Di sebuah kerajaan yang megah dan disegani, hiduplah Celestia, putri bungsu Raja David. Sebagai anak ketiga sekaligus putri terakhir dari tiga bersaudara, Celestia selalu hidup dalam kemewahan dan aturan kerajaan yang ketat. Berbeda dengan kedua kakaknya yang telah terbiasa dengan kehidupan istana, Celestia diam-diam mendambakan kehidupan bebas tanpa harus selalu memikirkan statusnya sebagai seorang putri.
Di sisi lain kerajaan, hiduplah seorang pemuda yatim piatu bernama Zass. Sejak kecil ia hidup seorang diri dan bekerja sebagai anak penempa pedang. Walaupun berasal dari kalangan rakyat biasa dan hidup sederhana, Zass memiliki keahlian luar biasa dalam menempa pedang. Ia tidak memiliki keluarga ataupun gelar bangsawan, tetapi ia memiliki tekad untuk menjadi seorang penempa pedang terbaik.
Takdir memperte
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puncak Gunung Vulkanik dan Bayangan Takdir
Hawa panas yang menyengat menyambut kelima anggota party saat mereka menjejakkan kaki di lereng Gunung Vulkanik. Udara di sekitar dipenuhi bau belerang yang pekat, dan tanah hitam bercelah mengalirkan lahar tipis yang memancarkan pendar merah menyala. Di puncak tertinggi gunung tersebut, gulungan awan hitam pekat berputar-putar, diselingi petir merah dari magma dan raungan gema naga kuno yang menggetarkan bumi.
Zass melangkah paling depan. Jubah karung goni usangnya berkibar diterpa angin kencang bercampur abu vulkanik. Di belakangnya, Ryu, Ken, Okta, dan Kayla berjalan dalam formasi tempur yang sangat rapat. Meski atmosfer di gunung ini begitu menekan, tak satu pun dari mereka menunjukkan rasa gentar.
"Tekanan energi naga ini benar-benar gila," gumam Ken seraya menggerakkan jemarinya, memicu percikan Petir Kuning yang menyelimuti bilah belatinya. "Pantas saja istana menetapkan ini sebagai Misi Tingkat SSS."
"Jangan lengah," pangkas Okta tegas. Tubuh besarnya kini dibalut penuh oleh aura Petir Biru yang tebal bagaikan armor transparan. "Target kita adalah naga kuno bersisik baja. Kulit utamanya hampir mustahil ditembus serangan biasa."
Ryu menoleh menatap Zass dari samping. "Bagaimana rencananya, Brave?"
Zass menggenggam erat gagang pedang besinya. Nama 'Brave' masih terasa asing di telinganya, namun ia tahu nama alias itulah yang saat ini melindungi jalannya dari intrik politik dua kerajaan. Ingatan tentang wajah kecewa Celestia dan bentakan sombong Raja David di pelataran istana tadi kembali terbayang. Rasa panas membakar di dadanya, memperkuat aliran energi yang mengalir di pembuluh darahnya.
"Okta, kau dan Kayla tahan pergerakannya dari depan dan udara," instruksi Zass dengan suara dingin yang terfokus. "Ryu dan Ken, incar mata dan persendian sayapnya untuk membatasi ruang geraknya. Begitu intinya terbuka... biarkan Petir Ungu yang menyelesaikan Sisik Baja itu."
"Siap!" jawab mereka serempak.
ROAAARRR!
Raungan dahsyat menggelegar dari puncak! Sesosok makhluk raksasa bersayap lebar memecah awan hitam, meluncur turun dengan kecepatan luar biasa. Naga kuno bersisik baja itu memancarkan aura membunuh yang mengerikan. Sisik-sisik di tubuhnya keras bagaikan tempaan besi legendaris, dan matanya menyala merah bagaikan lahar mendidih.
"Serang!" teriak Ryu.
Pertempuran tingkat bencana pun pecah di lereng gunung!
Kayla melompat tinggi ke udara, menembakkan tombak-tombak Petir Merah yang meledak hebat di wajah sang naga, mengalihkan perhatiannya. Okta menahan hantaman cakar raksasa naga tersebut dengan perisai Petir Biru, menahan gelombang tekanan yang menggetarkan tanah di bawahnya. Sementara itu, Ken dan Ryu bergerak bagaikan kilat melintasi tubuh naga, menebaskan elemen mereka ke titik-titik persendian sayap untuk melumpuhkan daya jelajah sang makhluk.
Naga kuno itu meraung kesakitan dan kemarahan. Ia membuka rahangnya yang lebar, mengumpulkan bola lahar pekat untuk menyemburkan api pembunuh ke arah tim.
"Sekarang, Brave!" teriak Kayla dari udara.
Zass memejamkan matanya sejenak di tengah kekacauan pertempuran. Ia memegang liontin belah ketupat di dadanya, menyerap seluruh emosi, kepedihan, dan tekad yang tersimpan di dalam dirinya.
Zzzzt! BZZZZT!
Seketika, pancaran Petir Ungu Legendaris meledak dahsyat dari tubuh Zass! Warna ungu yang sangat pekat dan murni menyelimuti pedang besinya, menciptakan tekanan aura yang bahkan membuat naga kuno itu terhenti sejenak karena rasa takut naluriah.
Zass melesat! Kecepatannya melampaui batas penglihatan mata telanjang. Ia melompati gelombang lahar, menjejakkan kaki di atas kepala naga, lalu menancapkan pedang berbaur Petir Ungu itu tepat di antara pelipis mata sang naga—titik terlemah dari armor sisik bajanya.
