NovelToon NovelToon
Surga Kecil Maya

Surga Kecil Maya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ingflora

Berawal dari bertemu kembali dengan anak majikan ibunya yang telah menikah-Alika, Maya yang sudah menjadi tukang jamu akhirnya terpaksa bekerja di rumah Alika sebagai pembantu.

Tanpa ia tidak tahu, pernikahan majikannya ini penuh dengan pertengkaran. Itu semua karena Alika sangat cemburuan. Bahkan sering terjadi, namanya disebut-sebut sebagai bahan pertengkaran. Sebagai puncaknya, Alika meminta Raka menikahi Maya demi agar bisa terus mengontrol suaminya. Tentu saja ide itu ditentang keras oleh Raka.

Maya yang terjepit di antara dua majikannya, tentu saja bimbang. Haruskah ia terus mengamini permintaan Alika, atau menentangnya demi kedamaian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Menjaga

"Kenapa kamu, Maya?" tanya Ilona heran.

"Dia sedang hamil. Tolong jaga dia ya."

Ucapan Raka itu menggemparkan seisi ruangan.

"Hamil?"

"Iya." Raka kemudian dengan santainya masuk ke dalam ruangannya.

Tentu saja beberapa pegawai wanita dengan hebohnya kini mendatangi Maya.

"Yang bener, Maya?"

"Kamu hamil?"

"Sama mantan suamimu itu ya?"

"Tuh, bener 'kan tebakanku," sahut Ilona lagi.

Maya tentu saja tak tahu harus menjawab apa, karena suami barunya baru saja membuat seisi ruang itu membicarakannya dan pria itu malah pergi tanpa membantu ia bicara. Namun ia ingat kalau tak boleh membocorkan pernikahan mereka. "Eh, iya."

"Wah, mau jadi 'single parent' ya?"

'Kenapa ini jadi tambah rumit? Apa dia senang bikin aku kesulitan di tempat kerja?' Maya merengut memikirkan Raka.

+++

"Yuk, Maya, makan siang. Lapor dulu gih!"

Maya segera beranjak mengikuti permintaan Ilona. Ia masuk ke ruang direksi setelah mengetuk pintu.

Raka malah berdiri. "Kamu ikut aku."

"Hah?"

"Kamu makan siang denganku."

"Tapi ...."

Raka mengerut alis tanda tak senang. Terpaksa Maya mengikuti pria itu yang keluar ruangan dengan cepat.

"Maya ikut aku karena mau bertemu klien," sahut pria itu pada Ilona. "Kau tak usah ikut. Cukup Maya saja."

"Oh, baik, Pak."

Maya menyambar tasnya di kursi ketika sang suami melangkah pergi. Ia mengikuti dari belakang. Ternyata Raka menunggunya untuk berjalan di samping. Ketika sampai di depan lift, mereka malah berdiri menunggu lift dengan perasaan canggung. Untuk pertama kalinya mereka pergi berdua saja. Maya melilit jari telunjuknya dengan tali tas saking canggungnya.

Orang-orang di dalam lift menepi ketika pintu lift dibuka. Keduanya masuk. Mereka segan karena Raka adalah bos mereka. Setelah sampai di parkiran, keduanya keluar lebih dulu, lalu masuk ke dalam mobil Raka yang tak jauh terparkir di sana.

"Apa kita beneran pergi makan siang dengan klien, Mas?" Ternyata Maya sudah mencurigainya.

"Kita hanya makan siang saja." Pria itu menyalakan mesin mobilnya.

"Nanti jadi gosip, lagi."

"Memangnya mereka tahu kita pergi ke mana?"

"Enggak."

"Kenapa kamu takut? Kamu 'kan istriku." Raka mulai menjalankan mobilnya dengan dahi mengerut kesal.

"Bukan begitu. Nanti ada yang curiga. 'Kan katanya, Mas gak mau orang tahu kita menikah. Lebih baik aku makan dengan mereka saja." Sebenarnya Maya segan pergi hanya berdua dengan pria itu, karena ia sangat takut kalau salah bicara dengan pria yang telah menjadi suaminya ini. Bukan apa-apa. Pria ini terkenal galak dan bosnya di kantor. Apalagi memasang wajah datar. Walaupun telah menjadi suami, Maya masih sangsi dengan nasibnya di detik berikutnya bila bersama pria ini.

"Cuma hari ini saja kok."

"Jauh?"

Raka melirik lewat sudut matanya tapi tak menjawab. Sekitar 20 menit berkendara, mobil menghampiri sebuah mal besar dan masuk ke dalam perparkiran.

"Mas, sering makan di sini?" Rupanya Maya ingat ucapan Alika tentang tempat makan siang suaminya yang tak diketahui orang.

"Jarang."

Wanita itu mengerut alis. Setelah keluar dari mobil, mereka naik lift ke lantai dua. Itu lebih membingungkan Maya lagi karena setahunya, tempat makan biasanya berada di lantai atas. Raka berhenti di depan sebuah toko. Wanita itu lebih terkejut lagi ketika sang suami mendorong bahunya untuk masuk ke dalam toko itu.

"Mas ...." Kedua netra Maya membulat sempurna.

"Selamat siang, Ibu. Mau beli apa?" sahut penjaga toko yang berseragam itu.

