Zahra Syariah zalza Bila adalah seorang anak broken home, ia anak yg di besarkan oleh ibunya sebatang kara, akibat orang tuanya yang berpisah di usia dimn anak lain masih mendapatkan peran kedua orang tua nya, Zahra harus mencari peran itu dari orang² terdekat nya, namun sifat Zahra yang selalu susah di atur dan selalu membuat masalah bagi ibunya di tambah ibu nya juga yg sudh tua, ibunya pun harus menikah kan Zahra dengan seorang duda yang bernama Ansar zuliyan kerna menurut nya Ansar akan mampu mendidik Zahra di dalam proses menuju dewasa.....
di bacaa ya teman teman biar tau Gimn kelanjutan kisahnya Zahra dan Ansar.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bini pond, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror.
"kamu udah makan kak". Tanya Zahra yang baru saja masuk kedalam mobil Ansar, Ansar menjemput Zahra tepat di depan rumah nya. Dia akan menemani Zahra pergi mendaftar kuliah di tempat nya dulu.
"sudah sayang". Ucap Ansar.
"emm kak, bagaimana dengan kabar mantan istri kaka itu?".tanya Zahra, dia merasa curiga bahwa orang yang semalam mengirimkan nya pesan itu mantan istri Ansar.
Ansar yang mendengar pertanyaan zahra, sempat diam sesaat, Dia menepikan mobil ke pinggir jalan.
"Aku ga tau kabar tentang nya Ra, memang kenapa sayang?". Tanya Ansar sembari menatap Zahra dan bersandar.
"semalam aku dapat pesan aneh dari nomor yang ga ku kenal kak, isi pesan nya bilang kalau aku perempuan perebut ". Ucap Zahra yang menatap Ansar.
Ansar yang mendengar itu diam,
"coba sini hp kamu".ucap Ansar ingin melihat nomor telepon itu.
Zahra memberikan hp nya kepada Ansar, Ansar menerima dan meliat chatan semalam Zahra dengan nomor yang tak di kenalin.
Dia meliat Nomor itu, dia sendiri tidak tau siapa pemilik nomor itu.
"kamu kenal kak?".tanya Zahra.
"Kaka juga ga tau Ra ini siapa". Ucap Ansar memberikan kembali hp milik Zahra.
"kirain kenal".balas Zahra, dia pikir Ansar akan kenal milik siapa nomor itu.
tak lama Ansar kembali mengemudikan mobilnya.
Hingga mereka sampai di universitas Gunadarma tempat Ansar kuliah dulu.
"ini tempat kuliah aku dulu Ra".ucap Ansar membuka pintu mobil untuk Zahra Keluar.
"makasih kak". ucap Zahra berjalan masuk lebih dulu membawa berkas yang sudah dia lengkapi untuk mendaftar.
Sedangkan Ansar hanya mengikuti Zahra dari belakang.
"kaka di depan, aku ga tau mau bilang apa nanti ".pintah Zahra kepada Ansar agar berjalan duluan di depan nya.
"iya sayang sini". Balas Ansar mengandeng tangan Zahra.
Mereka berdua pun mendaftar kuliah di universitas Gunadarma, Zahra mengambil jurusan Akuntansi.
Diperjalanan pulang, Ansar segera mengantar Zahra pulang, atas ke mauan Zahra sendiri.
"kamu benaran mau langsung pulang ke rumah".tanya Ansar dengan suara melemas, padahal dia ingin sekali berjalan jalan dengan Zahra, mumpung dia tidak sibuk hari ini.
"maaf ya kak, kepala aku sakit banget soalnya".ucap Zahra yang tak berbohong. entah kenapa kepala nya itu tiba-tiba pusing.
"mau singgah ke apotik bentar beli obat?".tanya Ansar yang memandang Zahra, dia khawatir dengan kondisi perempuan itu.
"mau langsung pulang aja kak, aku ingin tidur rasanya".ucap Zahra yang memejamkan mata. Menahan rasa pusing nya.
Ansar mendekat ke Zahra, membuat kursinya jadi setengah rebahan agar Zahra bisa lebih bersandar.
"makasih kak".ucap Zahra yang tak lama kemudian memejamkan mata.
meliat Zahra yang tertidur disamping, membuat Ansar khawatir, biasanya perempuan itu tidak pernah mau tidur saat jalan bersama nya.
Tak lama kemudian Ansar sampai di depan rumah kakek Hasan.kakek Hasan yang melihat itu dari teras menunggu Zahra Keluar dari mobil, namun Zahra tak kunjung keluar.
Ansar yang di dalam mobil membukakan pintu mobil untuk Zahra. meliat Zahra yang masih tidur, Ansar tak tega membangunkan nya. Dia memutuskan mengendong Zahra masuk ke rumah nya.
