NovelToon NovelToon
TAI CHU : KITAB TAKDIR

TAI CHU : KITAB TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Spectree Je

Saat semua pendekar berkumpul untuk berebut kekuasaan, seorang anak gembala datang membawa akhir dari dunia mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spectree Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 - JALAN YANG DIPILIH

Pagi hari di Puncak Teratai Emas, Gunung Huashan.

Kabut masih tebal seperti bubur. Matahari belum berani muncul sepenuhnya, seolah-olah masih takut dengan kalimat emas yang menggantung di langit semalam — TUJUH TAHUN LAGI, MURID MENENTUKAN LANGIT — yang kini sudah memudar menjadi seperti asap dupa tipis.

Puncak yang kemarin dipenuhi ratusan pendekar, pasukan Istana, naga emas, bunga persik, dan racun ungu, kini hanya tersisa batu-batu retak, rumput yang menghitam dan menghijau kembali, dan satu api unggun yang sudah menjadi abu dingin.

Di dekat api unggun itu, tujuh sosok dengan tujuh warna jubah berbeda sedang merapikan jubah mereka.

7 Pendekar Jiangnan Masa Kini.

Li Qingzhou, pemimpin dengan kipas besi naga, menatap ke arah timur, ke arah Danau Tai yang tidak terlihat dari sini tapi bisa ia rasakan anginnya. Di sana ada rumahnya, ada Danau Tai, ada perahu-perahu, ada arak Suzhou yang paling enak.

Shen Wuyou, Iblis Kecapi, sudah memasukkan guqin-nya ke dalam sarung kain. Jarinya masih berdarah sedikit karena semalam memainkan lagu duka untuk Zhuo Fan terlalu lama.

"Aku tidak menyangka," kata Su Meiyin, satu-satunya wanita, payung kertas berminyaknya ia lipat, "Pangeran Mahkota yang mati 15 tahun lalu masih hidup. Dan menjadi guru bocah 9 Yang."

Li Qingzhou membuka kipasnya, tapi tidak dikipas-kipaskan. Ia hanya menatap lukisan ombak Danau Tai di kipasnya.

"Karena itulah kita harus kembali," katanya, suaranya tidak licik lagi seperti biasanya, tapi serius. "15 tahun lalu, kita, 7 Bintang Jiangnan, masih anak-anak yang bermain layang-layang saat 4 Naga Kecil bersumpah di Danau Tai. Kita hanya bisa menonton saat Zhuo Fan dikhianati di Lembah Pedang. Kita tidak bisa berbuat apa-apa."

Ia menatap keenam sahabatnya satu per satu.

"Tapi 7 tahun lagi, kita tidak akan menjadi penonton lagi. Janji 7 Tahun bukan hanya untuk murid-murid. Ini adalah janji untuk kita juga. Janji untuk membuktikan bahwa Jiangnan bukan hanya tempat penyair manja yang menulis puisi tentang hujan."

Yan Beifei, Gagak Api, mengepalkan tangan, payung besi hitam di punggungnya berderak mengeluarkan percikan api kecil. "Aku akan kembali ke Gunung Api di Wenzhou. Aku akan berlatih membuka payungku di dalam lahar. Jika 7 tahun lagi aku tidak bisa membakar bahkan 18 naga milik Pengemis Utara, aku akan terjun ke lahar itu sendiri!"

Xiao Yusheng, Hakim Kuas Lukis, mengangkat kuas raksasanya. Ujung kuasnya yang meneteskan tinta hitam kini meneteskan tinta merah darah karena ia menggigit jarinya semalam untuk melukis wajah Zhuo Fan dari ingatan. "Aku akan kembali ke Danau Barat, Hangzhou. Aku akan melukis 10.000 lukisan perang. Sampai lukisanku bisa berjalan keluar dari kertas dan bertarung sendiri."

Lu Changan, Pedang Tujuh Bintang, menepuk 7 pedang kayu pendek di pinggangnya. "Aku akan kembali ke Jinling. Aku akan mencari 7 bintang yang jatuh 100 tahun lalu di Sumur Bintang. Jika pedangku tidak bisa memanggil Bintang Biduk yang sebenarnya, aku bukan Lu Changan."

