Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.
Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.
Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Pengorbanan dan Kepanikan
BRAAAKKK!
Pintu jati kamar Nyonya Besar Laksmana dihantam terbuka hingga membentur dinding dengan keras. Radit memimpin di depan dengan napas memburu, diikuti Vina dan Ica yang wajahnya sudah basah oleh keringat dingin.
Di dalam kamar, Nyonya Besar yang sedang duduk bersandar di ranjang langsung tersentak. Sendok perak berisi masakan spesial buatan Vina sudah menempel di bibirnya, siap untuk dituangkan ke dalam mulut. Di samping ranjang, Bi Asih berdiri mematung dengan wajah syok karena kedatangan mereka yang mendadak.
"IBU! JANGAN DIMAKAN! BUANG!" teriak Radit dengan suara menggelegar penuh kepanikan.
Dengan gerakan secepat kilat, Radit melompat dan menyambar mangkuk keramik di tangan ibunya.
PRANGGG!
Mangkuk itu terlepas, jatuh menghantam lantai marmer dan pecah berkeping-keping. Kuah dan isinya yang masih mengepulkan uap hangat langsung berhamburan mengotori lantai.
"Radit?! Apa-apaan kamu ini!" jerit Nyonya Besar, beralih menatap putranya dengan napas terengah-engah dan mata melotot marah. Dadanya kembang kempis karena terkejut. "Kurang ajar sekali kamu! Datang-datang mendobrak pintu dan menghancurkan makananku! Kamu masih mau mengamuk karena perempuan kampung ini, hah?!"
"Ibu, dengarkan Radit dulu! Makanan itu—"
"Cukup, Radit! Ibu tidak mau dengar!" potong Nyonya Besar dengan suara meninggi, tangannya menunjuk lurus ke arah Vina yang berdiri gemetar. "Kau lihat, Vina?! Ini kan yang kau mau? Kau berhasil menghasut putraku sampai dia berani bertindak sekasar ini pada ibu kandungnya sendiri! Kau puas?!"
"Tidak, Bu... bukan begitu," bisik Vina dengan suara parau dan bergetar. Air matanya kembali menetes.
Melihat ibu mertuanya yang begitu histeris dan menolak percaya pada kata-kata Radit, Vina tahu penjelasan lisan tidak akan pernah cukup. Gengsi dan kebencian Nyonya Besar sudah menutup rapat pintu kebenaran. Vina menarik napas dalam-dalam, mengambil keputusan nekat demi membuktikan kebenaran dan melindungi nama baiknya.
Vina melangkah maju, lalu menjatuhkan dirinya berlutut di atas lantai, tepat di depan pecahan mangkuk dan genangan makanan yang masih panas.
"Vina! Apa yang mau kamu lakukan?!" tegur Radit panik melihat tindakan istrinya.
Vina tidak menjawab. Jari-jari lentiknya bergerak menyentuh sisa kuah masakan yang tergenang di pecahan mangkuk, lalu dengan gerakan nekat dan cepat, ia memasukkan jari tersebut ke dalam mulutnya dan mencicipi cairan itu.
"VINA! JANGAN!" teriak Radit histeris, melangkah maju untuk mencengkeram tangan Vina, namun semuanya sudah terlambat. Vina sudah menelannya.
Aula kamar itu mendadak hening seketika. Nyonya Besar dan Bi Asih terpaku menatap kenekatan Vina. Selama beberapa detik pertama, tidak ada hal aneh yang terjadi. Vina masih berlutut tegak, menatap kosong ke arah lantai.
"Kau... kau sengaja berakting teatrikal seperti ini untuk menarik simpati, Vina?" cibir Nyonya Besar, suaranya agak bergetar walau ia mencoba tetap terdengar ketus. "Hanya karena setetes kuah—"
Sebelum Nyonya Besar menyelesaikan kalimatnya, tubuh Vina mendadak menegang hebat. Kedua matanya membelalak lebar, memancarkan rasa sakit yang teramat sangat. Tangan kanan Vina langsung bergerak mencengkeram dadanya sendiri dengan kuat, meremas seragam pelayan yang ia kenakan.
"Ugh..." Vina melenguh lirih, napasnya mendadak tercekat dan memburu berantakan.
