Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Ruang Sempit dan Denda yang Mengintai
Kyle terus menggiring Nadine masuk ke dalam mobil sport hitamnya dengan gerakan yang sangat cepat dan efisien.
Nadine yang masih merasa terganggu dengan tindakan heroik pria itu, segera duduk di kursi penumpang dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
(Dia benar-benar tidak memberikan saya kesempatan untuk menghabisi Heyden dengan tuntutan hukum yang sudah saya susun rapi di kepala.)
Kyle duduk di kursi pengemudi, lalu memutar kunci kontak dengan bunyi deru mesin yang sangat bertenaga.
Ia tidak langsung melajukan mobilnya, melainkan terdiam sejenak sembari menatap ke arah jalanan yang sibuk di depan lobi hotel.
"Anda benar-benar tidak tahu batasan risiko finansial, Nadine, pertemuan tadi bisa saja berakhir dengan kerugian reputasi yang tidak terhingga."
"Itu adalah urusan hukum pribadi saya dengan Heyden, dan saya rasa tidak ada pasal di dalam kontrak kita yang melarang saya untuk menyelesaikan masalah masa lalu."
Kyle menoleh ke arah Nadine, menatap wanita yang sedang keras kepala itu dengan tatapan kelabu yang kian tajam.
"Segala sesuatu yang menyangkut kehidupan Anda sekarang adalah aset Ernest Group, termasuk setiap langkah yang Anda ambil di luar rumah Menteng."
(Aset? Dia benar-benar menganggap saya hanyalah sebuah unit inventaris berjalan yang harus selalu berada di bawah pengawasannya.)
Nadine mendengus kesal, membuang muka ke arah jendela mobil agar tidak harus beradu tatapan dengan suaminya yang sangat menyebalkan itu.
Kyle menarik napas dalam-dalam, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat terukur di tengah keramaian lalu lintas Jakarta.
"Mulai sekarang, setiap aktivitas Anda di luar rumah harus dilaporkan kepada tim keamanan, atau saya akan menerapkan denda potong gaji sesuai dengan prosedur kedisiplinan perusahaan."
"Anda tidak bisa seenaknya menerapkan aturan baru tanpa ada revisi draf kontrak resmi, Tuan Ernest!"
"Saya bisa melakukan amandemen kapan pun jika itu menyangkut keamanan aset utama saya, dan Anda tahu saya punya kekuasaan penuh untuk itu."
Nadine terdiam, merasa sangat jengkel karena Kyle selalu bisa menemukan celah hukum yang bisa ia gunakan untuk mendominasi setiap situasi.
Mobil itu melaju dengan tenang, membawa mereka berdua kembali ke rumah Menteng dalam keheningan yang kaku dan penuh tekanan.
||||
Begitu tiba di rumah, Nadine langsung turun dari mobil dan melangkah cepat menuju kamarnya di sayap barat tanpa menoleh sedikit pun ke arah Kyle.
Ia merasa perlu mengunci diri di dalam ruangan untuk menenangkan pikiran yang sudah sangat kacau akibat pertemuan dengan Heyden tadi siang.
Namun, belum sempat ia menutup pintu kamarnya rapat-rapat, Kyle sudah menahan daun pintu kayu jati tersebut dengan satu tangannya yang kokoh.
"Kita perlu membahas prosedur keamanan tambahan untuk kontrak kita malam ini."
"Saya rasa sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas setelah Anda mengacaukan jadwal pertemuan saya siang tadi."
Kyle tidak memedulikan penolakan Nadine, pria itu terus melangkah masuk ke dalam kamar hingga membuat Nadine terpaksa mundur beberapa langkah ke belakang.
Ia menutup pintu kamar dengan bunyi klik yang nyaring, mengunci mereka berdua di dalam ruang privasi yang sangat sempit dan intim.
"Anda melanggar pasal privasi fisik lagi, Pak Kyle, dan saya pastikan ini akan saya hitung sebagai tambahan beban operasional yang sangat mahal."
Kyle tidak menjawab, melainkan terus mendekat hingga tubuh Nadine menempel pada permukaan dinding kamar yang dingin.
Ia menempatkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan kepala Nadine, mengunci pergerakan wanita itu dengan sangat sempurna.
(Apakah dia akan mencoba hal yang sama lagi seperti di dalam ruang kerja kemarin? Pria ini benar-benar tidak punya rasa hormat pada batas ruang pribadi.)
"Denda tidak akan pernah cukup untuk mengganti rasa cemas yang saya rasakan saat melihat Anda berhadapan dengan Heyden tanpa pengawalan."
Nadine mendongak, menatap mata kelabu Kyle yang tampak sangat intens dan penuh akan tuntutan yang sulit ia mengerti.
"Kecemasan adalah emosi yang tidak produktif, Pak Kyle, jadi silakan buang jauh-jauh jika Anda tidak ingin mengalami penurunan efisiensi kerja."
Kyle tersenyum culas, menyadari bahwa Nadine benar-benar sedang berusaha keras untuk menyembunyikan keterkejutan di balik wajah datarnya.