NovelToon NovelToon
Si Detektif Gila

Si Detektif Gila

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Sistem
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dulu, dia adalah preman yang hidup dari kekerasan dan ditakuti banyak orang. Namanya dikenal di jalanan, tangannya penuh darah, dan masa depannya seolah tidak akan pernah berubah.
Sampai sebuah kejadian memberinya kesempatan kedua.
Terbangun dengan kehidupan baru, dia justru memilih jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi seorang polisi.
Namun, kebiasaan lamanya belum hilang. Cara berpikirnya terlalu liar, instingnya terlalu tajam, dan metode penyelidikannya sering kali membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

“Revan!”

Abi bangkit sambil menepuk-nepuk debu yang menempel di bajunya. Wajahnya merah karena kesal.

“Lo... lo orang gila!”

“Bodo amat sama lo!”

Revan menggenggam stik biliar yang sudah patah dan melangkah lebar ke arah Abi. Tatapannya bikin orang yang melihatnya langsung merinding. Dari gayanya, seolah-olah dia benar-benar berniat menusukkan stik itu sampai Abi mampus.

“Oke! Gue cek! Gue cek baik-baik, oke?!” Abi buru-buru mengangkat kedua tangan. “Cuma ngecek satu orang doang, apa harus sampai begini segala?!”

“Justru gue yang mau nanya sama lo!” Revan membentak. “Cuma ngecek satu orang, apa harus sampai segitunya?!”

“Iya, iya... gue takut sama lo! Ayo pergi!”

Abi akhirnya menyerah. Mau gengsi seperti apa pun, dia tetap tidak berani macam-macam setelah melihat sikap Revan yang kelewat brutal.

“Tunggu!”

Padahal tujuan Revan sudah tercapai, tapi dia jelas belum berniat mengakhiri masalah begitu saja. Dia menunjuk stik biliar yang sudah rusak di tangannya.

“Gue udah mukul pakai stik sebanyak itu, tapi lo belum bayar!”

“Hah?!”

Abi langsung melongo.

“Bentar, gue hitung dulu!”

Revan santai saja menghitung sambil menggerakkan jarinya.

“Satu stik lima puluh ribu. Gue tadi mukul empat kali, berarti dua ratus ribu pas. Oh, iya... bolanya juga. Satu bola dua puluh ribu. Gue mukul tujuh kali, berarti seratus empat puluh ribu. Ditambah dua ratus ribu tadi... totalnya tiga ratus empat puluh ribu rupiah!”

Revan menatap Abi dengan serius.

“Gue kasih tahu dari sekarang, gue nggak kasih diskon!”

“Apa?! Lo?!”

Abi hampir gila mendengarnya.

Logika macam apa itu?!

Mereka tadi sedang main biliar. Siapa yang main biliar sambil menghitung setiap kali stik dipukulkan dan bola disentuh sebagai biaya kerusakan?!

Kalau mukul stik dihitung bayar, berarti main biliar macam apa ini?! batin Abi.

“Hah?” Revan mengangkat sebelah alis. “Bukannya tadi kita udah sepakat?”

Dia melangkah mendekat.

“Lo mau main curang, atau kita lanjut main sekarang?”

Revan mengambil satu stik biliar lain.

“Jangan! Jangan! Jangan!”

Seorang polisi muda yang sejak tadi berdiri di dekat mereka langsung berlari mendekat sambil mengangguk cepat.

“Kita kalah! Kita kalah! Gue bayar! Gue bayar!”

Dia buru-buru mengeluarkan dompet, mengambil beberapa lembar uang pecahan seratus ribu, lalu menyerahkannya kepada Revan.

“Nih, lima ratus ribu. Kembaliannya buat lo!”

Revan mengambil uang tersebut dengan santai. Dia lalu melirik polisi muda itu dari samping.

“Lumayan. Lo cukup ngerti aturan.”

Revan menepuk-nepuk uang di tangannya.

“Masa depan lo cerah.”

Setelah itu, dia berbalik dan menendang pemilik tempat biliar yang masih terkapar di lantai.

“Woy!”

Pemilik tempat biliar itu bergerak pelan.

“Lo masih hidup, kan?”

Revan melempar uang lima ratus ribu tadi tepat ke wajahnya.

