Alena Wijaya, 24 tahun, tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah total hanya karena satu tanda tangan di atas kertas. Perusahaan keluarganya di ambang kebangkrutan setelah ayahnya terjerat masalah bisnis yang tidak lagi bisa ditutupi, dan satu-satunya jalan keluar datang dari pihak yang paling tidak ia duga: keluarga Mahardika, salah satu konglomerat terbesar di negeri ini.
Syaratnya sederhana di atas kertas—Alena harus menikahi Adrian Mahardika, putra sulung yang dikenal publik sebagai pewaris lumpuh sejak kecelakaan dua tahun lalu. Satu tahun menikah, utang lunas, lalu bercerai baik-baik. Tidak ada cinta yang diminta, hanya status di depan dewan direksi dan media.
Alena datang ke rumah keluarga Mahardika dengan satu niat sederhana: bertahan selama setahun, lalu pergi tanpa menoleh ke belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinyo widi Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WANITA DI FOTO ITU ,TERNYATA DUDUK DI DEPANKU
Kafe kecil itu tidak terlalu ramai pagi itu, hanya beberapa pengunjung yang sibuk dengan laptop masing-masing di sudut ruangan. Alena duduk gelisah di meja paling pojok, matanya terus mengawasi pintu masuk, sementara Adrian duduk di sampingnya, tangannya menggenggam erat tangan Alena di bawah meja sebagai penenang.
"Jam sepuluh lewat lima menit," bisik Alena, melirik jam di ponselnya. "Menurutmu dia beneran bakal datang?"
"Entahlah," jawab Adrian, matanya tidak lepas dari pintu masuk kafe. "Tapi selama ini dia selalu tepati apa yang dia bilang."
Tepat saat itu, lonceng kecil di atas pintu berbunyi, menandakan seseorang baru masuk. Alena mendongak, dan jantungnya berdegup kencang begitu melihat sosok yang masuk—wanita yang sama seperti di foto yang mereka terima semalam.
Wanita itu berjalan mendekat, wajahnya tegang, matanya sesekali melirik ke belakang seolah memastikan tidak ada yang mengikutinya. Ia duduk di kursi kosong di depan Alena dan Adrian tanpa banyak basa-basi.
"Kalian pasti Adrian dan Alena," ucapnya pelan, suaranya bergetar. "Nama saya Ines. Saya asisten pribadi Wirawan selama tiga tahun terakhir."
Alena dan Adrian saling pandang, terkejut mendapati identitas wanita misterius itu ternyata begitu dekat dengan orang yang selama ini mereka curigai.
"Kamu yang selama ini kirim pesan-pesan itu?" tanya Adrian, suaranya masih waspada meski penasaran jelas terpancar di matanya.
Ines mengangguk pelan. "Saya minta maaf harus main petak umpet kayak gini. Tapi posisi saya terlalu berbahaya kalau ketahuan langsung berhubungan sama kalian."
"Kenapa kamu mau bantu kami?" Alena bertanya, mencoba membaca ketulusan di balik ketegangan wajah wanita itu. "Kamu kerja buat Wirawan. Harusnya kamu loyal sama dia."
Ines terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca menahan emosi yang jelas sudah lama terpendam. "Awalnya saya loyal. Sangat loyal, bahkan. Wirawan yang rekrut saya waktu saya baru lulus kuliah, kasih saya kesempatan kerja di perusahaan besar padahal saya cuma anak orang biasa. Saya kira dia baik."
"Terus apa yang berubah?"
"Enam bulan lalu," Ines melanjutkan, suaranya semakin bergetar, "saya nggak sengaja lihat dokumen yang seharusnya nggak boleh saya lihat. Detail lengkap soal kecelakaan Adrian dua tahun lalu—termasuk instruksi asli buat sopir pengganti itu."
Dada Adrian mencelos mendengar itu. "Kamu punya buktinya?"
"Saya punya salinan sebagian, sebelum Wirawan sadar dan langsung ganti sistem keamanan dokumennya." Ines mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dari sakunya, menyerahkannya dengan tangan gemetar ke arah Adrian. "Tapi ini bukan cuma soal kecelakaan itu, Adrian. Ini jauh lebih besar."
"Maksudmu?"
"Wirawan udah rencanain semua ini dari lama, jauh sebelum kecelakaanmu terjadi. Dia bukan cuma pengen jabatan komisaris biasa. Dia pengen kendaliin seluruh grup, termasuk rencana jual sebagian besar aset strategis perusahaan ke investor asing, tanpa sepengetahuan dewan direksi lainnya."
Alena merasakan tubuhnya dingin mendengar penjelasan itu. "Kalau itu terjadi, apa dampaknya buat perusahaan?"
"Ribuan karyawan bisa kehilangan pekerjaan. Beberapa anak perusahaan bakal dilikuidasi. Dan yang paling parah," Ines menatap Adrian lurus, "keluarga Mahardika bakal kehilangan kendali penuh atas warisan yang udah dibangun tiga generasi."
