NovelToon NovelToon
Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.

Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.

"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."

"Saya siap."

"Aku ingin kau menghamili istriku."

“….”

Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.

Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Kecurigaan Keluarga

“Mulai sekarang, kau harus menjaga cicitku dengan baik yah, Nak.”

Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi. Jenara membeku ketika Kakek Algra menyebutkan tentang ‘Anak Reval’. Karena kenyataannya anak itu bukanlah miliknya, tetapi milik salah satu anak buah kepercayaan yang baru di angkat… Anak Dhana.

Di sisi lain, Elena perlahan mengangkat alis. Avalina menoleh kepada Evano. Evano membalas tatapannya. Seolah ketiganya menyadari perubahan ekspresi yang Jenara tunjukan. Ketiganya masih tak ada yang mengatakan apa-apa. Namun, ekspresi keduanya sudah cukup berbicara kalau mereka tidak percaya atau setidaknya, mereka tidak sepenuhnya percaya bahwa anak itu adalah anak kandung Reval.

Tuan Algra terlalu sibuk dengan kebahagiaannya sendiri untuk menyadari perubahan suasana itu. “Reval akhirnya memberiku alasan untuk tersenyum,” katanya. “Aku sudah hampir mengira anak itu akan menghabiskan hidupnya hanya untuk mengurus bisnis dan perang antar-klan.”

Elena tersenyum tipis. Lantas mulai ikut bicara, “Ya. Reval memang selalu sulit ditebak.” Nada suaranya terdengar lembut. Terlalu lembut, hingga membuat Jenara menyadari bahwa wanita itu tidak percaya bahwa anak yang dikandungnya adalah anak Reval.

“Ngomong-ngomong,” lanjut Elena, menatap Jenara, “kandunganmu sudah berapa minggu?”

Jenara terdiam sesaat. “Belum lama.”

“Berapa tepatnya?”

“Sekitar…” Jenara menggigit bibir. “Sekitar empat atau lima minggu.”

Avalina menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Lima minggu?” Ia tersenyum kecil. “Menarik.”

Elena melirik putrinya. “Avalina.”

“Aku hanya bertanya.”

Evano terkekeh pelan. “Pertanyaan yang bagus, Kak.”

Jenara menatap keduanya. Tatapan mereka terasa seperti pisau tipis yang sengaja dibiarkan menggores tanpa pernah benar-benar menusuk. Tatapan yang selama lima tahun pernikahannya dengan Reval yang selalu ia terima saat mereka bertemu.

“Lagipula,” ujar Avalina santai, “aku rasa semua orang di ruangan ini penasaran.”

“Apa maksudmu?” tanya Tuan Algra.

Avalina tersenyum polos. “Tidak ada, Kakek.”

Evano justru menyahut. “Kami hanya ingin memastikan, Kakek.”

“Memastikan apa?”

“Bahwa anak itu benar-benar anak Kak Reval.”

Suasana seketika berubah. Senyum Tuan Algra menghilang. Elena tetap diam, sengaja tidak menegur putranya. Ia malah memandang Jenara dengan tenang. Jenara menelan ludah, sebab ia tahu persis siapa ayah dari anak yang berada di dalam kandungannya. Namun, ia juga percaya bahwa Reval tidak akan membiarkan siapapun tahu tentang rahasia ini. Karena jika rahasia ini terbongkar, maka ia yang akan repot sendiri.

Sementara itu, di sudut ruangan, Levandro masih duduk diam. Ia sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan. Tatapannya bahkan tidak terangkat dari layar ponselnya. Seolah percakapan tersebut bukan urusannya.

Tuan Algra mengerutkan kening. “Evano.”

“Aku hanya bertanya.”

“Reval adalah suami Jenara.”

“Tentu.”

“Kalau begitu, siapa lagi ayahnya?”

Pertanyaan sederhana itu justru membuat Jenara semakin pucat. Namun, pembawaannya masih tetap tenang seolah ia siap menerima badai kebenaran itu kapan saja. Terbongkar ataupun tidak identitas dari ayah bayinya, itu tidak membawa kerugian apapun untuknya. Malah akan semakin bagus kalau ia diusir dan Reval diminta untuk menceraikannya, karena itulah yang ia inginkan selama ini. Berpisah dari iblis bernama Reval.

Elena menghela napas pelan. “Ayah, jangan terlalu mudah percaya pada sesuatu hanya karena kau ingin mempercayainya.”

Tuan Algra menoleh tajam. “Apa maksudmu?”

Elena tersenyum samar. “Tidak ada, Ayah.” Ia kemudian memandang Jenara. “Namun, zaman sekarang pemeriksaan DNA bukan sesuatu yang sulit dilakukan.”

Avalina menahan senyum. Evano bersiul kecil. Bahkan Levandro akhirnya mengangkat wajahnya dari ponsel. Hanya sebentar dimana tatapannya berpindah dari Elena kepada Jenara yang masih terlihat sangat tenang, kemudian kembali ke layar ponselnya.

“Aku tidak peduli,” katanya datar yang membuat semua orang langsung menoleh ke arahnya.

Levandro memasukkan ponselnya ke saku. “Anak itu milik siapa pun, bukan urusanku.” Lalu ia kembali diam.

Tuan Algra menggeleng tidak suka. “Kalian semua terlalu curiga.”

