Malam itu, Akila Georgina kehilangan segalanya.
Tunangan yang dicintainya ternyata berselingkuh dengan adik tirinya sendiri. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, Akila kembali dijadikan kambing hitam atas kecelakaan yang merenggut nyawa seorang wanita bernama Natalie Hartawan.
Dan putra wanita itu adalah William Hartawan—mafia kejam yang dikenal sebagai The Reaper.
William yakin Akila adalah penyebab kematian ibunya.
Maka ia menjadikan Akila istrinya. Bukan karena cinta, melainkan demi dendam.
"Mulai hari ini, kau adalah istriku. Dan hidupmu menjadi harga atas kematian ibuku."
Namun, semakin lama William mengenal Akila, semakin ia menyadari bahwa wanita yang ingin ia hancurkan ternyata hanyalah korban dari permainan orang lain.
Dendam perlahan berubah menjadi rasa memiliki.
Sementara Akila mulai dihadapkan pada satu pilihan: tetap membenci pria yang memaksanya masuk ke dalam pernikahan itu, atau mempercayai hati yang diam-diam mulai luluh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Di Kediaman Akila..
Akila diam di kamar Anak kembarnya.
Dua Anak yang lucu itu berada di kamar yang berbeda ranjang, satu jam yang lalu Akila sudah menidurkan mereka.
Saat ini Akila berdiri di sisi jendela tanpa berucap apapun, namun pikirannya benar-benar memikirkan hal yang cukup kacau.
Ketukan pintu kamar membuat Akila segera keluar lalu menutup pintu itu.
Ada Sari disana.
"Selamat malam Nyonya, apa Tuan muda dan Nona muda sudah tidur?" Tanya Sari.
"Hmm mereka sudah tidur Sari." Ucap Akila.
Sari tersenyum.
"Syukurlah, saya hanya ingin memberikan minuman hangat yang saya buat untuk Nyonya. Seharian ini pasti Nyonya sangat lelah." Ucap Sari.
Akila mengangguk, keduanya sama-sama melangkah lalu duduk di sofa.
Akila meraih gelas minum yang berisi minuman herbal. Usai menyesapnya Akila kembali meletakan gelas itu.
"Sari." Ucap Akila.
"Ya Nyonya?" Balas Sari.
Akila menoleh, ia menatap Sari yang duduk di sampingnya itu.
"Ada yang ingin aku ceritakan padamu. Ini tentang aku dan salah satu kerabat yang paling dekat denganku." Ucap Akila.
Sari menganggukkan kepalanya menunggu cerita itu.
"Aku punya teman sejak saat kami masih sangat kecil, dia yang paling baik padaku. Dia selalu membantuku dan kami saling berbagi kisah. Aku dan dia tinggal di panti asuhan yang sama." Ucap Akila.
Sari terkejut mendengar ucapan Akila.
Panti asuhan? Selama ini Akila belum pernah bercerita sejauh ini.
"Aku bukan Anak kandung dari Mathilda dan Ben, aku bukan keturunan Mason. Hanya Kiara saja Putri di keluarga itu. Aku hanya Anak yang diangkat dan dibuat seakan aku adalah Anak mereka. Semua orang harus tahu bahwa Keluarga Mason punya 2 Putri." Ucap Akila lagi.
Sari semakin terkejut dengan cerita itu.
Setahu Sari selama ini Akila adalah Putri kandung di keluarga itu karena banyak berita yang memang mengatakan Akila adalah Putri kedua, namun Sari juga ragu kenapa keluarga Mason membiarkan Akila berada dalam genggaman William selama ini.
Memang membingungkan dan akhirnya Sari tahu dari cerita Akila.
"Aku tak pernah memberitahu siapapun karena Ben yang meminta itu. Jika aku mengungkapkan siapa aku maka Ben akan menghentikan pengobatan Feby. Sahabatku yang bernama Feby punya sakit jantung sejak kecil." Ucap Akila menceritakan segalanya.
Bercerita seperti ini membuat Akila akhirnya terlempar pada ingatan dari kisah lamanya.
---
Flashback On.
Usia Akila terbilang cukup muda, namun banyak hal yang sudah ia pahami. Kedatangan keluarga yang kaya raya itu membuat Akila ingin diadopsi olehnya.
Bukan karena Akila ingin hidup mewah tapi ada alasan mengapa ia berharap keluarga itu mau mengadopsinya.
