Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sarapan bertiga
*Pagi*
"Tok. Tok. Tok."
Suara ketukan itu terdengar pelan, tapi cukup untuk membuat jantungku yang baru saja sedikit tenang kembali berdegup kencang.
"Nduk, ayo sarapan." Itu suara Ibu. Terdengar lembut, tapi ada nada tegas yang jarang dia gunakan akhir-akhir ini.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungku. Aku berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan. Di sana berdiri Ibu, sudah mengenakan daster rapi dan rambutnya diikat sederhana. Wajahnya terlihat segar, seolah semalam tidak ada badai yang menerpa rumah ini.
"Tumben," gumamku sambil menguap kecil, berusaha terlihat natural meski mataku masih bengkak bekas menangis. "Kemarin-kemarin sarapan kan diantar ke kamar sama Bu. Sekarang mau sarapan di meja makan?"
Ibu tersenyum tipis, lalu merapikan kerah baju tidurku yang sedikit kusut. "Iya, Nduk. Jangan terlalu bergantung seperti itu. Meski kita sudah hidup enak begini, kita harus tetap punya etika. Bapak juga menunggu. Masa ayah tiri harus menunggu anak tirinya?"
Kalimat itu terdengar seperti nasihat biasa, tapi bagiku, itu adalah peringatan halus. Jangan buat masalah. Jangan bikin Bapak marah.
"Iya, Bu. El tau," jawabku patuh, menundukkan kepala. "El mau mandi dulu sekalian biar segar."
"Ya sudah, jangan lama-lama ya," kata Ibu sebelum berbalik dan melangkah menuju tangga. Langkah kakinya ringan, seolah beban berat di pundaknya sudah hilang sejak menikah dengan Samudra. Padahal, aku tahu, beban itu hanya berpindah dari kemiskinan ke ketakutan.
Aku menutup pintu kembali, lalu bersandar padanya sejenak.
Mandi. Ya, aku butuh itu. Bukan hanya untuk membersihkan tubuh, tapi untuk membersihkan pikiran. Aku butuh waktu sendiri, walau hanya sepuluh menit di bawah guyuran air, untuk mengumpulkan sisa-sisa keberanianku menghadapi 'Bapak'.
Aku masuk ke kamar mandi, memutar keran shower. Air hangat mengalir deras, menciptakan kabut uap yang menyelimuti ruangan kecil itu. Aku berdiri di bawah guyuran air, membiarkannya membasuh wajahku, leherku, hingga seluruh tubuhku. Aku menggosok gigi dengan kasar, seolah ingin membersihkan rasa jijik yang menempel di lidahku sejak mendengar suara Samudra tadi malam.
Setelah merasa cukup bersih, aku mematikan shower, mengeringkan tubuh dengan handuk, dan mengenakan gaun rumah yang sopan, lengan panjang, warna pastel, tidak terlalu mencolok. Aku menyisir rambutku hingga rapi, lalu memandang cermin.
Wajah di sana pucat, tapi aku memaksakan senyum tipis. Topeng. Aku harus memakai topeng lagi hari ini.
Aku membuka pintu kamar dan menuruni tangga. Aroma makanan mewah sudah tercium dari ruang makan. Nasi goreng kepiting, jus alpukat, dan buah-buahan impor tersaji di atas meja marmer yang mengilap.
Samudra sudah duduk di kursi utamanya. Hari ini dia tampak sangat berbeda dari semalam. Kemeja putihnya licin tanpa cacat, dasinya terikat sempurna, dan rambutnya disisir rapi ke belakang. Tidak ada bau alkohol. Tidak ada mata merah. Dia terlihat seperti pengusaha sukses yang berwibawa.
Terlalu sempurna. Itu yang membuatnya menakutkan.
Ibu sudah duduk di sampingnya, tersenyum kaku saat melihatku turun.
"Selamat pagi, Angela," sapa Samudra tanpa menoleh. Matanya tetap tertuju pada tablet di tangannya yang menampilkan grafik saham. Suaranya datar, dingin, dan otoriter. Seolah kejadian semalam tidak pernah terjadi.
"Pagi, Pak," jawabku pelan, mengambil tempat duduk di seberang mereka. Jarak yang cukup jauh, tapi aku masih bisa merasakan aura dingin darinya.
Samudra akhirnya menatapku. Senyum tipis terbentuk di bibirnya. Senyum yang sama seperti semalam, tapi kali ini tertutup oleh topeng kesopanan.
"Tidurnya nyenyak?" tanyanya. Nada bicaranya santai, tapi ada nada interogasi di baliknya. "Kamu pulang larut kemarin. Temanmu... Vina, kan? Bibi Wijaya bilang kamu jarang bertemu dia."
Jantungku berdegup kencang. Dia sudah mengecek? Atau Bibi Wijaya yang melaporkan?
"Iya, Pak. Kami memang jarang bertemu, jadi banyak cerita yang ingin dibicarakan," jawabku, mencoba terdengar meyakinkan meski tenggorokanku kering.
Samudra mengangguk pelan, matanya menelusuri wajahku, mencari kebohongan. "Baguslah kalau kamu masih punya teman. Tapi ingat, Angela... keluarga adalah prioritas. Jangan sampai pertemanan membuatmu lupa pada kewajibanmu di rumah ini."
