NovelToon NovelToon
Kehangatan Di Ujung Senja

Kehangatan Di Ujung Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:31.8k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.

​Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.

Akankah Alfa bisa menemukan Senja?

Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teh dan kopi

Beberapa hari telah berlalu sejak malam di mana kanvas berukuran satu setengah meter itu dipenuhi perpaduan warna cobalt blue, burnt sienna, dan percikan emas yang tak terduga.

Sejak malam itu pula, tatanan di kamar utama rumah megah tersebut tak lagi sama. Alfa tak pernah lagi memindahkan selimutnya ke sofa keras di sudut ruangan, dan Senja tak lagi memiringkan tubuhnya membelakangi Alfa dengan napas tertahan sepanjang malam.

Meskipun batas sejengkal dua jengkal di tengah ranjang king size itu masih terjaga bak garis demarkasi tak kasat mata, kecanggungan mencekam yang semula menghimpit perlahan menguap. Berganti dengan sebuah dinamika baru, sebuah ritme hidup yang mengalir begitu alami tanpa pernah mereka rencanakan sebelumnya.

Malam itu, jam dinding di ruang kerja lantai dua telah menunjukkan pukul sebelas malam. Hujan deras yang mengguyur ibu kota sejak petang menyisakan gemericik air yang konstan menimpa kaca jendela, menciptakan ketenangan tersendiri di dalam rumah.

Senja duduk di salah satu sofa tunggal di ruang tengah lantai dua, dengan sebuah meja kecil di hadapannya yang dipenuhi map berkas laporan keuangan proyek investasi Anjasmara Group. Kacamata berbingkai tipis bertengger di pangkal hidungnya, sebuah benda yang hanya ia kenakan saat matanya mulai lelah membaca ribuan angka.

Dari arah tangga, langkah kaki yang santai terdengar mendekat. Alfa muncul dengan pakaian rumahannya yang santai, celana kain abu-abu dan kaos polos berwarna putih.

Di kedua tangannya, ia membawa dua buah cangkir keramik yang membubungkan asap tipis dan aroma harum yang menyeruak ke udara.

Tanpa perlu diminta, Alfa meletakkan cangkir berukuran lebih kecil di sisi meja Senja yang kosong dari berkas, lalu mendudukkan dirinya di sofa panjang yang berada tepat di samping tempat duduk Senja.

"Teh kamomil dengan sedikit madu" Ujar Alfa singkat, menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa seraya menyesap isi cangkirnya sendiri.

Senja melepaskan kacamatanya, memijat pelan pangkal hidungnya yang terasa pegal.

"Terima kasih Mas."

Ia meraih cangkir hangat itu, menghirup aromanya yang menenangkan sebelum menyesapnya perlahan. Sejak tiga hari lalu, hal ini mendadak menjadi sebuah kebiasaan tak tertulis di antara mereka.

Setiap kali mereka mengurung diri dengan pekerjaan kantor hingga larut malam, siapa pun yang selesai atau beristirahat lebih dulu akan pergi ke dapur untuk menyeduh minuman hangat. Alfa dengan kopi hitam tanpa gulanya, dan Senja dengan teh kamomil atau peppermint pilihan suaminya.

Senja melirik cangkir besar bertuliskan logo berwarna hitam yang dipegang Alfa. Bau sangrai biji kopi yang amat pekat mendadak menusuk inderanya.

Senja mengernyitkan dahi tipis, menatap Alfa dengan raut wajah yang tak lagi diselimuti topeng kepalsuan atau formalitas kaku.

"Kamu masih minum kopi di jam sebelas malam?" Tanya Senja, nada suaranya tidak lagi seformal dulu yang penuh kehati-hatian.

Ada nada keheranan yang terus terang di sana.

Alfa menoleh, mengangkat sebelah alisnya seraya menatap cangkirnya sendiri.

"Kenapa? Ini espresso ganda. Espresso roast gelap dari biji Toraja. Ini yang bikin otakku tetap dingin kalau harus merombak struktur anggaran proyek anak perusahaan Arghantara."

