NovelToon NovelToon
Kutukan Mbah Golok Sakti

Kutukan Mbah Golok Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.

Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.

Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!

Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?

Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Sahabat Dari Masa Depan

"Lah? Gue sekarang kenapa bisa mendadak pindah lokasi ke set syuting film sinetron jadul zaman purba apa gimana nih?"

Reno mengerjapkan kedua matanya berkali-kali. Ia mendapati dirinya sedang duduk termenung di dalam sebuah ruang kelas usang dengan kondisi tembok cat putih kusam yang dipenuhi oleh banyak coretan tip-ex dan spidol hitam.

Bau debu kapur tulis yang menyengat dan aroma khas udara ruang kelas yang pengap langsung menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya .

Reno seketika merasakan sebuah sensasi deja vu yang luar biasa kuat. Tempat ini terasa sangat akrab di ingatannya, mirip seperti sebuah memori masa lalu yang sudah lama dikubur dalam-dalam di lipatan otak paling bawah.

Di dalam ruangan kelas yang sepi itu, hanya ada dirinya dan seorang anak laki-laki bertubuh kecil yang mengenakan seragam SMP. Anak itu duduk di kursi paling depan sambil posisinya membelakangi Reno.

Dari gerak-geriknya, anak itu tampak sangat sibuk memasukkan beberapa buku pelajaran tebal ke dalam tas ranselnya, bersiap-siap untuk segera pulang.

‘Gue beneran terdampar di dimensi mana lagi sih ini? Perasaan ini ruangan kelas mirip banget sama... ah, masa sih gue balik ke zaman itu?’ batin Reno kebingungan skala besar.

Tiba-tiba, sesosok suara berat nan gaib milik si kakek Golok Botak kembali bergema memenuhi frekuensi khusus di dalam otaknya.

"Wahai anak muda yang gemar mengigau, kamu saat ini sedang dikirim kembali berada di tahun pertama kali kamu resmi masuk sekolah SMP."

Reno langsung terlonjak kaget dari kursinya, lalu secara refleks tangannya sibuk meraba-raba sekujur tubuhnya sendiri.

"Hah?! Kenapa ukuran badan jangkung gue mendadak menciut drastis begini, woy?! Dan ini seragam..."

Ia menundukkan kepala, menatap nanar ke arah seragam kemeja putih dan celana pendek biru yang melekat ketat di tubuhnya. Ukurannya terasa sangat pas di badan, sama sekali tidak kegedean seperti saat ia meminjam jaket Varsity milik Adit di apartemen tadi.

"Gue beneran bertransformasi jadi bocah bau kencur anak SMP lagi?! Mana kumis tipis kebanggaan gue yang selevel Yeonjun TXT itu?! Ilang tak berbekas semua, anjir!"

"Oh, jadi roh gue beneran dilempar balik ke masa lalu pas kelas 7 SMP gue dulu, nih?" tanya Reno pada udara kosong di sekitarnya, mencoba memastikan koordinasi zona waktu supranatural ini.

"Iya, tebakanmu tepat. Dan perlu kamu ketahui, kali ini tugas daruratmu akan terasa sangat berat, Reno Alvarez. Kamu diwajibkan untuk segera mengabulkan satu permintaan terakhir dari sahabat baikmu yang sudah lama tiada di dimensi masa depan."

"Maksud lo ngomong apaan sih?! Permintaan terakhir siapa yang lo maksud? Jangan bikin gue merinding napa, ini suasana kelasnya beneran horor dan udah mulai gelap!" protes Reno dengan bulu kuduk yang mulai meremang.

Namun seperti biasa, si kakek Golok Botak penuh daki itu langsung melakukan aksi ghosting masal setelah memberikan instruksi setengah-setengah yang membagongkan.

Anak laki-laki yang duduk di bangku depan tadi tiba-tiba saja bangkit berdiri. Ia menyampirkan tas ransel hitamnya ke bahu sebelah kanan, lalu memutar tubuhnya menghadap ke belakang.

Anak itu mulai berjalan pelan menyusuri barisan meja kayu menuju ke arah sudut belakang kelas, tempat di mana Reno sejak tadi duduk termenung.

