NovelToon NovelToon
JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.

Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.

Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.

Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: TIGA MAKAM TANPA NAMA

​Keheningan yang mencekam menyelimuti bagian dalam gua di balik tirai air terjun. Kata-kata Qing Luo masih menggantung di udara, menjelma menjadi kebenaran pahit yang menusuk batin Shen Rui dan Lian Yue.

​"Kau berbohong..." bisik Shen Rui. Suaranya rendah dan serak, tetapi ada getaran ketakutan yang samar di dalamnya. Jemari pria itu mencengkeram erat sarung Pedang Zhaoyang di pinggangnya hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku adalah murid Paviliun Tianjian yang dibesarkan dengan sumpah untuk membasmi iblis. Aku tidak mungkin... aku tidak mungkin membunuhnya di masa lalu."

​Qing Luo tertawa sinis, sebuah tawa yang dipenuhi rasa muak dan kesedihan mendalam. Matanya yang berwarna hijau zamrud memancarkan hawa dingin sewaktu menatap sang pemburu siluman. "Kau pikir ingatanmu yang terbatas dalam satu kehidupan manusia ini adalah segalanya? Kau tak tahu apa-apa tentang takdir kejam yang diciptakan oleh orang-orang berpakaian suci seperti kalian."

​Qing Luo berbalik membelakangi lukisan gantung kuno tersebut. Ia menatap Lian Yue yang masih gemetar di atas lantai batu, dengan air mata yang membasahi pipi pucatnya.

​"Ikut aku," ujar Qing Luo singkat. "Jika kalian berdua tidak percaya pada kata-kataku, lihat sendiri bukti dari sisa-sisa tragedi yang ditinggalkan oleh takdir kalian."

​Tanpa menunggu persetujuan, Qing Luo melangkah keluar menembus derasnya tirai air terjun. Lian Yue bangkit perlahan dengan tubuh yang limbung. Ia menatap Shen Rui sejenak—sebuah tatapan penuh kepedihan dan kebingungan—sebelum akhirnya menyusul langkah Qing Luo. Shen Rui, terdorong oleh teka-teki besar yang mengguncang seluruh keyakinan hidupnya, memilih melangkah di belakang mereka.

​Mereka menyusuri celah terjal Lembah Karang yang terisolasi dari dunia luar. Jalur tanah itu semakin menanjak, membelah hutan bambu liar yang tertutup oleh kabut tebal musim dingin. Angin pegunungan bertiup membawa hawa dingin yang menusuk tulang, menyebarkan aroma tanah basah dan dedaunan kusam yang membusuk.

​Setelah perjalanan panjang menembus kegelapan lembah, Qing Luo menghentikan langkahnya di sebuah pelataran tersembunyi yang diapit oleh tiga tebing cadas raksasa.

​Di tengah pelataran sunyi itu, berdiri tiga gundukan tanah yang diselimuti oleh lumut beku dan guguran daun bambu tua. Tak ada ukiran batu nisan yang megah, tak ada nama yang terukir, hanya ada tiga patok batu hitam polos yang berdiri membisu di atas masing-masing gundukan tanah tersebut.

​"Tiga makam tanpa nama," bisik Qing Luo, suaranya melembut dalam nada duka yang teramat dalam. Ia berlutut di depan gundukan batu pertama, mengusap permukaan batu hitam yang dingin dengan jemarinya yang gemetar.

​Lian Yue melangkah mendekati gundukan tanah itu. Begitu kakinya menginjak pelataran tiga makam, sensasi dingin yang luar biasa mendadak menjalar dari telapak kakinya, membumbung tinggi hingga menghantam dadanya. Jantungnya berdetak kencang, dan racun kesakitan di belakang pelipisnya kembali bergolak hebat.

​"Makam pertama ini..." Qing Luo menunjuk batu hitam paling kiri. "Ini adalah makam dari kehidupan pertamamu delapan ratus tahun lalu di Kota Yanqing. Saat itu namamu adalah Su Yin. Kau hidup sebagai perempuan muda biasa yang menyembunyikan wujud silumanmu. Tetapi ketika Paviliun Tianjian mengendus keberadaanmu, pemburu yang dikirim untuk memotong intimu tak lain adalah kehidupan pertama dari pria yang berdiri di sebelahmu itu."

