Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.
Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.
Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.
Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
"Gak usah diangkat. Biar gue yang telepon balik pakai HP gue."
Regina mengulurkan telapak tangannya ke depan dada Helga, meminta benda persegi panjang yang layarnya masih berkedip-kedip menampilkan nama ibunya.
Helga berkedip dua kali.
Jari jemarinya yang semula memegang ujung ponsel dengan erat perlahan melonggar.
Bukannya memberikan ponsel itu kepada Regina, Helga justru menekan tombol merah pada layar dengan ibu jarinya secara tangkas, lalu memasukkannya kembali ke dalam saku jaket jeans yang tampak agak berdebu.
"Udah gua matiin," kata Helga pendek.
"Kenapa mematikan telepon dari nyokap gue?" Regina menarik kembali tangannya, alisnya bertaut rapat di bawah pelindung kaca helm bogo. "Dan sejak kapan elo punya nomor nyokap gue, Helga?"
Helga memutar tubuhnya menghadap ke arah setang motor, membiarkan punggungnya menjadi pembatas jarak di antara mereka.
Ia memegang grip gas tanpa memutarnya, lalu menghembuskan napas panjang hingga poni rambutnya yang agak acak-acakan bergerak ditiup angin.
"Nyokap lu yang minta nomor gua pas pengambilan rapor semester lalu," jawab Helga datar. Suaranya terdengar malas-malasan, kontras dengan gemuruh sisa kereta barang yang baru saja lenyap di kejauhan.
"Katanya biar gampang kalau lu mendadak hilang atau pulang telat gara-gara urusan OSIS."
"Gue gak pernah hilang," sergah Regina tegas.
"Tapi sekarang lu lagi di pinggir rel jam empat sore," balas Helga tanpa menoleh. Ia menendang standar samping motornya ke atas hingga memicu bunyi benturan besi yang keras.
Klak!
"Naik. Keburu sorenya abis."
Regina tidak bergerak dari pijakan kakinya di atas tanah tanggul.
Matanya melirik ke arah lapangan bawah, di mana Varen sedang memungut jaket IPS-nya yang tergeletak di rumput liar sambil sesekali mengusap pipinya yang lebam.
Anak-anak Tunas Bangsa sudah mulai menaiki motor mereka sendiri di sudut seberang.
"Varen gimana?" tanya Regina pelan.
"Dia punya kaki dua, punya motor sendiri," sahut Helga pendek.
Ia menekan tombol starter elektrik. Mesin motor matic hitam itu kembali menyala dengan suara dengung konstan—Vrrrnnn.
"Gua gak dibayar buat jadi baby sitter dia 24 jam."
Regina menarik napas dalam-dalam, menahan dinginnya angin sore yang mulai berhembus membawa bau tanah basah.
Ia melangkah naik ke atas jok belakang, menyisakan jarak empat jari yang kaku seperti sebelumnya.
Motor melaju meninggalkan kawasan rel kereta api, berbelok memotong jalur lingkar luar yang mulai dipadati oleh kendaraan karyawan pabrik yang pulang kerja.
Pukul 16.25 WIB, langit di atas pinggiran Bandung semakin menggelap oleh sapuan awan abu-abu.
Di sepanjang jalan aspal yang berlubang, Regina memperhatikan bagaimana cara Helga mengemudikan motornya.
Cowok itu tidak berkendara dengan ugal-ugalan seperti anak IPS pada umumnya, melainkan sangat teratur, mengambil jalur kiri secara konsisten meskipun sesekali ia harus mengerem mendadak akibat angkutan umum yang berhenti sembarangan.
Ciiit...
Regina sedikit memajukan kepalanya, menembus deru angin yang menerpa sisi helm bogonya. "Helga."
"Apa?" sahut Helga setengah berteriak agar suaranya terdengar di atas kebisingan jalan raya.
"Sebenarnya hidup elo tuh kayak gimana sih?" tanya Regina langsung, tanpa basa-basi. "Gue perhatiin elo selalu ada di sekitar Varen tiap dia bikin kekacauan, tapi elo sendiri kayak gak pernah mau masuk ke masalah itu sepenuhnya."
Helga tidak langsung menyahut.
Ia membelokkan motor ke kiri, memasuki jalan kompleks perumahan yang lebih tenang dan rindang.
