Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teduh Taman Sekolah Dan Lembar Masa Depan
Angin sore berembus pelan, menerbangkan beberapa helai daun kering di area taman depan sekolah. Suasana setelah bel pulang sekolah berbunyi selalu menyisakan ketenangan tersendiri, terutama di sudut taman yang rimbun oleh pohon-pohon peneduh. Di salah satu bangku kayu yang dicat putih, Evan dan Auren duduk berdampingan. Jarak mereka kini tak lagi terasa canggung seperti kemarin-kemarin. Ada kenyamanan yang mengalir begitu saja di antara kedua anak kelas 7-B ini.
Auren menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku, menatap ujung sepatu sekolahnya yang berayun pelan. Di pangkuannya, tas ranselnya dipeluk erat. Sementara itu, Evan duduk sambil memutar-mutar botol minuman di tangannya, sesekali mencuri pandang ke arah wajah samping Auren yang tampak tenang.
"Nyaman ya di sini, Van," ucap Auren memecah keheningan, matanya memandangi beberapa kakak kelas yang berjalan menuju gerbang luar. "Biasanya kita langsung buru-buru ke halte bus, sampai gak sadar kalau taman depan sekolah seadem ini kalau sore."
"Iya, emang sengaja aku ajak ke sini dulu," balas Evan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman hangat. "Biar kita bisa ngobrol santai tanpa harus buru-buru dikejar jadwal bus. Lagian, aku masih pengen berlama-lama sama kamu setelah seharian penuh drama di kelas."
Auren terkekeh pelan, pipinya merona tipis mendengar ucapan terus terang dari Evan. Ia membenarkan posisi duduknya, lalu menatap Evan dengan ekspresi yang mendadak berubah menjadi sedikit lebih serius.
"Eh iya, Van. Kamu sadar gak sih, minggu-minggu ini guru-guru udah mulai sibuk banget ngasih kisi-kisi tugas?" tanya Auren.
Evan mengangguk, dahi cowok itu sedikit berkerut mengingat tumpukan bab pelajaran yang belum ia ulas kembali. "Iya, kerasa banget. Mana tugas kelompok Matematika sama Bahasa kemarin belum kelar semua."
"Itu artinya, ujian kenaikan kelas kita udah semakin dekat, Evan," tutur Auren lembut namun penuh penekanan. "Gak kerasa ya, sebentar lagi kita bakal selesai di kelas 7-B. Kalau ujian ini lewat, kita bakal naik ke kelas 8."
Mendengar kata 'kenaikan kelas', Evan menghentikan gerakan tangannya yang memainkan botol. Ada kilat kecemasan yang melintas di matanya, bukan hanya karena takut menghadapi soal-soal ujian yang rumit, melainkan ada ketakutan lain yang jauh lebih besar di dalam lubuk hatinya.
"Ujiannya sih aku bisa usahain belajar, Ren," kata Evan, suaranya mendadak merendah dan terdengar lebih dalam. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Auren. "Tapi yang bikin aku kepikiran... nanti pas kelas 8, kelas kita bakal diacak lagi gak ya sama sekolah?"
Auren terdiam. Pertanyaan Evan tepat sasaran dan menjadi hal yang sebenarnya juga sempat terlintas di pikirannya. Di sekolah mereka, kebijakan pengacakan kelas setiap kenaikan tingkat adalah hal yang lumrah untuk pemerataan siswa.
"Aku gak tahu, Van. Biasanya sih emang diacak lagi," jawab Auren pelan, ada nada berat dalam suaranya.
Evan menghela napas panjang, menatap hamparan rumput hijau di depan mereka dengan pandangan gusar. "aku gak mau pisah kelas sama kamu, Ren. Baru aja kita bisa duduk bareng lagi setelah repot-repot ngomong ke Buk Linda. Masa nanti di kelas 8 aku harus adaptasi lagi, terus bangku kamu diisi orang lain lagi kayak kemarin?"
Melihat gurat kecemasan di wajah cowok di sebelahnya, Auren merasa hatinya tersentuh. Ia tahu Evan sangat tulus dan selalu berjuang untuk menjaganya tetap dekat. Auren menggeser posisi duduknya sedikit lebih dekat, lalu menatap Evan dengan senyuman penyemangat yang sangat tulus.
"Evan, dengerin aku," kata Auren lembut, berhasil membuat Evan kembali menoleh ke arahnya. "Diacak atau enggaknya kelas kita nanti, itu kan urusan sekolah dan kita gak bisa milih. Tapi yang paling penting sekarang adalah kita harus sama-sama lulus dan naik kelas dengan nilai yang bagus dulu. Jangan sampai gara-gara mikirin itu, kita malah gak fokus ujian."
Evan tertegun sejenak, meresapi setiap kata-kata bijak yang keluar dari mulut gadis di sampingnya.
"Gini aja," lanjut Auren, matanya berbinar penuh ide. "Mulai besok, kita buat jadwal belajar bareng di kelas tiap jam istirahat atau sepulang sekolah. Aku bakal bantu kamu di pelajaran hafalan, dan kamu harus janji bantuin aku kalau aku pusing sama rumus Matematika kayak tadi siang. Gimana?"
Mendengar tawaran manis dan rencana belajar bersama itu, rasa cemas di dada Evan seketika menguap, digantikan oleh gelombang motivasi yang luar biasa. Senyum lebarnya yang khas kembali merekah, memamerkan binar mata yang penuh semangat.
"Setuju banget!" seru Evan penuh keyakinan. "Kalau belajarnya sama kamu, aku janji bakal belajar beneran sampai paham. Aku gak bakal males-malesan lagi deh. Kita harus sama-sama dapat nilai bagus di kelas 7-B ini."
Janji ya?" Auren mengacungkan jari kelingkingnya yang mungil di depan dada Evan.
Evan tersenyum manis, lalu menautkan jari kelingkingnya yang lebih besar ke kelingking Auren. "Janji, Aurenku. Aku bakal usahain apa pun biar kita selalu beriringan, mau di kelas 7 ataupun di kelas 8 nanti."
Sentuhan hangat dari tautan jari kelingking itu seolah mengunci janji mereka di bawah naungan pohon taman sekolah sore itu. Langit perlahan berubah warna menjadi jingga keemasan, menandakan bahwa waktu sudah semakin sore dan bus sekolah Auren mungkin sudah hampir tiba di halte depan.
Evan melepaskan tautan jari mereka dengan pelan, lalu berdiri dari bangku taman sambil membenarkan letak tali tas ranselnya. Ia mengulurkan tangan kanannya ke arah Auren untuk membantu gadis itu berdiri.
"Yuk, ke halte sekarang. Bus kamu kayaknya sebentar lagi sampai. Aku gak mau kamu ketinggalan bus gara-gara keasikan ngobrolin masa depan sama aku," goda Evan sambil mengedipkan sebelah matanya.
Auren menyambut uluran tangan Evan, berdiri sambil menahan senyum malunya yang kembali muncul akibat godaan spontan itu. Sore hari di taman sekolah itu ditutup dengan langkah kaki yang beriringan penuh kehangatan menuju gerbang luar. Ujian kenaikan kelas memang sudah di depan mata, tantangan baru pun pasti akan berdatangan, namun selama mereka menghadapi semuanya bersama-sama di baris yang sama, tidak ada yang perlu mereka takuti lagi.