NovelToon NovelToon
Alesha, Gadis Absurd.

Alesha, Gadis Absurd.

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.

Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25.

Pelajaran Bahasa Indonesia berlanjut seperti biasa.

Bu Rina menjelaskan teknik menyusun pidato yang baik, mulai dari pembukaan, isi, hingga penutup. Sesekali beliau memberikan contoh agar seluruh siswa lebih mudah memahami materi.

Alesha mencatat setiap penjelasan dengan rapi.

Sesekali ia mengangkat wajahnya untuk memperhatikan tulisan di papan tulis, lalu kembali menulis di buku catatannya.

"Baik," ucap Bu Rina sambil menutup bukunya.

"Sekarang Ibu ingin tahu siapa yang berani berbicara di depan kelas."

Suasana langsung hening.

Tidak ada satu pun siswa yang mengangkat tangan.

Bu Rina tersenyum kecil.

"Kalau begitu, Ibu yang tunjuk."

Beberapa siswa langsung menundukkan kepala, berharap namanya tidak dipanggil.

Bu Rina melihat daftar absensi di tangannya.

"Dinda."

"Iya, Bu?"

"Menurutmu, siapa di kelas ini yang cukup percaya diri untuk mengikuti lomba pidato?"

Dinda terdiam beberapa detik.

Ia melirik Alesha yang masih sibuk mencoret-coret bukunya.

Senyum jahil langsung muncul di wajahnya.

"Saya punya satu nama, Bu."

"Siapa?"

Dinda mengangkat telunjuknya.

"Alesha."

Mata Alesha langsung membulat.

"Hah?"

Seluruh kelas spontan menoleh ke arahnya.

"Eh... Dinda!"

Dinda hanya tertawa kecil.

Bu Rina memandang Alesha dengan penuh perhatian.

"Kamu bersedia?"

Alesha langsung menggeleng cepat.

"Saya, Bu?"

"Iya."

"Tapi saya belum pernah ikut lomba pidato."

"Justru itu."

Alesha terlihat semakin gugup.

"Tapi saya takut salah."

Bu Rina tersenyum menenangkan.

"Tidak ada yang langsung pandai. Semua orang belajar dari mencoba."

Beberapa teman sekelas ikut menyahut.

"Iya, Les."

"Kamu kan berani ngomong."

"Pasti bisa."

Alesha menoleh ke kanan dan kiri.

"Lho, kok kalian kompak begini?"

Dinda menahan tawa.

"Karena kami percaya sama kamu."

Alesha menghela napas panjang.

Ia memang sering berbicara tanpa gugup ketika mengobrol dengan teman-temannya.

Namun berbicara di depan banyak orang adalah hal yang berbeda.

Bu Rina kembali bertanya dengan lembut.

"Bagaimana, Alesha?"

Kelas kembali hening.

Semua menunggu jawabannya.

Setelah berpikir cukup lama, Alesha akhirnya mengangguk pelan.

"Kalau... Bu Rina percaya sama saya..."

Ia menarik napas dalam.

"...saya akan mencoba."

Seketika beberapa teman sekelas bertepuk tangan kecil.

"Yeay!"

"Tuh kan, akhirnya mau."

Dinda langsung memeluk lengan Alesha.

"Aku tahu kamu pasti mau."

Alesha langsung mendengus pelan.

"Kalau nanti aku gugup, kamu yang tanggung jawab."

Dinda tertawa.

"Siap."

Bu Rina tersenyum puas.

"Bagus. Sepulang sekolah nanti, temui Ibu di ruang guru. Kita akan mulai latihan untuk lomba minggu depan."

"Iya, Bu."

Walaupun masih merasa gugup, Alesha mulai berpikir dalam hati.

"Mungkin... ini kesempatan untuk mencoba sesuatu yang baru."

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa keputusan kecil yang baru saja ia ambil akan menjadi awal dari pengalaman baru yang membuatnya semakin berkembang di sekolah.

Bel pulang akhirnya berbunyi.

Para siswa mulai membereskan buku-buku mereka, sementara sebagian langsung bergegas keluar kelas. Namun berbeda dengan yang lain, Alesha masih tetap duduk di bangkunya sambil menatap buku catatannya.

"Les."

Dinda menghampirinya sambil memasukkan buku ke dalam tas.

"Ayo pulang."

