Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.
Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.
Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**
Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.
Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.
Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.
Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Fitnah di Depan Ibu Mertua
Dua hari setelah Den Nara mengetahui rahasiaku, rasa aman justru menjadi hal yang paling sulit kuhadapi.
Aku tidak lagi mengambil setengah piring jika dia ada di rumah. Dia tidak selalu menyuruhku duduk di meja keluarga, tetapi Bu Nah akan membawa makanan ke meja kecil dekat ruang kerjanya. Den Nara bekerja dengan laptop, sedangkan aku makan tanpa perlu takut pada aroma yang muncul.
Setelahnya, dia selalu menemukan alasan sederhana untuk menutupinya. Buah terlalu matang. Pengharum ruangan baru. Bunga kenanga di taman sedang mekar.
Tak seorang pun curiga, kecuali mungkin Mbak Ratih.
Sore hari kedua belas, Den Nara keluar menemui Bayu. Sebelum pergi, dia berkata pintu ruang kerja luar boleh kupakai bila tubuhku terlalu panas. Pintu harus tetap terbuka dan Bu Nah harus tahu.
"Jangan lagi mengguyur tubuh dengan air dingin sampai menggigil," katanya.
"Saya bisa di kamar sendiri."
"Kamarmu menghadap lorong pekerja. Semua orang keluar masuk. Di sini ada pendingin dan alasan kerja."
Aku akhirnya menurut. Bu Nah melihatku membawa kain debu ke lantai atas dan bahkan berpesan agar sekalian membuka jendela ruang kerja.
Aku tidak tahu Ratih sedang memperhatikan dari ujung lorong.
Sebelum naik, aku sempat mengantar catatan Arka kepadanya. Ratih membalik halaman dengan cepat, lalu mengkritik jumlah tidur siang meski sesuai jadwal dokter anak.
"Jangan buat dia terlalu bergantung padamu," katanya.
"Saya hanya mengikuti kebutuhannya, Mbak."
"Semua di rumah ini mulai bergantung padamu rupanya. Arka, Bu Nah, bahkan Nara."
Aku tidak menjawab. Ratih menutup buku lebih keras daripada perlu. Saat itulah Den Nara memanggil dari tangga dan mengatakan ruang kerja boleh kupakai. Ratih mendengar setiap katanya.
***
Pendingin ruangan menurunkan panas di tengkuk. Aku membersihkan rak yang memang sedikit berdebu, membuka jendela, lalu duduk sebentar di kursi dekat pintu. Pintu tidak terkunci. Daunnya hanya merapat tertiup angin sampai menyisakan celah sempit.
Aroma manis perlahan melemah.
Ketika mendengar langkah, aku segera berdiri. Kain debu kuambil. Aku membuka pintu untuk keluar dan hampir bertabrakan dengan Ratih.
Bu Retno berdiri beberapa langkah di belakangnya.
"Nah!" Ratih berseru. "Aku bilang juga apa."
Aku membeku. "Mbak Ratih?"
Dia mendorong pintu. "Kenapa kau ada di kamar Nara? Pintunya tertutup pula. Mau macam-macam?"
"Ini ruang kerja luar, Mbak. Saya membersihkan rak."
"Membersihkan sambil duduk? Aku lihat dari ujung lorong."
Bu Retno mendekat. Sorotnya berpindah dari wajahku ke pintu, lalu ke kain di tangan.
"Siapa yang menyuruhmu?"
"Den Nara, Bu. Bu Nah juga tahu."
"Nara tidak di rumah," potong Ratih. "Enak saja pakai namanya."
"Den Nara menyuruh sebelum pergi."
Ratih mengendus udara. Matanya langsung menyipit. "Bau apa ini? Manis sekali."
Darahku berdesir.
Aku menatap meja. Di sana ada mangkuk buah yang tadi pagi diletakkan Bu Nah. Hanya tersisa kulit jeruk dan dua potong melon.
"Buahnya terlalu matang," jawabku. "Tadi air melon tumpah sedikit. Saya masuk untuk membersihkan dan membuka jendela."
Ratih mengambil mangkuk, mengendusnya, lalu mendekatkan wajah ke bahuku. Aku mundur refleks.
