Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Panggung Keadilan
Pintu kayu jati berukuran besar di pengadilan negeri terbuka lebar. Ruangan itu sudah disesaki oleh puluhan awak media, pengunjung serta jajaran praktisi hukum yang penasaran dengan persidangan kasus dugaan penganiayaan, pemalsuan dokumen warisan serta tindak pidana pembunuhan berencana kepada Bambang Sutejo.
Di barisan depan kursi penonton, Rhea dan Zora duduk berdampingan dengan balutan pakaian formal yang anggun. Zora terus melipat jemarinya yang dingin karena gugup, sementara Rhea menatap lurus ke depan dengan pandangan penuh fokus dan tekad.
"Gue rasanya mual karena deg-degan, Rhe. Lihat tu si Fadel sama ibunya, masih sempat-sempatnya tampil klimis begitu di depan hakim," bisik Zora pelan.
"Biarin aja, Zor. Orang yang paling keras tertawa di awal biasanya bakal paling nangis di akhir," sahut Rhea tenang.
Rhea melirik dingin ke arah meja terdakwa. Di sana, Fadel dan Rika duduk berjejer seraya mengenakan rompi tahanan berwarna oranye di atas meja putih mereka.
TOK! TOK! TOK!
Gema ketukan palu kayu Majelis Hakim berdentum keras. Seluruh hadirin sidang seketika berdiri menghormati tiga hakim yang memasuki ruang persidangan sebelum akhirnya kembali duduk dengan patuh.
"Sidang perkara pidana atas nama terdakwa Fadel Sutejo dan terdakwa Rika Sutejo resmi dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum," tegas Hakim ketua.
"Agenda sidang hari ini adalah pembacaan dakwaan sekaligus pemeriksaan bukti-bukti awal serta tanggapan dari pihak. Kepada saudara kuasa hukum korban dipersilakan," lanjut Hakim, lalu menatap tajam ke arah barisan kuasa hukum korban.
Rayven merapikan ujung toga hitamnya, melangkah ke depan dengan postur tegap yang begitu dominan. Awak kamera media langsung menyorot wajah dingin Rayven.
"Terima kasih, Yang Mulia Hakim. Hari ini kami menghadirkan fakta keji yang selama ini disembunyikan di balik kemewahan Restoran Restu Ibu. Klien kami Bima Sutejo, tidak hanya dirampas gak warisnya secara ilegal melalui pemalsuan surat, namun juga mengalami penderitaan fisik dan mental melalui penganiayaan berat yang dilakukan secara berulang oleh terdakwa Fadel Sutejo," ujar Rayven dengan penuh penekanan.
Ruang sidang mulai riuh oleh bisik-bisik penonton. Wartawan sibuk mengetik cepat di laptop masing-masing.
"Izin memotong, Yang Mulia," Pengacara Hendra, kuasa hukum Fadel mendadak berdiri dengan raut wajah gusar.
"Pernyataan Pengacara Rayven sangat provokatif dan tidak berdasarkan. Klien adalah pengusaha yang mengurus almarhum Pak Bambang hingga akhir hayatnya. Bima hanyalah anak durhaka yang iri atas keberhasilan saudaranya dan sengaja membuat laporan palsu demi merebut aset perusahaan," lanjutnya lagi.
Fadel menyunggingkan senyum. mengejek dari meja terdakwa, mengangguk menyetujui ucapan pengacaranya.
Namun, Rayven sama sekali tidak terpancing. Ia hanya memutar tubuhnya perlahan, menatap pengacara Hendra dan Fadel dengan pandangan merendahkan yang sangat dingin.
"Tidak berdasar, Pengacara Hendra? Jika tindakan memukuli, menendang, dan menganiaya saudara tirinya sendiri secara brutal hingga memar dan mengalami cedera fisik berulang dianggap sebagai tuduhan tidak berdasar, maka biarkan bukti visum et repertum dari rumah sakit yang berbicara," gumam Rayven halus, namun sanggup membungkam seisi ruangan.
Rayven menyerahkan tumpukan dokumen tebal bersampul merah kepada panitera untuk diserahkan ke meja Hakim.
"Dalam berkas ini, tercatat jelas bekas luka trauma tumpul belakang pada tubuh Bima selama beberapa bulan terakhir. Bekas benturan dan cedera akibat tendangan fisik. Apakah saudara Fadel masih ingin mengelak bahwa luka-luka bekas kekerasan itu muncul dengan sendirinya," sambung Rayven tajam, menatap Fadel tepat di matanya.
Wajah Fadel yang tadinya menyeringai seketika berubah agak kaki. Ia melirik panik ke arah pengacaranya. Pengacara Hendra berdehem keras, mencoba menetralisir suasana.
"Itu bisa saja terjadi akibat kecelakaan kerja di area dapur restoran, Yang Mulia. Klien kami tidak pernah. melakukan penganiayaan atau kekerasan pada Bima," elak Hendra agak gugup.
"Cukup. Bukti visum diterima dan dilampirkan dalam berkas perkara. Saudara hukum korban, apakah ada dalil atau bukti tambahan terkait tuduhan tindak pidana lainnya," sela Hakim Ketua mengangkat tangannya.
Inilah momen yang ditunggu-tunggu. Di barisan penonton, Rhea menegakkan punggungnya mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Ia tahu Rayven akan mengubah seluruh jalannya persidangan.
Rayven berjalan mendekati meja Hakim, lalu mengangkat sebuah dokumen berstempel khusus kedokteran forensik tingkat atas.
"Yang Mulia Hakim yang terhormat. Selama ini, publik dan pihak kepolisian meyakini bahwa kematian Pak Bambang murni disebabkan oleh serangan jantung biasa akibat komplikasi usia lanjut," ujar Rayven, suaranya mendadak berubah merendah namun bergaung penuh ketegangan.
"Namun..." Rayven menggantung kalimatnya sejenak. "berdasarkan laporan analisis toksikologi forensik susulan, ditemukan jejak senyawa kalium sianida dosis rendah yang secara bertahap masuk ke dalam tubuh almarhum Pak Bambang sebelum kematiannya."
Bagaikan disambar petir di siang bolong, ruang sidang seketika pecah dalam kehebohan luar biasa. Blitz kamera kilat menghantam meja terdakwa. Para wartawan saling berseru kaget.
"Apa? Bohong! Itu fitnah," Rika meloncat dari kursinya dengan wajah pucat pasi.
"Yang Mulia. Jangan percaya sama pengacara ini. Saya ini istrinya, mana mungkin saya tega ngasih racun ke suami saya sendiri. Ini semua rekayasa, dia manipulasi laporan medis itu," jerit Rika dengan suara melengking.
"Diam terdakwa Rika," bentak Hakim Ketua sambil memukul palunya berturut-turut. Tok! Tok! Tok! "Harap tenang di dalam ruang sidang."
Di tengah teriakan histeris Rika, Rayven tetap berdiri sangat tenang. Ia membetulkan posisinya, lalu menatap Rika dengan senyum tipis yang begitu dingin dan merendahkan.
"Saya bahkan belum menyebutkan siapa yang melakukannya, Bu Rika. Kenapa anda mendadak panik dan membela diri seolah-olah anda pelakunya," potong Rayven tenang.
Rika seketika bungkam. Mulutnya ternganga, menyadari kalau dirinya baru saja keceplosan karena kepanikan berlebih.