"siapa namamu?"
xavier menatap lekat bocah 5 tahun itu yang melotot marah kepadanya, bocah laki-laki dengan rambut gondrong ikal sebahu, memegang sebuah rubrik di tangannya.
mata bocah itu mengingatkan xavier pada wanita itu, wanita sialan yang pergi begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tiga puluh empat
"kamu menutupi sesuatu dariku, di?"
Diandra kembali menggeleng, " aku hanya takut!"
"takut?, takut apa?" alis xavier tertaut, sorot matanya heran.
"takut kalau ternyata menjadi istrimu,hanya sebuah mimpi."
"ada apa sebenarnya di?" xavier turun dari kursinya, mencangkung di depan diandra yang memalingkan wajahnya sendu.
"kemaren kamu masih riang, hari ini kamu aneh. Ada apa di?, apakah oma kemari?"
Diandra masih berusaha menggeleng, namun xavier menangkup pipinya cepat.
"katakan padaku sayang!, ada apa?"
Diandra terdiam, kepalanya ingin menunduk, namun tangan xavier menahannya.
"kalau kamu harus menikahi tunanganmu itu, aku mengikhlaskannya, xavi!"
Kening xavier berkerut, sorot mata pria itu jelas semakin terlihat bingung.
"aku tak mungkin egois merebutmu dari grup pratama..."
"tadi oma kemari yah?" tanya xavier lagi, kali ini ia sangat yakin kalau neneknya pasti sudah bicara pada diandra.
"sayang, kan aku sudah bilang padamu, hanya dengarkan aku!. Hanya aku"
Diandra menggeleng lesu," aku tahu sangat tidak mungkin bagiku menjadi istrimu—"
"diandra..!" sambar xavier tak sabar, "jangan ngomong begitu, aku nggak suka mendengarnya."
Mata diandra menatap sendu, sudut matanya sudah basah.
"aku mencintaimu sayang, dan aku akan memastikan kalau kamu akan jadi satu-satunya dalam hidupku..., jangan begini sayang, pliss. Aku butuh dukunganmu"
Diandra terhenyak, tersadar. Benar ini bukan saja perjuangan xavier, bukankah pria ini sedang memperjuangkan dirinya dan killian. Mengapa diandra jadi apatis seperti ini, benar kata xavier apapun yang orang lain katakan jangan sampai membuat dia down.
Yang harus diandra dengar dan yakini bahwa xavier mencintai dirinya, bukankah seharusnya itu sudah cukup.
Sorot mata diandra berubah, terlihat semangat dan berpendar indah. Senyumnya merekah indah, memberikan rasa tenang dan hangat di hati xavier yang ikut tersenyum senang.
"kamu percaya padaku kan?"
Diandra mengangguk,
"kamu percaya cintaku kan?"
Lagi-lagi diandra mengangguk, kali ini anggukan itu terlihat mantap.
"kamu tahu, sayang" usap xavier lembut di pipi diandra, hembusan nafas pria itu terasa hangat di kulit pipinya.
"jika oma bersikeras dengan niatnya, aku akan membawamu lari dari sini. Kita bisa memulai hidup baru di tempat lain, tanpa seorang pun yang mengenal kita"
Diandra tersenyum, rasa hangat menjalari hatinya. Ia tahu, xavier serius dengan kata-katanya.
Tanpa sadar jemari diandra mengelus pipi xavier lembut. Pria itu sedikit tersentak, namun ia membiarkan jemari lembut itu, dan menatap penuh kasih.
Diandra menelusuri wajah eksotis itu dengan ujung jarinya, saat menyentuh bibir xavier, diandra tersentak dan reflek hendak menarik tangannya.
Namun dengan cepat xavier menahannya, mengecup lembut jemari itu. Tubuh diandra bergetar, seketika keindahan serasa menyelimutinya.
Mendadak suasana terasa hening, diandra membiarkan kecupan indah di jemarinya itu menguasai, sejujurnya ia mengharapkan lebih.
Tiba-tiba bisikan xavier, membuatnya tersadar dan merona malu. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus, diandra menundukkan kepalanya.
Bisikan itu kembali terdengar, namun kini wajah pria di hadapannya itu berkedip menggodanya.
"sabar sayang, ada killian yang sedang melihat kita"
Diandra melengos malu, malu karena xavier tahu kalau dia merindukan ciumannya.
Xavier duduk kembali ke atas kursi tanpa melepaskan jemari diandra, suaranya masih berbisik.
"aku juga sudah tidak sabar, sayang. Memelukmu erat dalam tidurku!"
Diandra semakin malu, ia berusaha menarik jemarinya, namun xavier malah meremasnya hangat dan kembali mengecup jemarinya.
<<<<<<<<<<<>>>>>>>>>>
"aldine, apakah kamu benar-benar ingin menikah denganku?" tanya xavier siang itu, saat geraldine mengunjunginya ke kantor.
Xavier tetap duduk di meja kerjanya, menatap wanita itu yang duduk di sofa, mengangguk mantap.
Terdengar hembusan nafas xavier berat, sudah 3 hari ini sibuk membujuk wanita ini dengan berbagai cara, namun geraldine bersikeras hanya ingin menikah.
"aku tak bisa menikah denganmu, aldine. Aku mencintai wanita lain"
"tidak masalah" geleng geraldine santai.
"bukankah hal yang lumrah seorang pria kaya sepertimu memiliki wanita simpanan, aku nggak masalah xavi"
Xavier berdecak kesal, seenaknya saja wanita ini mengatakan diandra adalah simpanan.
