NovelToon NovelToon
Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: HaLiAs

Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kertas Formulir

‎   Kertas formulir berlambang Garuda itu terasa lebih berat dari sekeping emas murni di tangan Reza. Cap biru bertuliskan *DITERIMA* memang sudah tercetak gagah di sudut kanan atas, namun deretan persyaratan yang terlampir di halaman kedua sukses membuat nyali pemuda kurus itu menciut seukuran kuaci.

‎

‎Paspor. Visa Kerja. Dan yang paling mengerikan dari semuanya: Surat Izin Orang Tua di atas materai.

‎

‎Di luar gedung Dinas Tenaga Kerja, di bawah pohon mahoni yang rindang, Reza duduk berjongkok sambil mengacak-acak rambutnya yang sudah dipotong rapi. Di sebelahnya, Poltak sedang asyik mengunyah batagor gerobakan, sama sekali tidak terpengaruh oleh krisis eksistensial yang sedang melanda sahabatnya.

‎

‎"Kenapa lagi muka kau, Za? Udah tembus itu pendaftaran TKI, masih aja kau tekuk muka macam baju belum disetrika," tegur Poltak sambil menyodorkan sebungkus batagor yang berlumuran bumbu kacang.

‎

‎Reza menatap Poltak dengan pandangan kosong, mengabaikan batagor itu. "Gue disuruh bawa surat izin orang tua, Tak. Pakai materai, ditandatangani langsung sama Bapak gue."

‎

‎"Ya bagus toh! Tinggal kau suruh bapakmu tanda tangan, kelar urusan. Terbanglah kau ke Guangzhou nyusul cewek tomboymu itu."

‎

‎"Bagus dari Hongkong!" Reza memekik frustrasi, memegangi kepalanya dengan kedua tangan. "Lo lupa Bapak gue jual motor *Astrea Grand* kesayangannya buat biayain gue masuk UI?! Motor itu harta karun keluarga gue, Tak! Terus sekarang gue harus pulang kampung, sungkem ke Bapak gue, dan bilang, 'Pak, maaf motornya udah jadi debu, Reza di-DO gara-gara dituduh mesum, sekarang minta tanda tangan dong buat jadi kuli di Cina.' Gitu?! Bisa-bisa gue dicoret dari Kartu Keluarga, terus nama gue diganti jadi 'Anak Durhaka'!"

‎

‎Mendengar skenario absurd itu, Poltak justru tertawa terbahak-bahak hingga bumbu kacang batagornya nyaris menyembur keluar. Ia menepuk punggung Reza dengan tenaga beruangnya. "Bah! Baru sadar kau sekarang?! Kemarin pas di ruang dekanat kau sok-sokan tegar macam jenderal perang, sekarang mikirin muka bapakmu aja kau udah gemetaran macam *jelly*."

‎

‎Reza mengusap wajahnya kasar. Ketakutan itu nyata. Menghadapi preman berbadan kulkas dua pintu semalam suntuk masih lebih mending daripada harus melihat air mata kekecewaan ibunya atau raut wajah hancur bapaknya. Ia difitnah, ia tidak bersalah, tapi orang tua di kampung mana mengerti urusan konspirasi mahasiswa ibukota? Yang mereka tahu, anaknya dikeluarkan karena kasus asusila. Itu adalah aib.

‎

‎"Gue bingung, Tak. Apa gue palsuin aja ya tanda tangannya?" gumam Reza, setengah putus asa.

‎

‎Mata Poltak melotot. Ia menempeleng kepala Reza pelan. "Sembarangan kau! Mulai dari niat yang kotor, hasilnya pasti kotor! Kau ini mau nepatin janji suci sama cinta pertamamu, masa mau kau mulai dengan dosa menipu orang tua? Temui bapakmu! Ceritakan yang sebenarnya. Kalau dia mau mukul, biarlah dia mukul. Itu namanya laki-laki!"

‎

‎Reza terdiam. Kata-kata Poltak, meski keluar dari mulut yang belepotan bumbu kacang, memiliki kebenaran yang mutlak. Janji pada Chintya tidak boleh dinodai dengan kebohongan pada orang tuanya. Ia harus pulang kampung akhir pekan ini. Menghadapi pengadilan keluarganya sendiri.

‎

‎Melihat Reza yang masih pucat, Poltak menelan batagor terakhirnya dan mengusap mulutnya dengan punggung tangan. "Gini aja. Biar kau nggak mati berdiri di depan pintu rumahmu, besok Sabtu aku ikut kau pulang kampung."

‎

‎Reza mendongak kaget. "Gila lo! Nggak usah, Tak. Lo kan ada kelas pengganti hari Sabtu gara-gara dosen lo sering bolos. Lagian, lo ngapain ikut? Mau nonton gue dikutuk jadi batu Malin Kundang?"

‎

‎"Kelas bisa ku-titip absen sama kawan! Tapi mentalmu ini nggak bisa dititip-titip," balas Poltak keras kepala, membusungkan dadanya yang lebar. "Aku ini saksi matamu, Za. Aku yang bakal jelasin ke bapakmu kalau anaknya ini difitnah! Biar bapakmu tahu anaknya ini pahlawan, bukan penjahat kelamin macam yang dibilang dosen killer itu. Lagian, aku penasaran juga mau nyicip gado-gado ibumu yang sering kau banggakan itu."

‎

‎Reza ingin menolak, tapi kehangatan menjalar di dadanya. Pemuda Batak di sampingnya ini rela mengorbankan waktu dan kuliahnya hanya untuk menjadi *bumper* bagi dirinya di kampung halaman. Pada akhirnya, Reza hanya bisa menghela napas pasrah. "Terserah lo deh, Tak. Asal lo jangan bikin rusuh aja di kampung gue."

‎

‎   Akhir pekan pun tiba dengan cepat. Pagi-pagi buta, Reza sudah berdiri di depan kosan dengan tas ransel bututnya. Tak lama kemudian, pintu kamar Poltak terbuka. Pemuda itu keluar membawa tas gunung *carrier* berukuran enam puluh liter yang menjulang tinggi di punggungnya, lengkap dengan kacamata hitam ala Terminator.

‎

‎"Lo mau pulang kampung ke rumah gue atau mau muncak ke Semeru, Tak?!" pekik Reza horor melihat bawaan temannya. "Kita cuma nginep semalam, gila!"

‎

‎"Bah, sedia payung sebelum hujan! Di dalam ini ada baju ganti, P3K, sarung, sampai tolak angin satu renteng. Siapa tahu bapakmu ngusir kita dari rumah, setidaknya kita bisa *camping* di lapangan bola kampungmu!" jawab Poltak penuh percaya diri.

‎

‎Dengan perdebatan kecil yang konyol itu, dua pemuda yang baru saja babak belur oleh kerasnya realitas ibukota itu melangkah menuju Terminal Kampung Rambutan. Mereka menaiki bus kelas ekonomi non-AC yang aromanya merupakan perpaduan harmonis antara keringat, minyak kayu putih, dan asap knalpot. Perjalanan menuju Kota J memakan waktu berjam-jam, diiringi dentuman musik dangdut koplo dari *speaker* bus yang suaranya pecah, seolah ikut menertawakan nasib tragis namun komedik dari Reza.

‎

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!