Keheningan menyelimuti meja mereka selama beberapa detik, hanya suara samar musik latar kafe yang mengisi kesunyian itu.
"Kenapa kamu baru sekarang cerita semua ini?" tanya Adrian akhirnya, suaranya berat menahan amarah campur syok. "Kalau kamu tahu sejak enam bulan lalu, kenapa nggak langsung lapor polisi, atau kasih tahu aku langsung?"
"Karena saya takut, Adrian," Ines menjawab, air mata mulai menetes di pipinya. "Wirawan itu orang yang sangat berbahaya kalau ngerasa terancam. Doni, sopir yang meninggal itu—dia pernah kerja buat Wirawan sebelumnya, sebelum jadi sopir pengganti malam kecelakaanmu. Saya takut, kalau saya gerak sendirian tanpa perlindungan, saya bakal berakhir kayak Doni juga."
Kalimat itu membuat Alena merasakan iba yang mendalam terhadap wanita di depannya—bukan lagi sekadar sumber informasi, melainkan korban lain dari kelicikan Wirawan yang terjebak dalam ketakutan selama berbulan-bulan.
"Kenapa sekarang kamu berani ambil risiko?" tanya Alena lembut.
Ines menghela napas panjang, menatap keduanya dengan tekad baru di matanya. "Karena semalam, saya dengar Wirawan telepon seseorang, ngomongin rencana buat 'selesaikan masalah Adrian secara permanen' sebelum evaluasi tiga bulan itu berakhir. Saya nggak bisa diam lagi kalau nyawa orang lain jadi taruhannya."
Kalimat itu membuat jantung Alena berhenti sesaat. "Selesaikan secara permanen? Maksudnya—"
"Saya nggak tahu detail rencananya," Ines memotong cepat, suaranya panik, "tapi kedengarannya bukan sekadar manuver bisnis biasa lagi. Kalian harus hati-hati, mulai sekarang."
Adrian menggenggam flashdisk itu erat, rahangnya mengeras dengan tekad baru. "Ines, kamu mau bantu kami lebih jauh? Kami butuh saksi yang berani buka suara di jalur hukum resmi, bukan cuma bukti-bukti anonim kayak gini."
Ines terdiam lama, matanya penuh pergolakan batin antara rasa takut dan keinginan untuk akhirnya lepas dari beban yang selama ini ia pikul sendirian.
"Saya akan mikirin," jawabnya akhirnya, "tapi saya butuh jaminan keamanan buat saya dan keluarga saya dulu, sebelum saya berani buka identitas secara terbuka."
"Kamu akan dapat itu," Adrian menjawab tegas. "Aku janji."
"Gimana caranya kamu bisa jamin itu? Kamu sendiri lagi dalam posisi terancam."
"Aku punya beberapa kenalan di kepolisian yang bisa dipercaya, dan pengacara keluarga yang udah kerja sama kami puluhan tahun," Adrian menjelaskan, suaranya penuh keyakinan meski situasi masih genting. "Kalau kamu berani buka suara, aku pastikan kamu dan keluargamu dapat perlindungan penuh, bahkan kalau perlu direlokasi sementara sampai semuanya selesai."
Ines menatap Adrian lama, ada secercah harapan yang mulai muncul di matanya yang tadinya penuh ketakutan. "Kenapa kamu segitu yakin bisa lindungin saya? Kamu sendiri aja lagi diincar."
"Karena aku tahu rasanya jadi orang yang dikhianatin sistem yang seharusnya melindungi," jawab Adrian pelan, matanya menerawang sesaat mengenang dua tahun perjuangannya sendiri. "Aku nggak akan biarin itu terjadi lagi ke orang lain, kalau aku masih punya kekuatan buat cegah."
Kalimat itu membuat Alena menatap suaminya dengan kekaguman baru—bukan lagi sekadar pria yang berjuang demi dirinya sendiri, melainkan seseorang yang mulai memikirkan keselamatan orang lain di tengah pertarungannya sendiri yang belum juga usai.
Sebelum percakapan itu berlanjut lebih jauh, ponsel Ines tiba-tiba bergetar keras di atas meja. Wajahnya seketika pucat pasi membaca notifikasi yang muncul di layar.
"Saya harus pergi sekarang," ucapnya cepat, bangkit dari kursinya dengan gerakan gugup. "Wirawan baru saja kirim pesan, minta saya balik ke kantor secepatnya. Katanya ada 'sesuatu yang penting' yang harus saya urus segera."
"Ines, tunggu—" Alena mencoba menahannya, tapi wanita itu sudah bergegas keluar dari kafe, menghilang di antara kerumunan orang di trotoar tanpa sempat menoleh ke belakang lagi.
Adrian dan Alena saling pandang, keduanya sama-sama cemas memikirkan apa sebenarnya "sesuatu yang penting" yang membuat Wirawan begitu mendesak memanggil Ines kembali secepat itu—dan apakah pertemuan diam-diam mereka pagi itu benar-benar seaman yang mereka kira.