Ibu menatapku dengan pandangan khawatir, lalu menunduk kembali ke piringnya, takut untuk ikut campur.
Aku hanya bisa mengangguk patuh, sementara di bawah meja, tanganku mengepal erat. Aku mengangkat sendok dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu mulai menyuap nasi ke mulutku. Rasanya seperti abu. Tapi aku harus makan. Aku harus bertahan.
"Makanlah," perintah Samudra singkat setelah meneguk kopinya. "Hari ini aku akan pulang sedikit lebih awal. Kita perlu bicara berdua nanti sore. Tentang masa depanmu."
Masa depanku?
Rasa takut menjalar di seluruh tubuhku. Apa maksudnya?
"Aku mengerti, Pak," jawabku kaku.
Sarapan berlanjut dalam keheningan yang mencekam. Hanya suara sendok beradu dengan piring keramik yang terdengar. Setiap suapan terasa berat di tenggorokanku. Aku merasa seperti sedang duduk di meja pengadilan, bukan meja makan keluarga.
Samudra meletakkan serbetnya di atas meja dengan gerakan tegas. Itu tanda bahwa dia sudah selesai makan. Dia berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit kusut di bagian pinggang, lalu menoleh ke arah Ibu.
"Saya permisi dulu, Sayang. Ada rapat penting di kantor," ucap Samudra dengan nada yang terdengar lembut, sangat berbeda dengan ketegasannya saat berbicara padaku tadi.
Ibu segera berdiri, wajahnya bersinar patuh. "Hati-hati di jalan, Pak. Jangan lupa makan siang."
Samudra mengangguk, lalu mendekat ke arah Ibu. Ibu membungkuk sedikit, mencium punggung tangan Samudra sebagai tanda hormat dan kasih sayang seorang istri. Sebagai balasan, Samudra mengecup kening Ibu dengan singkat namun terlihat mesra di depan umum. Pemandangan itu seharusnya indah, tapi bagiku, itu hanya pertunjukan sandiwara yang menyakitkan.
Kemudian, Samudra berbalik menghadapku. Matanya kembali dingin, topeng keramahannya untuk Ibu telah lepas.
"Angela," panggilnya.
Aku tersentak dari lamunan. Dengan kaki gemetar, aku berdiri. Aku tahu apa yang harus dilakukan. Aturan di rumah ini jelas: hormat pada kepala keluarga.
Aku melangkah mendekat, menundukkan kepala rendah-rendah. Tanganku yang dingin meraih punggung tangan Samudra yang hangat dan besar. Aku menciumnya dengan cepat, tanpa berani menatap matanya langsung. Kulit tangannya terasa kasar, mengingatkan pada cengkeraman kekuasaannya atas hidup kami.
"Hati hati, Pak," bisikku pelan.
Samudra tidak membalas ciuman itu. Dia hanya menatap puncak kepalaku selama beberapa detik yang terasa seperti abadi. Lalu, dia menarik tangannya perlahan, seolah enggan bersentuhan denganku lebih lama dari yang diperlukan.
"Ingat janjimu nanti sore," katanya datar. "Jangan sampai aku menunggu."
Tanpa melihat ke belakang lagi, Samudra berjalan menuju pintu depan. Suara langkah kakinya bergema di lantai marmer sebelum akhirnya pintu mobil mewahnya tertutup, dan mesin mobil itu menderu pergi, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam rumah.
Aku masih berdiri di tempat, menatap punggung tangan yang baru saja kucium. Ada rasa jijik yang menjalar di lidahku.
"Nduk..." suara Ibu memecah keheningan. Dia sudah duduk kembali, wajahnya terlihat lelah. "Kamu kenapa? Kok diam saja?"
Aku menggeleng pelan, mencoba tersenyum tipis. "Nggak apa-apa, Bu. El cuma... kaget aja Bapak pamitnya cepat."
Itu bohong lagi. Tapi apa pilihan lainku?
Ibu menghela napas, lalu mengambil siput kopinya. "Ya sudah, kamu habiskan sarapanmu. Nanti siang Mama mau spa di salon langganan Mama. Kamu ikut ya? Biar Mama bisa sambil potong rambut sekalian. Lagian, kamu juga butuh perawatan, Nduk. Wajahmu kelihatan pucat sekali."
Aku mengangguk pelan. Setidaknya, keluar rumah bersama Ibu ke salon mewah itu lebih aman daripada sendirian di sini. Dan mungkin, di tengah keramaian salon, aku bisa sedikit bernapas lega dari tekanan rumah ini.
"Tapi ingat," tambah Ibu sambil menatapku tajam, "Jangan banyak bicara sama orang luar tentang urusan rumah kita. Mama nggak mau ada gosip yang sampai ke telinga Bapak."
"Aku mengerti, Bu," jawabku patuh.
Sarapan berlanjut dalam keheningan. Hanya suara sendok beradu dengan piring keramik yang terdengar. Setiap suapan terasa berat di tenggorokanku. Aku merasa seperti sedang duduk di meja pengadilan, bukan meja makan keluarga. Pikiranku terus melayang pada janji sore hari bersama Samudra.