Senja meletakkan cangkir tehnya kembali ke meja, lalu bersedekap seraya menatap Alfa lurus-lurus.

"Pantas saja kamu sering terlihat mengusap tengkuk kalau sedang rapat gabungan antar divisi minggu lalu Mas." Kritik Senja tanpa ragu.

"Sensitivitas kafein tinggi di jam sebelum tidur itu merusak pola REM sleep. Bukannya otak Mas jadi dingin, yang ada asam lambung Mas yang naik dan kualitas tidur Mas memburuk. Pilihan kopi yang sangat buruk untuk jam sebelas malam."

Alfa tertegun sejenak. Pria itu menurunkan cangkirnya dari depan bibir, menatap Senja dengan binar mata terkejut yang lambat laun berubah menjadi tawa renyah.

Seorang Senja Kala Anjasmara, wanita yang selama ini dikenal seluruh jajaran direksi sebagai sosok yang amat sopan, teratur, dan selalu bicara dengan tatanan bahasa yang sangat dijaga, baru saja terang-terangan mengkritik pilihan minumannya dengan ekspresi mengomel yang amat alami.

"Kamu baru saja mengkritik seleraku, Nyonya Arghantara?" Goda Alfa dengan senyum jenaka yang mengembang di sudut bibirnya.

Senja terkekeh kecil, menyadari betapa lugasnya ia berbicara baru saja. Namun, alih-alih meminta maaf dengan gaya canggung seperti minggu-minggu lalu, Senja hanya mengibaskan tangannya santai.

"Aku tidak mengkritik seleramu, Mas. Aku mengkritik keputusannya" Ralat Senja, kali ini tanpa sungkan menyandarkan punggungnya ke sofa, menyilangkan kakinya yang jenjang dengan santai.

"Kalau besok pagi Mas Alfa mengeluh migrain saat meeting penandatanganan berkas dengan konsorsium Jerman, aku tidak mau meminjamkan minyak angin."

Alfa tertawa lebih lepas kali ini. Suara tawa yang begitu hangat dan lepas itu terdengar mengalun merdu di ruang tengah yang sepi. Pria itu menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, menatap langit-langit seraya menikmati momen tersebut.

Bagi Alfa, interaksi kecil seperti ini adalah sebuah kemewahan yang tak pernah ia sangka akan ia dapatkan dari pernikahan perjodohan ini.

Dila, wanitanya adalah sosok yang manis, namun, kerap kali membuat Alfa harus bersikap ekstra hati-hati agar tak melukai perasaannya.

Di dekat Dila, Alfa sering kali merasa harus berperan menjadi sosok pelindung yang sempurna tanpa cela.

Namun di dekat Senja, di penghujung hari yang melelahkan seperti ini, Alfa merasakan sesuatu yang amat berbeda, kebebasan.

Senja tidak pernah menuntut Alfa untuk menjadi pria romantis. Senja tidak pernah merajuk jika Alfa kelelahan dan hanya ingin diam. Senja tidak pernah menuntut perhatian berlebih atau memaksakan percakapan di saat mereka sama-sama penat. Wanita itu memberi ruang, menghargai batas, dan yang paling penting... Senja tidak berpura-pura.

Melihat Senja duduk bersandar di dekatnya, bicara blak-blakan tanpa topeng keagungan putri Anjasmara, membuat Alfa bisa bernapas lega. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alfa merasa ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa beban ekspektasi apa pun.

"Oke, oke. Besok malam aku ganti jadi teh herbal" Mengalah Alfa seraya tersenyum tipis. Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya pada tumpukan berkas di meja Senja.

"Bagaimana laporan akuisisi lahan di koridor barat? Papa Prasetya masih menuntut angka profit di atas dua puluh persen?"

Senja mendesah pelan, menatap tumpukan kertas itu dengan raut wajah jenuh.

