Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.
Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.
Mengapa Azam memilih dirinya?
Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?
Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 — Alamat di Bawah Lantai
Gang tikus Glodok pagi itu bau amis, becek, dan sempit. Hanya cukup untuk satu orang lewat. Di kanan kiri tumpukan kardus bekas, kulit ayam, dan air got yang hitam.
Tujuh orang berlari pelan menembus gang itu — tidak berlari kencang karena ada Mahendra yang sudah 68 tahun dengan lutut yang bungkuk, ada Arif yang 5 tahun yang digendong Fadil dengan bahu yang masih diperban, dan ada Dilla yang memeluk erat bingkai foto Larasati dan tas kain berisi buku hitam dan tape recorder tua yang sudah pecah setengah.
Di belakang mereka, suara Nenek Suri yang menggedor rolling door ruko tua masih terdengar samar.
"MAHENDRA! DILLA!"
Suara perempuan 85 tahun itu melengking, tidak seperti suara nenek-nenek pada umumnya. Suaranya penuh kuasa, penuh amarah yang dipendam 28 tahun.
Azam yang paling belakang, sesekali menoleh ke belakang sambil menuntun Pranoto yang juga sudah tua. "Cepat, Paman Pranoto. Nenek Suri bawa dua orang. Suryanto juga ada di sana, tapi Suryanto tadi bela kita."
Pranoto mengangguk sambil terengah-engah. "Raden Ayu Suryowati... saya kira beliau sudah meninggal di Solo 15 tahun lalu... waktu itu saya sendiri yang urus akta kematiannya... ternyata... ternyata akta kematian itu juga palsu... seperti akta perusahaan..."
Jatmiko yang menuntun Mahendra, mendengar nama nenek buyutnya disebut, wajahnya pucat. "Nenek Suri... yang ajari Ayah saya untuk rebut perusahaan Mahendra..."
Mahendra yang dituntun Jatmiko, meski napasnya terengah, menjawab dengan suara serak, "Nenekmu itu bukan manusia, Jatmiko... dia iblis dalam kebaya... 1985, saat ruko ini baru jadi, dia datang dan bilang... 'Mahendra, kamu orang miskin, kamu tidak pantas pegang 70%, kasih 50% ke cucuku, Ayahanda Wiratama.' Aku tolak. Sejak itu dia dendam."
Mereka akhirnya keluar dari gang tikus dan tembus di Jalan Pancoran yang sudah ramai oleh motor dan pedagang. Azam langsung menghentikan sebuah taksi kosong dan menyuruh semua masuk berdesakan.
"Ke kantor notaris saya di Kota Tua! Cepat!" perintah Azam pada sopir taksi.
Di dalam taksi yang sempit, Dilla memangku Arif yang sudah tertidur lagi karena guncangan. Arif memeluk bingkai foto Larasati — foto nenek yang belum pernah ia temui — dengan erat. Fadil duduk di samping Dilla, satu tangannya memeluk Dilla, satu tangannya memegang perban bahunya yang mulai rembes darah lagi karena berlari tadi.
Mahendra duduk di depan, di samping sopir, menatap jalanan Glodok yang sudah berubah total. 28 tahun lalu jalan ini masih tanah, sekarang sudah penuh ruko berkeramik.
"Maafkan Ayah ya, Dilla..." bisik Mahendra tanpa menoleh, suaranya hampir hilang ditelan suara klakson taksi. "Tadi di ruko... Ayah belum sempat jelaskan semua..."
Dilla yang mendengar itu, menatap punggung Mahendra yang bungkuk. Ayah kandungnya. Pria yang baru ia peluk pertama kali hari ini, tapi sudah harus ia lihat hampir dibunuh lagi oleh nenek buyutnya sendiri.
"Ayah tidak perlu minta maaf lagi," jawab Dilla pelan, tapi cukup keras untuk didengar Mahendra. "Ibu sudah maafkan Ayah di kaset itu. Kalau Ibu saja maafkan Ayah yang mau kasih obat tidur ke kakek Wiratama... siapa aku yang tidak maafkan Ayah?"
