NovelToon NovelToon
Gagal Miskin Karena Sistem

Gagal Miskin Karena Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Bagi orang lain, mendapat warisan adalah jalur cepat menjadi kaya. Namun, berbeda dengan Budiman. Warisan yang ia dapat, malah membuat hidupnya nelangsa karena mendapat warisan toko kelontong yang mau bangkrut karena hutang warga yang tak kunjung dibayar.

Lelah menagih dan kesal setiap hari ditipu janji manis, Budiman justru berharap warung itu bangkrut saja. Ia ingin menutupnya dan bekerja sebagai karyawan biasa, hidup tanpa pusing memikirkan hutang orang lain.

Namun, takdir berkata lain.

Saat ia benar-benar mencoba menghancurkan warung peninggalan orang tuanya dengan menjual murah semua, menolak pembeli, bahkan membiarkan stok habis, sebuah suara aneh tiba-tiba muncul di kepalanya:

[ Sistem Kompensasi Finansial 'Makin Bangkrut Makin Kaya' Resmi Diaktifkan! ]



Bagaimanakah kisah Budiman yang berusaha bangkrut tetapi tak kunjung sukses? Ikuti alur cerita ini yah ....

#kehidupandidesa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Taktik "Bakar Uang" yang Baru

Budiman mengambil ponselnya, menatap pesan WhatsApp dari Vilmey, kepalanya terus berhitung dengan sangat cepat.

‘Kolaborasi bisnis?’ batin Budiman.

‘Jadi, gadis Pecinan ini mengira awak jenius? Ooo, kayaknya harus awak terima. Hubungan bisnis dengan konglomerat adalah cara paling cepat untuk merugi kalau proposal proyek yang kita ajukan dianggap tak masuk akal.’

Budiman langsung mengetik balasan dengan cepat.

[Budiman]:

[ Tawaran yang menarik, Saudari Vilmey. Kebetulan saya ada waktu luang malam ini. Mari kita bicarakan kolaborasi seperti apa yang akan Saudari tawarkan. ]

Hanya butuh waktu tiga menit, Vilmey sampai mengirim pin lokasi. Restoran masakan oriental legendaris di kawasan Pondok, kawasan Pecinan di Kota Padang.

Budiman langsung berdiri, menyambar jaketnya, dan memanggil Anto serta Elimar yang baru saja selesai menghitung stok hio impor untuk Cabang Dua.

"Anto, Elimar, ikut awak. Malam ini kita rapat bisnis dengan taruhan harga diri," perintah Budiman mantap.

"Rapat sama siapa lagi, Da? Uda, kami tu masih lelah habis dari Sitinjau terus disuruh pula cari mobil rongsokan?" Anto sambil mengucek matanya yang sepet.

"Nah, sekarang harus kemana lagi?" tambahnya memelas.

Budiman menatap tajam pada jamet naik jabatan itu. "Ingat! Uda sudah membayar mahal kalian. Jadi, kalian harus menunjukkan loyalitas sebagai seorang manajer dan asistennya! Kalau tidak, nanti Uda cari yang lain saja menggantikan kalian, gimana?" Sebelah alis Budiman naik, dan kedua tangannya berpangku di dada.

Mendengar ancaman sang bos, kedua pengantin baru yang belum mengecap indahnya malam pertama, terlihat cemas dan menggelengkan kepala.

"Jangan, Da ... Jangan. Baik lah, kami akan ikut Uda," ucap Imar cepat memberi kode pada suaminya, membuat Anto juga mengangguk cepat.

"Nah, sekarang kita harus menemui nona muda yang memimpin demo tadi siang. Dan ingat, begitu kita sampai di sana, tugas kalian berdua adalah memesan menu yang paling mahal."

"Kali ini Uda perintahkan kalian untuk seboros mungkin, dan kalau Uda menawarkan ide proyek yang kelihatan bodoh ... kalian harus mendukungnya dengan sepenuh hati! Paham?"

