menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.
akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.
apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHANGATAN 2 RUMAH
Pagi harinya, suasana rumah di Meguro terasa begitu tenang. Hujan gerimis semalam telah berganti menjadi langit biru cerah yang membentang luas di atas kota Tokyo. Karena hari itu merupakan hari libur langka di mana baik Akira maupun Yuki sama-sama terbebas dari jadwal laboratorium dan panggung catwalk, mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama.
Setelah menikmati sarapan santai, Akira dan Yuki bersiap-siap untuk pergi berkunjung ke rumah Mama Akira.
Yuki mengenakan gaun terusan kasual berwarna krem yang anggun, melengkapi penampilannya dengan kalung berlian hadiah dari Akira. Sementara itu, Akira tampil santai namun tetap menawan dengan rajutan sweter abu-abu dan celana bahan gelap. Sebelum berangkat, mereka menyempatkan diri mampir ke toko kue langganan untuk membeli sekotak kue sus dan buah segar kesukaan Mama.
Perjalanan dengan mobil menyusuri pinggiran kota Tokyo berjalan sangat menyenangkan. Jemari mereka tak pernah saling melepas di atas konsol tengah mobil, tertaut erat dengan cincin pernikahan yang berkilau terkena pantulan sinar matahari pagi.
Begitu mobil Akira berhenti di halaman rumah Mama, tampak halaman depan yang asri dan terawat rapi. Aroma bunga melati yang bermekaran menyambut langkah kaki mereka.
Bel pintu berbunyi dua kali: Tring... Tring...
Tak butuh waktu lama, pintu kayu rumah itu terbuka lebar. Sosok wanita paruh baya berwajah teduh mengenakan celemek bunga-bunga berdiri di sana. Wajah Mama Akira seketika berbinar terang begitu melihat siapa yang datang berkunjung.
"Akira! Yuki!" panggil sang Mama dengan suara yang penuh kejutan dan kerinduan.
"Mama, kami datang," sapa Akira dengan senyuman hangat di bibirnya.
Belum sempat Akira melangkah lebih jauh, sang Mama sudah melangkah maju dan langsung merengkuh anak laki-lakinya dan sang menantu ke dalam satu pelukan hangat yang sangat erat. Aroma harum masakan rumahan dan kehangatan khas seorang ibu seketika merasuk ke dalam dada mereka.
"Aduh, anak-anak Mama datang... Kenapa tidak memberi tahu Mama dulu dari kemarin, Sayang?" ucap Mama sambil melepaskan pelukannya, lalu mengusap lembut kedua pipi Yuki. "Lihat menantu Mama yang cantik ini, makin hari makin anggun saja."
Yuki tertawa renyah, pipinya merona merah menerima pujian tulus itu. "Sengaja mau kasih kejutan buat Mama. Ini, Yuki membawa kue sus dan buah kesukaan Mama."
"Aduh, terima kasih banyak ya, Yuki. Kamu memang menantu terbaik," ujar sang Mama dengan mata berkaca-kaca bahagia. Beliau kemudian menepuk bahu Akira dengan penuh kebanggaan. "Ayo masuk, masuk! Kebetulan Mama baru saja selesai membuat dango dan teh hijau hangat!"
Merekapun melangkah masuk ke dalam rumah. Di dinding ruang tamu, terpajang foto pernikahan anggun Akira dan Yuki yang berukuran cukup besar—menjadi simbol dari awal kebahagiaan baru keluarga mereka yang terpancar indah.
Mereka bertiga duduk melingkar di atas tatami ruang tengah yang sejuk. Sang Mama menyajikan teh hijau hangat dan hidangan kue dengan penuh suka cita. Suasana seketika mencair menjadi penuh tawa dan obrolan hangat. Sang Mama tak henti-hentinya menanyakan kabar kesehatan mereka, menanyakan bagaimana kehidupan di rumah baru Meguro, hingga menceritakan tingkah lucu tetangga sekitar.
"Ibu sangat senang melihat kalian berdua seperti ini," bisik sang Mama pelan sambil menatap Akira dan Yuki yang duduk berdampingan dengan jemari yang saling bertaut di balik meja. "Tiap kali melihat kalian datang dan tersenyum bersama, rasa bahagia Ibu rasanya benar-benar penuh."
Akira tersenyum lembut, meraih tangan ibunya lalu mengelusnya pelan dengan penuh kehangatan. "Mama gak perlu khawatir lagi. Kami bahagia banget, Ma."
Yuki mengangguk mantap, menyandarkan kepalanya di bahu Akira sambil tersenyum manis ke arah sang Mama. "Iya, Bu. Akira jaga Yuki dengan sangat baik di rumah baru."
Sang Mama mengusap air mata bahagianya dengan ujung celemek, lalu tertawa kecil penuh keharuan. "Baguslah kalau begitu. Ibu cuma berdoa semoga rumah tangga kalian selalu dipenuhi berkah, cinta, dan kehangatan seperti hari ini."