"Bukan cuma buah. Baunya dari kau."
"Mbak, saya tadi membawa mangkuknya. Mungkin kena baju."
"Atau kau pakai minyak aneh supaya Nara tergoda?"
Wajahku terbakar. "Tidak, Mbak."
"Jangan pura-pura polos. Cara kau menunduk, baju sempitmu, bau manis ini. Perempuan tahu apa yang dilakukan perempuan lain."
Setiap tuduhannya mengambil kalimat yang pernah kudengar di desa dan memberinya pakaian baru. Bedanya, kali ini aku tidak berdiri sendirian di depan warung. Pintu terbuka. Bu Retno ada di sini. Bu Nah tahu tugas yang kulakukan.
Aku memaksa suaraku tetap jelas. "Baju saya pakaian lama satu-satunya, Mbak. Saya tidak memilih tubuh saya untuk mengganggu siapa pun."
Ratih menatapku, benar-benar terkejut. "Apa katamu?"
"Saya datang untuk bekerja. Kalau pekerjaan saya salah, tegur saya. Jangan menuduh niat yang tidak saya punya."
"Ratih, jaga ucapan," kata Bu Retno.
"Ibu tidak mencium? Sejak dia datang, Nara berubah. Sekarang dia berani masuk kamar laki-laki saat orangnya tidak ada."
"Pintunya tidak dikunci," kataku, lebih tegas. "Tertutup karena angin. Bu Nah tahu saya di sini."
Ratih tampak kaget karena aku membela diri. "Sekarang berani menjawab?"
Bu Retno memegang gagang pintu dan memeriksa kunci. Selotnya terbuka. Dari lorong, bagian dalam ruang kerja terlihat jelas. Dia kemudian menyentuh rak yang sudah kubersihkan dan kain lembap di tanganku.
"Panggil Bu Nah," perintahnya.
Ratih tersenyum yakin aku akan terbukti berbohong.
***
Bu Nah datang tergopoh.
"Benar Nara menyuruh Sekar membersihkan ruang ini?" tanya Bu Retno.
"Benar, Bu. Den Nara bilang pintunya jangan dikunci. Saya juga yang memberi kain lap."
Senyum Ratih menghilang sedikit.
"Kenapa sekarang ditutup?"
Bu Nah melihat jendela yang terbuka. "Anginnya kencang. Pintu ini memang suka bergerak."
Bu Retno mendorong daun pintu. Angin dari jendela membuatnya merapat sendiri.
Kebohongan Ratih tentang pintu terkunci runtuh, tetapi tatapan Bu Retno kepadaku tetap berat.
"Lalu bau manisnya?"
Bu Nah mengambil mangkuk. "Melonnya memang kelewat matang, Bu. Den Nara tadi pagi juga bilang. Saya lupa membuangnya."
Aku menggenggam kain sampai airnya menetes ke lantai. Den Nara sudah menyiapkan alasan itu sebelum pergi, seolah memperkirakan aroma akan muncul.
Dia melindungiku bahkan ketika tidak berada di rumah.
Ratih belum menyerah. "Ibu, bukan cuma soal pintu. Sekar terlalu sering ada di sekitar Nara. Orang luar sudah mulai bicara."
"Orang luar siapa?" tanya Bu Retno.
Ratih tersendat. "Ya... orang rumah juga melihat."
"Kau yang paling banyak melihat," kata Bu Nah pelan.
"Bu Nah!"
Bu Retno mengangkat tangan. Semua diam.
"Tidak ada bukti Sekar melakukan yang kau tuduhkan," katanya kepada Ratih. "Jangan membuat keributan dari pintu yang tertiup angin."
Lututku hampir lemas karena lega.
Lalu Bu Retno beralih kepadaku.
"Tetapi mulai hari ini, jangan berada di ruangan Nara sendirian, sekalipun pintu terbuka. Kalau perlu membersihkan, ajak Bu Nah atau pekerja lain. Saya tidak mau ada celah untuk omongan. Mengerti?"
"Mengerti, Bu."