Anto dan Elimar saling berpandangan bingung, namun setelah diingatkan tentang loyalitas mereka (tapi lebih tepatnya bayangan makanan gratis yang mewah), keduanya langsung mengangguk antara semangat dan tak semangat.

"Siap, Uda!"

Satu jam kemudian, dengan menggunakan salah satu moda rongsok yang ia beli tadi, menembus jalanan sempit kabupaten, melewati gerbang batas kota, memasuki wilayah pantai Kota Padang, mereka sudah duduk di dalam ruangan privat restoran tersebut.

Saat tadi memasuki pelataran parkir yang berisi kendaraan mewah, semua mata pengunjung terbelalak melihat pikap retro yang berbanding terbalik dengan yang ada di sana. Elimar dan Anto mencoba menutupi wajah mereka karena merasa malu. Berbeda dengan Budiman yang tetap mengangkat dagu, berjalan membusungkan dada, bersemangat menghadapi kebangkrutan yang hakiki.

Vilmey ternyata sudah menunggu di sana, penampilannya malam ini sedikit lebih kasual namun tetap memancarkan aura dingin seorang bos yang telah berpengalaman dalam menghadapi segala masalah. Di atas meja, sudah tersaji beberapa menu pembuka yang aromanya sangat menggugah selera.

"Saudara Budiman ternyata sangat tepat waktu meski jarak tempuh yang dilalui cukup jauh. Saya suka pria yang menghargai waktu," ucap Vilmey datar, matanya menatap Budiman yang langsung duduk di hadapannya tanpa canggung sedikit pun.

"Ambo tidak suka menunda urusan keuangan, Saudari Vilmey," balas Budiman, sengaja memasang wajah angkuh bin sok tahu.

"Jadi, kita langsung saja ke intinya. Apa kolaborasi yang Anda inginkan dari kedai kami Budiman Mart?"

Vilmey menuangkan teh hangat ke cangkir Budiman dengan gerakan yang sangat anggun.

"Setelah melihat bagaimana kamu mengonversi konflik makam menjadi pusat grosir hio, dan bagaimana kamu mendadak memviralkan armada pikap rongsokan menjadi strategi marketing skena yang genius ... saya tahu kamu bukan pengusaha kelas teri yang hanya sekedar mencari untung harian."

Vilmey memajukan badannya sedikit, menatap tajam ke dalam mata Budiman.

"Keluarga kami mempunyai aset digital berupa aplikasi marketplace yang mengusung kearifan lokal yang kami beri nama NagariShop."

"Namun, tak saya pungkiri aplikasi ini hampir mati karena kalah saing dengan raksasa nasional maupun multinasional yang laris di pasaran."

"Jujur, kami sedang membutuhkan investor gila yang berani menyuntikkan dana segar untuk melakukan perombakan total untuk pengembangan start up yang kami miliki."

Sejenak, Vilmey menatap lurus tepat ke kedua manik mata pria yang hanya berpenampilan sederhana ini. Dengan berani Budiman hanya memakai kaus putih lusuh dan sendal jepit dalam acara makan bisnis ini. Namun, Vilmey menganggap, seorang Budiman adalah pria kaya sejati yang tak butuh validasi. Meski tadi ia sadar, banyak mata yang meremehkan kedatangannya.

"Bagaimana Saudara Budiman? Apa kamu bersedia?"

Mendengar kata "aplikasi hampir mati" dan "kalah saing", jantung Budiman langsung berdegup kencang karena gembira.

'Ini dia! Dunia digital! Dunia tempat bakar uang paling kejam di abad ini! Tiga miliar awak kalau dimasukkan ke sana pasti bakal menguap jadi debu dalam semalam tanpa sisa fisik!'

Budiman menahan diri agar tidak tertawa terbahak-bahak di depan Vilmey. Dia berdeham, mencoba menutupi kelicikannya dengan wajah serius.