Alesha menggeleng pelan.

"Aku belum bisa."

"Oh iya, latihan pidato."

Alesha mengembuskan napas panjang.

"Iya."

Dinda menepuk pelan bahunya.

"Semangat, ya."

"Kalau nanti aku tiba-tiba lupa semua kata-katanya gimana?"

Dinda tertawa kecil.

"Belum juga latihan."

"Iya juga sih."

"Tenang aja. Aku yakin kamu bisa."

Alesha tersenyum tipis.

"Makasih."

Setelah Dinda pulang, Alesha berjalan sendirian menuju ruang guru.

Sepanjang koridor, suasana sekolah mulai sepi. Hanya beberapa guru dan anggota OSIS yang masih terlihat berlalu-lalang.

Saat melewati ruang OSIS, pintunya terbuka.

Arka yang sedang merapikan beberapa berkas tanpa sengaja melihat Alesha berjalan seorang diri.

"Alesha."

Alesha berhenti lalu menoleh.

"Hm?"

"Kamu belum pulang?"

Alesha menggeleng.

"Belum."

"Ada kegiatan?"

"Iya. Bu Rina nyuruh aku ke ruang guru."

Arka mengangguk pelan.

"Untuk lomba pidato?"

Alesha sedikit terkejut.

"Kamu tahu?"

"Tadi Bu Rina sempat bicara dengan Pak Hendra."

"Oh..."

Alesha mengangguk pelan.

"Aku sebenarnya masih gugup."

Arka menatapnya beberapa saat.

"Kamu pasti bisa."

Alesha tersenyum kecil.

"Kok kamu yakin?"

"Karena kamu berani mencoba."

Jawaban singkat itu membuat Alesha terdiam sesaat.

Biasanya Arka tidak banyak bicara, tetapi setiap kalimat yang keluar darinya selalu terasa tulus.

"Terima kasih."

Arka hanya mengangguk.

"Semangat."

Alesha membalas dengan senyum lebar sebelum kembali melangkah menuju ruang guru.

Beberapa menit kemudian, ia sudah berdiri di depan meja Bu Rina.

"Permisi, Bu."

"Masuk, Alesha."

Bu Rina mempersilahkannya duduk.

"Ibu senang kamu mau mewakili kelas."

Alesha tersenyum malu.

"Saya masih takut, Bu."

"Itu wajar."

Bu Rina mengambil beberapa lembar kertas dari map di atas meja.

"Ini contoh naskah pidato. Kamu baca dulu di rumah. Besok kita mulai latihan berbicara."

Alesha menerima lembaran itu dengan kedua tangan.

"Baik, Bu."

"Ibu tidak menuntut kamu langsung sempurna."

Bu Rina tersenyum hangat.

"Ibu hanya ingin kamu berani berdiri di depan banyak orang."

Kalimat itu membuat Alesha perlahan mengangguk.

"Saya akan berusaha."

"Nah, itu yang Ibu harapkan."

Setelah berbincang beberapa menit, Alesha pun berpamitan.

Di luar ruang guru, ia melihat langit yang mulai berubah jingga.

Ia menggenggam naskah pidato di tangannya.

"Kayaknya... ini bakal jadi tantangan terbesar sejak aku pindah ke sekolah ini."

Dengan langkah pelan, Alesha berjalan menuju gerbang sekolah.

Di sana, Kevin sudah menunggu di atas motornya.

"Lama?"

tanya Alesha sambil menghampiri.

"Baru lima menit."

Kevin memperhatikan lembar kertas di tangan adiknya.

"Itu apa?"

"Naskah pidato."

Kevin mengangkat alis.

"Jadi kamu benar-benar ikut lomba?"

Alesha mengangguk pelan.

"Iya."

Kevin tersenyum kecil.

"Kalau begitu, nanti di rumah latihan."

Alesha langsung menghela napas.

"Iya, Kak."

Dalam hati, ia mulai bertanya-tanya...

Apakah ia benar-benar mampu berbicara di depan begitu banyak orang tanpa gugup?

Sepanjang perjalanan pulang, Alesha memandangi naskah pidato yang berada di pangkuannya.

Beberapa kali ia membaca judulnya, tetapi belum benar-benar memahami isi keseluruhannya.

Kevin yang sedang mengendarai motor melirik melalui kaca spion.

"Kenapa?"