Suara bising truk trailer di belakang mereka perlahan meredup, berganti dengan bunyi gesekan daun-daun pohon mahoni yang bergoyang ditiup angin sore.
"Hidup gua biasa aja," jawab Helga setelah jeda beberapa ratus meter. Suaranya kembali ke ritme santai, seolah pembicaraan di kafe dan lapangan rel tadi hanya angin lalu.
"Makan tiga kali sehari, tidur kalau ngantuk, sekolah kalau gak kesiangan."
"Gak usah bercanda," potong Regina dari belakang bahunya. "Gue serius. Masalah taruhan tadi, terus soal rahasia dari SMP... elo kayak sengaja nutupin sesuatu yang besar biar orang lain gak repot. Atau elo cuma takut?"
Helga tertawa kecil, suara tawa yang pendek dan tertahan di tenggorokan. "Lu tuh emang pinter ya, Reg. Tapi kepintaran lu kadang bikin lu repot sendiri mikirin hal yang gak ada gunanya."
"Ini ada gunanya buat ketertiban—"
"Gua cuma males ribut," sela Helga tenang.
Ia menurunkan kecepatan motor saat melewati polisi tidur pertama di kompleks rumah Regina.
Jedug.
"Urusan Varen itu urusan gampang. Tinggal dikasih duit atau diajak ngopi juga kelar. Gak ada yang perlu ditakutin, dan gak ada yang perlu dikasihanin."
Regina terdiam.
Ia melihat jari-jari tangan Helga yang memegang grip setang tampak santai, seolah bekas luka gores di buku jarinya sama sekali tidak terasa perih terkena terpaan angin sedari tadi.
Pukul 16.40 WIB, motor matic hitam itu berhenti tepat di depan pagar besi bercat putih rumah nomor 12.
Di balik pagar, tanaman hias jenis gelombang cinta milik Ratna tampak terawat rapi di dalam pot-pot tanah liat.
Helga mematikan mesin motor. Klik.
Regina turun dari jok belakang, lalu melepas helm bogo hitam tersebut.
Rambut panjangnya yang terikat rapi agak sedikit berantakan di bagian atas, membuat Regina refleks merapikannya dengan jemari tangan kirinya secara buru-buru.
Sebelum Regina sempat menyerahkan helm, pintu utama rumah kayu jati itu terbuka dengan bunyi derit halus.
Kreeek...
Ratna keluar dari dalam rumah mengenakan daster batik bermotif mega mendung, disusul oleh Hermawan yang berjalan di belakangnya sambil memegang koran sore yang sudah dilipat dua.
"Eh, udah pulang," sapa Ratna dengan suara lembutnya yang khas.
Langkah kakinya cepat mendekati pagar, wajahnya memancarkan rasa lega yang kentara.
"Mama tadi telepon nomor kamu gak aktif, Reg. Terus Mama telepon Nak Helga malah mati."
Helga buru-buru turun dari motornya.
Ia meletakkan helmnya sendiri di atas spion, lalu melangkah mendekati pagar besi sambil menundukkan kepalanya sedikit, menunjukkan sikap sopan yang sangat kontras dengan pembawaannya saat menghadapi anak-anak Tunas Bangsa di pinggir rel tadi.
"Sore, Tante, Om," sapa Helga, suaranya terdengar ramah dan teratur. "Maaf banget tadi pas Tante telepon, HP aku mendadak lowbat terus mati total. Ini baru mau aku cas pas nyampe rumah."
Regina melirik Helga dengan sudut matanya.
Ia tahu betul ponsel cowok itu sama sekali tidak kehabisan baterai, tapi ia memilih untuk tetap diam dan tidak membongkar kebohongan tersebut di depan orang tuanya.
Hermawan membuka grendel pintu pagar besi.
Srek.
Pria paruh baya itu menatap Helga dari atas ke bawah, memperhatikan jaket jeans Helga yang agak kotor di bagian siku, lalu tersenyum tipis sambil menepuk bahu Helga sekali dengan tangan yang memegang koran.
"Gak apa-apa, yang penting Reginanya pulang selamat," kata Hermawan dengan nada tegas namun penuh kasih sayang.
"Kamu dari mana sore-sore begini? Kok bajunya agak berdebu begitu, Nak Helga?"
