Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.
Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.
Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.
Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.
Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.
Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.
Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.
Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?
Takhtanya...
Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?
up rutin. 06:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raja yang tidak di percaya
Wajah Leonard mengeras.
Untuk pertama kali dalam hidupnya...
Seorang Raja Lunaventia sedang ditertawakan habis-habisan.
Dan yang lebih menyakitkan lagi...
Yang menertawakannya bukan para musuh kerajaan.
Bukan para bangsawan.
Bukan pula para pemberontak.
Melainkan seorang gadis berisik, seorang bocah sembilan tahun, dan satu keluarga aneh yang bahkan tidak dikenalnya.
"Kalian..."
Suara Leonard terdengar rendah.
Namun sebelum ia sempat melanjutkan kalimatnya, Azura kembali memotong.
"Udah deh."
Ia berusaha menghentikan tawanya.
Meski sudut bibirnya masih terus bergerak.
"Lo nggak usah ngarang."
Azura menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Emang ODGJ kayaknya."
Leonard langsung menatap gadis itu.
Tatapan tajam yang biasanya mampu membuat para prajurit menundukkan kepala.
Sayangnya...
Azura sama sekali tidak terpengaruh.
Bahkan gadis itu membalas tatapannya tanpa rasa takut sedikit pun.
Situasi tersebut membuat Leonard semakin heran.
Siapa sebenarnya gadis ini?
Mengapa tatapannya terasa berbeda?
Mengapa dirinya selalu gagal membuat gadis itu gentar?
Sementara itu, Jody mengembuskan napas panjang.
"Begini, Anak Muda."
Nada suaranya mulai terdengar lebih sabar.
"Siapa nama kamu yang sebenarnya?"
Leonard mengerutkan kening.
"Aku sudah mengatakannya."
"Yang benar."
"Sudah benar."
"Yang asli."
"Itu nama asliku."
Jody menatap Monica.
Monica menatap Jody.
Keduanya sama-sama bingung.
"Dan aku berasal dari Lunaventia."
Tambah Leonard.
Kali ini tidak ada yang tertawa.
Bukan karena percaya.
Melainkan karena mulai lelah.
Mereka sudah menanyakan hal yang sama berkali-kali dan tetap mendapatkan jawaban yang sama.
"Ya udah."
Azura mengangkat kedua tangannya menyerah.
"Oke."
Ia berdiri dari sofa.
Matanya terasa berat.
Tubuhnya pegal.
Dan kepalanya mulai pening karena kurang tidur.
"Gue nyerah."
Semua menoleh kepadanya.
Azura menunjuk Leonard.
"Lo mau jadi Raja Lunaventia, Raja Mars, Raja Jupiter, terserah."
Kemudian ia menguap lebar.
"Tapi sekarang gue ngantuk."
Leonard memperhatikan gadis itu.
Tatapan mereka kembali bertemu.
"Lo nggak usah bercanda lagi."
Lanjut Azura.
"Ini udah malam."
Ia menunjuk jam dinding.
"Gue capek."
Lalu menunjuk dirinya sendiri.
"Gue ngantuk."
Kemudian menunjuk Leonard.
"Dan gue pengen lo jawab yang bener."
Leonard membuka mulut.
"Aku Leonard—"
"Dan aku dari Kerajaan Lunanenia."
Potong Azura cepat.
Menirukan suaranya dengan nada asal-asalan.
"Lunaventia"
Koreksi Leonard tegas.
"Lunanenia."
"Lunaventia."
"Oke."
"Lunaventia."
"Iya."
"Lunaventia."
"Iya, iya."
"Lunaventia."
Azura langsung memejamkan mata.
Final.
Ia benar-benar menyerah.
Tidak ada harapan.
Pria ini sudah terlalu aneh untuk dipahami.
"Papi..."
Rengeknya sambil berjalan mendekati sang ayah.
"Aku mau tidur."
Jody mengusap kepala putrinya dengan lembut.
"Ya sudah."
"Besok juga sekolah."
"Iya."
"Aku capek."
"Iya."
"Aku ngantuk."
"Iya."
Azura langsung tersenyum puas.
Ia memeluk lengan Jody sebentar sebelum melepaskannya.
Sementara itu, Excel yang sedari tadi menguap tanpa henti mulai menggosok matanya.
Kelopak matanya sudah memerah.
"Papi..."
"Hm?"
"Excel juga ngantuk."
"Nah, makanya."
Jody tersenyum.
"Kalian berdua tidur sekarang."
Excel mengangguk patuh.
Lalu berdiri.
Sebelum pergi, bocah itu mencium pipi ayahnya.
"Good night, Pih."
