Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.
Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelombang Pertama Musim Darah
Pertempuran di bawah Gerhana Bulan Merah kini mencapai puncaknya! Semua elemen perlawanan Akademi Sihir Grandoria dikerahkan habis-habisan.
CRAAASH!
Reaksi balik dari sihir Kontra-Segel milik Monica menciptakan gelombang kejutan yang meretakkan lantai alun-alun batu. Wanita bertopeng perak itu terlempar ke belakang beberapa langkah, matanya melotot penuh amarah dan ketidakpercayaan. Sihir hitamnya yang seharusnya meminum energi kehidupan seluruh ibu kota justru tersumbat dan memantul balik menghantam sirkulasi mana miliknya sendiri.
"Sialan kau, anak kecil!" geram wanita itu.
Ia memutarkan tongkat tulang hitamnya di udara, memanggil puluhan pusaran Miasma pekat yang mendadak berubah bentuk menjadi ratusan serangga bayangan pemakan daging. Serangga-serangga itu meluncur deras bagai awan hitam yang hendak melahap Monica.
"Jangan sentuh ketua kami!"
BOOM!
Sebuah garis tebasan api emas membelah awan serangga tersebut hingga menjadi abu dalam sekejap. Kazuma mendarat dari atas menara, menancapkan pedang energinya ke tanah dengan kobaran Hellfire Phoenix yang terus membumbung tinggi. Di sisinya, Elena meluncur turun dari atas pilar batu, melepaskan tiga anak panah cahaya sekaligus—Celestial Arrow: Starfall—yang menembus jantung para prajurit berzirah hitam yang coba mendekati posisi Monica dari samping.
"Monica! Aliran sihir bawah tanah mulai stabil!" teriak Kazuma di tengah gemuruh suara ledakan. "Tapi jumlah pasukan musuh di luar gerbang terlalu banyak!"
Di luar gerbang utama, kabut Miasma yang dimuntahkan oleh Naga Hitam semakin pekat. Ratusan makhluk Miasma raksasa berbentuk monster berkepala tiga terus melompati reruntuhan tembok perbatasan, merangsek masuk dan memudarkan benteng pertahanan lini depan yang dipimpin oleh Reno.
"Tahan posisi!" teriak Reno, suaranya parau menahan beban luar biasa.
Ia berlutut di atas satu kaki, menancapkan perisai besinya seraya mengaktifkan Aegis of the Iron Titan hingga batas maksimal. Perisai emas raksasa yang terpancar dari senjatanya menahan pukulan beruntun dari tiga monster Miasma sekaligus, menciptakan dentuman nyaring yang menggetarkan seluruh permukaan tanah akademi.
Namun, jumlah musuh tak bertambah sedikit pun melainkan kian membludak. Di garis belakang, Danis sibuk menebas para perapal mantra Ordo Umbra lewat Shadow Walk, tetapi para penyihir hitam itu seolah tidak peduli pada nyawa mereka sendiri—mereka terus merapal mantra pembuka portal dari luar pagar pertahanan.
"Mereka mencoba menguras stamina kita!" teriak Danis dari balik bayangan pohon pinus yang terbakar.
Tepat saat benteng perisai Reno mulai menunjukkan retakan halus akibat semburan api Miasma sang Naga Hitam dari udara, sebuah tekanan mana yang sangat dahsyat dan berwibawa mendadak tercipta dari puncak Menara Utama.
WUSH!
Udara malam yang panas akibat obor dan ledakan sihir mendadak menjadi sangat sejuk. Dari atas langit-langit akademi, empat sosok berselimut jubah keagungan melayang turun dengan kecepatan luar biasa.
"Para murid telah menjalankan tugasnya dengan sempurna," suara berat Kepala Sekolah Alaric bergema, melapisi seluruh penjuru alun-alun. "Sekarang, giliran para pengajar yang membersihkan sampah Ordo Umbra ini!"
Kepala Sekolah Alaric mendarat tepat di samping Reno. Ia mengangkat tongkat naga tuanya dan menghentakkannya ke tanah sekali.
BZZZZT!
Seketika, sebuah lingkaran sihir raksasa berwarna perak murni yang mencakup seluruh area Akademi Grandoria tercipta. Monster-monster Miasma raksasa yang sedang menghantam perisai Reno mendadak menjerit histeris ketika tubuh mereka mulai menguap menjadi debu begitu tersentuh oleh aura sihir Alaric.
Di sebelah Alaric, Profesor Vane—ahli sihir elemen Es—mengibaskan jubah putihnya.
"Absolute Zero: Frozen Domain!"
Udara dingin berkekuatan es abadi menerjang lurus ke arah barisan prajurit berzirah hitam di luar gerbang. Dalam hitungan detik, ratusan prajurit musuh membeku menjadi patung es di tempatnya.
Sementara itu, Profesor Selene—ahli strategi dan sihir petir—melompat tinggi ke udara bersama Profesor Gareth. Kombinasi mantra petir dan angin skala besar milik mereka membelah pusaran awan hitam di langit, memaksa Naga Hitam raksasa itu meraung kesakitan saat ribuan sambaran petir menyambar sayap tunggalnya.
Para guru dan profesor senior Akademi Grandoria telah turun ke medan perang secara penuh!
"Luar biasa..." gumam Reno seraya menurunkan perisainya seraya mengusap keringat di dahi, menatap terkesima pada kekuatan para penyihir veteran tersebut.
Kepala Sekolah Alaric menoleh ke arah Monica dan Tim Vanguard, matanya memancarkan keteguhan yang tak tergoyahkan.
"Monica, Kazuma, Elena, Reno, Danis!" panggil Alaric tegas. "Kami para profesor akan menahan Naga Hitam dan pasukan utama Ordo di garis perbatasan ini! Tugas kalian adalah memburu wanita bertopeng perak itu dan hancurkan inti batu pemancar yang ada di dadanya sebelum gerhana bulan merah mencapai puncaknya!"
Monica membetulkan kuncir kuda rambut hitamnya, lalu mengepalkan tangannya di atas tongkat safir yang berpendar emas.
"Mengerti, Kepala Sekolah!" sahut Monica mantap. Ia menoleh ke arah empat sahabatnya. "Tim Vanguard, fokus pada wanita bertopeng perak! Gerak sekarang!"
Dengan sokongan penuh dari para profesor yang mengamuk di medan perang, Tim Vanguard melesat cepat menerobos kekacauan pertempuran, mengejar sosok wanita bertopeng perak yang kini terdesak menuju area laboratorium terlarang di belakang akademi!