“Nih, ambil. Buat beli permen!”

Pemilik tempat biliar menatap uang yang jatuh di depannya dengan bingung.

“Siapa tahu kalau lo makan permen tiap hari, keberuntungan lo datang. Jadi lo bisa pergi ke Unit Investigasi Kasus Khusus di kantor polisi buat ngelaporin gue tanpa takut gue balas dendam.”

Revan menyipitkan mata.

“Kalau nggak, ya diem aja. Ngerti?”

Pemilik tempat biliar akhirnya benar-benar sadar. Begitu melihat wajah Revan yang masih penuh aura mengancam, dia buru-buru mengangguk.

“Nggak berani! Saya nggak berani!”

“Abi!”

Revan menoleh.

“Kenapa masih bengong? Jalan!”

Abi tidak punya pilihan lain selain menundukkan kepala dan mengikuti Revan keluar dari tempat biliar.

Buat Revan, mengacak-acak tempat orang sebenarnya bukan hal baru.

Di masa lalu, hal semacam ini bahkan sudah menjadi makanan sehari-harinya. Hanya saja, sekarang dia merasa agak canggung kembali menggunakan cara lamanya.

Bagaimanapun juga, dulu dia punya puluhan anak buah yang bisa dikerahkan kapan saja.

Sekarang?

Dia cuma punya dirinya sendiri.

Sebagai salah satu petarung terbaik dari kelompoknya dulu, Revan selalu punya prinsip sederhana.

Kalau masalah bisa diselesaikan dengan kekerasan, buat apa repot-repot mencari cara lain?

Menurutnya, menyiksa mental seseorang terkadang jauh lebih efektif daripada langsung membunuhnya.

Setelah melihat kegilaan Revan, baik pemilik tempat biliar maupun Abi sama-sama tertekan. Mereka tidak berani bertindak sembarangan lagi.

Abi pun akhirnya mengikuti Revan kembali ke kantor polisi dengan patuh untuk membantu mencari keluarga gadis ajaib tersebut.

Mencari orang memang merupakan keahlian Abi.

Dan sebenarnya dia tidak ingin Revan ikut melihat bagaimana dirinya bekerja.

Sayangnya, Revan justru curiga Abi hanya akan mengerjakan semuanya asal-asalan.

Karena itu, Revan menarik sebuah kursi, duduk di sebelahnya, lalu memperhatikan setiap langkah yang dilakukan Abi.

Abi kesal setengah mati.

Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Kalau yang mengawasi adalah orang normal, mungkin dia masih bisa membalas.

Masalahnya, yang duduk di sebelahnya adalah Revan.

Orang gila yang tidak tahu malu sekaligus ekstrem.

Abi cuma bisa menahan emosi dan terus bekerja.

Revan sendiri bukan orang bodoh.

Tidak butuh waktu lama baginya untuk memahami metode yang digunakan Abi dalam mencari seseorang.

Abi tidak menggunakan cara-cara konvensional seperti mengecek kartu identitas, data kependudukan, rekening bank, atau catatan imigrasi.

Sebaliknya, dia masuk ke database medis sejumlah rumah sakit besar untuk mencari rekam medis yang sesuai dengan target.

Revan langsung terdiam.

Gila...

Dia tidak bisa menahan rasa kagumnya.

Cara ini benar-benar brilian!

Sekalipun seseorang mengganti nama dan berusaha menghapus identitas lamanya, hampir mustahil dia bisa menghapus seluruh rekam medisnya.

Kecuali orang itu tidak pernah pergi ke rumah sakit seumur hidupnya.

Tidak lama kemudian, Abi berhasil menemukan enam atau tujuh rekam medis yang kemungkinan besar berhubungan dengan gadis tersebut.

“Yang paling lama bisa dilacak sampai lima belas tahun lalu.”

Abi menunjuk salah satu data di layar.

“Namanya Jayadi. Alamatnya Desa Bojong Sari, Bogor. NIK-nya cocok dengan data kependudukan.”

Abi melanjutkan sambil membaca informasi di layar.

“Dia pernah dirawat di bagian jantung Rumah Sakit Kota karena penyakit jantung. Setelah itu, dia dua kali lagi masuk rumah sakit dengan keluhan yang sama.”