"Seperti biasa, Mas. Papa selalu menggunakan kalkulasi optimistis tanpa memperhitungkan risiko kenaikan suku bunga bank sentral. Aku sedang mencoba menyusun alternatif skenario protektif agar divisi keuangan tidak kewalahan kalau pasar mendadak stagnan."

Alfa mengangguk-angguk paham. Sebagai sesama penerus konglomerasi besar, ia sangat paham betul bagaimana besarnya tekanan dari sosok ayah seperti Prasetya Anjasmara.

"Gunakan strategi hedging untuk portofolio obligasinya" Saran Alfa santai namun berbobot.

"Arghantara pernah memakai skema itu waktu krisis properti dua tahun lalu. Nanti aku minta sekretarisku mengirimkan draf analisis risikonya ke emailmu. Kamu bisa pakai itu untuk bahan argumen di depan Papamu besok."

Mata Senja berbinar pelan mendengarkan saran itu. Ketajaman pemikiran bisnis Alfa selalu berhasil membuatnya kagum secara profesional. Alfa bukan sekadar pria tampan berkedudukan tinggi, pria itu memiliki intuisi strategis yang sangat tajam dan matang.

"Itu... ide yang sangat bagus Mas" Puji Senja tulus.

"Aku bahkan tidak terpikir untuk mengombinasikannya dengan portofolio obligasi jangka pendek."

"Itu kegunaannya punya suami yang juga berkutat di dunia bisnis yang sama" Balas Alfa terkekeh halus.

Tiba-tiba, di tengah obrolan bisnis mereka yang mengalir hangat, rasa kantuk yang teramat sangat yang dipendam Senja sejak tadi akhirnya tak membendung lagi.

Hoaamm...

Senja menguap lebar tanpa sempat menutup mulutnya dengan sempurna. Matanya sampai berair karena reflek alami tubuhnya yang sudah kelelahan. Jemari lentiknya baru bergerak menutupi bibirnya saat uapan itu hampir selesai.

Senja membeku seketika. Pipinya mendadak merona merah padam sewaktu menyadari apa yang baru saja ia lakukan tepat di hadapan Alfa.

Selama dua puluh delapan tahun hidupnya, doktrin sang mama untuk selalu menjaga estetika dan kesopanan tubuh, termasuk cara menguap, selalu tertanam kuat. Dan malam ini, di hadapan pria yang berstatus suaminya, ia baru saja menguap lebar-lebar tanpa estetika sama sekali.

Alfa yang melihat hal itu menahan senyumnya, mencoba bersikap biasa agar Senja tidak makin malu, meski di dalam hatinya ia merasa momen itu teramat sangat manis dan manusiawi.

"Maaf..." Cicit Senja pelan, merapikan kacamata dan menyapu beberapa helai rambut yang berantakan di sekitar wajahnya.

"Aku... betul-betul mengantuk."

"Kenapa harus minta maaf?" Sahut Alfa lembut, suaranya terdengar begitu menenangkan.

Pria itu menegakkan tubuhnya, lalu meraih berkas-berkas di atas meja dan merapikannya menjadi satu tumpukan yang rapi.

"Tubuhmu sudah memberi sinyal, Senja. Laporan ini bisa ditinjau lagi besok pagi di kantor."

Senja menatap Alfa yang kini sibuk membantunya membereskan meja kerja kecil itu. Kehangatan yang menjalar di dada Senja rasanya makin membesar. Tidak ada penilaian buruk di mata Alfa, tidak ada teguran formal, tidak ada tuntutan untuk selalu tampil sempurna.

"Ayo istirahat" Ajak Alfa seraya berdiri dari sofa, memegang tumpukan berkas Senja dengan satu tangan dan cangkir-cangkir kosong mereka di tangan lainnya.

Senja mengangguk pelan. Ia berdiri, merapikan pakaian santainya, lalu mengekor di belakang Alfa menuju dapur untuk meletakkan cangkir sebelum mereka bersama-sama melangkah menuju kamar utama.

Malam itu, saat lampu utama kamar telah dipadamkan dan menyisakan pendar redup lampu nakas, mereka kembali berbaring di atas satu ranjang yang sama.

