia.

Pintu kamar terdorong pelan. Mbak Asih masuk membawa nampan berisi bubur hangat dan obat. Saat melihat Kirana sudah sadar, wajah wanita paruh baya itu berbinar bahagia.

"Nyonya... Alhamdulillah, Nyonya sudah sadar," bisik Mbak Asih seraya meletakkan nampan di meja. "Bapak semalaman tidak tidur sama sekali, Nyonya. Bapak mengganti kompres Nyonya setiap jam dan terus menggenggam tangan Nyonya sambil berdoa."

Kirana menatap Aris yang masih tertidur lelap karena kelelahan. Garis-garis ketegangan di wajah suaminya kini tampak jauh lebih rileks, seolah beban berat bertonton yang membebani pundaknya selama lima tahun telah terangkat sepenuhnya.

Perlahan, Kirana menggerakkan jemarinya. Gerakan kecil itu langsung membuat Aris terbangun dan menaikkan kepalanya seketika.

"Kirana!" panggil Aris dengan suara parau. Matanya yang merah langsung menatap Kirana dengan kepanikan dan rasa cemas yang meluap. "Kamu sudah bangun? Masih pusing? Ada yang sakit? Mau minum?"

Kirana menggeleng pelan, mengulas senyum paling manis yang pernah ia berikan untuk Aris. "Aku baik-baik saja, Mas."

Leo dan Maya yang mendengar suara ayahnya ikut terbangun, mengucek mata mereka yang sembap.

"Tante Kirana!" seru Maya gembira, langsung memeluk leher Kirana dengan hati-hati. "Maya takut Tante pergi..."

"Tante gak akan pergi ke mana-mana, Sayang," balas Kirana, mencium pipi Maya dengan kasih sayang melimpah.

Leo berdiri di tepi ranjang, menunduk malu namun matanya memancarkan rasa lega yang teramat besar. "Tante... maafin Leo ya soal kemarin-kemarin..."

Kirana mengulurkan tangannya, merengkuh Leo ke dalam pelukannya bersama Maya. "Tante sudah maafkan Leo dari awal. Kalian adalah anak-anak Tante."

Aris menyaksikan pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. Pria itu mendekat, lalu ikut merengkuh istri dan kedua anaknya dalam satu pelukan hangat yang utuh. Dinding isolasi dan kebencian yang selama ini memisahkan mereka telah hancur lebur, digantikan oleh ikatan keluarga yang baru dan kokoh.

Dua bulan kemudian.

Atmosfer kediaman Pratama kini benar-benar telah berubah total. Gelak tawa anak-anak terdengar riang dari arah taman belakang. Kirana berdiri di teras, memperhatikan Leo dan Maya yang sedang bermain mengejar seekor anak anjing baru yang dibelikan Aris minggu lalu.

Sebuah lengan kokoh melingkar hangat di pinggang Kirana dari belakang. Aris menyandarkan dagunya di bahu istrinya, menghirup aroma wangi rambut Kirana yang selalu menenangkan jiwanya.

"Sedang memikirkan apa, Istriku?" bisik Aris mesra di telinga Kirana.

Kirana tersenyum, menyandarkan kepalanya di dada bidang Aris, merasakan detak jantung suaminya yang berdenyut teratur dan penuh kehidupan.

"Aku sedang memikirkan betapa anehnya takdir bekerja, Mas," jawab Kirana pelan. "Dulu aku datang ke rumah ini dengan air mata, bergelut dengan penolakan, dan merasa menjadi wanita paling malang di dunia. Tapi ternyata, takdir hanya sedang menyindir kesombongan kita sebelum memberi hadiah indah ini."

Aris mengecup pipi Kirana dengan lembut. "Terima kasih karena tidak menyerah padaku saat aku menjadi pria paling buruk di dunia, Kirana. Terima kasih telah menjadi ibu yang sempurna untuk anak-anakku."

"Kita saling menyembuhkan, Mas," balas Kirana, memutar tubuhnya dan menatap mata Aris yang kini memancarkan cinta yang begitu murni dan dalam.

Namun, di tengah kebahagiaan yang membuncah itu, Mbak Asih tiba-tiba berjalan mendekat dari arah dalam rumah dengan wajah agak ragu, membawa sebuah surat beramplop hitam yang elegan tanpa nama pengirim.

"Nyonya... Bapak... ada kurir yang baru saja mengantarkan surat ini untuk Nyonya Kirana," ujar Mbak Asih seraya menyerahkan amplop tersebut.

Aris mengernyitkan dahi. "Dari siapa, Mbak?"

"Kurirnya tidak tahu, Pak. Katanya hanya dititipkan oleh seorang pengacara," jawab Mbak Asih sebelum pamit kembali ke dalam.

Kirana menerima amplop hitam itu dengan perasaan aneh yang tiba-tiba berdesir di dadanya. Dengan hati-hati, ia membuka segel amplop dan mengeluarkan selembar kertas tebal beraroma parfum mahal.

Aris berdiri di samping Kirana, ikut membaca tulisan tangan yang terukir anggun namun dingin di atas kertas tersebut.

Untuk Kirana Pratama,

Jangan terburu-buru merayakan kemenanganmu sebagai nyonya baru di kediaman Pratama. Kamu pikir kamu sudah tahu semua rahasia Aris? Kamu pikir kamu adalah satu-satunya wanita yang hadir untuk menyembuhkan rumah itu?

Ketahuilah, rahasia terbesar Aris bukan hanya tentang Rina atau Shinta. Ada sebuah janji darah yang dibuat Aris sepuluh tahun lalu—sebuah janji yang melibatkan masa depanmu dan anak yang sedang kamu kandung saat ini.

Sampai jumpa di pengadilan minggu depan.

— S.

Kertas di tangan Kirana bergetar hebat. Jantungnya berdetak kencang, dan wajahnya mendadak memucat kembali.

Anak yang sedang dikandungnya?!

Kirana refleks memegang perutnya yang masih rata. Ia sendiri baru saja melakukan tes kehamilan mandiri tadi pagi dan belum sempat memberi tahu Aris tentang kabar bahagia itu! Bagaimana mungkin pengirim surat misterius ini sudah mengetahuinya lebih dulu?!

Aris merebut surat itu dengan mata membelalak penuh horor. Wajahnya yang semula hangat kini berubah pucat pasi, mengenali inisial dan gaya bahasa yang tertera di surat tersebut.

"T-tidak mungkin..." bisik Aris, suaranya gemetar parah. "Dia... dia masih hidup?!"

Kirana menatap Aris dengan pandangan menuntut yang penuh kepanikan dan guncangan emosi yang kembali membuncah.

Siapa "S"? Apakah Shinta belum meninggal? Atau ada sosok lain dari masa lalu Aris yang kembali untuk menagih janji dan menghancurkan kebahagiaan yang baru saja mereka bangun di atas air mata pernikahan? Takdir sekali lagi melempar dadu permainan yang jauh lebih berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!