Alesha mengembuskan napas pelan.

"Aku mulai gugup."

"Padahal lombanya belum dimulai."

"Iya."

Kevin tersenyum tipis.

"Itu tandanya kamu peduli."

Alesha terdiam.

"Maksudnya?"

"Kalau kamu gugup, berarti kamu ingin memberikan yang terbaik."

Ucapan Kevin membuat Alesha berpikir.

Selama ini ia selalu menganggap rasa gugup adalah hal yang buruk.

Namun ternyata tidak selalu begitu.

Sesampainya di rumah, Oma langsung menyambut mereka di ruang tamu.

"Kalian sudah pulang?"

"Iya, Oma."

Oma melihat beberapa lembar kertas di tangan Alesha.

"Itu apa?"

"Naskah pidato, Oma."

"Lho, memangnya Alesha ikut lomba?"

Alesha mengangguk pelan.

"Katanya aku dipilih mewakili kelas."

Wajah Oma langsung berbinar.

"Wah, hebat sekali."

Alesha tersenyum malu.

"Tapi aku belum pernah pidato."

Oma berjalan mendekat lalu mengusap lembut kepala cucunya.

"Tidak apa-apa. Semua orang juga pernah mencoba sesuatu untuk pertama kalinya."

Alesha mengangguk pelan.

"Malam ini latihan ya."

"Iya, Oma."

Setelah makan malam, Alesha membawa naskah pidatonya ke ruang keluarga.

Ia berdiri di depan sofa sambil memegang kertas itu erat-erat.

Kevin duduk bersandar di sofa.

"Oke."

Alesha menarik napas panjang.

"Lho?"

"Mulai."

"Sekarang?"

Kevin mengangguk.

"Iya."

Alesha menelan ludah.

Ia melihat Oma yang juga duduk sambil tersenyum memberikan semangat.

"Tenang saja. Anggap kami tidak ada."

Alesha tertawa kecil.

"Gimana caranya? Oma sama Kak Kevin jelas-jelas di depan aku."

"Ya sudah, anggap kami patung."

Kevin menimpali dengan wajah datar.

Mendengar itu, Alesha tidak bisa menahan tawanya.

"Mana ada patung ngomong."

"Nah, berarti sudah nggak tegang, kan?"

Alesha baru sadar.

Benar juga.

Rasa gugupnya perlahan berkurang.

Ia kembali mengambil posisi berdiri tegak.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..."

Baru dua kalimat dibaca, Alesha berhenti.

"Aduh."

"Kenapa?" tanya Oma.

"Aku salah baca."

"Ulangi saja."

Alesha mengangguk.

Ia mencoba lagi dari awal.

Kali ini suaranya lebih jelas, meski sesekali masih terbata-bata.

Beberapa menit kemudian, latihan pertama selesai.

Kevin memberikan tepuk tangan kecil.

"Bagus."

Alesha langsung mengangkat wajah.

"Serius?"

"Iya."

"Tapi aku masih sering salah."

"Itu wajar."

Kevin berdiri lalu mengambil naskah dari tangan Alesha.

"Yang penting jangan buru-buru."

"Terus?"

"Lihat ke depan sesekali. Jangan terus menunduk ke kertas."

Alesha mengangguk sambil memperhatikan setiap saran kakaknya.

Oma juga ikut menambahkan.

"Kalau berbicara, bayangkan kamu sedang bercerita kepada temanmu."

Alesha tersenyum.

"Baik, Oma."

Malam itu, mereka mengulang latihan sampai tiga kali.

Pada latihan terakhir, suara Alesha mulai terdengar lebih lantang dan percaya diri.

Kevin yang melihat perkembangan adiknya tersenyum tipis.

"Nah."

"Gimana, Kak?"

"Sudah jauh lebih baik."

Senyum lebar langsung menghiasi wajah Alesha.

"Kalau begitu besok aku latihan lagi."

Kevin mengangguk.

"Pelan-pelan saja."

Alesha mengepalkan kedua tangannya dengan semangat.

"Aku pasti bisa."

Ia tidak ingin mengecewakan Bu Rina, teman-teman sekelasnya, dan terutama dirinya sendiri.

Untuk pertama kalinya, Alesha benar-benar ingin membuktikan bahwa ia mampu melakukan sesuatu yang sebelumnya ia anggap mustahil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!