Alena Rahmawati tidak pernah menyangka bahwa menemukan dompet seorang pria asing di tengah bioskop tengah malam yang akan akan mengubah kehidupannya.
Demi biaya sekolah adiknya Dimas, Alena menerima tawaran aneh dari Arven Alfarizi, seorang CEO muda yang tampak memiliki segalanya. Sebagai imbalan sejumlah uang, Alena harus membuat Arven jatuh cinta kepada dirinya dalam waktu tiga puluh hari.
Awalnya semua hanya kesepakatan. Namun seiring berjalannya waktu, batas antara sandiwara dan perasaan yang sesungguhnya mulai menghilang. Saat Alena benar-benar jatuh cinta, ia baru mengetahui rahasia yang selama ini Arven sembunyikan.
Mampukah Alena membuat Arven jatuh cinta ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 ( Persaingan Serius)
Malam tadi Arven tidak bisa tidur karena memikirkan ucapan Nabila..
Dipikirannya saat ini, bagaimana jika Alena dan Raka jadian ??
Bayu terus memperhatikan Arven yang sejak tadi hanya mondar Mandir diruangan.
" Itu lantai kenapa sih ? "
Tanya Bayu membuat Arven menoleh
" Kenapa apanya ? "
" Ya lo ngapain daritadi mondar mandir, kayak gosokan tau ga "
Arven menghembuskan nafasnya panjang
" Cari nomor Raka, sekarang "
Bayu pun terkejut
" Mau ngapain ? "
" Mau berantem ? "
" Atau mau jadian sama Raka ? "
Arven menatap sinis Bayu
" Bayu "
" Lo bosen kerja ? "
Bayu tersenyum manis
" Engga dong bosku tersayang, yaudah tunggu ya sayangku "
" Najis, geli gue Bay "
Arven harus menemui Raka, ia ingin tau bagaimana perasaan Raka kepada Alena.
....
Setelah berhasil mendapatkan nomor Raka, siang hari Arven mengajak Raka untuk bertemu di sebuah cafe.
Tepat pukul 2 siang, Raka pun datang menemui Arven ditempat yang sudah dijanjikan.
Sebenarnya Raka sendiri tidak tau, kenapa Arven mengajak dirinya bertemu secara mendadak
" Maaf Ka, lama "
Ucap Raka begitu sampai
" Duduk "
Raka pun duduk dihadapan Arven.
" Saya kangen Ka Arven ngajak saya ketemu berdua kayak gini "
" Ya seneng sih karena siapa coba yang ga mau ngobrol sama CEO muda terkenal "
Ucap Raka dan Arven hanya tersenyum
" Pesen minum dulu aja, haus kan? " Ucap Arven
" Hmm, makasih ka Arven "
Sambil menunggu Raka memesan minuman, Arven pun mencoba berpikir mengenai responnya nanti.
Diam-diam Bayu dan Reza mengikuti Arven, mereka mencari tempat yang aman untuk memantau keduanya.
" Kalau mereka sampai ribut gimana Bay ? "
Tanya Reza dengan berbisik
" Kabur aja, pura pura ga kenal "
Jawab Bayu dan Reza mengangguk
Setelah minuman Raka datang, Arven pun memulai pada inti pertemuan mereka.
" Lo suka sama Alena ? " tanya Arven
Raka yang lagi minum pun tiba-tiba tersedak
" Kenapa ka Arven nanya itu tiba-tiba? "
" Jawab aja, jujur. Lo suka sama Alena ? "
Raka tersenyum dan mengangguk
" Iyah, saya suka sama Alena "
" Udah lama ? "
" Lumayan, kita juga emang Deket di kampus. Kalau ada beberapa kegiatan pasti saya dan Alena satu team "
Arven Diam
Namun Diamnya Arven mencoba untuk menahan dirinya agar tidak emosi.
" Ka Arven juga suka kan sama Alena ? "
" Kamu tau darimana saya suka sama Alena ? "
Raka tersenyum
" Ka, kita sama-sama laki-laki. Jadi saya bisa lihat tatapan Ka Arven ke Alena itu seperti apa "
Kemudian Raka mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
Raka mengeluarkan buku dan meletakkannya diatas meja.
" Buku itu, punya Alena kan ? "
Tanya Arven mengenali buku itu
" Iyah, waktu itu buku ini jatuh dan saya temui "
" Saya pikir ini buku catatan kuliah, tapi ternyata saya salah "
" Misi Membuat Arven Jatuh Cinta Selama 30 Hari "
Raka membacakan isi dari buku itu
" Disini tertulis kalau Alena harus membuat Ka Arven jatuh cinta kan selama 30 hari ? "
" Tapi Alena ga boleh jatuh cinta sama ka Arven "
" Disini juga Alena ngelakuin berbagai cara buat bikin Ka Arven jatuh cinta "
Arven masih tetap diam, mendengarkan Raka berbicara.
Tapi wajahnya bisa menggambarkan kalau ia tidak baik-baik saja.
Bahkan saat ini jari jari itu terus mengetuk meja.
" Terus misinya berhasil kan Ka ? "
tanya Raka
" Ya, berhasil. Saya jatuh cinta dengan Alena "
" Sama saya juga jatuh cinta dengan Alena, Ka Arven "
Raka menutup buku itu dan memberikan kepada Arven.