Deggg!!

Jantung di dalam dada Reno rasanya serasa mendadak berhenti berdetak selama beberapa detik. Sosok anak laki-laki yang sedang berjalan ke arahnya itu memiliki raut wajah yang sangat ia kenali.

Itu adalah struktur wajah masa kecil dari sahabat baiknya, sosok yang foto kenangannya baru saja ia pandangi dengan penuh rasa rindu di atas meja nakas apartemen Adit beberapa menit lalu.

Reno seketika mematung kaku di tempat, jantungnya berdisko brutal seolah-olah ingin melompat keluar melewati kain seragam SMP-nya yang masih terasa kaku karena baru.

Di hadapannya kini, berdiri hidup-hidup sosok sahabat yang selama delapan tahun terakhir ini di dunia nyata hanya bisa ia sapa lewat untaian doa dan bingkai foto kaca.

Rayi. Sahabatnya yang meninggal dunia akibat penyakit jantung parah di masa SMA dulu, kini mendadak berdiri tegak dengan wajah polos beraura bocah kelas 1 SMP.

"Hei, kenapa kamu dari tadi masih diam di sini dan belum pulang?" tanya anak laki-laki itu sambil tangan kecilnya menggeser sebuah kursi kayu tua yang seketika mengeluarkan bunyi berderit nyaring, lalu duduk tepat di hadapan Reno.

Tubuh Reno seketika gemetar hebat menahan luapan emosi. Ia refleks memundurkan posisi kursinya ke belakang sampai bagian kayunya membentur keras dinding tembok kelas.

"Ka-ka-mu... lo ini sebenarnya sesosok manusia hidup apa hantu penunggu laboratorium biologi sekolah, hah?!"

Rayi tampak mengernyitkan dahinya bingung. Sepasang matanya yang jernih menatap lekat ke arah Reno seolah-olah Reno baru saja mengaku sebagai sesosok alien yang kesasar jatuh ke bumi.

"Maksud kamu apa sih? Jelas aku ini manusia hiduplah. Masa ada hantu penunggu lab yang wajahnya setampan dan sekeren ini?"

"Jadi... lo beneran masih bernapas? Wujud tubuh lo nggak tembus pandang kalau dipegang?"

Reno mencoba memastikan kembali dengan kedua bola mata melotot sempurna, masih agak trauma dengan rangkaian tugas-tugas 'ajaib' bin gila dari si kakek Golok Botak.

"Iya, aku beneran manusia hidup! Kamu ini aneh banget deh dari tadi," jawab Rayi dengan nada polos khas anak-anak.

Reno tampak menganggukkan kepalanya pelan, meskipun sistem kerja otaknya saat itu masih dipaksa berputar 180 derajat memikirkan logika ruang dan waktu.

Ia menatap lekat-lekat wajah sahabat masa kecilnya itu—sesosok wajah bersih yang belum tersentuh oleh beban penderitaan penyakit parah.

"Kamu... beneran Rayi, kan?"

Rayi menaikkan sebelah alisnya ke atas, tampak semakin menaruh rasa curiga yang mendalam.

"Kok kamu bisa tahu nama lengkap aku? Padahal kan kita berdua dari tadi belum sempat kenalan. Kita kan murid siswa baru di sekolah ini, ini kan hari pertama masuk sekolah!"

Reno menarik napas panjang sekuat tenaga, mencoba menetralkan rasa sesak dan haru yang mulai berkumpul di dalam dadanya.

"Karena gue... gue ini adalah sahabat karib lo yang datang dari masa depan, Ray."

Rayi sempat terdiam sejenak mendengar bualan itu, lalu sedetik kemudian ia tertawa kecil.

"Kamu lagi halusinasi ya? Kebanyakan nonton film fiksi ilmiah sci-fi tentang mesin waktu ya pas liburan kelulusan SD kemarin?"

1
Zyren Vale
mampir dong Thor 🗿
umar aryo
lanjut thor.... bagus cerita dan gaya bahasanya...
Ed Troivan
lanjut thor 💪
Ed Troivan
💪💪💪👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!