Siang itu, rumah dipenuhi oleh suara tawa gembira. Diiringi hembusan angin hangat yang membawa aroma musim baru, kebersamaan mereka bertiga menjadi momen manis yang melengkapi hari libur mereka.
Setelah menghabiskan waktu yang hangat dan penuh tawa di rumah Mama Akira, sore harinya mereka berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan mereka berikutnya adalah mengunjungi rumah ibu Yuki.
Perjalanan sore itu terasa begitu menenangkan. Sinar matahari keemasan menerobos masuk melalui jendela mobil, membingkai wajah Yuki yang memancarkan pendar kebahagiaan. Di sepanjang jalan, Yuki tak henti-hentinya bersenandung kecil sambil memegang erat tangan Akira yang sedang menyetir.
Begitu mobil mereka berhenti di halaman rumah ibu Yuki, pintu depan rumah tersebut sudah terbuka bahkan sebelum Akira mematikan mesin mobil. Ibu Yuki melangkah keluar dengan senyuman lebar yang sangat hangat, menyambut kedatangan anak dan menantunya.
"Yuki! Akira!" panggil ibu Yuki penuh suka cita.
Yuki langsung turun dari mobil dan berlari kecil mendekap ibunya. Pelukan hangat khas seorang ibu seketika menyelimuti mereka. Akira melangkah menyusul sambil membawa sekotak oleh-oleh dan buah-buahan manis yang telah mereka siapkan.
"Ibu, apa kabar?" sapa Akira dengan sangat sopan dan mantap, membungkuk sedikit sebelum menjabat dan mengusap tangan ibu mertuanya dengan penuh rasa hormat.
"Ibu sehat sekali, Nak. Ayo masuk, masuk! Ibu siapkan teh hangat dan cemilan kesukaan kalian," sambut ibu Yuki seraya menuntun mereka berdua masuk ke dalam rumah.
Suasana di dalam rumah terasa begitu akrab dan penuh kehangatan. Di ruang tamu yang nyaman, mereka bertiga duduk bersama. Ibu Yuki tak henti-hentinya menatap Akira dan Yuki dengan binar mata yang dipenuhi rasa bangga dan haru. Beliau menanyakan banyak hal—mulai dari kesibukan riset Akira, jadwal pemotretan Yuki, hingga kehidupan sehari-hari mereka setelah tinggal bersama.
"Melihat kalian berdua datang bersama seperti ini, rasanya dada Ibu selalu penuh dengan rasa syukur," tutur ibu Yuki dengan suara lembut. Beliau mengusap punggung tangan Yuki, lalu menatap Akira. "Terima kasih ya, Akira... sudah menjaga dan mencintai Yuki dengan luar biasa."
Akira tersenyum hangat, menggenggam balik tangan ibu mertuanya dengan penuh ketulusan. "Sudah menjadi kewajiban dan janji saya, Bu. Yuki adalah segalanya untuk saya."
Yuki yang mendengar ucapan suaminya hanya bisa tersenyum manis dengan pipi yang sedikit merona, menyandarkan kepalanya di bahu Akira.
Ibu Yuki menatap mereka berdua beberapa saat, lalu terkekeh pelan dengan pandangan penuh godaan hangat. Beliau menyesap teh hangatnya sejenak sebelum meletakkannya kembali ke meja.
"Tapi... Ibu boleh tanya sesuatu?" goda ibu Yuki sambil tersenyum jahil, matanya bergantian menatap Yuki dan Akira. "Kira-kira... kapan nih Ibu sama Mamanya Akira bisa menimang cucu? Rumah rasanya bakal makin ramai kalau ada suara tangisan atau tawa anak kecil."
Mendengar pertanyaan mendadak itu, Yuki seketika tersedak ludahnya sendiri. Pipinya langsung berubah menjadi sangat merah sampai ke ujung telinganya. "I-Ibu! Kenapa tanyanya ke situ sih?" cicit Yuki gugup sambil menyembunyikan wajahnya di bahu Akira.
Akira yang berada di sampingnya sempat terkejut, namun dengan cepat ia menguasai diri. Sang Profesor muda tersenyum tenang, menggenggam tangan Yuki semakin erat di bawah meja untuk menenangkan istrinya.
"Pasti, Bu," sahut Akira mantap namun penuh kelembutan, menatap ibu mertuanya tulus. "Kami sedang menikmati masa-masa awal pernikahan kami sekarang, tapi kami juga selalu siap dan berdoa. Kalau sudah waktunya diberi kepercayaan, kami pasti akan memberi Ibu cucu yang menggemaskan."
Jawaban tenang dan dewasa dari Akira membuat ibu Yuki tertawa puas, sementara Yuki hanya bisa menepuk dada suaminya pelan dengan pipi yang masih merona hebat.
Sisa sore itu pun dihiasi oleh tawa dan canda yang makin hangat. Kehadiran Akira dan Yuki tidak hanya membawa kebahagiaan bagi mereka berdua, tetapi juga melengkapi kedamaian di hati sang Ibu yang sudah tak sabar menantikan bab baru dalam keluarga kecil mereka.