NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Nona Shanum

Penjaga Hati Nona Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.

Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.

Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.

Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis Depan dan Gertakan Hukum

Sinar matahari pagi yang menembus kaca jendela ruang CEO Al-Maktoum Group tidak membawa kehangatan seperti biasanya. Pukul delapan pagi, sebelum Shanum sempat melangkah ke markas Polda untuk menyerahkan berkas audit resmi, kurir Pengadilan Negeri bersama tim kuasa hukum Devan dan Surya Wijaya mendatangi gedung. Mereka menyerahkan lembar somasi terbuka sekaligus surat pemberitahuan laporan polisi atas tuduhan pencemaran nama baik dan pemalsuan dokumen internal terhadap Shanum Al-Maktoum.

Langkah ini mempertegas bahwa Devan telah sepenuhnya melepas topengnya. Ia tak lagi bersembunyi di balik manuver rahasia internal. Dengan berdiri secara terbuka berdampingan bersama Surya Wijaya dalam gugatan ini, Devan secara terang-terangan menantang Shanum dan publik.

"Mereka mencoba mendahului kita," ujar Baskara dengan nada suara menahan geram, meletakkan dokumen somasi di meja. "Devan menunjukkan wajah aslinya secara terbuka. Dia ingin mengunci pergerakanmu agar publik menilai laporan audit yang kamu miliki adalah dokumen palsu hasil rekayasa."

Shanum berdiri tegak di balik meja besarnya. Pagi ini, ia mengenakan pakaian kerja formal berwarna biru gelap dengan jilbab senada. Raut wajahnya tidak menunjukkan kegentaran sedikit pun.

"Jika Devan sudah berani menunjukkan wajahnya secara terang-terangan sebagai musuh Al-Maktoum Group, maka tidak ada alasan lagi untuk mempertahankan posisinya," tegas Shanum, matanya berkilat penuh wibawa. "Mas Baskara, panggil tim hukum dan sekretariat direksi sekarang. Terbitkan surat pemberhentian dengan tidak hormat untuk Devan dari jabatannya sebagai Wakil CEO detik ini juga."

"Keputusan yang sangat tepat, Shanum," dukung Baskara mantap.

Shanum lalu menatap Aran yang berdiri siaga di dekat pintu. Dukungan dan penguatan mental yang diberikan pengawal pribadinya itu semalam telah menancapkan keteguhan yang begitu kokoh di dalam dadanya.

"Mereka ingin bermain di hadapan publik, Aran?" Shanum membalikkan badan, menatap Aran lurus-lurus. "Maka kita berikan apa yang mereka inginkan. Saya tidak akan bersembunyi di balik prosedur hukum yang mengulur waktu."

"Shanum, apa langkah Anda selanjutnya?" tanya Aran tenang, matanya menatap Shanum dengan kewaspadaan penuh.

"Siapkan aula utama lantai dasar. Umumkan pemberhentian resmi Devan sekaligus hubungi seluruh media nasional sekarang juga," perintah Shanum tegas. "Kita adakan konferensi pers mendadak satu jam dari sekarang."

Satu jam kemudian, aula utama Al-Maktoum Group riuh oleh gelombang wartawan dari berbagai media cetak dan televisi nasional. Kilatan lampu kamera menyambar-nyambar tanpa henti saat Shanum melangkah menuju podium. Di sebelah kirinya, Baskara berjaga ketat dengan personel keamanan internal. Sementara di sisi kanan panggung, berjarak dua langkah di belakang, Aran berdiri tegap bagaikan menara pelindung yang tak tergoyahkan.

Shanum duduk di podium, menarik napas dalam-dalam, lalu menatap lurus ke arah puluhan kamera.

"Selamat pagi rekan-rekan media," suara Shanum mengalun jernih, bergema penuh wibawa melintasi pengeras suara. "Saya berdiri di sini untuk menyampaikan dua hal krusial terkait kelangsungan Al-Maktoum Group dan menyikapi somasi terbuka yang dilayangkan oleh Saudara Devan."

Shanum memegang selembar dokumen resmi berstempel direksi. "Pertama, per hari ini, Al-Maktoum Group secara resmi memberhentikan Saudara Devan tidak dengan hormat dari jabatannya sebagai Wakil CEO. Keputusan ini diambil setelah yang bersangkutan secara terang-terangan bertindak melanggar etika, merugikan perusahaan, dan bersekutu dengan pihak luar."

Suasana aula seketika gempar oleh bisik-bisik para wartawan. Tanpa memberi ruang bagi keraguan, Shanum meletakkan bundel berkas audit fisik yang telah tersertifikasi oleh akuntan publik independen di atas meja podium.

"Kedua, Al-Maktoum Group tidak akan pernah bertekuk lutut pada gertakan kejahatan," tegas Shanum, matanya memancarkan kebenaran yang mutlak. "Kami memegang bukti sah dan tak terbantahkan atas penggelapan dana sebesar empat puluh miliar rupiah yang dialirkan secara ilegal oleh Devan ke beberapa perusahaan cangkang. Hari ini, dokumen ini kami serahkan secara terbuka kepada publik dan pihak berwajib!"