Muach.
Jody terkekeh pelan.
"Good night."
Excel kemudian menoleh ke arah Leonard.
Melambaikan tangan kecilnya.
"Good night, Om Raja."
Leonard mengangkat sebelah alis.
Om Raja?
Panggilan macam apa itu?
Namun sebelum sempat bertanya, Excel sudah berlari mengejar Azura yang lebih dulu menaiki tangga.
Leonard memperhatikan mereka.
Entah mengapa.
Dadanya terasa hangat melihat interaksi keluarga itu.
Sangat berbeda dengan kehidupan istana yang selalu dipenuhi formalitas.
Tapi perasaan itu hanya berlangsung sesaat.
Karena kenyataan kembali menghantamnya.
Ia masih tidak tahu berada di mana.
Dan mengapa bisa sampai di sini.
---
Jody mengembuskan napas panjang.
Malam sudah terlalu larut.
Dan dirinya harus bekerja besok pagi.
"Dengar, Anak Muda."
Leonard menoleh.
"Besok kita lanjutkan pembicaraan ini."
Jody berdiri.
"Sekarang kamu istirahat dulu."
Monica langsung protes.
"Sebentar!"
Semua menoleh.
Wanita itu menunjuk Leonard.
"Kok Papi ngizinin orang asing tidur di rumah kita sih?"
"Nggak apa-apa."
"Gimana kalau dia pencuri?"
"Nggak akan."
"Gimana kalau dia penjahat?"
"Nggak akan."
"Gimana kalau dia kabur bawa TV?"
Jody terdiam.
Lalu menoleh ke arah televisi besar di ruang tamu.
"..."
Monica menyilangkan tangan.
"Nah kan."
Jody tertawa kecil.
"Tenang aja."
Kemudian ia merangkul pundak istrinya.
"Kita lihat besok."
Monica masih terlihat tidak puas.
Namun akhirnya mengalah.
Sebelum pergi, ia menatap Leonard dengan mata menyipit.
Tatapan yang cukup menyeramkan.
"Awas kalau ada barang aku yang hilang."
Leonard mengernyit.
"Aku cari kamu sampai ke akhirat."
Setelah mengucapkan ancaman tersebut, Monica langsung berbalik dan berjalan menuju kamarnya.
Leonard hanya bisa memandanginya dengan bingung.
Wanita itu benar-benar aneh.
Sangat aneh.
---
"Farah."
Panggil Jody.
"Siapkan kamar tamu untuk dia."
Farah langsung mengangguk.
"Nggeh, Tuan."
Jody menepuk pundak Leonard pelan.
"Istirahatlah."
Setelah itu, ia ikut pergi meninggalkan ruang tamu.
Tak lama kemudian.
Rumah kembali sunyi.
Kini hanya tersisa Farah dan Leonard.
"Mari."
Ucap Farah sambil tersenyum ramah.
Leonard menatap wanita muda itu.
Lalu menatap sekeliling rumah sekali lagi.
Tempat ini masih terasa asing.
Orang-orangnya juga asing.
Namun tubuhnya terlalu lelah untuk terus memikirkan semuanya malam ini.
Akhirnya ia mengikuti langkah Farah menuju kamar tamu.
Sepanjang perjalanan, matanya terus mengamati segala sesuatu.
Lampu yang menyala tanpa api.
Dinding yang begitu rapi.
Benda-benda aneh yang belum pernah dilihatnya.
Semakin lama.
Semakin banyak pertanyaan bermunculan di kepalanya.
Sesampainya di kamar tamu, Farah membuka pintu.
"Nah, Tuan tidur di sini."
Leonard masuk perlahan.
Kamar itu terasa asing.
Namun cukup nyaman.
"Kalau ada apa-apa, panggil saya saja."
Leonard mengangguk singkat.
Farah pun meninggalkan ruangan.
Menyisakan dirinya seorang diri.
Hening.
Untuk pertama kalinya malam itu.
Benar-benar hening.
Leonard berjalan mendekati jendela.
Memandang langit malam di luar.
Bulan masih bersinar.
Namun bukan pemandangan Lunaventia yang ia kenal.
Tidak ada istananya.
Tidak ada para pengawal.
Tidak ada kerajaannya.
Hanya dunia asing yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Tangannya mengepal perlahan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Gumamnya.
Tak ada jawaban.
Hanya suara angin malam yang menemani.
Leonard memejamkan mata.
Lalu mengembuskan napas panjang.
'besok...'
Tatapannya kembali terbuka.
Kali ini jauh lebih tajam.
'Aku akan menemukan jawabannya'
Bersambung...