Zeya diam terpaku ketika melihat suaminya sedang jalan bergandengan tangan dengan wanita yang tak Zeya kenal.
Ryan yang kebetulan juga melihat Zeya melengos tanpa mau menyapa istrinya tersebut, malah Ia bergegas meninggalkan Zeya.
Menikah dengan Ryan keputusan hidup yang Zeya sesali, manis di awal ternyata hanya kedok belaka, agar bisa menikah dengan mantan kekasihnya.
Zeya menerima perceraian itu dan melanjutkan hidupnya dengan pindah ke kota besar.
Akankan Zeya menemukan kebahagiaannya sendiri, atau Zeya terus di bayang bayangi oleh masa lalunya.
Dan bagaimana kehidupan rumah tangga Ryan setelah menikah dengan mantan kekasihnya itu?, Kenapa dia kembali mengejar cinta nya Zeya?
Pergulatan batin Zeya dimulai di saat tuan Gatra ingin menikahinya sedangkan mantan istri Gatra ingin kembali rujuk dengan Gatra, ditambah lagi dengan Ryan yang kembali membayangi hidupnya…
Akankan keputusan Zeya akan merubah semuanya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mande Qita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31 Kedekatan Gatra dan Zea
Malam itu dinikmati oleh mereka berempat dengan rasa yang berbeda, Gatra dan Zea terlihat sudah tidak kaku lagi dan mereka bisa bicara dengan nyaman sat sama lain.
Zea dan Gatra sama sama menahan diri, karena status mereka yang sudah pernah gagal dalam berumah tangga, apalagi sekarang Zea sedang dalam proses perceraian dengan Ryan suaminya.
Sedangkan Barra dan Tari mereka seperti sahabat lama, karena Tari yang sangat gampang berteman jadi dia hanya sesaat merasa canggung dengan Barra, walaupun Barra juga termasuk pria dingin dan angkuh seperti Gatra, tapi dia bisa menyesuaikan dirinya dengan Tari.
“Apa kamu pernah pergi ke tempat seperti ini berdua dengan Tari Zea?” tanya Gatra
“Aku belum pernah dan belum sempat untuk pergi bersenang senang semenjak tiba di ibukota Jakarta ini tuan Gatra”
“Kenapa?”
“Pertama karena lagi sibuk dengan diri sendiri, kedua nggak minat ke tempat seperti ini, kecuali ada perayaan sahabat atau teman teman, ketiga nggak ada uang lebih tuan Gatra he he he”
jawab Zea sambil terkekeh, membuat Gatra terserah lebar.
“Alasan yang bisa diterima akal sehat Ze, kalau lagi berburu diskon uangnya ada gitu Ze?” Seloroh Gatra
“Kalau untuk berburu diskon, memang ada simpanan uang untuk itu tuan Gatra, harap maklum namanya juga wanita” Zea tak menampik candaan dari Gatra, karena dia dan Tari memang menyempatkan waktu untuk berburu diskon.
“Ha ha ha lain kali saya akan ajak kamu berburu diskon pakaian wanita di salah satu tempat paling diburu oleh perempuan seperti kamu dan Tari” Gatra tiba tiba menjanjikan hal yang paling Zea dan Tari suka.
“Oh ya! dimana tempatnya tuan Gatra?” tanya Zea antusias.
“Ha ha ha tempatnya rahasia, yang penting kamu dan Tari bersiap saja untuk pergi nanti kita juga ajak Arsen, sekalian liburan akhir pekan, gimana Ze? kamu setuju nggak”
Ajak Gatra, entah bagaimana mulanya tiba tiba Gatra merencanakan akan mengajak Zea dan Arsen liburan sambil belanja ke Singapore.
“kita pergi sama Arsen? saya mau kalau Arsen ikut juga tuan Gatra” tanpa ragu Zea menyatakan kesediaannya untuk pergi bersama Gatra dan Arsen.
“Oke deal ya, minggu depan kita pergi di akhir pekan bersama Arsen, tari dan juga Barra” Gatra tanpa mau menunda lagi segera memutuskan untuk pergi bersama, Ia takut Zea nanti berubah pikiran.
“Oke tuan Gatra…!” sahut Zea, Ia belum tahu akan pergi kemana di ajak Gatra, tapi Ia yakin pasti ke tempat yang akan membuat Arsen atau dirinya senang.
“Ha ha ha kita berangkat Jumat siang, sepulang Arsen sekolah!” Imbuh Gatra lagi, dia sudah membayangkan pergi liburan bersama Arsen, hal yang cukup lama tidak dilakukannya.
“Siap tuan Gatra…” tanpa keraguan sedikitpun Zea menyetujui semuanya
“janji…” Gatra mengulurkan jari kelingkingnya pada Zea yang disambut dengan gelak tawa Zea,
“Anda sama dengan Arsen, kalau mau memastikan sesuatu, Arsen akan mengaitkan jari kelingkingnya tanda kalau kita sudah sepakat” ungkap Zea
“Iya Ze, saya dan Arsen sering melakukan hal ini” jawab Gatra
Deg….
ketika kelingking mereka berdua bertaut terjadi hal yang sama pada Gatra dan Zea. Jantung mereka sama sama berdetak kencang dan mereka sama sama menikmati sensasi itu, sampai akhirnya Zea tersadar lebih dulu.
