NovelToon NovelToon
Secercah Cahaya

Secercah Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:709
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.

Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!

Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Syukuran Ga sih?

Bel pulang sekolah sudah berdentang beberapa menit yang lalu. Lorong-lorong kelas mulai lengang saat para murid berhamburan pulang, namun tidak bagi Danu, Rio, Zahra, Putri, dan Reno. Langkah kaki mereka justru mengayun bersama menyusuri koridor menuju satu tujuan yang sama, usai menerima pesan singkat dari Kak Rizki di grup obrolan.

"Wah... ada apa nih dikumpulin mendadak begini?" tanya Rio membuka percakapan sambil memutar-mutar kunci motor di jarinya.

Putri merapikan tali tasnya, merespons dengan nada lembut. "Mungkin ada jadwal latihan baru yang harus kita catat."

"Bisa saja... atau jangan-jangan ada hukuman khusus buat lu, Rio? Hahaha," tawa kecil Zahra pecah, melirik Rio jahil.

Rio mendengkus melipat tangan. "Apalah... hukuman apa coba? Orang gue nggak berbuat ulah!"

"Hehe..." Danu hanya terkekeh pelan melihat perdebatan kecil kedua temannya itu.

Sementara itu, Reno berjalan sedikit di belakang mereka. Ia lebih banyak terdiam, matanya menatap lantai koridor. Rasa canggung masih menyelimuti dadanya karena belum sepenuhnya terbiasa menunjukkan sisi aslinya di hadapan teman-teman barunya ini.

Setibanya di ruang ekstra musik, pintu kayu itu sudah terbuka lebar. Kak Rizki menyambut mereka dengan senyum lebar dari balik meja.

"Ada apa, Kak, bawa kami semua ke sini sepulang sekolah?" tanya Danu penasaran.

Kak Rizki berkacak pinggang, memasang raut penuh kebanggaan. "Hmm... Kak Rizki mau traktir kalian semua makan bakso!"

Mata Rio seketika berbinar terang. "Bakso?! Wih, enak tuh! Gas lah!"

Zahra sedikit menundukkan kepalanya ramah. "Terima kasih banyak ya, Kak Rizki."

"Ya... santai saja. Ini hadiah kecil untuk kalian yang sudah bekerja keras di konser kemarin," balas Kak Rizki hangat. Ia lalu memalingkan pandangannya ke arah Reno yang berdiri canggung di dekat pintu. "Dan untuk Reno... tentu saja Kakak traktir juga."

Reno mengerutkan keningnya sedikit, memiringkan kepala. "Makan... bakso?"

"Iya. Kenapa, Ren? Lu belum pernah makan bakso pinggir jalan?" tanya Kak Rizki keheranan.

Reno menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Belum... hehe."

"Wah, parah! Tenang saja, bakso langganan Kakak ini dijamin pasti bikin lu puas dan ketagihan!" seru Kak Rizki optimis. "Ayo, keluar gerbang sekolah, kita langsung meluncur ke tempat Kang Bakso!"

Mereka berenam melangkah beriringan keluar dari area sekolah, menyusuri trotoar menuju kedai bakso yang terletak tak jauh dari gerbang utama.

Setibanya di warung bakso tersebut, aroma kuah kaldu gurih yang berasap tipis langsung menyapa indra penciuman mereka. Keadaan warung cukup ramai oleh para pelanggan yang sedang menikmati mangkuk masing-masing—ada siswa sekolah lain yang sibuk mengipas wajah karena kepanasan oleh sambal, hingga sepasang suami-istri berparuh baya di sudut ruangan, di mana sang istri dengan telaten menyuapi suaminya yang disabilitas. Suasana di sana terasa sangat hidup dan merakyat.

"Nah, ini dia tempatnya!" tunjuk Kak Rizki bangga.

"Ooh... jadi ini warung langganan Kak Rizki?" gumam Putri sembari mengamati sekeliling.

"Yup! Tempatnya legendaris banget," sahut Kak Rizki. "Ayo masuk dan cari tempat duduk!"

Mereka melangkah masuk menyusup di antara meja-meja kayu. Setelah mendapat tempat yang pas, Kak Rizki mengangkat tangannya memanggil sang penjual.

"Bang! Mau pesan, Bang!"

"Beli enam mangkok ya, Bang!" seru Kak Rizki pada penjual bakso.

"Siap, Mas!" sahut Kang Bakso sigap memukul mangkuk keramiknya.

Kak Rizki berbalik melangkah ke arah meja panjang tempat anak-anak sudah berkumpul, lalu menarik kursi plastik dan duduk bergabung.

"Nanti kita mau ngapain lagi setelah dari sini, Kak?" tanya Rio antusias, memasang posisi siap meluncur.

Kak Rizki mengibaskan tangannya santai. "Nanti saja memikirkannya. Sekarang fokus makan dulu."

"Baiklah kalau gitu," balas Rio pasrah.

Tak butuh waktu lama, pesanan enam mangkuk bakso yang mengepul hangat akhirnya tiba di meja mereka. Aroma kuah kaldu sapi yang gurih dan kaya rempah langsung menyengat hidung, sukses membuat perut mereka bergemuruh makin lapar. Ditambah lagi, ukuran bakso daging yang disajikan cukup besar dan melimpah.