​Lian Yue menatap batu hitam tersebut. Saat tangannya terangkat hendak menyentuh permukaan batu, sebuah kilasan bayangan mendadak berhamburan di balik matanya: Suara hujan deras yang mengguyur ubin Kota Yanqing, pendar darah merah membashi gaun mewahnya, dan pedang perunggu yang menusuk lurus ke dadanya dari genggaman seorang pemuda berwajah persis Shen Rui.

​"Ahkh!" Lian Yue memegangi dadanya, mengerang pelan seraya mundur satu langkah.

​Shen Rui menegang. Matanya yang tajam menatap gundukan tanah itu, lalu beralih pada pergelangan tangannya sendiri yang mendadak bergetar keras. Pedang Zhaoyang di pinggangnya bergetar dalam frekuensi ganjil, menyebarkan gelombang qi sedih yang menyayat hati.

​"Makam kedua..." Qing Luo melangkah ke batu tengah. "Ini dari kehidupan lima ratus tahun lalu di Danau Qinghe. Kau terlahir kembali, namun takdir menarik kalian untuk bertemu di tempat yang sama. Kau kembali jatuh cinta padanya, dan dia... kembali dipaksa oleh sumpahnya untuk menyegel jiwamu di dasar danau es."

​Lian Yue memejamkan mata rapat-rapat. Suara gemerincing rantai segel di bawah air yang pekat bergema liar di dalam kepalanya, membawa hawa dingin yang menghentikan napasnya.

​"Dan makam ketiga..." suara Qing Luo pecah oleh linangan air mata. Tangannya menyentuh batu hitam paling kanan. "Ini adalah kehidupamu tiga ratus tahun lalu di Puncak Yunfeng. Tempat di mana ikrar darah terlarang diucapkan, dan tempat di mana pedang pembasmi iblis milik Paviliun Tianjian kembali menumpahkan darah jiwamu hingga kau terlelap selama seratus tahun sebelum terbangun di Gunung Wuyin."

​Shen Rui memandang ketiga makam tanpa nama itu dengan tatapan tak percaya. Dada sang pemburu terasa sangat sesak, seolah-olah ada beban ribuan ton yang menindih jiwanya. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang terbungkus sarung kulit.

​"Kenapa..." suara Shen Rui bergetar. "Jika kami terus bertemu dalam kehidupan yang berbeda... mengapa takdir selalu mengarah pada kematian yang sama? Mengapa pedangku yang harus membunuhnya?"

​Qing Luo mendongak, menatap Shen Rui dengan mata hijau yang memancarkan kebencian sekaligus keputusasaan.

​"Karena itulah yang disebut kutukan langit!" seru Qing Luo dengan gaung suara yang membelah keheningan lembah. "Seribu tahun lalu, kalian mengikat janji yang tak seharusnya ada. Dan sejak saat itu, dunia ini tidak pernah mengizinkan kalian bersatu. Setiap kali kau jatuh cinta padanya, takdir akan memaksamu menjadi orang yang mengakhiri hidupnya!"

​Lian Yue jatuh terduduk di depan gundukan tanah ketiga. Air matanya menetes membasahi tanah beku di atas makam kehidupan masa lalunya. Rasa perih dari ingatan yang belum sepenuhnya utuh itu mengikis seluruh pertahanan batinnya.

​Ia menatap Shen Rui yang berdiri kaku beberapa langkah darinya. Pria itu tampak begitu hancur, kehilangan seluruh keangkuhan dan ketegasan seorang pemburu dari Paviliun Tianjian.

​"Shen Rui..." bisik Lian Yue pelan di tengah deru angin malam yang berhembus kencang di antara tiga makam tanpa nama. "Apakah kehidupan ini... juga akan berakhir dengan pedangmu yang menembus dadaku lagi?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!