"Kau bekerja di rumah keluarga terpandang. Nama baik rumah ini juga harus kau jaga. Tahu diri, tahu batas. Kalau masalah seperti ini terulang, saya akan mempertimbangkan kembali pekerjaanmu."
"Bu," kata Bu Nah hati-hati, "Sekar tadi sudah mengikuti semua instruksi."
"Saya tahu. Karena itu dia tidak saya hukum." Bu Retno menatapku, tidak kejam tetapi kokoh. "Namun kebenaran saja tidak selalu menghentikan fitnah. Kita juga harus menutup jalannya."
Aku mengerti logikanya. Seorang perempuan dari desa berada di kamar putra konglomerat akan selalu lebih mudah dituduh daripada dipercaya. Namun memahami bukan berarti rasa sakitnya berkurang.
"Mulai besok saya bersihkan bersama Bu Nah," jawabku.
"Bagus. Dan kalau Nara memberi perintah yang membuatmu tidak nyaman, lapor kepada saya."
Kalimat terakhir membuatku mengangkat wajah. Bu Retno tidak hanya sedang melindungi nama keluarga. Dengan caranya yang keras, dia juga memberiku jalan untuk menolak putranya sendiri.
Kata-kata itu menekan luka lama. Tahu diri. Di mana pun aku berada, tubuh dan kedudukanku selalu dianggap ancaman yang harus diatur.
Aku menunduk. "Iya, Bu. Saya minta maaf."
"Bereskan, lalu turun."
Bu Retno pergi. Ratih mengikutinya setelah melempar tatapan puas, seolah peringatannya tetap sebuah kemenangan. Bu Nah tinggal membantuku menutup jendela.
"Jangan menangis," bisiknya. "Kau tidak salah, tapi omongan memang kejam."
Aku mengusap mata sebelum airnya jatuh. "Kalau Den Nara pulang, jangan bilang saya menangis."
"Kenapa?"
"Nanti dia marah."
Bu Nah menatapku lama, lalu menghela napas. "Justru itu yang membuat orang curiga, Kar. Dia terlalu peduli."
***
Di gerbang depan, Bayu sedang menyerahkan hasil penyelidikan awal kepada Den Nara yang baru kembali.
Aku melihat mereka dari jendela lantai atas. Bayu membuka map, menunjukkan beberapa lembar, lalu berbicara pelan. Den Nara membaca dengan wajah semakin gelap.
Bayu menunjuk satu bagian. Den Nara mengangkat kepala ke arah rumah. Aku mundur dari jendela sebelum pandangan kami bertemu.
Di meja dekatku, mangkuk buah masih mengeluarkan aroma melon. Aku membawanya turun dan membuang isinya. Alasan perlindungan itu tidak bisa dipakai terus. Cepat atau lambat, orang akan sadar bahwa bau manis selalu muncul di tempatku berada.
Aku perlu cara lain. Pakaian lebih longgar, waktu makan berbeda, atau mungkin meninggalkan rumah sebelum keberadaanku merusak hubungan keluarga ini.
Pikiran terakhir membuat dadaku sesak.
Dua hari lalu, pergi akan terasa mudah. Kini ada Arka yang meraih kerahku saat mengantuk, Bu Nah yang mencarikan kancing, dan seorang lelaki dingin yang duduk dekat meja kecil agar aku berani kenyang.
Aku belum tahu bahwa di dalam map itu ada nama Sukir, utang rentenir, dan rencana kawin paksa yang kutinggalkan.
Aku juga belum tahu bahwa peringatan Bu Retno barusan bukan akhir masalah.
Saat turun, aku berpapasan dengan Ratih di tangga. Dia menepuk bahuku seolah akrab, kemudian berbisik dekat telinga.
"Hari ini kau lolos. Jangan kira Ibu akan membiarkan pembantu desa bermimpi jadi menantunya."
Dia berjalan pergi sebelum sempat kubalas.
Di bawah, suara Den Nara memanggil Bayu kembali. Di atas, peringatan Bu Retno masih menempel di dinding-dinding lorong.
Aku berdiri di tengah rumah itu dan kembali merasa bahwa satu kesalahan kecil saja dapat membuatku kehilangan tempat berlindung.