NovelToon NovelToon
Sistem Kebohongan Menjadi Kenyataan

Sistem Kebohongan Menjadi Kenyataan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Rizal, seorang pemuda yatim piatu yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan ditipu habis-habisan oleh mantan kekasihnya, mendapati hidupnya hancur berantakan di sebuah taman kota Jakarta. Namun, takdirnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika sebuah [Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan] tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Sistem ajaib ini mengubah setiap cacian, kebohongan, dan modus penipuan yang diarahkan padanya menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Berawal dari pesan penipuan undian palsu, Rizal mendadak menjadi miliarder yang membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal, sekaligus menarik perhatian banyak wanita cantik yang terpikat oleh kesuksesan dan pesonanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Prok. Prok. Prok.

Suara tepuk tangan di dalam ballroom perlahan mereda setelah kehebohan pelelangan Cawan Naga Langit.

Rizal dan Clara kembali berdiri dengan tenang di tengah ruangan, menikmati kemenangan telak mereka.

Namun, Broto Sanjaya yang wajahnya sudah semerah tomat rebus tidak mau menyerah begitu saja.

Pria tua itu berjalan mundur beberapa langkah dan memberikan isyarat anggukan kepada seorang pria paruh baya yang duduk di meja VIP.

Pria itu mengenakan setelan jas safari berwarna abu-abu yang sangat khas dengan seragam pejabat tinggi pemerintahan.

Dia adalah Budiarto, Menteri Sumber Daya Alam yang memiliki kekuasaan absolut atas seluruh izin pertambangan di Indonesia.

Budiarto berdiri dari kursinya dan berjalan perlahan menghampiri kerumunan dengan dagu terangkat tinggi.

"Permisi semuanya, tolong beri jalan."

Suara bariton Budiarto yang berat dan penuh wibawa langsung membuat para tamu undangan menyingkir.

Banyak konglomerat yang langsung menundukkan kepala mereka dengan sangat hormat saat Menteri Budiarto lewat.

Di dunia bisnis, melawan seorang menteri yang memegang izin usaha sama saja dengan bunuh diri.

Broto Sanjaya menyeringai licik saat Budiarto akhirnya berdiri tepat di sebelahnya.

"Tuan Rizal, Anda mungkin memiliki uang yang banyak dan barang antik yang mahal."

Broto kembali membuka suara dengan rasa percaya diri yang sudah pulih sepenuhnya.

"Tapi di negara ini, kekayaan tidak ada artinya jika Anda tidak mematuhi hukum dan aturan pemerintah."

Rizal menatap Menteri Budiarto dengan ekspresi datar yang tidak bisa ditebak.

"Apakah ini kartu truf terakhir Anda, Tuan Broto?"

"Jaga sikapmu anak muda, kau sedang berhadapan dengan Menteri Budiarto yang terhormat!"

Broto membentak dengan suara lantang agar seluruh ruangan bisa mendengar.

Menteri Budiarto melipat tangannya di dada dan menatap Rizal dengan pandangan yang sangat merendahkan.

"Jadi kau yang bernama Rizal? Pemilik baru Wijaya Group yang sedang sombong itu?"

Budiarto mendengus kasar seolah sedang melihat seekor serangga yang mengganggu.

"Kudengar kau baru saja menemukan tambang Baja Hitam Titanium di Jawa Barat."

"Berita yang sangat bagus, tapi sayangnya tambang itu ilegal dan harus segera ditutup malam ini juga."

Pernyataan dari sang menteri langsung memicu gelombang keterkejutan baru di dalam ballroom.

Clara Wijaya langsung melangkah maju dengan wajah panik karena ini menyangkut nyawa perusahaannya.

"Tunggu dulu Pak Menteri! Izin tambang kami sudah lengkap dan terdaftar secara sah di kementerian Anda!"

Clara mencoba membela diri dengan suara yang sedikit bergetar.

"Izin yang kalian miliki adalah izin untuk tambang batu biasa, Nona Clara."

Budiarto menjawab dengan nada sinis dan penuh otoritas.

"Untuk menambang Titanium murni, kalian membutuhkan izin khusus tingkat nasional yang belum pernah kalian urus!"

"Tapi Pak Menteri, kami baru saja menemukan material itu dua hari yang lalu."

Clara mencoba berargumen namun Budiarto langsung mengangkat tangannya untuk memotong.

"Hukum adalah hukum, tidak ada alasan!"

Menteri Budiarto menunjuk wajah Rizal dengan jari telunjuknya yang gemuk.

"Aku punya kekuasaan absolut untuk mencabut semua izin usaha Wijaya Group sekarang juga!"

"Kalian berdua adalah penjahat negara yang melakukan eksploitasi alam secara ilegal!"

"Besok pagi, aku pastikan tambang itu akan disita oleh negara dan kalian berdua akan membusuk di penjara!"

Menteri Budiarto mengucapkan semua ancaman itu dengan suara lantang yang menggema ke seluruh penjuru ruangan.