Ye Liuxiang, Tuan Muda Sakit yang selalu batuk darah, tersenyum pucat. Sapu tangan putihnya sudah merah semua. "Aku akan kembali ke Yangzhou. Aku akan mencari obat untuk penyakitku sendiri. Jika aku tidak mati dalam 7 tahun, mungkin aku akan menjadi yang terkuat. Karena orang yang tidak takut mati adalah orang yang paling menakutkan."

Shen Wuyou memetik satu nada terakhir pada guqin-nya. Nada itu panjang, jernih, penuh tekad. "Aku akan kembali ke Suzhou. Aku akan membuat lagu yang bahkan bisa membuat Racun Barat Ouyang Lie menari sampai kakinya berdarah."

Su Meiyin mengangkat payungnya, membukanya. Di dalam payung, 36 jarum perak dan pedang hujan berkilau terkena sinar matahari pagi pertama.

"Aku akan kembali ke Kota Air. Aku akan belajar cara membuat hujan menjadi pedang. 7 tahun lagi, aku ingin membuat payungku menjadi langit bagi Mu Chen."

Li Qingzhou tertawa. Kali ini tawanya tidak licik, tapi keras dan penuh semangat.

"Bagus! Itulah 7 Bintang Jiangnan! Kita pergi! Kita berlatih! 7 tahun lagi kita kembali ke sini! Bukan sebagai penonton! Tapi sebagai juri! Sebagai orang yang akan melihat murid-murid kita — dan murid-murid mereka — menentukan siapa langit yang sebenarnya!"

Tujuh sosok itu melayang. Bukan terbang, tapi melayang seperti tujuh daun willow yang tertiup angin timur. Dalam sekejap, mereka hilang ditelan kabut tebal Huashan, kembali ke Jiangnan, kembali ke Danau Tai, kembali ke tempat mereka akan berlatih seperti orang gila selama 7 tahun.

Puncak kini benar-benar sepi. Hanya tersisa dua orang.

Satu yang masih tertidur, memeluk kitab emas seperti memeluk guling.

Dan satu lagi, pengemis tua dengan sembilan kantung robek dan tongkat bambu bengkok, yang sedang memanggang ayam curian — entah dari mana ia dapat ayam di puncak gunung — sambil minum arak dari labu penyok.

Mu Chen mengerjap. Matanya berat. Kepalanya sakit seperti habis dipukul 18 naga.

Ia terbangun. Hal pertama yang ia lihat adalah langit Huashan yang biru, tanpa kalimat emas lagi. Hal kedua yang ia lihat adalah wajah kotor Hong Wei Jun, Pengemis Utara, yang sedang menyodorkan paha ayam panggang ke mukanya.

"Bangun, bocah goni! Kau sudah tidur sehari semalam! Kalau kau tidur lagi, kitab emasmu akan aku jual untuk membeli arak!"

Mu Chen terlonjak duduk. Kitab Tai Chu Hun Yuan Jing masih ada di pelukannya. Tapi kini kitab itu tidak panas lagi. Tidak bergetar. Cahayanya redup, seperti sedang tidur juga. Tulisan-tulisan emas yang kemarin beterbangan di langit, kini kembali masuk ke dalam kitab, menjadi halaman-halaman yang bisa dibaca.

"Ketua Hong... di mana... di mana semua orang?" suara Mu Chen serak.

"Sudah pergi! Semua sudah pergi!" Hong Wei Jun menggigit ayamnya dengan rakus. "Huang cabul dengan sulingnya pergi ke timur, Ouyang racun dengan kelabangnya pergi ke barat, Qiu hidung kerbau pergi ke Zhongnan, Duan petani pergi ke Dali, 7 anak manja Jiangnan pergi ke Danau Tai, Zhuo Fan si Pangeran Gila dan murid mataharinya pergi ke Lembah Api! Semua pergi untuk berlatih 7 tahun! Hanya aku yang kasihan padamu, jadi aku tunggu kau bangun!"

Mu Chen menatap kitab di pangkuannya. Ia membuka halaman pertama.

Dulu, saat ia berumur 7 tahun menemukan kitab ini di gua tepi Sungai Kuning, ia tidak bisa membaca satu huruf pun. Huruf-huruf itu seperti cacing emas yang berenang-renang.

Tapi sekarang, setelah kemarin ia dikelilingi oleh 18 naga, bunga persik, racun, Taiji, 9 Yang, dan setelah ia melihat Pangeran Mahkota yang mati hidup kembali, huruf-huruf itu... perlahan-lahan bisa ia baca.