Abi kemudian menunjuk data lain.

“Kalau yang ini, data medis terbaru. Tercatat bulan Mei tahun lalu di bagian onkologi Rumah Sakit Kota.”

“Pasiennya Ratna. Alamatnya Desa Bojong Sari, Bogor. NIK-nya cocok dengan data kependudukan.”

Abi memperbesar layar.

“KTP-nya memang sudah kedaluwarsa. Tapi karena pasien membayar biaya pengobatan sendiri, pihak rumah sakit tetap menggunakan nomor KTP lama tersebut untuk pendaftaran.”

Jayadi adalah nama ayah Indah.

Sedangkan Ratna adalah nama ibunya.

Mendengar informasi itu, Revan setidaknya bisa memastikan satu hal.

Keluarga gadis ajaib itu ternyata belum menghilang dari dunia.

Mereka masih hidup.

Dan yang lebih penting, mereka masih berada di kota.

“Hm?”

Revan mengernyit.

“Kalau mereka masih tinggal di kota, kenapa selama ini seolah-olah menghilang begitu saja?”

Dia menatap layar dengan serius.

“Jangan-jangan ada sesuatu yang salah.”

Revan langsung menoleh kepada Abi.

“Bi, alamat pasiennya bisa dicari?”

“Bisa.”

Abi kembali mengetik dengan cepat.

“Tapi kalau orangnya memang sengaja menyembunyikan identitas dan memberikan alamat palsu saat masuk rumah sakit, gue nggak bisa menjamin hasilnya.”

Jari Abi terus bergerak di atas keyboard.

Beberapa detik kemudian, matanya berbinar.

“Dapat!”

Revan langsung membungkuk melihat layar.

Namun baru melihat alamatnya sekilas, seluruh tubuhnya mendadak merinding.

Dia segera membuka peta dan memasukkan alamat tersebut.

Begitu lokasi muncul di layar, ekspresi Revan berubah drastis.

Wajahnya seperti baru saja disambar petir.

“Ada apa?”

Abi menyadari perubahan ekspresi Revan.

Dia hendak bertanya lebih jauh, tetapi Revan langsung berdiri.

“Cepat!”

Revan berbicara dengan nada mendesak.

“Kirim semua data ini ke HP gue!”

Dia menunjuk layar.

“Jangan ada satu informasi pun yang kelewat!”

Revan mengambil jaketnya.

“Gue... gue harus pergi!”

“Hah?”

Abi masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Tapi melihat ekspresi Revan, dia tidak berani banyak bertanya.

Dia langsung mengikuti perintahnya dan mengirim seluruh informasi tersebut ke ponsel Revan.

Tidak lama kemudian, Revan meninggalkan kantor polisi.

Dia masuk ke mobil polisi dan langsung melaju menuju alamat yang baru saja ditemukan Abi.

Sepanjang perjalanan, pikirannya terasa kacau.

Tangannya yang memegang setir mulai berkeringat.

Jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.

Meskipun sampai sekarang Revan masih belum sepenuhnya memahami rangkaian kejadian dalam Kasus Tangan Hilang, alamat yang baru saja dia dapatkan membuat keyakinannya semakin kuat.

Dia berada di jalur yang benar.

Setidaknya, kali ini dia yakin.

Revan menginjak pedal gas lebih dalam.

Matanya menatap lurus ke jalanan Jakarta yang mulai dipenuhi lampu kendaraan.

Kali ini...

Gue nggak mungkin salah lagi, kan?

1
This Is Me
Ambisi menghancurkan masa depan orang lain 😤😤
This Is Me
Ini apa maksudnya?🤔
This Is Me
Wow!! Ada yang tiba² tajir nih
Hartono
Alurnya konyol tapi menghibur kayak baca cerita buatan anak ad 🤭
gendhis jawi
jgn2 pelaku potong tangan si jeni
This Is Me
Ihhhh....kenapa berhenti disiniii??
This Is Me
Makin menegangkan
MW
ini mau sampai kapan dah muter muter mulu
This Is Me
Kayanya Revan dalam bahaya deh😱😱
This Is Me
Wah...ada apalagi nih?😱
This Is Me
Jangan²....😱😱😱
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!