Broto Sanjaya tersenyum sangat lebar hingga memperlihatkan giginya yang sedikit menguning.

Inilah momen yang dia tunggu-tunggu, menghancurkan Rizal menggunakan tangan besi pemerintah.

Dion Sanjaya ikut tertawa mengejek dari belakang punggung ayahnya.

"Mampus kau Rizal! Hartamu besok akan disita semua dan kau akan kembali jadi gembel di penjara!"

Para tamu undangan hanya bisa terdiam dan menundukkan kepala mereka.

Mereka tahu bahwa Menteri Budiarto adalah pejabat korup yang sudah lama dibeli oleh Keluarga Sanjaya.

Tidak ada satu pun pengusaha yang berani melawan jika Budiarto sudah menjatuhkan vonisnya.

Namun di tengah situasi yang terlihat sangat memutus-asakan itu, Rizal justru tertawa kecil.

Tawanya sangat pelan, namun terdengar sangat mengerikan di tengah keheningan ballroom.

"Penjahat negara ya? Lucu sekali mendengarnya dari mulut seorang pencuri berdasi."

Ting!

[Mendeteksi adanya rentetan omong kosong, fitnah hukum, dan penyalahgunaan kekuasaan dari pejabat korup.]

[Kebohongan: Izin tambang Anda ilegal, Anda adalah penjahat negara, dan dia memiliki kekuasaan absolut untuk memenjarakan Anda.]

Suara sistem berdering sangat nyaring merespons kesombongan sang menteri.

Rizal menatap layar biru transparan di depannya dengan perasaan sangat puas.

[Memproses manipulasi realitas tingkat negara...]

[Manipulasi berhasil. Izin tambang Wijaya Group telah dinaikkan statusnya menjadi Proyek Strategis Nasional dengan perlindungan langsung dari Presiden.]

[Kekuasaan Menteri Budiarto atas tambang Anda telah dicabut secara mutlak oleh sistem konstitusi.]

[Fakta tersembunyi mengenai aliran dana suap dari Broto Sanjaya ke rekening luar negeri Menteri Budiarto telah dikirimkan secara otomatis ke meja Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi.]

Nafas Rizal terasa sangat ringan setelah membaca notifikasi eksekusi dari sistem tersebut.

Menteri Budiarto baru saja menggali kuburannya sendiri dengan sangat dalam.

"Apa yang kau tertawakan, anak kurang ajar?!"

Budiarto membentak marah karena merasa otoritasnya dilecehkan oleh tawa Rizal.

"Aku menertawakan kebodohanmu yang berani mengancamku dengan kekuasaan palsumu itu, Budiarto."

Rizal bahkan tidak memanggil pria itu dengan sebutan menteri lagi.

Wajah Budiarto langsung memerah padam menahan amarah yang meledak.

"Berani sekali kau! Aku akan menelepon kepala kepolisian sekarang juga untuk menyeretmu keluar!"

Budiarto merogoh saku jas safarinya dan mengeluarkan ponsel cerdasnya.

Namun sebelum jarinya sempat menekan nomor telepon, pintu utama ballroom tiba-tiba terbuka dengan suara bantingan yang sangat keras.

Brak!

Puluhan pria berseragam hitam dengan rompi taktis bertuliskan KPK menerobos masuk ke dalam ruangan.

Mereka dipersenjatai dengan pistol dan membawa surat perintah penangkapan.

Suasana ballroom seketika menjadi sangat tegang dan kacau balau.

Banyak sosialita yang menjerit kaget melihat kedatangan pasukan anti rasuah tersebut secara tiba-tiba.

Seorang pria berkacamata yang merupakan Direktur Penyidikan KPK berjalan cepat membelah kerumunan.

Dia berjalan lurus menuju meja VIP tempat Menteri Budiarto dan Broto Sanjaya berdiri.

"Menteri Budiarto, Anda kami tahan atas tuduhan korupsi massal dan penerimaan suap izin tambang ilegal."

Pria berkacamata itu membacakan surat perintah dengan suara yang sangat tegas dan tanpa keraguan sedikit pun.

Mata Menteri Budiarto membelalak lebar hingga seolah ingin melompat keluar dari rongganya.

"A-apa maksudmu?! Aku ini Menteri! Kalian tidak bisa menangkapku tanpa persetujuan Presiden!"

Budiarto meronta dan mencoba mundur, namun dua orang petugas KPK bertubuh besar langsung memiting lengannya.

Klak.

Borgol besi yang sangat dingin langsung mengunci pergelangan tangan sang menteri yang tadinya sangat arogan tersebut.

"Presiden baru saja menandatangani surat pemecatan Anda lima menit yang lalu."

Direktur KPK itu menjawab dengan nada datar sambil menunjukkan dokumen berstempel garuda emas.

"Kami memiliki bukti transfer mutasi rekening dari bank Swiss Anda yang berisi dana suap triliunan rupiah dari Sanjaya Corp."

1
kinataa⁸
5m nya ksh aku juga/Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!