Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Kejutan Cinta untuk Widya dan Tamara
Dentuman bass Bagas dan petikan gitar Daffa baru saja mereda di dalam Studio Musik Harmony. Udara ruangan ber-AC itu dipenuhi aroma kopi hitam dan kelelahan yang memuaskan.
Di sudut sofa kulit, Dimas tampak telaten memangku Rayyan yang asyik memainkan mainan mobil-mobilannya, sementara Arga sibuk menandatangani berkas kerja sama vendor di meja kayu.
Bagas meletakkan bass-nya di stand, lalu menyambar botol air mineral. Matanya berbinar-binar penuh intrik saat ia melangkah mendekati Arga dan Dimas.
"Gue perhatiin ya..." buka Bagas dengan nada setengah berbisik, memancing perhatian seluruh ruangan.
"Ada sinyal-sinyal elektromagnetik cinta yang makin tebal di studio kita belakangan ini!"
Daffa yang sedang mengelap senar gitarnya langsung menyeringai lebar. "Elah, Bagas! Sok ilmiah lu! Maksud lu si Tamara sama Widya kan?"
"BINGO!" Bagas menunjuk Daffa pakai botol air.
"Lu liat gak kemarin lusa? Si Tamara yang biasanya dateng cuma buat riweuh nagih camilan, kemarin dateng bawa dessert box matcha mahal! Terus jalannya pelan-pelan banget ngelewatin ruang kontrol lighting!"
Arga menaikkan sebelah alisnya, menghentikan pulpennya di atas kertas. "Maksud kalian... Rendra?"
"Siapa lagi, Bos!" celetuk Dave dari balik set drum.
"Rendra kan mantan arsitek tata panggung yang kita rekrut dua bulan lalu. Badannya tegap, mukanya kayak aktor film aksi, wibawanya dapet, tapi pendiamnya setengah mati. Nah, Tamara yang heboh ketemu Rendra yang kalem... gila, kontrasnya dapet banget!"
Dimas terkekeh pelan, mengusap kepala Rayyan.
"Kalau Widya gimana? Perasaan Widya tipe yang sangat pemilih, elegan, dan pemikirannya sangat kritis."
"Nah, ini dia yang lebih plot twist!" Daffa menyela bersemangat.
"Widya minggu lalu kan nemenin Kiara urusan berkas di luar. Terus gak sengaja ketemu sama Fahri, konsultan keuangan independen yang baru kita rekrut buat audit internal. Fahri itu kan kaku banget ya, kemana-mana bawa kalkulator sama map tebal. Tapi pas ngobrol sama Widya soal rasio efisiensi modal... mereka berdua bisa nongkrong lima jam nonstop di kafe depan kantor!"
Dimas membelalak kaget. "Fahri?! Fahri rekan dinasku dulu yang kalau diajak becanda cuma balasan senyum tipis itu?"
"Iya, Mas Dimas!" kekeh Bagas.
"Gue liat sendiri kemarin Fahri ngelamun sambil muter-muter pulpen pas denger suara Widya di lorong!"
...***...
Malam itu, pelataran outdoor Studio Harmony disulap menjadi area makan malam barbeque yang sangat ciamik.
Lampu-lampu gantung temaram (fairy lights) dipasang melilit di dahan pohon mangga. Asap tipis beraroma daging panggang gurih dan saus lada hitam membumbung tinggi.
Rencana perjodohan halus ini digawangi langsung oleh Kiara, Menik, dan Aini.
Tamara datang mengenakan dress kasual warna sage green yang dipadu jaket denim—tampil sangat modis. Sementara Widya tampil anggun memikat dengan setelan blazer santai berwarna krem.
"Ra... ini beneran cuma makan malam biasa kan?" tanya Tamara curiga saat melangkah masuk, matanya liar memandangi sudut-sudut pelataran.
"Kok dekorasinya romantis banget kayak mau gala dinner?"
"Biasa kok, Tam. Anak-anak band kan memang suka gaya estetik kalau habis kelar proyek besar," jawab Kiara santai, menyunggingkan senyum misterius sambil mengedipkan mata pada Menik.
Tak berapa lama, Rendra melangkah keluar dari ruang kontrol. Pria tegap itu mengenakan kemeja hitam gulung lengan yang memperlihatkan lengan berototnya, membawa draf peta tata pencahayaan panggung.
"Rendra! Sini gabung makan!" panggil Arga ramah.
Rendra mengangguk sopan, melangkah mendekati meja makanan. Begitu mata Rendra berpapasan dengan Tamara, suasana mendadak ajaib.
Tamara—yang biasanya paling ceriwis, nyaring, dan tak pernah kehabisan kata-kata—mendadak terdiam, merapikan poni rambutnya, dan menunduk tersipu malu!