"kamu sendiri tahu, xavi. Menikahiku adalah adalah satu cara menyelamatkan perusahaanmu"
"kamu mengancamku?"
"tidak.." geleng geraldine cepat. Mengamati wajah xavier yang mulai terlihat tak suka.
"aku hanya ingin menyadarkanmu, kalau aku penting untuk hidupmu"
"aldine..!"
"xavi..!" sambar geraldine lebih cepat, " kamu punya seorang putra, apakah kamu tak ingin mewariskan kejayaan padanya?"
"arghhhh" erang xavier kesal, benar-benar kehabisan akal menghadapi geraldine.
Sungguh xavier tak pernah menyangka kalau ternyata geraldine sama sekali tidak seperti yang ia duga selama ini.
Wanita itu terlalu ambisius, tak menerima penolakan sama sekali.
"ingat xavi, rapat pemilik saham 2 minggu lagi, apakah kamu sudah siap kehilangan semuanya?"
"kau gila.." seru xavier kesal.
"hhhhhh" terdengar dengusan dari geraldine yang tersenyum sinis.
"aku akan melakukan apapun agar bisa menikah denganmu."
Xavier berdiri di depan kaca lebar dinding kantornya, membelakangi geraldine.
"kurang apa lagi aku padamu?, aku tetap mengijinkan kamu berhubungan dengan wanita itu!"
Xavier tetap diam, pikirannya mengembara. Kerinduannya pada diandra dan killian sudah sangat membuncah, namun xavier menahannya.
Sudah 3 hari ini xavier tak mengunjungi mereka sama sekali, ia malu. Hanya mampu menjanjikan hal muluk yang tak bisa ia penuhi.
Sebenarnya xavier tak takut sama sekali kehilangan itu semua, tapi bagaimana dengan omanya.
Seandainya saja neneknya itu mau hidup susah bersamanya, xavier akan nekad meninggalkan segalanya.
Saham milik mereka masih merupakan saham terbesar di grup yang dibangun opanya itu, namun xavier juga tahu, itu bukan jaminan kalau posisinya sebagai ceo akan aman-aman saja.
Xavier juga tidak keberatan, lengser dari jabatan itu. Baginya yang terpenting saat ini adalah diandra dan killian.
"xavi..."
Pikiran xavier masih sangat berisik, sampai ia tak mendengar panggilan geraldine.
"xavi..."
Tepukan wanita itu di bahu menyadarkannya.
"kalau kamu mau menikahiku, semua yang kamu miliki saat ini akan tetap menjadi milikmu, dan akan menjadi milik putramu!"
Xavier hanya diam, mengamati geraldine yang kembali bicara.
"aku akan mengijinkanmu tetap mencintai wanita itu, bagaimana?"
"hĥhhhhhh" desah nafas xavier kembali terdengar berat.
"tapi kalau kamu menolaknya xavi, aku pastikan kamu tidak saja kehilangan posisimu, tapi kamu akan kehilangan wanita itu selamanya!"
"apa maksudmu?" bentak xavier marah, terkejut rasanya mendengar ucapan geraldine barusan.
"kamu tahukan aku bisa melakukan apa saja yang kumau?" geraldine tersenyum sinis menyeringai, xavier sampai meremang melihat seringaian geraldine, sorot mata wanita itu menunjukkan keseriusan.
"aku tak pernah main-main, xavi. Kamu lihat sendiri apa yang sudah kulakukan karena kamu memutuskan pertunangan kita!"
"aldine..." seru xavier tak percaya, menatap geraldine tanpa kedipan.
Wanita itu hanya tersenyum, masih dengan seringaian kejam miliknya tadi.
Kini xavier sadar, dia berhadapan dengan wanita gila tak berperasaan, dan yang paling disesalkannya saat ini, mengapa dulu ia melamar wanita itu tanpa berpikir panjang.
Bersambung...
🤔🤔🤔
jgn egois oma.... dlu dan skrg sdh brbeda....
🙄🙄🙄🙄🙄
klopun diandra msih mncintaimu.... ada elang.... laki2 yg tak prnah mnempatknnya di posisi yg kedua...
saling cinta tak mnjajikn diandra mnjadi prioritasmu bukan... km tetap lbh memilih perusahaan jga posisimu...
& untuk oma.... di msa akn datang... jgn dech datang memohon diandra untuk kmbali dgn xavi.... saat nnti xavi benar" trpuruk & hncur...
jdilah oma yg tau diri... krna tak smua yg oma mau... hrus sll trwujud🙄🙄🙄
dan ingat km yg memilih mnikahi geraldine dan km tau artinya km khilangan diandra....
untuk km geraldine.... tak usah km seniat itu mnjatuhkn diandra.... km jga akn slmnya khilangan xavi.... krna nyatanya km tukang selingkuh saat msih mnjadi istri xavi....
setidknya elang dri awal sll mngutamakn diandra....
🤣🤣
klo dia mncintaimu... dia pasti lbh mngutamaknmu... & tak akn mnukarmu & mnmpatknmu dgn posisi yg kedua....
tak ada salahnya km mnata hidup jga hatimu di..... bukalah hatimu untuk org yg sll mngutamknmu... bukan yg sll mnnpatknmu dposisi kedua...
trkadang prlu untuk tak peduli dgn org yg tak mau mngertimu....
biar mereka yg sll menekan diandra untuk sll mnngrti & sll diposisikn ditmpat yg sll harus mngalah.... mnyesal krna waktu yg disia"kn... tak kn bisa mmbuat diandra kmbali....
😅😅
nyata2 km lbh memilih mnjadikn diandra mnjadi yg kedua🙄🙄
cinta macam ap yg km berikan xavi??