" Berarti selesai dong urusan Ka Arven dan Alena ? Jelas jelas Ka Arven bilang kalau Alena itu ga boleh jatuh cinta sama Ka Arven "
" Ya memang, karena awalnya saya takut. Tapi sekarang saya ga takut, dan saya ingin bersama dengan Alena "
Raka mengangguk sambil tersenyum kembali
" Ka Arven sakit kan ? Saya tau, beberapa kali saya liat Ka Arven dirumah sakit"
" Kak, saya bisa bahagiain Alena. "
" Ya walaupun emang saya itu ga se kaya, Ka Arven. Tapi saya yakin kalau saya bisa bikin Alena bahagia "
" Tapi kalau emang Alena tetap memilih Ka Arven, oke saya terima itu semua "
" Karena saya ga mau maksa Alena buat sama saya karena ke egoisan saya "
Arven tersenyum
" Maksud kamu ini, saya egois gitu ? "
" Saya ga bilang gitu ka, tapi kalau Ka Arven merasa maaf "
" Kamu ga tau apapun Raka, saya itu mencintai Alena. Saya justru lebih takut kehilangan Alena daripada kehilangan diri saya sendiri "
" Kalau gitu keputusan ada di Alena Ka, siapapun yang dia pilih kita harus siap "
" Oke, saya ga takut "
Arven merasa jika Raka adalah saingan terberat bagi dirinya, tapi Arven sendiri masih yakin kalau Alena akan menerima dirinya nanti.
" Alhamdulillah ga ada berantem Bay " ucap Reza
" Iyah, aman berarti." jawab Bayu.
....
Malam hari saat Alena hendak masuk kedalam kamar, ia mendengar suara ketukan pintu dari depan rumahnya.
Dengan segera Alena pun mencari tau siapa orang yang datang berkunjung malam ini.
" Alena "
Alena terkejut saat melihat Arven yang berdiri didepan rumahnya.
Alena mencoba kembali menutup pintunya, namun Arven lebih dulu menahannya.
" Ngapain sih kesini ? "
" Gue mau minta maaf Alena "
" Engga, gue ga mau maafin "
Alena handak kembali menutup, dan lagi-lagi Arven menahannya.
" Apasih ? Ga denger, gue bilang gue ga mau maafin "
" Alena gue tau gue salah Alena, gue mohon dengerin gue dulu "
Alena tak pernah mendengar Arven seperti ini, akhirnya ia pun mengalah.
" Yaudah ngomong sekarang "
" Bentar gue gugup, sumpah ngomong sama lo lebih gugup daripada gue presentasi buat dapetin proyek miliaran "
Alena hampir tertawa, tapi ia mencoba untuk menahannya.
Arven mengatur nafasnya agar lebih tenang.
" Jadi ngomong ga sih ? "
" Jadi Alena jadi, ini mau ngomong "
" Gue minta maaf soal dirumah sakit "
" Gue tau Alena gue salah "
" Emang " jawab Alena singkat
" Gue tau gue bodoh "
" Iyah betul " jawab Alena
" Dan gue.. "
" Apa ? " tanya Alena saat kalimat itu menggantung
" Dan gue lebih takut kehilangan lo, Alena "
" Gue lebih takut kehilangan Lo daripada penyakit gue ini "
Alena terdiam..
Namun jantungnya terus berdebar dengan kencang.
" Gue tau gue salah Alena, gue ini bodoh, gue bikin lo nangis yang diman harusnya gue bikin lo bahagia "
Arven tak bisa menahan dirinya, bahkan ia sendiri pun saat ini mulai meneteskan air mata.
Begitu juga dengan Alena yang tak bisa menahan air matanya
" Gue takut Alena, gue takut kehilangan lo "
" Dan gue baru sadar kalau selama ini, kalau lo itu udah jadi bagian penting di hidup gue "
Alena memukul lengan Arven
" Lo bodoh Arven tau ga "
" Lo bikin gue bingung "
" Lo kemarin nyuruh gue pergi dan sekarang lo nyuruh gue tetap sama lo. "
" Sebenernya mau lo tuh apa sih, hah ? "
Arven menggenggam kedua tangan Alena, dengan lembut ia mengusapnya.
" Gue pengen lo balik Alena "
" Gue ga perduli harus berapa kali gue minta maaf sama lo "
" Kasih gue kesempatan Alena, kesempatan buat perbaikin apa yang udah gue hancurin "
Arven mengusap air mata Alena dengan lembut..
" Buat sekarang gue belum bisa maafin lo, Arven "
" Gue paham Alena, gue ngerti "
" Tapi gue bakal usahain, tergantung dari usaha lo "
" Gue bakal berusaha Alena, karena gue ga mau lo pergi lagi "
Arven mulai tersenyum lega..
Tanpa Arven dan Alena tau, sejak tadi ada Bayu dan Reza yang merekam semuanya.
" Seru nih buat jadi bahan godain "
kata Bayu
" Akhirnya ga galau lagi dia "
" Dia yang galau kita yang pusing "
Ucap Reza dan Bayu mengangguk
Dan untuk pertama kalinya setelah pertengkaran itu, Alena pun tersenyum dan begitu juga dengan Arven