“Arsen kenapa tadi nggak di ajak main ke pusat perbelanjaan tuan Gatra?” tanya Zea, Ia melepaskan kaitan jari kelingking mereka berdua sambil bertanya keadaan Arsen.
Cara yang pintar untuk menghilangkan rasa grogi di depan pria yang sempat menggetarkan hati Zea.
“Tadi saya dan Barra ada meeting dengan rekan bisnis, kami bertemu dan bicara di restoran tersebut” jawab Gatra, sambil menenangkan dirinya yang tadi jantung sempat berdebar kencang, hal yang sudah lama tidak pernah Gatra rasakan lagi.
“Oh, anda dan tuan Barra tidak pernah libur ya, akhir pekan masih mengurus pekerjaan dan bertemu rekan bisnis” ucap Zea.
“Ha ha ha kalau nggak kayak gitu, nggak dapat pekerjaan Ze, bagi kami berdua nggak ada hari libur…” ungkap Gatra.
“Berarti saya lebih beruntung dong dari pada anda tuan Gatra” canda Zea, dia sudah bisa bicara santai dengan Gatra.
“Benar Ze, kadang kami juga menginginkan waktu yang cukup untuk keluarga!” balas Gatra sambil tersenyum tipis.
“Pasti suatu saat anda dan tuan Barra akan mendapatkan waktu yang cukup tuan Gatra, semangat…” tiba tiba Zea memberikan motivasi untuk Gatra.
“Terima kasih Ze….”
“Sama sama tuan Gatra..” dan mereka berdua kembali saling melempar senyum, dari jauh Barra memperhatikan interaksi Gatra dan Zea.
Barra tersenyum tipis melihat kedekatan mereka berdua, lalu menoleh ke arah Tari yang juga sedang menatap ke arah Zea dengan tatapan yang rumit.
“Ada apa Tari?” tanya Barra iseng ketika melihat raut wajah Tari.
“Hhhmm saya lagi berbahagia untuk Zea yang saat ini bisa tertawa dengan tuan Gatra” ungkap Tari
“Memangnya Zea kenapa? apa sedang ada masalah!” Barra pura pura tidak tahu mengenai masalah yang tengah Zea hadapi sekarang.
“Zea memang ada masalah taun Barra, tapi saya nggak enak untuk menceritakan nya pada anda tuan Barra, maaf ya bukan saya nggak percaya dengan tuan Barra, tapi ini masalah pribadi Zea dan saya tak berhak untuk bicara sembarangan pada orang lain”
Jelas Tari, walaupun saat ini Ia ingin sekali bercerita pada Barra tapi Tari masih tahu dan ingat batasannya dalam berteman dengan Zea.
“Saya mengerti Tari…” sahut Barra, Ia juga nggak mau mendesak Tari mengenai masalah yang Zea hadapi.
“Terima kasih atas pengertian anda tuan Barra, saya hanya berharap semoga masalah Zea cepat selesainya, kasihan Zea!” balas Tari.
“Amin semoga masalah Zea cepat selesai, dan Zea bisa melanjutkan hidupnya dengan tenang..” Barra mengaminkan doa dan harapan yang di ucapkan Tari.
“Iya tuan Barra, semoga semua masalah Zea cepat selesai dan Zea bisa menatap masa depan dengan optimis, tak perlu dibayangi oleh kenangan masa lalunya”
Tanpa Tari sadari Ia sudah menceritakan sedikit sedikit masalah hidup Zea, dan Barra adalah pria yang cepat paham dengan hal itu, apalagi dia dan Gatra sudah tahu masalah apa yang sedang Zea hadapi sekarang.
“Setuju, kalau suatu saat Zea membutuhkan bantuan kami berdua, kamu dan Zea silahkan bicara dengan kami, pasti kami berdua akan membantu” Barra menawarkan bantuan pada Zea melalui Tari.
“Oke siap tuan Barra, tapi kalau saya mau minta bantu hal lain boleh nggak taun Barra” tanya Tari sambil menahan tawanya.
“Anda mau minta bantuan apa Tari..?” tanya Barra penasaran.
“Bantuin cariin jodoh pria tampan dan kaya dong tuan Barra…” Tari memasang wajah serius seolah saat ini dirinya memang sangat membutuhkan bantuan dari Barra.
“Ha ha ha kalau hal itu saya sangat bisa membantu Tari..” goda Barra
“Yang benar?!” tanya Tari antusias
“Benar Tari, saya nggak bohong…” Barra juga memasang wajah serius, hal itu membuat Tari tertawa terbahak-bahak begitupun dengan Barra, seolah mereka berdua mengerti dengan gurauan masing masing mereka.