"Eh... Tamara ya?" sapa Rendra dengan suara bass-nya yang dalam dan tenang.
"Soal masukan kamu tentang posisi lampu warm white di sofa studio minggu lalu... udah aku perbaiki. Mau lihat hasilnya di dalam?"
Mata Tamara seketika berbinar terang. "E-eh? Beneran kamu perbaiki? Mau dong!"
Tanpa perlu disuruh dua kali, Tamara mengekor di belakang Rendra masuk ke dalam ruang kontrol yang remang-remang. Di dalam ruangan bertabur tombol lampu itu, Rendra menyalakan salah satu sudut spotlight yang memancarkan pendar kuning lembut.
"Gimana? Bagus gak?" tanya Rendra pelan, menatap wajah Tamara dari jarak dekat.
Tamara yang berdiri tepat di samping Rendra mendadak merasakan jantungnya berdegup kencang bagaikan drum Daffa. Aroma parfum maskulin Rendra yang lembut makin membuat giginya kaku. "B-bagus banget... Kamu... pinter ya nyesuaiin suasana..."
Rendra menyunggingkan senyum tipis—senyum langka yang sangat menawan. "Aku cuma nyesuaiin sama orang yang minta. Kalau kamu yang minta, pasti aku usahain yang terbaik."
BLUSH!
Wajah Tamara seketika merah padam! Tamara hanya bisa mengangguk patah-patah tanpa sanggup membalas godaan Rendra yang ternyata tidak sepasif dugaannya.
Sementara itu di meja makan luar, Widya sedang mengambil es buah ketika Fahri—pria berkacamata dengan kemeja rapi yang baru tiba—mendekat dengan gerakan canggung.
"Mbak Widya..." sapa Fahri pelan sambil membetulkan posisi kacamatanya yang sedikit meluncur di hidung.
"Soal draf analisis portofolio bisnis kuliner keluarga Mbak yang kemarin dikirim... saya sudah pelajari sampai selesai."
Widya membalikkan badan, menyunggingkan senyum anggunnya. "Oh ya, Mas Fahri? Gimana menurut Mas? Ada bagian yang harus saya revisi?"
Fahri mengeluarkan catatan kecil dari saku kemejanya. "Analisis Mbak Widya luar biasa tajam dan realistis. Tapi... ada satu hal yang menurut saya perlu ditambah."
"Apa itu, Mas?" tanya Widya penasaran, melangkah mendekat.
"Pendampingan jangka panjang dari konsultan yang paham karakter bisnisnya," tutur Fahri polos tanpa sadar, menatap lurus mata Widya dari balik kaca tebalnya.
"Dan... saya sangat bersedia mengalokasikan waktu saya secara pribadi buat Mbak Widya. Gratis, tanpa biaya audit."
Widya terpana sejenak. Pria kaku di hadapannya ini ternyata punya cara tersendiri untuk menyampaikan ketertarikan dengan sangat jujur dan manis. Widya tertawa kecil, matanya memancarkan rasa tertarik yang tulus.
"Beneran gratis nih, Mas Fahri? Nanti saya ketagihan minta didampingi gimana?" goda Widya lembut.
Fahri tersenyum manis, membetulkan lagi kacamatanya. "Gak apa-apa. Saya malah makin senang kalau Mbak Widya ketagihan."
...***...
Dari sudut teras dekat kolam kecil, Kiara, Dimas, Arga, Menik, Aini, dan Daffa berdiri berjejer memegang cangkir teh hangat, menyaksikan dua pemandangan romantis di hadapan mereka.
Tamara terlihat tertawa lepas dan salah tingkah saat Rendra mengajarinya tombol kontrol lampu, sementara Widya dan Fahri tampak asyik duduk berdua di kursi taman, tenggelam dalam obrolan hangat yang tak terputus.
"Gila... radar perjodohan para cewek buat mereka, tajam banget ya," bisik Dimas pada Arga sambil menggeleng-gelengkan kepala terkekeh.
Arga tersenyum hangat, merangkul jemari Menik yang ada dalam genggamannya. "Ternyata bukan cuma kita yang menemukan muara, Mas. Setiap orang di lingkaran kita pelan-pelan menemukan pasangan yang paling pas buat saling melengkapi."
Aini menyandarkan kepalanya di bahu Daffa. "Seneng deh lihat Widya sama Tamara akhirnya ada yang nemenin. Lengkap sudah geng srikandi kita!"
Kiara menatap langit malam Kelurahan Damai yang bersih bertabur bintang, menggenggam erat tangan Dimas.
Di sekeliling mereka, ada cinta yang telah matang melalui badai, dan ada cinta baru yang baru saja mekar dengan indahnya.
"Setiap orang memang punya waktunya masing-masing," bisik Kiara lembut.
"Dan waktu Tuhan selalu jadi yang paling indah." tambah Kiara