NovelToon NovelToon
SENOPATI TERAKHIR

SENOPATI TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
​Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
​Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Utusan dari kota raja

Sang Empu kembali mengayunkan pemukul besinya tanpa membuang waktu.

​Tang! Tang! Tang!

​Percikan api beterbangan dari bilah logam yang memerah membara. Gesekan itu menyuarakan ketegasan yang gamblang: pembicaraan telah usai, tak ada lagi yang perlu dipertanyakan.

​Ki Jagabaya memberikan isyarat halus melalui sorot matanya agar Jayengrana tak lagi mendesak. Tanpa mengumbar kata, keduanya berbalik dan meninggalkan bengkel sederhana di ceruk lembah tersebut.

​Baru setelah langkah mereka cukup jauh melintasi kabut tebal, Jayengrana membuka suara.

​"Guru."

​"Hm?"

​"Mengapa Empu tua itu seolah-olah... mengenalku?"

​"Ia tak mengenali rupamu," sahut Ki Jagabaya tenang.

​"Lalu?"

​"Ia mengenali... kepekatan zat asing yang kini menempel dan membebat jiwamu."

​Jayengrana membisu sejenak, mencerna ucapan itu. "Apakah Guru juga mengetahuinya?"

​Ki Jagabaya menggeleng pelan. "Tidak. Jika aku memahaminya secara utuh, tentu sudah kujelaskan padamu sejak awal."

​"Lantas mengapa semua orang seolah-olah mengetahui rahasia tentang diriku melebihi pemahamanku sendiri?"

​Ki Jagabaya tersenyum tipis, tatapannya menerawang ke garis cakrawala. "Sebab kau baru mengikat kontrak darah itu selama tiga hari. Sementara desas-desus dan legenda kelam tentang entitas itu telah berakar dan hidup selama ratusan tahun."

​Jayengrana menelan kembali pertanyaan-pertanyaan lain yang bersarang di benaknya. Ia mulai mengerti: tak semua misteri harus terkuak pada hari yang sama.

​Menjelang sore hari, mereka tiba di sebuah desa kecil yang terletak di kaki gunung. Tempat itu nampak jauh lebih riuh dan tegang daripada permukiman pada umumnya.

​Warga berkumpul saling berbisik di sekitar balai desa, anak-anak berlarian cemas, sementara para tetua tampak diliputi kegelisahan yang mendalam.

​"Mengapa suasana desa ini begitu mencekam?" gumam Jayengrana.

​Seorang warga paruh baya yang mengenali paras Ki Jagabaya bergegas melangkah menghampiri dengan raut lega.

​"Ki Jagabaya! Akhirnya Ki datang juga!"

​"Ada apa, Pak Desa? Mengapa warga tampak panik?"

​"Pasukan kerajaan dari Kotaraja, Ki... Mereka datang menembus desa kami sejak fajar tadi."

​Jayengrana dan Ki Jagabaya saling melempar pandang.

​"Untuk urusan apa pasukan istana mendatangi pelosok ini?" desak Ki Jagabaya.

​"Mereka... sedang memburu seseorang."

​Pria itu menelan ludah sebelum melanjutkannya dengan berbisik panik. "Mereka mencari bekas Senopati... Raden Jayengrana."

​Wajah Jayengrana tetap datar tanpa riak, namun jauh di dalam dadanya, ia paham. Kematian palsunya telah diputarbalikkan, dan tatanan propaganda istana telah mulai bekerja.

​Di pelataran balai desa, belasan prajurit berkuda Mataram tampak memeriksa setiap warga dan pendatang secara ketat. Rombongan itu dipimpin oleh seorang perwira muda bertubuh tinggi tegap bernama Rangga Wisesa. Pipinya dihiasi bekas luka sabetan yang memanjang, memancarkan sorot mata dingin tanpa ampun.

​Ia membentangkan sebuah gulungan lontar bertinta emas—surat perintah resmi kerajaan.