Kalimat itu membuat Mahendra menangis tanpa suara di kursi depan. Bahunya terguncang.
Jatmiko yang duduk di tengah, di antara Mahendra dan Dilla, mengusap punggung Mahendra dengan tangan yang juga gemetar. Dua sahabat yang dulu membangun ruko ini bersama, kini kembali duduk berdampingan setelah 28 tahun saling mengira saling membunuh.
"Mah... yang di kaset tadi... Larasati bilang... di bawah lantai rumah kontrakan aslinya... ada surat asli kepemilikan 70%..." kata Jatmiko pelan.
Mahendra mengangguk sambil mengusap air matanya. "Rumah kontrakan Karangrejo yang asli... bukan rumah aman yang kalian tinggali sekarang. Rumah petak kecil di dekat jembatan bambu... tempat pertama kali aku dan Larasati tinggal setelah menikah siri tahun 1987... sebelum Larasati dijodohkan denganmu, Jatmiko... Di bawah lantai papan kamarnya... Larasati simpan akta asli yang belum sempat aku tanda tangani... Akta yang tulisannya 70% milikku..."
Pranoto yang mendengar itu langsung siaga. "Akta asli? Yang ada tanda tangan basah Ayahanda Wiratama dan Mahendra? Yang belum dipalsukan Bagaskara?"
"Ya," angguk Mahendra. "Larasati yang simpan. Dia bilang... 'Kalau suatu hari anak kita butuh bukti, ambil di bawah lantai rumah pertama kita.'"
Azam yang duduk di belakang sopir langsung menyalakan ponselnya dan menelepon Laras yang tertinggal di Karangrejo bersama Bu Ratih dan Sekar.
"Laras! Kamu di mana?"
Suara Laras di seberang terdengar panik dan berbisik. "Pak Azam! Bu Ratih dan Sekar barusan dibawa pergi! Ada dua mobil Avanza hitam datang ke rumah aman! Mereka cari buku hitam dan kaset! Saya sembunyi di bawah kolong! Mereka bilang mau ke rumah kontrakan lama dekat jembatan bambu!"
Semua orang di taksi langsung saling pandang.
Nenek Suri tidak hanya mengejar mereka di Glodok. Nenek Suri juga kirim orang lain ke Karangrejo. Untuk mengambil surat asli di bawah lantai.
"Putar balik! Jangan ke Kota Tua! Ke Karangrejo! Sekarang!" teriak Azam pada sopir taksi.
Sopir taksi kaget. "Loh, tadi katanya Kota Tua, Pak?"
"Ganti! Karangrejo! Saya bayar tiga kali lipat!" Azam mengeluarkan 3 lembar seratus ribu dan melempar ke dashboard.
Sopir taksi langsung putar balik di tengah jalan Pancoran yang ramai, membuat motor-motor di belakang mengerem mendadak dan memaki.
Di kursi belakang, Dilla memeluk Arif yang terbangun karena guncangan taksi.
"Bu... kita mau ke mana lagi?" tanya Arif dengan mata mengantuk.
Fadil mengusap kepala anaknya. "Kita pulang, Nak. Pulang ambil mainan Arif yang ketinggalan di rumah lama Ibu."
Arif mengangguk polos dan kembali tertidur di pelukan Dilla.
Dilla menatap Fadil dengan mata yang penuh tanya. "Mas, rumah kontrakan asli Ibu... aku bahkan tidak tahu di mana..."
Fadil menggenggam tangan Dilla erat. "Mas juga tidak tahu, Sayang. Tapi Ayah Jatmiko tahu. Dan Ayah Mahendra tahu. Kita tidak sendirian."
Jatmiko yang mendengar itu mengangguk. "Ayah tahu rumah itu. Rumah petak kecil dengan pohon mangga di depannya. Tempat Larasati dan aku... pertama kali..." Jatmiko tidak melanjutkan kalimatnya, karena ia tahu di sampingnya ada Mahendra, suami siri Larasati yang sebenarnya.
Mahendra menatap Jatmiko dengan tatapan yang tidak marah, justru penuh terima kasih.