Maya melihat koleksi yang berada di etalase yang terlihat mewah.

"Tolong bantu kami mencari cincin nikah," imbuh Raka dari belakang.

"O ya, sebentar ya, Pak. Bapak mau yang sudah jadi?"

"Kalau ada."

Pramuniaga itu pun mencarikan beberapa kotak yang berisi cincin untuk keduanya. Ia meletakkannya di atas etalase. "Karena Ibunya sedikit gemuk, mungkin pilihan ini bisa dicoba."

Pria itu dengan santainya meraih tangan sang istri dan mencobakan beberapa, sementara Maya masih melongo tak percaya. Apa Raka tak tahu, betapa wajah istrinya merah padam karena diperhatikan sang pramuniaga di depannya? Apalagi jantung wanita itu tiba-tiba saja berdetak kencang.

Tidak sensitif sekali pria ini dengan perasaan wanita. Apalagi, perhiasan di sana terlihat cukup mahal dan Maya tak percaya akan memiliki salah satu di antaranya! "Eh, Mas, tapi sebentar lagi aku akan gemuk. Nanti cincinnya tidak muat," ucapnya masih dengan wajah memerah.

"Jadi bagaimana?" Pria itu menarik cincin yang tidak masuk di jari istrinya.

"Bagaimana kalau gelang saja?"

Keduanya kembali melirik ke arah etalase. Raka kemudian memilihkan. "Ini, ini atau itu?"

Pilihan pria itu semuanya terlihat mewah. Maya sampai menggigit bibir bawahnya karena bingung. "Apa tidak ada model yang lebih sederhana?"

Pria itu melirik sang istri sekilas lalu kembali meneliti gelang-gelang rantai yang dilihatnya. Ia memilih salah satu yang terlihat lebih lebar. "Ini saja."

Pramuniaga itu mengeluarkan gelang itu dan Raka langsung memasangkannya pada pergelangan tangan Maya. Sang pramuniaga terlihat sedikit iri melihat pasangan ini.

Yang wanita terlihat polos sedang yang pria bersikap bak penguasa. Segala keinginan pria itu terpaksa diikuti sang wanita sehingga terlihat sekali kalau ini hubungan sekretaris dengan bosnya. Pelayan toko itu sudah bisa menebak, dan benar-benar terlihat romantis bagi pelayan tersebut.

Ada hiasan tergantung di dekat kaitan gelang itu. Bentuknya bola yang mencengkram sebuah batu berlian kecil, dan sebuah lagi berbentuk bunga yang kesemuanya terbuat dari emas. Gelang itu sedikit longgar. "Tapi ini sedikit longgar, Mas."

Pria itu cemberut. "Aku kasih kamu cincin, salah! Aku kasih gelang, juga salah! Maumu apa sih!?" ucapnya jengkel.

Maya terlihat panik. "Eh, bukan begitu maksudku ...." Pria itu masih terlihat cemberut, membuat ia terpaksa mengalah. "Eh, ya. Ya sudah. Ini saja."

Raka masih menyorot wajah istrinya tak percaya.

"Eh, iya. Tidak apa-apa. Ini saja."

"'Kan kamu akan gemuk. Gelang itu akan pas dengan sendirinya!" terang pria itu lagi.

"Iya, iya." Maya terpaksa mengiyakan agar pria itu tak jadi marah. Padahal sebenarnya ia ingin beli yang lebih kecil dari itu, agar pas dipakai di tangan. Ia takut gelang yang sekarang dipakainya bisa meluncur lepas dari tangan kalau ia tak hati-hati memakainya.

Tak lama, keduanya keluar dari toko itu dengan gelang berantai halus melingkar di pergelangan Maya. Mereka kemudian menuju ke tempat makan. Pria itu memilih restoran makanan Itali yang terlihat mewah.

Maya sampai terkagum-kagum melihat interiornya. Jendelanya saja memakai gorden tebal dengan motif bunga-bunga lembut. Meja kayunya diberi vas bunga dengan setangkai bunga segar menghiasi setiap meja. Apalagi pengunjungnya kebanyakan orang asing.

"Kita makan di sini, Mas?"

"Kamu belum pernah 'kan?"

Maya melongo melihat sekitar. "Eh, tapi ini terlalu mewah. Kita makan yang biasa-biasa saja, bagaimana?" pintanya setengah berbisik. Ia kurang nyaman makan di tempat orang-orang kaya seperti itu karena ia merasa tidak cocok berada di sana.

"Kamu tahu kenapa aku bawa kamu ke sini?" tanya pria itu sedikit mengangkat dagu.

"Eh, tidak."

"Kamu 'kan masih bekerja denganku. Bagaimana kalau aku membawa klien ke tempat ini? Apa kamu bisa menjamu mereka? Kamu juga harus tahu nama-nama makanan agar bisa menawarkan makanan pada klien-klien atau tamu yang aku undang. Kamu mengerti 'kan maksudku?" ujar pria itu pelan.

Bersambung ....

1
sunaryati jarum
Selalu dicemburui dan dicurigai itu susah
Shofwa Arzita
Bagus
Shofwa Arzita
update tiap hari dong thor
Baby_Miracles: author semangat kalo ada yang komen dan like. Jangan lupa likenya ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!