"Tadi habis nemenin Varen nyari buku bekas di dekat stasiun, Om," jawab Helga lancar tanpa jeda mikir sedikit pun.
"Di sana jalannya agak berdebu karena dekat proyek perbaikan jalan."
"Oalah, pantesan," timpal Ratna peduli.
Ia membuka pagar lebih lebar.
"Ayo masuk dulu, Nak Helga. Mama kebetulan baru selesai bikin pisang goreng hangat di dapur. Minum teh dulu ya di dalam, biar capeknya hilang."
Helga berkedip sekali.
Matanya melirik ke arah teras rumah yang bersih, lalu turun ke arah sepatunya sendiri yang terkena noda tanah kering dari tanggul rel kereta api.
"Gak usah, Tante, makasih banyak," tolak Helga halus.
Ia mengambil langkah mundur satu pijakan secara perlahan, kembali mendekati posisi motornya.
"Ini udah mau jam lima sore, aku janji sama orang rumah buat balik sebelum magrib karena ada titipan yang harus dibeli."
"Sebentar saja, Nak, cuma minum teh," bujuk Ratna lagi, wajahnya menunjukkan rasa tidak enak jika membiarkan teman anaknya langsung pergi setelah mengantar pulang.
"Beneran gak apa-apa, Tante. Lain kali pasti aku mampir," kata Helga sambil tersenyum tipis.
Ia meraih helm bogo hitam yang dipegang Regina, lalu menggantungkannya kembali ke spion kiri motornya dengan gerakan cepat.
Hermawan mengangguk paham.
"Ya sudah kalau memang ada urusan di rumah. Hati-hati di jalan, Helga. Jangan ngebut, jalanan lingkar luar kalau sore mulai padat sama truk."
"Siap, Om. aku pamit dulu ya. Sore, Tante, Om," kata Helga.
Ia menoleh pendek ke arah Regina yang masih berdiri kaku di dekat pilar pagar. "Duluan ya, Reg."
Regina hanya mengangguk sekali, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Helga menaiki motornya, menyalakan mesin—Vrrrnnn—lalu memutar arah kendaraannya dengan tangkas.
Dalam hitungan detik, motor matic hitam itu sudah melaju membelah jalan kompleks perumahan, menyisakan kepulan asap tipis yang segera buyar disapu angin sore.
Ratna menutup kembali pintu pagar besi.
Klak.
Ia menoleh ke arah anak perempuannya.
"Helga itu anaknya sopan ya, Reg. Padahal anak IPS, tapi kalau ngomong sama orang tua gak pernah ketus."
Regina tidak menyahut pujian ibunya. Ia membetulkan posisi tali tas di bahunya, lalu berjalan mendahului kedua orang tuanya menuju pintu teras rumah.
"Regina masuk dulu, Ma, Pa. Mau mandi," kata Regina datar sambil mendorong pintu jati.
Di dalam rumah, suasana domestik yang hangat menyambutnya.
Regina berjalan ke kamarnya di lantai dua, menutup pintu kayu kamarnya rapat-rapat.
Ia meletakkan tas sekolahnya di atas meja belajar yang tertata rapi, lalu berjalan mendekati jendela kaca yang menghadap ke arah jalan kompleks.
Di luar, rintik hujan pertama mulai jatuh satu per satu di atas dedaunan pohon mahoni, meninggalkan bekas titik-titik air yang basah di kaca jendela kamarnya.
Pukul 17.00 WIB, langit benar-benar berubah menjadi hitam pekat.
Regina merogoh saku rok seragamnya, mengeluarkan ponselnya sendiri.
Ia membuka aplikasi pesan singkat, menatap ruang obrolan dengan Shinta yang masih menampilkan beberapa pesan belum terbaca tentang tugas kelompok.
Namun, jemari Regina justru bergerak ke kolom pencarian, mengetikkan satu nama yang sejak sore tadi mengusik pikirannya: Varen.
Tepat saat jarinya hendak menekan tombol panggil pada kontak Varen, sebuah pesan masuk baru muncul di bagian atas layarnya dari nomor tidak dikenal.
Pesan itu hanya berisi satu kalimat pendek:
'Jangan lapor Pak Toto soal yang di rel tadi. Varen gak bersalah.'