Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bergerak
"Saatnya mulai menyusun rencana!"
Di dalam kamarnya, Lyn menatap papan putih yang baru saja ia pasang di dinding, lalu mulai menempelkan beberapa foto satu per satu.
Ia melangkah mundur, menatap barisan foto itu dengan seksama.
"Arya, pacar Clarisa... dan teman-temannya," gumamnya pelan, jarinya menunjuk foto-foto itu satu per satu.
"Clarisa... Selena... dan Bianca..."
Gadis itu memejamkan mata sejenak, membiarkan ingatan-ingatan menyakitkan itu kembali berputar, suara tawa mengejek, bisikan-bisikan sinis, dan ledekan yang selama ini ia telan diam-dian.
Perlahan, Lyn membuka mata. Tangannya mengepal erat.
"Balas dendam dimulai," desisnya dingin.
Ia melangkah maju lagi, menatap deretan foto itu lebih dekat. "Waktu itu... mereka pasti merekam semuanya. Salah satu dari mereka pasti masih menyimpan rekamannya."
Lyn melipat tangan di dada, menyusun strategi dalam kepalanya, sebelum akhirnya berjalan menuju meja belajarnya. Laptop sudah menyala menunggunya.
"Baik, kita mulai gali informasi tentang mereka."
Jari-jemari menari lincah di atas keyboard, matanya menatap layar dengan ekspresi datar, dingin, terkontrol, jauh dari gadis penakut yang dulu selalu tunduk pada bully-annya.
Berkat ilmu yang Vanesa ajarkan, Lyn berhasil mengumpulkan data yang ia butuhkan hanya dalam hitungan menit.
Arya Pratama
Data pribadi Arya muncul di layar, lengkap dengan foto-foto lingkaran pertemanannya, bahkan beberapa data tersembunyi.
"Dapat," gumam Lyn puas. "Nggak sia-sia belajar sama Bunda."
Ia membaca setiap detail dengan teliti, tak ada satu pun yang terlewat. Matanya berhenti sejenak pada salah satu artikel lama, dan seketika tersenyum miring terukir di bibirnya.
"Jadi dia rela jadi 'anjing peliharaan' Clarisa cuma karena cinta?" Lyn menggeleng, mendecih pelan. "Bodoh banget."
Ia bersandar di kursinya, senyum mengejek masih terpasang, lalu memutar kursi untuk kembali menatap papan putih di dinding.
"Kalian semua akan dapat balasannya," bisiknya dingin. "Tunggu saja waktunya."
Lyn beranjak dari kursi, melangkah menuju cermin besar di sudut kamarnya. Ia menatap pantulan dirinya sendiri, sosok yang kini jauh berbeda dari gadis lemah yang dulu selalu menunduk ketakutan.
Senyum miring itu kembali muncul, kali ini lebih tajam, lebih penuh keyakinan.
"Aku kembali."
•●•
"Selamat datang, Nyonya Elea."
Para pengawal menunduk hormat serentak saat Elea melangkah memasuki area markas, sikap patuh yang sudah menjadi kebiasaan setiap kali menyambut kedatangan keluarga inti.
Elea mengangguk singkat, lalu melangkah menuju ruangan pribadi mertuanya dengan wajah datar, paper bag tergenggam erat di tangannya.
Sesampainya di depan ruangan, ia memencet tombol kecil samping pintu.
Dari dalam, Lucas menoleh ke layar khusus yang terpasang di dinding, menampilkan wajah Elea melalui kamera pengawas. Tanpa ragu, ia menekan tombol, dan pintu pun terbuka otomatis.
Elea melangkah masuk, wajah datarnya berubah seketika menjadi senyum hangat begitu melihat sosok mertuanya.
"Papa sibuk?" tanyanya, mendekat.
Lucas menggeleng, matanya masih fokus pada deretan layar monitor di hadapannya.
"Nggak, Nak. Cuma lagi mantau pergerakan para agen."
Elea ikut menatap layar, melihat beberapa titik bergerak di peta digital, para agen yang sedang menjalankan misi masing-masing.
"Jadi nostalgia," gumamnya pelan, lalu meletakkan paper bag di atas meja Lucas. "Aku bawain makanan kesukaan Papa."
Lucas menghirup aromanya sejenak, matanya terpejam menikmati wangi yang menguar dari kotak makan itu. "Wangi banget," gumamnya puas, sebelum mulai menyantap dengan lahap.
Di sela-sela makannya, tanpa menoleh, Lucas bersuara. "Ada apa dengan Lyn?"
Elea terkekeh pelan. Mertuanya ini memang selalu tahu, bahkan sebelum ia sempat membuka mulut.
"Lyn mau membalas dendam ke teman-temannya yang dulu pernah nge-bully dia, Pah," ucap Elea akhirnya, menghela napas sebelum duduk di kursi seberang mertuanya.
Lucas menatap Elea, sendoknya berhenti di udara. "Bully?"
"Iya, Pah," Elea mengangguk pelan. "Ternyata Lyn korban perundingan dan dia menyembunyikan itu dariku selama ini."
Rahang Lucas mengeras, tangannya perlahan mengepal erat di atas meja. "Siapa yang berani membully cucuku?"
"Clarisa," jawab Elea singkat, matanya menatap tajam. "Dia anak dari Cakra, Pah."
Lucas mendengus sinis, menggelengkan kepala. "Pantas saja. Anak dan bapaknya sama-sama biadab!" Ia menatap menantunya lurus-lurus, ekspresinya berubah serius. "Elea, jangan pernah larang anakmu buat lakuin apa yang menurutnya benar. Dia sudah cukup lama dipaksa diam. Sekarang saatnya dia belajar berdiri buat dirinya sendiri."
"Iya, Pah," Elea mengangguk, sedikit lega mendengar dukungan itu. "Aku juga nggak mencegahnya."
Lucas tersenyum tipis, meski matanya masih menyimpan kekhawatiran seorang kakek. "Kamu tenang saja. Papa akan tetap jaga dia dari jauh, tanpa perlu Lyn sadari. Jadi kamu nggak usah terlalu khawatir."
Elea menghela napas lega, menatap mertuanya dengan rasa syukur. "Makasih, Pah. Papa selalu ada untuk kami."