Halaman pertama hanya ada 8 kata:

Tai Chu Wu Xing, Hun Yuan Yi Qi.

Tai Chu Tidak Berbentuk, Campuran Menjadi Satu Energi.

Di bawahnya, ada gambar seorang manusia kecil duduk bersila, dengan 8 garis terbalik di tubuhnya. Persis seperti kondisi Mu Chen — 8 meridian terbalik yang dikatakan Huang Yuchen adalah cacat, tapi juga anugerah.

Hong Wei Jun melirik dari samping sambil makan ayam.

"Ooh, jadi itu isi kitab sialan yang membuat 100 perguruan saling bunuh 300 tahun lalu? Kedengarannya seperti omong kosong penjual obat di pasar! Tidak berbentuk, menjadi satu energi... kentut!"

Tapi Mu Chen tidak mendengar ejekan itu. Saat ia menatap gambar manusia kecil itu, tiba-tiba, gambar itu bergerak. Manusia kecil itu bernapas. Dan Mu Chen merasa 8 meridian terbalik di dalam tubuhnya yang selama 17 tahun membuatnya lemah, mudah sakit, tidak bisa berlatih kungfu apa pun, tiba-tiba... berputar. Tidak berlawanan lagi, tapi searah. Seperti 8 sungai yang akhirnya menemukan laut.

"Akh!"

Mu Chen memuntahkan seteguk darah hitam. Darah yang sudah mengendap di tubuhnya selama 17 tahun karena meridian terbalik.

Hong Wei Jun terkejut, ayamnya jatuh. "Bocah! Kau keracunan ayamku?!"

Mu Chen tidak menjawab. Ia memejamkan mata. Ia merasa tubuhnya ringan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia bisa merasakan udara masuk dan keluar tanpa sesak. Ia bisa merasakan tenaga dalam — Qi — yang selama ini tidak pernah ia rasakan.

Kitab Tai Chu tidak memberinya jurus. Tidak memberinya 18 naga atau bunga persik. Kitab itu hanya memperbaiki wadahnya. Memperbaiki tubuh Mu Chen yang rusak sejak lahir.

Mu Chen membuka matanya. Matanya yang dulu selalu sayu karena sakit, kini berkaca-kaca tapi jernih.

"Ketua Hong..."

"Apa? Kau mau mati? Jangan mati di sini, nanti mayatmu bau dan mengotori Huashan!"

Mu Chen membungkuk, kepalanya menyentuh tanah, di depan Hong Wei Jun.

"Terima saya sebagai murid."

Hong Wei Jun terdiam. Tongkat pemukul anjing di tangannya berhenti di tengah jalan menuju ayam.

"Kau... kau bilang apa?"

"Saya Mu Chen, 17 tahun, anak yatim dari Desa Batu, Sungai Kuning. Tidak punya ayah, tidak punya ibu, tidak punya guru. Selama 17 tahun saya dikatai sampah karena tidak bisa kungfu. Kemarin, semua orang hebat ingin menjadikan saya murid karena kitab ini," ia memeluk kitab emas itu, "tapi hanya Ketua Hong yang memegang bahu saya saat semua orang ingin merebut saya. Hanya Ketua Hong yang tidak melihat kitabnya, tapi melihat saya, si bocah goni."

Air mata Mu Chen menetes ke tanah Huashan.

"Saya tidak ingin menjadi Kaisar. Saya tidak ingin menjadi pemilik Pulau Bunga Persik. Saya tidak ingin menjadi Racun Barat. Saya hanya ingin... saya hanya ingin punya jalan. Jalan saya sendiri. Dan saya ingin belajar cara memukul orang jahat seperti cara Ketua Hong memukul anjing liar kemarin. Tolong... jadikan saya murid Pengemis Utara."

Hong Wei Jun menatap bocah yang bersujud di depannya. Lama.

Lalu ia tertawa. Tawanya keras, sampai burung-burung di tebing Huashan beterbangan.

"Ha ha ha! Bagus! Bagus! Akhirnya! Setelah 20 tahun tidak punya murid karena semua anak takut disuruh mencuri ayam, akhirnya ada bocah goni yang bodoh mau jadi muridku!"

Ia mengangkat tongkat bambu bengkoknya, memukul kepala Mu Chen dengan pelan. Bukan pukulan keras, tapi pukulan pengesahan.