​"Dengarkan baik-baik, warga desa!" teriak Rangga Wisesa, suaranya menggema tegas. "Atas titah sah Dewan Perang Mataram! Barang siapa mengetahui atau menyembunyikan keberadaan bekas Senopati Raden Jayengrana, wajib melapor seketika!"

​Ia mengedarkan pandangan tajamnya. "Pria itu telah melakukan tindakan pengkhianatan keji terhadap mahkota! Siapa pun yang terbukti melindunginya akan diseret dan dihukum mati sebagai komplotan pemberontak!"

​Gumam kebingungan menyelimuti kerumunan warga.

​"Pengkhianat? Mana mungkin..."

​"Bukankah Raden Jayengrana adalah pahlawan perang yang membela kita?"

​Brak!

​Rangga Wisesa menghentakkan gagang tombaknya ke tanah hingga papan balai desa bergetar. "Diam! Titah kerajaan tidak untuk dipertanyakan!"

​Dari kejauhan, Jayengrana mengamati pemandangan itu. Raut mukanya memendam ketenangan, namun di balik tulang dadanya, gejolak murka perlahan membakar. karena nama serta kehormatannya dicemar untuk menutupi kejahatan Wiradipa dan para petinggi dewan.

​Jemari Ki Jagabaya meremas pelan bahu Jayengrana. "Tahan dirimu."

​"Aku hanya ingin mendengarkan, Guru."

​"Jika kau melangkah ke sana sekarang..." bisik Ki Jagabaya amat dalam, "...kau tak akan mendapatkan apa-apa selain tumpukan mayat prajurit yang hanya menjalankan perintah."

​Jayengrana mengembuskan napas panjang lalu mengangguk lambat. Ia menekan gejolak amarahnya. Itulah pelajaran berharga yang dicekoki gurunya sejak masa muda: seorang pendekar sejati bukanlah dia yang paling cepat mencabut senjata, tapi dia yang paling bijak menentukan saat yang tepat untuk bertindak.

​Saat mereka berbalik niat menyusuri pematang jalan belakang untuk menghindar, sebuah suara melengking memanggil dari arah semak.

​"Tunggu, Ki!"

​Jayengrana dan gurunya menoleh. Seorang gadis muda berpenampilan bersahaja dengan rambut terkepang rapi berlari dengan napas memburu menghampiri mereka.

​"Ada apa, Laras?" tanya Ki Jagabaya.

​Gadis bernama Laras itu menghentikan langkahnya, menahan tangis yang nyaris pecah. "Ki... Ayah menyuruhku mencari Ki Jagabaya. Di rumah kami..."

​"Apa yang terjadi di rumahmu?"

​"Adikku... sejak matahari tepat di atas kepala terus menjerit ketakutan," bisik Laras gemetar. "Dia bersumpah melihat sosok manusia terbakar... berdiri diam menatapnya di sudut kamar."

​Jayengrana dan Ki Jagabaya saling melempar tatap.

​"Apakah ada orang lain yang sanggup melihat wujud itu?" tanya Ki Jagabaya dengan nada amat serius.

​Laras menggeleng cepat. "Hanya adikku. Orang-orang mengira dia cuma mengigau kena demam..."

​Ki Jagabaya menghela napas panjang, lalu perlahan menoleh menatap Jayengrana.

​"Sepertinya..." gumam sang guru pelan, "...pelajaran pertamamu untuk memahami ikatan gaib ini dimulai jauh lebih cepat dari dugaan kita."

1
Semoli Ginon
sedikit demi sedikit lama2 jadi bukit mantapp👍
Semoli Ginon
lanjut thor ...
Semoli Ginon
jut lanjut thor
Semoli Ginon
skill yang mantap mas saka..👍
Semoli Ginon
lanjut thor jangan kendor👍
Semoli Ginon
apakah ini ghostrider versi mataram? 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!