Namun tak ada lagi hening yang memekakkan telinga. Tak ada lagi napas yang ditahan dalam kecanggungan.

Senja berbaring miring, menatap tirai jendela yang bergerak halus diterpa angin malam dari luar. Di sisinya, Alfa berbaring tenang, merasakan kehangatan kehadiran Senja yang kini terasa begitu melekat dan melegakan.

Di dalam keremangan malam yang makin larut, mereka berdua sama-sama menyadari satu hal, tanpa ada kata cinta yang terucap, tanpa ada rayuan romantis yang dipaksakan, ritual-ritual kecil di penghujung hari ini telah merajut sebuah benang kedekatan baru. Sebuah kedekatan yang tumbuh dari rasa nyaman untuk menjadi manusia biasa yang tak sempurna di hadapan satu sama lain.

1
Ass Yfa
dan Senjapun tak ada dlm masadepan Alfa..sesakit itu yg Senja...tak ada deorangpun yg tulus menyanyangimu..bahkan suami sendiri😭😭
Ass Yfa
Alfa lepaskan Senja biarkan dia mencari kebahagiaannya sendiri..kamu kuat Senja..siapa kira2 jodoh Senja😭😭.othor carikan jodoh Senja dong
Ass Yfa
Senja kelewat baik..tapi dia juga punya hati sok kadang baper.namanya juga wanita
vania larasati
lanjut
Nuriwan Hasanah
kuat banget imannya si alfa padahal udah lengket lengket gitu
Nuriwan Hasanah: lah kmarin kmarin di ranjang bersatu,untung ini novel coba dunia nyata,alfa aman,iman,amiinn
total 2 replies
Agnezz
Dibalik Senja yg terlihat sempurna cantik dan pintar, ternyata ini kelemahan Senja, takut akan petir dan badai.
Cahaya
lanjuttty
Cahaya
dasarrrrr alpamart otak ny d pnuhin delon delon aja nblin heeeh heeeeh
Cahaya
lanjut
Agnezz
Alfa mempunyai semua yg diidamkan wanita, kehangatannya, sikap melindungi, tanggung jawab, kalo sudah cinta betul2 setia dan sulit berpaling. Sayang sekali hati Alfa sudah milik Dila. Alfa tidak bisa meninggalkan Dila begitu saja. Pernikahan ini atas desakan orang tua. Yang harus disalahkan ayah2 mereka, terlalu berambisi terlalu menuntut anaknya melakukan sesuatu yg mereka inginkan.
Agunk Setyawan
bukan bara tapi Alfa 🤣
Inara Khimar
senja, pergi please. lepas semua nya
mery harwati
Satu kata bwt Bara, BODOH !!
Kalo sudah tak ada baru terasa
Kehadiranmu sungguh berharga
Sungguh berat hidupku tanpa dia
🎶 🎶 💃 💃
mery harwati: Iya abis logika Alfa yang katanya jago bisnis nol besar, seharusnya cara berpikir Alfa dibalik, bila posisi Alfa menjadi Senja, akankah Alfa punya hati seluas & sedalam samudra pada Ssnja & kekasihnya? Secara nikah sah, coba itu Alfa suruh dipake logikanya, jangan ditinggal di masa lalu karena Alfa hidup untuk masa depan bukan masa lalu 🤨😠
total 2 replies
Hanima
pergi lah jauh2 tinggal kan semua nya 👍
Sastri Dalila
🥺🥺
Hanima
😍😍👍
Nar Sih
semoga aja nanti bila dila sehat lgi ngk berubah jht
Nar Sih
seperti nya kmu sdh mulai nyaman dgn senja ya alfa ,cuma hti mu msih bersama dila
Linda Gunawan
nunggu Alfa menyesal semenyesal menyesalnya. kapan?🤭
Linda Gunawan
hati Alfa sebenarnya udah mulai condong ke Senja. pada Senja, dia mendapatkan apa yg selama ini tidak dia dapatkan. Senja perhatian, Senja baik.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!