Feby sudah sakit sejak lama sedangkan panti tempat mereka tinggal hanya bisa memberikan obat yang mampu mengurangi rasa sakit tapi tidak untuk jangka panjang. Feby bisa melakukan operasi jika usianya berada di antara 17 sampai 18 tahun dan itupun jika ada pendonor yang tepat.
Tatapan Ben jatuh pada Akila. Ben memberikan kriteria Anak yang ingin ia adopsi, namun sudah jelas kalau Feby tidak masuk dalam pilihan Ben.
Sejak pertama menginjakkan kakinya ke panti itu memang hanya Akila yang menarik bagi Ben, entah kenapa Anak itu sepertinya akan lebih patuh dari yang lainnya.
Ben menunduk lalu tersenyum pada Akila.
"Siapa namamu cantik?" Tanya Ben.
Akila yang memiliki mata indah membuat Ben mengulurkan tangannya seraya mengusap puncak kepala Akila.
"Namaku Akila Georgina, Uncle." Ucap Akila.
Ben semakin tersenyum.
"Apa kau mau menjadi Putri angkatku? Jika kau berada di keluarga Mason maka kau akan jadi Putri kedua bagi kami." Ucap Ben.
Mata Akila menoleh pada Feby yang berdiri dalam diam, gadis kecil itu menggenggam ujung bajunya sendiri seakan hendak menangis.
Singkatnya Feby tak ingin berpisah dari Akila.
"Aku setuju, tapi bolehkah kabulkan satu permintaanku saja?" Tanya Akila membuat penawaran pada Ben.
Ini yang Ben suka, dia mau mencari gadis yang cerdas yang kelak bisa menjadi apapun dan membantu Kiara dalam banyak hal.
"Hmm, apapun itu aku akan mengabulkannya." Ucap Ben.
Malamnya, Akila dan Feby duduk diam di kamar mereka.
"Apa yang kau minta dari Uncle itu? Kenapa kau setuju untuk diangkat menjadi Anak olehnya, Akila? Apa kau tak mau bertemu denganku lagi hingga kau memilih diadopsi jadi Anak orang kaya?" Tanya Feby.
Air mata Feby jatuh, semakin banyak bicara maka semakin menangis pula Feby.
Feby menatap wajah Akila.
"Harusnya kalau kau tak mau berteman denganku lagi maka tak perlu ikut orang lain Akila. Kau cukup jauh aku, aku sadar diri bahwa aku adalah teman yang buruk, aku hanya menyusahkan hidupmu. Aku ini gadis penyakitan." Ucap Feby membuat Akila bangkit berdiri lalu memeluk Feby.
"Jangan bicara seperti itu Feby, kau sahabat yang sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri. Aku hanya punya kau dan aku tak bisa melihatmu terus sakit. Perjanjian yang aku buat dengan orang itu adalah..."
Feby langsung melepaskan pelukan itu.
"Akila, jangan bilang kalau kau membuat perjanjian gila pada orang itu. Jangan mudah percaya Akila. Aku baik-baik saja selama kita tetap ada di atap yang sama. Aku tak masalah kalau mati, asalkan kau tetap bersamaku. Sakitku akan baik-baik saja dan aku..."
"Feby, kau akan pulih dengan cara ini dan kita akan tetap bisa berteman dalam waktu yang lama. Hubungan kita tak akan berakhir." Ucap Akila dengan yakin.
Feby menggeleng, ia tak mau menyulitkan Akila lebih jauh. Bagi Feby sudah cukup punya Akila dalam hidupnya dan Akila tak perlu berjuang atas sakit yang ia derita.
"Jangan setuju, aku tidak mau kau ikut orang lain. Panti asuhan sudah jadi tempat yang baik buat kita Akila. Kita akan besar bersama disini. Saat aku punya uang nanti, aku akan mengobati diriku sendiri." Ucap Feby.
Tangis Feby makin menjadi-jadi sampai dadanya terasa sesak. Akila cemas saat Feby memegang dada kirinya.
Ya, sakit itu datang lagi.
"Sebentar, aku akan ambilkan obatnya. Duduk dan berhentilah menangis Feby. Tenangkan dirimu, kumohon." Ucap Akila cemas.
Feby menurut, ia diam menunggu Akila membawakan obat miliknya.
"Minumlah." Ucap Akila.
Feby segera meneguk obat dan air secara bersamaan. Beberapa menit menunggu keadaan Feby pulih barulah Akila berucap.