"Terima kasih, Jatmiko... karena kamu sudah jaga rumah itu... meski kamu tahu itu rumahku dan Larasati..."
Jatmiko tersenyum pahit. "Aku jaga karena di rumah itu Larasati pernah bahagia... meski bahagianya bukan denganku."
Taksi melaju kencang meninggalkan Jakarta, masuk tol Jagorawi, menuju Karangrejo. Di belakang taksi mereka, dari kejauhan, mobil Avanza hitam yang tadi di depan ruko Glodok ternyata mengikuti, menjaga jarak 3 mobil.
Di dalam Avanza itu, Nenek Suri duduk di kursi belakang dengan tongkat di tangan, di sampingnya Suryanto yang wajahnya penuh luka karena dipukul dua pria bermasker suruhan Bagaskara tadi.
"Nek, kita mau ke mana? Mereka balik ke Karangrejo," tanya Suryanto pelan.
Nenek Suri tersenyum dingin, senyum yang tidak ada kasih sayang sama sekali.
"Bagus. Biar mereka gali sendiri surat itu dari bawah lantai. Kita tinggal ambil dari tangan mereka. Lebih bersih. Tidak perlu kita kotor-kotoran bongkar lantai. Biar cucu-cucu bodoh itu yang bongkar."
Suryanto menatap nenek tua itu dengan ngeri. Ia baru sadar, selama 28 tahun ia setia pada keluarga yang salah. Keluarga yang bahkan tega membunuh menantunya sendiri, Larasati, demi 70% saham.
Di taksi di depan, Dilla membuka bingkai foto Larasati yang tadi berhasil diselamatkan Fadil dari ruko. Di balik foto itu, ternyata ada secarik kertas kecil lain yang diselipkan, kertas yang tidak ada yang tahu.
Tulisan tangan Larasati lagi, lebih kecil dan lebih bergetar:
Dilla, jika kamu baca ini, berarti kamu sudah ketemu ayahmu, Mahendra. Jangan benci Nenek Suri. Nenek Suri lakukan semua ini karena dia takut miskin lagi seperti dulu waktu Jepang jajah. Dia trauma miskin. Maafkan dia juga ya, Nak. Tapi jangan kasih 70% itu ke dia. Kasih ke orang miskin Karangrejo seperti Fadil. Biar mereka tidak diusir dari kontrakan lagi.
Dilla membaca kertas itu dengan air mata yang jatuh ke foto ibunya.
Ibunya, sampai detik terakhir sebelum meninggal, masih memikirkan orang miskin. Masih memikirkan Fadil yang bahkan belum ia kenal.
Dilla melipat kertas itu dan menyimpannya di dalam buku hitam. Ia menatap Fadil yang menyetir taksi dengan satu tangan karena bahunya sakit, dan Arif yang tertidur di pangkuannya.
"Mas," bisik Dilla.
"Ya?"
"Nanti kalau kita dapat surat 70% itu... kita jangan jadi kaya ya, Mas... kita bagi-bagi buat warga kontrakan yang mau digusur itu ya... seperti pesan Ibu..."
Fadil menoleh sekilas dan tersenyum, senyum pertama yang tulus setelah 3 hari penuh darah dan air mata.
"Ya, Sayang. Kita tetap jualan sembako di warung. Tapi warungnya nanti milik kita, bukan ngontrak lagi."
Di kursi depan, Mahendra yang mendengar percakapan itu dari spion taksi, menangis lagi. Kali ini bukan karena sedih, tapi karena bangga.
Anak kandungnya — yang selama 28 tahun ia kira mati — ternyata mewarisi hati ibunya, bukan mewarisi keserakahan keluarga Wiratama.
Taksi melaju semakin kencang membelah tol Jagorawi, menuju Karangrejo, menuju rumah petak kecil dengan pohon mangga di depannya, menuju lantai papan yang di bawahnya tersimpan surat asli yang akan menentukan siapa pemilik Wiratama Group yang sebenarnya.
Dan di belakang taksi, Avanza hitam Nenek Suri terus mengikuti, menunggu waktu yang tepat untuk merebut semuanya.
Bersambung...