Mereka pun mulai menyantap bakso masing-masing dengan gembira. Namun, saat baru hendak menyuap, mata Reno mendadak melotot kaget melihat aksi Rio yang menuangkan sambal merah cair secara membabi buta ke mangkuknya.

"Emm... itu nggak kebanyakan, Yo?" tanya Reno canggung, matanya menatap horor kuah bakso Rio yang mendadak berubah warna menjadi merah pekat.

Rio mendongak santai sambil mengocok botol sambal. "Hah? Oh, ini? Ini mah standar, biasa saja buat gue."

Zahra melirik malas ke arah Rio lalu berbisik pada Reno. "Nggak usah dihiraukan, Ren. Dia memang ajaib begitu. Nanti juga mules terus berak-berak di rumah, hehe," tawa kecil Zahra mengejek.

"Apalah lu, Ra! Ini namanya nikmat kesukaan gue!" sungut Rio tak terima.

"Y," balas Zahra singkat dan dingin.

Rio yang tak peduli lalu meraih kaleng kerupuk di tengah meja. Ia mengambil satu kerupuk putih yang paling utuh lalu menyodorkannya ke arah gadis di sampingnya. "Oh iya, ini kerupuknya buat kamu, Putri. Kalau kurang, bilang ya, nanti aku ambilin lagi."

Putri terkejut, pipinya mendadak merona merah. "Hehe... ma-makasih, Rio. Nggak usah repot-repot, nanti aku bisa ambil sendiri kok."

"Hahaha! Kasihan banget, langsung ditolak!" ledek Zahra puas sambil tertawa geli.

Sembari canda tawa terus mengalir, mereka hampir menyelesaikan santapan terakhir. Di tengah suasana hangat itu, mata Danu mendadak tertuju pada sudut bibir Zahra.

"Zahra," panggil Danu pelan.

Zahra menghentikan kunyahannya, menatap Danu bingung. "Iya...? Ada apa, Danu?"

"Itu... ada sisa kuah sama kuah bakso yang nempel di sekitar mulut kamu."

"Ehh... di sebelah sini?" Zahra meraba pipinya sendiri, tapi malah meleset.

"Bukan, bentar... ini dia," Danu secara refleks mencondongkan tubuhnya, lalu dengan lembut mengusapkan jarinya mengusap sisa makanan di sudut bibir Zahra.

Mata Zahra membulat sempurna. Seluruh darah di tubuhnya rasanya naik ke wajah. "Da-Danu..."

Melihat reaksi Zahra yang membeku, Danu baru sadar tindakannya terlalu mendadak. Ia menarik tangannya canggung sambil menggaruk leher. "Ehh... maaf, aku refleks. Nggak boleh ya?"

"Ehh... bu-bukannya nggak boleh, cuma..." gagap Zahra, salah tingkah setengah mati sampai bingung harus menaruh wajahnya di mana.

Rio langsung memotong dengan muka jahil. "Udah, udah! Bucinnya diterusin pas balik ke rumah aja, jangan di depan bakso!"

"Apasih, Rio! Ganggu saja lu!" kesal Zahra membentak Rio demi menutupi wajahnya yang makin memerah bagai tomat matang.

Setelah merampungkan santap sore yang penuh derak tawa dan momen salting itu, Kak Rizki membayar seluruh pesanan mereka. Mereka berenam pun berjalan kaki kembali ke area sekolah untuk bersiap pulang ke rumah masing-masing.

Di depan gerbang sekolah, kendaraan jemputan mereka sudah mulai terlihat. Putri sudah dijemput oleh ayahnya yang menunggunya di atas sepeda motor, Kak Rizki bersiap menaiki motor miliknya sendiri, sementara sebuah mobil sedan hitam mewah milik keluarga Reno tampak sudah terparkir rapi di pinggir jalan dengan sopir pribadi yang siap membukakan pintu.

Sebelum melangkah masuk ke dalam mobilnya yang mewah, Reno menghentikan langkahnya. Ia berbalik menghadap ke arah Trio Plenger, Putri, dan Kak Rizki.

Dengan senyum paling tulus yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, Reno melambaikan tangannya tinggi-tinggi.

"Terima kasih banyak ya, teman-teman! Aku nggak sangka makanan pinggir jalan ternyata enak sekali! Semoga kita selalu bisa kumpul dan bertemu kayak gini terus!" seru Reno lantang dari dekat pintu mobilnya yang terbuka.

Anak-anak Ekstra Musik membalas lambaian tangan itu dengan sorakan hangat. Dinding gengsi Reno telah benar-benar runtuh, digantikan oleh ikatan persahabatan baru yang siap menemani langkah mereka di masa depan.

[Bersambung]

1
Tio Buki
Semangat ya
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏
Tio Buki
Semangat thor
Tio Buki
Baru satu orang ya
Tio Buki
Cari dimana
Tio Buki
Ngak
Tio Buki
Kan karena kan
Tio Buki
Bernafas lega
Tio Buki
Siapa
Tio Buki
Yang sabar
Tio Buki
Merasa apa ya
Tio Buki
Kaget aku
Tio Buki
Pukul ya
Tio Buki
Mana aku tau
Tio Buki
Cermin ya
Tio Buki
Bayangan ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!