"Kita tak akan berpisah, aku akan selalu mendatangi rumah sakit saat kau dirawat nanti." Ucap Akila.
Feby memilih diam, ia tak lagi bersuara.
Flashback Off.
Detik dari kisah mereka tak pernah terlupakan oleh Akila, Sari yang mendengar cerita itu segera menggenggam tangan Akila.
"Nyonya hebat sudah melaluinya sejauh ini." Ucap Sari.
Akila tiba-tiba menjatuhkan air matanya, tatapannya masih sama pada Sari.
"Sudah lama sekali aku tak melihat Feby, aku bahkan tidak tahu bagaimana kabarnya dan terlebih Feby masih ada bersama Ben. Jujur aku cemas dan selalu berpikir bahwa aku terlalu egois pada Feby. Aku sungguh mengkhawatirkan keadaan Feby." Ucap Akila.
Sari mendekat membuat Akila masuk dalam pelukan Sari.
"Saya yakin kalau sahabat Nyonya akan baik-baik saja. Kalian berdua pasti bisa bertemu kelak." Ucap Sari.
Akila mengangguk, ia berharap ucapan Sari terwujud.
"Sari, jika kelak terjadi sesuatu padaku atau Ben memintaku kembali... aku mohon titip Anak-anak, aku perlu membawa Feby keluar dari tempat itu. Sekarang aku bisa membiayai pengobatan Feby dengan uangku sendiri, aku yakin untuk itu. Feby pasti bisa kembali sehat." Ucap Akila.
Sari melepaskan pelukan itu lebih dulu.
"Apa yang Nyonya pikirkan? Apa Nyonya berniat untuk kembali ke keluarga itu?" Tanya Sari.
Akila segera menggeleng. Tidak, bukan itu.
Akila tak akan sudi lagi ada dalam keluarga Mason dan terlebih Akila kini sudah memiliki dua Anak kembar.
"Tidak, aku hanya akan mengambil Feby dan membawanya bersamaku. Bagiku Feby sudah seperti saudaraku sendiri." Ucap Akila.
Senyum terbit di bibir Sari.
"Apapun keputusan Nyonya saya akan mengikutinya, namun Nyonya tahu sendiri bahwa saya tak bisa mengendalikan emosi Nona muda Athena, dan Tuan muda Atheos." Ucap Sari jujur.
Akila mengusap air matanya lalu tersenyum.
"Hmm, aku tahu itu. Dan aku tahu pula bahwa mereka bukanlah Anak-anak yang suka membuat masalah, jadi kau tenang saja Sari." Ucap Akila.
Mendengar ucapan Akila membuat Sari tak yakin, menjaga dua Anak itu cukup merepotkan bagi Sari yang lemah ini.
---
Paginya Akila terbangun, wangi masakan membuat Akila segera keluar kamar menemukan dua Anaknya berpakaian koki. Mereka memang sangat menggemaskan dimata Akila.
Ada Athena yang sibuk mengangkat piring menuju meja sedangkan Atheos tengah memasak.
"Kalian berdua sedang apa hm?" Tanya Akila.
Sebenarnya Akila juga tahu bahwa kedua Anaknya suka sekali berurusan dengan dapur apalagi kalau Akila sedang ada.
"Kami masak buat Mommy, kita harus sarapan bersama Mom." Ucap Atheos.
"Wah Anak-anaknya Mommy keren semua, mau hadiah tidak? Sini Mommy cium." Ucap Akila membuat dua Anak itu segera berlarian ke arah Akila.
Senyum Akila semakin terbit.
Cup!
Cup!
Akila kecupi dua kening itu bergantian.
"Mommy sayang kalian." Ucap Akila.
"Kami juga." Balas keduanya bersamaan.
Usai drama manja itu berakhir mereka sarapan bersama.
Akila menatap keduanya, Tuhan itu adil sekali. Jika wajah Athena begitu mirip dengan Akila maka berbeda dengan Atheos. Wajah Anak laki-laki itu lebih mirip seperti William.
Lebih tepatnya wajah itu seperti William versi kecil dan menggemaskan.
'Apa yang akan terjadi kalau William mengetahui tentang mereka? Apa William akan membunuhku dan mengambil mereka dariku?' pikir Akila dalam hati.
Itu kecemasan Akila sejak lama.
Akila terus berpikir sampai namanya dipanggil.
"Mommy, Mommy." Panggil Athena.