"Vina?! Vina, tatap aku! Kamu kenapa?!" Radit langsung berlutut di depan istrinya, memegangi kedua bahu Vina dengan tangan yang gemetar hebat.
Vina mencoba membuka mulutnya untuk bersuara, namun alih-alih kata-kata yang keluar, cairan merah pekat berwarna darah segar mendadak mengalir deras dari sela-sela bibirnya, menetes melewati dagu dan mengotori lantai marmer putih.
"Ya Tuhan! Nyonya Vina!" jerit Ica dan Bi Asih bersamaan dengan wajah horor.
Nyonya Besar Laksmana seketika membeku di atas ranjangnya. Tangannya yang bebas langsung membekap mulutnya sendiri, matanya membelalak lebar dan dipenuhi rasa syok dan ketakutan yang luar biasa.
Masakan itu... benar-benar beracun dan mematikan. Jika bukan karena Radit yang menepisnya tadi, maka darah yang keluar itu adalah darahnya sendiri. Ada sekelebat rasa khawatir dan bersalah yang amat besar mendadak menyergap hati sang ibu mertua saat melihat tubuh menantunya bergetar menahan racun.
Vina yang perlahan mulai kehilangan kesadaran, memaksakan kepalanya mendongak. Ia menatap wajah panik Radit yang kini sudah dipenuhi air mata. Di ambang batas kesadarannya, Vina menarik sudut bibirnya, mengulas sebuah senyuman tipis dan sangat tulus untuk suaminya—seolah ingin mengatakan bahwa ia berhasil membuktikan dirinya tidak bersalah.
Kedua mata Vina terpejam rapat dan tubuh ringkihnya langsung lunglai, jatuh kehilangan kesadaran total. Beruntung, dengan sigap Radit langsung menangkap tubuh Vina ke dalam pelukan dada tegapnya sebelum kepala istrinya menghantam lantai.
"Vina!!! Bangun, Vina!!! Jangan pejamkan matamu, aku mohon!" raung Radit frustrasi, menepuk-nepuk pipi Vina yang dalam sekejap berubah menjadi sedingin es dan pucat pasi.
Radit tidak membuang waktu lagi. Ia menyusupkan kedua tangannya ke bawah tubuh Vina dan mengangkat istrinya dalam gendongan bridal style. Dengan langkah seribu dan napas yang memburu penuh kepanikan, Radit berlari keluar kamar dan berteriak kencang sepanjang koridor tangga.
"SIAPKAN JIP MILITER SEKARANG! CEPAAATT!"
Melihat kepergian Radit dan kondisi Vina yang sekarat, atmosfer di kamar Nyonya Besar berubah menjadi sangat mencekam dan dingin. Rasa bersalah, syok, dan amarah yang memuncak bercampur aduk di dada sang Nyonya Besar Laksmana. Gengsinya runtuh berganti kemarahan seorang penguasa mansion yang murka karena nyawanya dan menantunya diancam di rumah sendiri.
Nyonya Besar perlahan menurunkan kakinya dari ranjang, berdiri dengan tubuh yang bergetar hebat dan tatapan mata yang berubah menjadi sangat tajam dan mematikan bagai singa betina yang diganggu.
"Asih..." panggil Nyonya Besar dengan suara rendah, dingin, namun sarat akan penekanan yang mengerikan.
Bi Asih yang masih gemetar langsung menunduk dalam. "I-Iya, Nyonya Besar?"
"Kumpulkan seluruh pelayan yang bekerja di mansion ini sekarang juga di aula bawah! Tanpa terkecuali! Kunci semua gerbang dan pintu keluar, jangan biarkan satu tikus pun lolos dari rumah ini!" perintah Nyonya Besar dengan suara yang menggelegar dipenuhi amarah. "Aku sendiri yang akan menguliti dan mencari tahu siapa dalang biadab di balik semua ini!"
Sementara di luar halaman mansion, suara raungan mesin jip militer Radit terdengar berderu sangat keras dan melesat membelah jalanan kota dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit, meninggalkan misteri besar dan badai kemarahan yang siap menghancurkan siapa saja di dalam mansion Laksmana.