“Kami hanya realistis,” jawab Elena. Ia berdiri, mendekati Jenara, lalu tersenyum. “Selamat atas kehamilanmu.”

Kata-katanya terdengar seperti ucapan selamat. Namun sorot matanya mengatakan hal berbeda. “Kuharap semuanya sesuai dengan apa yang selama ini kami dengar.”

Jenara tidak menjawab. Tangannya secara refleks menutupi perutnya. Karena hanya dirinya yang mengetahui kebenaran yang sebenarnya. Anak itu bukan milik Reval. Anak itu adalah milik Dhana. Dan Reval telah memastikan tidak seorang pun akan mengetahui kebenaran itu… dengan cara apa pun.

Di luar ruangan, suara langkah kaki terdengar. Reval baru saja tiba. Ia berhenti di ambang pintu ketika mendengar percakapan keluarganya. Tatapannya langsung mengarah kepada Jenara. Hanya satu detik, namun cukup untuk membuat wajah Jenara terlihat sangat muak dengan kedatangan pria yang masih berstatus suaminya itu.

Reval kemudian tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sudah mendengar kabarnya.”

Tuan Algra langsung bangkit. “Reval!” Lelaki tua itu berjalan menghampirinya dengan wajah penuh kebahagiaan. “Cucuku, kau akhirnya memberiku cicit.”

Reval terdiam, tapi tatapan matanya beralih kepada Jenara. Senyum di bibirnya tetap ada. Ia tahu Jenara tidak mengatakan apapun dengan siapa ayah dari bayi dalam kandungannya. Meskipun Reval dapat menebak kalau ibu dan kedua adik kembarnya pasti akan mencurigai dan mempertanyakannya.

“Ya, Kakek.” Ia menjawab dengan tenang. “Cicitmu tak lama lagi pasti akan lahir.”

Di belakangnya, Elena memicingkan mata. Avalina dan Evano kembali saling bertukar pandang. Sementara Levandro hanya menghela napas panjang. Mereka mungkin belum memiliki bukti. Tetapi untuk pertama kalinya, keluarga utama Arsenalio mulai mencium sesuatu yang tidak beres. Dan Reval tahu itu. Ia hanya belum tahu... seberapa jauh mereka akan menggali kebenaran tersebut.

Setelah kedatangan Reval, Nyonya Elena mauapun dua saudara kembar itu tidak lagi melontarkan kata-kata yang mengarah pada kecurigaan. Mereka pun tinggal di sana sampai waktu makan malam, sebelum akhirnya kembali ke Mansion Utama. Tak berselang lama, Reval juga memutuskan pergi dari Mansion itu untuk pulang ke Mansion ke tempat kekasihnya tinggal.

...****************...

Keesokan paginya, Dhana meninggalkan mansion sebelum matahari benar-benar tinggi. Tidak ada perpisahan, tidak ada kesempatan untuk berbicara dengan Jenara. Ia hanya meninggalkan tempat itu dengan satu beban yang terasa semakin berat setiap kali langkahnya menjauh.

Perjalanan menuju markas utama berlangsung tanpa banyak percakapan. Begitu tiba, suasana langsung berubah. Markas Reval telah dipenuhi anak buahnya. Dhana baru beberapa langkah masuk ketika Reval muncul dari tengah kerumunan.

"Mulai hari ini," ucap Reval lantang, "Ardhana Vendra bukan lagi sekadar salah satu anak buahku."

Semua mata tertuju kepada Dhana yang berada disisi Reval. Hingga Reval kembali berkata, "Dia adalah orang kepercayaanku."

Beberapa orang hanya menatap tanpa ekspresi. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada ucapan selamat. Posisi itu jelas terlalu berat untuk diperebutkan. Menjadi orang kepercayaan Reval berarti menerima seluruh konsekuensi dari setiap keputusan yang dibuat sang ketua mafia. Namun di antara kerumunan itu, empat orang justru terlihat berbeda.

Bersambung ….

1
InaraAp 09
Lanjut Thor semakin seru ceritanya
InaraAp 09
bagus dhana
InaraAp 09
hati2 dhana, jangan sampai kebongkat
InaraAp 09
lanjut thor
InaraAp 09
jujur pengin nampol Elena dan anaknya
InaraAp 09
gak bisa bayangkan di posisi jenara
InaraAp 09
benar dhana harus tepati janjimu
InaraAp 09
Jadi dhana pasti serba bingung🤔
Sri Yatun
apa sudah tau ke 4 orang itu tentang penyamaran dhana
Fahmi Ardiansyah
iya mungkin jenara gak ada yang bisa di katakan LG.krn dhanagak mau bekerja sama dgn dirinya.
Fahmi Ardiansyah
semoga Reval gak berbuat curang sama dhana.
Fahmi Ardiansyah
setelah tau markasnya kmu harus menyusun rencana sebaik mungkin dhana.biar Reval hancur sampai akarnya.
InaraAp 09
besok up yang banyak kak
InaraAp 09
pantas saja
InaraAp 09
semakin penasaran
InaraAp 09
semakin seru....
InaraAp 09
🤔
InaraAp 09
berharap beneran padahal
InaraAp 09
semangat lanjut up... seruuu
InaraAp 09
up lagi dong kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!