Akila tersadar dari lamunannya.
"Hm?" Balas Akila.
"Ponsel Mommy berdering." Ucap Athena menunjuk ponsel yang ada disamping Akila.
Akila tersenyum lalu mengangkat panggilan itu.
"Mommy mengangkat panggilan dulu ya." Ucap Akila membuat dua Anaknya mengangguk seraya melanjutkan makannya.
Akila menjauh, ia mengangkat panggilan dari salah satu karyawan restoran miliknya.
"Hm, ada apa?" Tanya Akila.
"Maaf Nyonya jika saya mengganggu waktunya. Namun di restoran kita sedikit ada masalah, salah satu pelanggan marah atas menu sajian ini. Saya berusaha meminta maaf tapi Tuan itu malah meminta agar pemilik restoran ini datang. Jika tidak dia akan membuat restoran ini tutup." Ucap dari suara pria itu.
Akila yang mendengar itu hanya bisa menghela nafasnya pelan. Ia tak tahu permasalahannya dimana, mungkin saja masalahnya datang karena saat ini koki di restoran itu diganti.
"Hmm, aku akan kesana dan mengurus segalanya." Ucap Akila.
"Baik Nyonya Akila." Ucap pria itu.
Saat panggilan berakhir terlihat Sari mendekat.
"Apa ada masalah di restoran, Nyonya?" Tanya Sari.
"Iya, ada sedikit masalah. Sepertinya aku harus pergi, oh ya Sari bawa saja Anak-anak pergi jalan-jalan jika memang mereka bosan. Tolong jaga mereka." Ucap Akila.
Akila menyerahkan kartu berwarna emas pada Sari.
Sari hanya mengangguk patuh, tampak Akila mendekat pada Anak-anaknya itu. Ia berpamitan sebelum pergi.
"Mommy mau ke restoran sebentar saja, nanti kalian boleh pergi jalan-jalan dengan Sari. Belanja lah apapun yang kalian mau." Ucap Akila membuat dua Anak itu hanya bisa mengangguk.
Mereka memahami kalau saat ini urusan Akila mendesak.
"Hati-hati Mom." Ucap Athena.
Sebelum pergi Akila memberikan kecupan di puncak kepala Anak-anaknya itu.
---
Di Restoran.
Akila sedikit melangkah dengan cepat, sampai di dalam ia menghentikan langkahnya. Tatapan Akila terkejut kala tubuhnya sudah langsung berhadapan dengan sosok yang tak ingin ia temui.
Pria itu mengukir senyum kecil sampai tak terlihat kalau pria itu tengah tersenyum.
"Sudah sangat lama ya kita tak bertemu dan gilanya aku malah merindukanmu. Merindukan saat kau mendesah di atas ranjang tidurku." Ucapnya.
Tubuh Akila mundur, tapi lengannya langsung ditahan oleh sosok pria itu.
Dia William. Ya dia William, pria yang tak ingin Akila temui lagi.
William mencekal lengan Akila cukup kuat.
"Berkatmu aku semakin kacau, kau ikut lagi denganku!" Ucap William dengan tegas.
Akila berontak, ia mencoba mendorong William tapi pria itu semakin mencekal lengan Akila dengan kuat.
Sudah hampir tujuh tahun Akila menghilang, jadi tak mungkin William bisa memaafkan Akila dengan mudah karena kepergiannya.
Bicara maaf? Oh, William tak menganggap bahwa dirinya salah sama sekali.
"Lama tak bertemu, kau malah semakin cantik setelah menghilang dalam waktu yang lama." Ucap William lagi.
"Aku tak punya urusan denganmu." Tegas Akila.
Dada Akila bergemuruh hebat, ia emosi dan terkejut secara bersamaan karena kembali bertemu dengan William lagi. Tapi bagaimana bisa William tahu keberadaannya?
"Kau punya banyak urusan denganku!" begitulah William berucap lalu menarik tangan Akila dengan kasar.
Akila berontak, tiba-tiba tubuhnya digendong seperti karung beras di punggung William.
"Kita ke Milan, Reno." Ucap William pada Reno.
"Tidak, tidak! Aku tak mau!" Tolak Akila yang tak digubris oleh William.
---
Bersambung...
Yaa sejauh ini sih bagus² aja ceritanya, semangat yaa buat kakak penulis nya
lanjut thor😄
duhh...moga Akila bisa terselamatkan .