Riuh wartawan seketika pecah. Serbuan pertanyaan bersahutan menghujani panggung, namun Shanum menjawab setiap sanggahan hukum musuh dengan sangat cerdas, lugas, dan mengagumkan.

Di sisi panggung, Aran mengawasi jalannya acara. Namun, fokus matanya tak hanya pada perimeter keselamatan, pandangan Aran berkali-kali tertuju pada sosok Shanum. Menyaksikan keteguhan moral, keberanian, dan kesalehan wanita itu di hadapan puluhan kamera membuat dada Aran bergetar hebat. Rasa kagum yang tertanam di relung hatinya kini tumbuh kian dalam, melampaui tugasnya sebagai seorang pengawal pribadi.

Usai konferensi pers yang berlangsung intens selama empat puluh lima menit, Shanum melangkah turun dari panggung di bawah barikade ketat. Saat tiba di lorong privat VIP yang sepi, Shanum menghentikan langkahnya dan menghembuskan napas lega yang panjang.

Ia membalikkan badan perlahan, menatap Aran yang tetap setia mengawalnya dari jarak dua langkah. Shanum menyunggingkan senyum tipis—senyuman tulus yang begitu hangat.

"Terima kasih, Aran," bisik Shanum halus,"Semalam kamu bilang kebenaran punya kekuatannya sendiri. Hari ini saya menyaksikannya sendiri saat mengumumkan keputusan tadi."

Aran tertegun. Ia menundukkan kepalanya penuh rasa hormat. "Anda yang melakukannya dengan sangat luar biasa, Shanum. Keputusan tegas Anda memecat Devan di depan publik dan menyebarkan bukti audit adalah perisai sesungguhnya."

Ada jeda hening di antara mereka di lorong itu. Meski tak ada sentuhan fisik dan pandangan mata saling dijaga dengan sopan, gestur kepedulian dan getaran di antara kedua jiwa itu memancarkan kehangatan asmara yang mulai mekar secara murni.

Namun, kehangatan itu tak bertahan lama.

Sore harinya, saat rombongan Shanum kembali ke kediaman keluarga Al-Makthoum, suasana tenang seketika berubah mencekam. Gerbang utama tampak terbuka sedikit. Di atas lantai teras depan, tergeletak seekor bangkai burung elang yang lehernya terjerat rantai besi, bersanding dengan sebuah amplop cokelat kusam yang berlepotan bercak darah segar.

Baskara langsung menarik senjatanya dan menginstruksikan tim pengawal menyisir area luar. Aran dengan cepat berdiri di depan Shanum, merentangkan tangannya memblokir pandangan wanita itu dari teror mengerikan di depannya.

"Shanum, tetap di belakang saya!" perintah Aran rendah namun penuh intimidasi.

Baskara mendekati amplop tersebut menggunakan sarung tangan taktis, lalu membukanya. Di dalamnya terdapat lembaran kertas berisikan tulisan tangan tebal menggunakan tinta merah:

‘Peringatan Terakhir untuk Shanum Al-Maktoum. Cabut laporan auditmu dan batalkan pemberhentian Devan dalam 24 jam, atau darah keluarga Al-Maktoum yang akan mengalir di jalanan.’

Shanum terperanjat pelan di belakang punggung Aran, napasnya sedikit tertahan saat mendengar Baskara membacakan pesan ancaman itu. Rasa takut sempat menyusup, namun kehangatan dari keberadaan Aran di depannya membuat jantungnya kembali tenang.

Aran memutar sedikit tubuhnya, menatap Shanum dari samping. Wajah pengawal muda itu tampak begitu dingin dan keras, sebuah ekspresi Viper-1 yang siap menerkam ancaman apa pun.

"Teror hukum mereka telah gagal di konferensi pers tadi," desis Aran dengan nada suara yang amat mematikan. "Sekarang mereka beralih ke teror fisik. Mereka ingin memecahkan mental Anda dari jarak dekat karena Devan sudah kehilangan segalanya di perusahaan ini."

Shanum menatap mata Aran, lalu mengangguk dengan ketetapan hati yang baru. "Saya tidak akan takut, Aran. Saya tidak akan mencabut laporan itu."

"Bagus," sahut Aran rendah. Ia berpaling pada Baskara. "Pak Baskara,kita kunci seluruh gerbang. Juga naikkan level pengawasan ke siaga satu. Mulai detik ini, tidak ada satu orang pun yang boleh mendekati Shanum tanpa izin."

Aran kembali menatap Shanum dengan pandangan protektif yang begitu dalam. Teror telah resmi dimulai, namun di balik benteng diri Aran yang kokoh, Shanum tahu bahwa ia berada di dalam perlindungan paling aman yang pernah ada.

1
Alia Chans
keren😉/Smile/
saling support sabi kali thor🤭
Alnilam Mintaka: bisa banget bang .. makasih udah mampir yakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!