"Dengarkan, Mu Chen! Mulai hari ini, kau adalah murid ke-19 Sekte Pengemis, murid tertutup Pengemis Utara Hong Wei Jun! Syarat pertama: buang pedang kayu patahmu itu! Syarat kedua: ganti jubah gonimu dengan jubah goni yang lebih bagus! Punya 9 kantung! Syarat ketiga..."

Ia menyodorkan sisa ayam panggangnya.

"Makan! Karena mulai besok, kau akan berlatih 18 Tapak Penakluk Naga sampai kau berak naga!"

Mu Chen mengambil ayam itu dengan tangan gemetar, memakannya dengan lahap sambil menangis. Untuk pertama kalinya, ia punya guru. Punya jalan.

Sementara itu, jauh di barat, di Gunung Wudang.

Kabut tebal menyelimuti 72 puncak Wudang. Lonceng Tao berdentang pelan.

Di puncak tertinggi, di dalam Aula Taiji yang tidak boleh dimasuki sembarang orang, seorang pemuda 19 tahun berlutut. Jubah putih-biru Tao, rambut disanggul, wajah dingin seperti pedang. Di depannya, pedang tipis Taiji diletakkan di atas lutut.

Ling Feng, murid inti termuda Gunung Wudang, murid langsung Zhang Lingyun, yang kemarin ikut dalam Janji 7 Tahun di Huashan dan berdiri di depan pasukan Istana bersama Hui Chen dari Shaolin.

Di depannya, duduk Zhang Lingyun, gurunya, dan 7 Tetua Wudang berjanggut putih.

"Ling Feng," kata Zhang Lingyun, suaranya seperti angin yang berputar, "kau sudah melihat 18 naga Pengemis Utara, musik Pulau Bunga Persik, racun Gunung Baituo, 9 Yang Lembah Api, dan Tai Chu. Apa yang kau rasakan?"

Ling Feng menunduk, tapi matanya menyala.

"Guru, saya merasa... Taiji Wudang kami... masih belum sempurna."

7 Tetua Wudang terkejut. Tidak ada yang berani mengatakan Taiji tidak sempurna.

Tapi Zhang Lingyun tersenyum.

"Bagus. Karena itulah hari ini aku akan membawamu ke tempat terlarang Wudang. Gua Taiji. Di mana pendiri Wudang, Zhang Sanfeng, meninggalkan tulisan terakhirnya sebelum hilang 100 tahun lalu. Tulisan yang bahkan aku belum berani membacanya."

Zhang Lingyun berdiri, jubahnya berkibar tanpa angin.

"7 tahun, Ling Feng. Kau punya 7 tahun untuk memahami tulisan itu. Jika kau berhasil, 7 tahun lagi di Huashan, kaulah yang akan mewakili Wudang untuk melawan Mu Chen, melawan Yang Lie, melawan Li Changsheng dari Quanzhen, melawan Ouyang Feng, melawan Tao Yaoyao. Kaulah yang akan membuktikan bahwa... yang lembut bisa mengalahkan yang keras."

Ling Feng mengambil pedang tipisnya, berdiri. Wajah dinginnya kini penuh tekad.

"Guru, saya akan pergi ke Gua Taiji sekarang. 7 tahun lagi, saya akan kembali. Dan saya akan membawa Taiji yang sebenarnya."

Di tiga tempat berbeda — di puncak Huashan yang berangin, di lembah Wudang yang berkabut, dan di jalan menuju Zhongnan, Gurun Gobi, dan Suzhou — roda takdir mulai berputar.

Mu Chen telah memilih jalannya sebagai murid Pengemis Utara.

Li Changsheng telah menjadi murid tertutup Quanzhen.

Ouyang Feng telah menjadi Putra Racun Barat.

Tao Yaoyao akan menjadi Putri Pulau Bunga Persik.

Ling Feng akan masuk ke Gua Taiji terlarang Wudang.

Hui Chen dari Shaolin masih berlutut di depan Bhiksu Jueyuan, menunggu perintah.

Dan di Lembah Api Kunlun yang jauh, Zhuo Fan dan Yang Lie berjalan masuk ke dalam api yang tidak pernah padam.

Janji 7 Tahun bukan lagi janji. Janji itu kini telah menjadi jalan hidup bagi 7 anak muda.

Dan jalan itu baru saja dimulai.

1
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuutt...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuttt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Laaaaannnjjuuttt..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Maaaannnttaapp..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!