"Tiga miliar rupiah pas. Ambo pasang taruhan seluruh sisa kas ekspansi kemarin untuk aplikasi mati itu," ucap Budiman tegas, membuat Anto yang sedang mengunyah bebek panggang langsung tersedak.

Vilmey sedikit terkejut dengan keputusan instan tersebut.

"Tiga miliar? Langsung gitu aja? Tanpa mempertanyakan kinerja kami dan mengecek laporan keuangan kami?"

"Tidak perlu!" potong Budiman sombong, sambil mengangkat dagunya.

"Tapi Ambo punya satu syarat yang harus Saudari Vilmey laksanakan."

"Apa itu?" tanya Vilmey penasaran, sifat sedingin esnya mulai terusik oleh keberanian pria sederhana yang ada di hadapannya.

"Aplikasi NagariShop itu tidak boleh diperbaiki sistemnya. Biarkan error, dan kita gunakan seluruh tiga miliar itu hanya untuk membiayai satu hal yakni promosi bakar uang berupa diskon gila-gilaan sembilan puluh sembilan persen untuk semua pengguna tanpa batasan kuota!"

Budiman tersenyum penuh kemenangan dalam hati.

'Mana ada marketplace yang berani bunuh diri seperti ini? Beli barang modal tiga miliar, dijual seharga tiga puluh juta rupiah lewat diskon gila!'

'Sistem ... ayo putar balikkan ini kalau kau bisa! Kali ini awak taruhan langsung di ranah algoritma digital, kau tidak punya wujud fisik buat disulap jadi aset!'

Suasana di dalam ruangan privat itu mendadak senyap. Hanya terdengar suara kunyahan bebek panggang Anto yang langsung melambat karena ketakutan melihat atmosfer tegang di antara kedua bos besar di depannya.

Vilmey menyandarkan punggungnya ke kursi kayu berukir naga, melipat tangan di dada sembari menatap Budiman dengan mata menyipit.

"Diskon sembilan puluh sembilan persen? Tanpa batasan kuota? Menguras tiga miliar hanya untuk subsidi harga dalam semalam?" Vilmey mendengus dingin, seulas senyum sinis tipis muncul di wajah cantiknya.

"Itu bukan strategi bisnis, Saudara Budiman. Itu namanya bunuh diri finansial secara terencana."

[bersambung]

1
Safira Aurora
gimana kelanjutannya?
Aku Rajin Membaca
padahal budiman mau menyerahkan diri 😂
MomyWa
weeeh, udah gak bisa disecrol lagi saking asik bacanya
MomyWa
pahlawan kehancuran ya man?
MomyWa
bagus syekali bukannya?
arielskys
lama2 baca cerita ini bikin otakku makin pinter prinsip2 retail 👍
arielskys
pokoknya kalian harus berjodoh lah
Aku Rajin Membaca: kita lihat gimana ide penulis
total 1 replies
arielskys
walaaaahh, ada2 aja idenya 🤭
Aku Rajin Membaca: wkwkwkw..bikin pouyeng
total 1 replies
arielskys
senangnya ngprank ya sistemnya
arielskys
episode ini ngakak bgt loh?
arielskys
ada ambulance 🤭
arielskys
wahahaha🤣
arielskys
nah tuh, akal2anmu budiman, bener2 gak bisa dihubungi jadinya kan
Syahril Maiza
lanjut up dong thor. kok cuma 1 bab
Syahril Maiza
nikahin aja sanah
Syahril Maiza
bukti cinta diam2 ya
MomyWa: gmn nasibnya ya
total 1 replies
Syahril Maiza
harusnya jiwa kaya raya yg ditingkat kan man
Safira Aurora
greget bgt, org senang kalau kaya, ini pengen bgt miskin
Safira Aurora
santui syekali
Safira Aurora
ga ada pembeli = ga ada yang mengusik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!