CRAAAAZZZSH!
Arus Petir Ungu merangsek masuk, menghancurkan jaringan energi di dalam tubuh naga kuno tersebut dari dalam! Naga raksasa itu meraung melengking untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya roboh menghantam tanah vulkanik, tak bernyawa.
Pertempuran Misi SSS telah usai.
Beberapa jam kemudian, kabar kemenangan party petualang menyebar hingga ke istana Kerajaan Molten. Sorak-sorai kemenangan bergema di seluruh kota. Raja Molten dan Raja David segera menyambut kedatangan party SSS di balairung istana untuk menyerahkan imbalan dan penghormatan tertinggi.
Putri Celestia berdiri di samping ayahnya dengan wajah pucat. Meski kota sedang bersuka cita, hatinya tetap terasa hampa dan dipenuhi duka.
Kelima anggota party melangkah masuk ke dalam balairung yang megah. Zass berjalan paling depan sebagai Brave, jubah goninya berselimut abu sisa pertarungan.
Raja Molten memberikan penghormatan tinggi dan meletakkan peti berisi imbalan di hadapan mereka. Raja David, yang terkesan dengan kekuatan luar biasa pemuda berjubah goni itu, melangkah maju dengan sikap penuh kebanggaan sebagai penguasa kerajaan kaya.
"Luar biasa, Pemuda!" puji Raja David dengan suara lantang. "Kekuatan Petir Ungumu melampaui semua ksatria yang pernah kulihat! Sebagai raja dari Kerajaan Imperial, aku menawarkanmu posisi sebagai Panglima Tertinggi di kerajaanku, kekayaan melimpah, dan segala kehormatan yang kau inginkan jika kau bersedia mengabdi padaku!"
Seluruh ruangan mendadak hening, menunggu jawaban sang pahlawan.
Zass mendongak perlahan. Di balik kerah jubah goninya, ia memandang lurus ke arah Raja David dengan tatapan dingin, lalu matanya beralih menatap Celestia yang berdiri layu di belakang sang raja.
Zass menurunkan kerah jubah goninya, memperlihatkan wajah utuhnya secara jelas di bawah pendar lampu kristal balairung.
Deg!
Mata Raja David terbelalak lebar. Tangannya melayang di udara, dan nafasnya tertahan di tenggorokan. Wajah pemuda tegap, tegas, dan berwibawa di hadapannya ini... adalah wajah anak penempa besi kotor yang dulu pernah ia usir dan caci maki!
"K... Kau...?!" bisik Raja David dengan suara bergetar hebat, diselimuti rasa terkejut dan malu yang luar biasa.
Celestia mendongak kaget saat mendengar reaksi ayahnya. Begitu matanya menatap wajah sang pemuda yang kini tak lagi tertutup, air matanya seketika menetes deras.
"Zass...?" bisik Celestia dengan suara serak menahan tangis. "Itu benar-benar kau..."
Rasa bersalah dan rasa bahagia membuncah bersamaan di dalam dada Celestia. Pemuda yang menyelamatkannya di pasar, pemuda berjuluk Brave yang baru saja menundukkan naga bencana, adalah Zass—pria yang selalu ia nantikan selama bertahun-tahun!
Celestia hendak berlari maju untuk memeluk Zass, namun Zass mengangkat sebelah tangannya, menahan langkah sang putri.
"Tawaranmu sangat menggiurkan, Raja David," ucap Zass dengan suara rendah, tenang, namun penuh penekanan yang menusuk tulang. "Tapi aku adalah anggota dari party ini, dan aku tidak sudi mengabdi pada seorang raja yang menilai kehormatan seseorang hanya dari gelar dan harta kekayaannya."
Raja David tersentak, mukanya merah padam bercampur rasa malu yang tak tertahankan di hadapan Raja Molten dan para bangsawan.
Celestia menatap Zass dengan tatapan memohon, air matanya terus mengalir. "Zass... maafkan Ayahanda... ikutlah bersamaku kembali ke istana... kita bisa..."
Zass menatap Celestia. Di dalam matanya, kilatan rasa cinta yang mendalam masih ada, namun dipagari oleh kenyataan pahit yang belum bisa mereka runtuhkan saat ini.
"Maafkan aku, Celestia," potong Zass dengan lembut namun tegas. "Dunia ini belum siap untuk kita. Kau adalah seorang Putri Kerajaan Imperial, dan aku masih seorang petualang yang harus berjalan menempuh takdirku sendiri. Kita... belum bisa bersama."
"Zass! Jangan pergi!" jerit Celestia hysterical saat Zass berbalik membelakangi mereka.
"Zass!" Raja David berteriak, namun suaranya tertahan oleh rasa malu dan kehancuran harga dirinya sendiri.
Zass melangkah pergi keluar dari balairung istana Kerajaan Molten, diikuti oleh Ryu, Ken, Okta, dan Kayla yang mengawalnya dari belakang. Di balik jubah karung goni usangnya, Zass menggenggam erat liontin ungu di dadanya.
Ia tahu, perpisahan hari ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan batas garis yang harus ia lewati untuk menjadi sosok yang jauh lebih agung di masa depan. Celestia menangis tersedu-sedu di dalam pelukan pengawalnya, menatap punggung tegap sang kekasih yang kembali menjauh, menyimpan kerinduan dan harapan bahwa suatu hari nanti, takdir akan menyatukan mereka kembali di puncak kejayaan.