Kakek Hasan yang meliat cucuk yang di gendong Ansar menjadi panik. Hingga akhirnya Ansar mendekat ke arah nya.
"kenapa Zahra nak". Tanya kakek Hasan yang terlihat sangat panik.
"dia hanya tertidur kek katanya kepala nya pusing tadi".ucap Ansar menenangkan kakek Hasan.
"Yaampun kalau begitu tolong antar di ke kamarnya ya nak kakek sudah tua tak kuat mengendong nya lagi".ucap kakek Hasan meminta tolong ke Ansar.
mendengar itu Ansar hanya berdehem.
dia mengantar Zahra ke kamar nya. Meletakan tubuh Zahra dengan perlahan agar tidak menggangu tidur nya.
setelah mengantar Zahra ke kamarnya dan berpamitan dengan kakek Hasan, Ansar pun masuk ke dalam mobilnya. Dia berencana untuk pergi ke rumah orang tua nya.
Tingg
Ansar menoleh saat mendengar suara pesan masuk yang dia kira dari hp nya, namun saat mengecek tak ada satupun notif yang masuk.
Hingga notif itu kembali berbunyi.
Tingg
Dan saat itu juga pandang Ansar menangkap sebuah ponsel bercasing Sinchan. Itu milik Zahra .
Ansar yang takut notif itu penting bagi Zahra mencoba melihat nya langsung. Awalnya dia takut di bilang lancang membuka hp milik zahra. Namun ingin mengantar hp milik Zahra juga dia sudah berada lumayan jauh dari rumah Zahra.
Tak ingin memikirkan lebih lanjut, Ansar pun membuka hp Zahra. terlihat dua pesan masuk dari aplikasi hijau.
Pesan itu dari orang asing lagi. Pesan itu berisi kalimat yang membuat Ansar penasaran di tambah dengan foto yang sekali liat.
Ansar membaca pesan itu sebelum membuka foto yang sekali liat itu.
Pesan itu berisi kalimat yang sedikit aneh bagi Ansar, orang asing itu berkata. "Sebelum bersama mu Aku lebih dulu merasa kan tubuhnya"
Ansar lebih syok saat melihat foto sekali liat yang dikirimkan nomor asing itu. Di mana foto itu menunjukkan Ansar dan wanita. dimana wanita itu menggunakan baju sedikit mini bahan, dan Ansar yang memeluk dari belakang.
'Calista'
Ya wanita itu Calista. Jadi yang chat Zahra itu adalah Calista. Ansar bingung dari mana wanita itu tau kalau Zahra adalah calon istri nya, mengapa dia chat Zahra dengan sebutan perebut? . Dan kapan perempuan itu kembali dari Amerika Serikat. Segala pertanyaan itu terlintas di kepala Ansar.
Sedangkan Zahra yang baru saja di bangun kan oleh nenek Siti merasa aneh melihat bungkusan kardus yang dibungkus sangat tebal berada di kamarnya. kata nenek Siti itu pemberian dari seseorang yang nenek Siti sendiri tidak tau siapa, orang itu hanya mengantar lalu pergi.
"kalau begitu nenek pergi masak dulu ya ra".ucap nenek Siti yang keluar dari kamar Zahra dan kembali menutup pintu kamar Zahra.
"ya nek".balas Zahra yang masih mengumpulkan nyawanya di atas kasur. Dia terus memandang Bungkusan paket didepan nya.
"paket apa ya ini perasaan aku ga ada pesan paket". ucapnya turun dari ranjang dan membuka paket itu menggunakan gunting.
AHHHH
Teriak Zahra yang terdengar sangat nyaring.nenek Siti yang berada di dapur pun bergegas ke kamar Zahra.
Sesampainya di kamar Zahra, nenek Siti kaget melihat boneka beruang berwarna putih dengan wajah boneka itu foto wajah Zahra, dan boneka itu di penuh bercak merah berbau amis serta gunting yang tertujuk dan banyak nya pisau pisau kecil di badan boneka Beruang itu.
Nenek Siti yang melihat itu, memandang ke arah Zahra yang sangat terkejut, Dia mendekatin Zahra, mencoba menenangkan nya.
"i-itu da-ri siapa sebenarnya nek". ucap Zahra yang Tak bisa menyembunyikan rasa kaget bercampur takutnya.
"nenek juga ga tau nak itu dari siapa "ucap nenek Siti membantu Zahra berdiri.
"Bentar nenek panggil kakek ya"ucap nenek Siti melihat Zahra yang sudah lumayan tenang.
Nenek pergi memanggil kakek, Zahra yang masih di kamar terus Mandagi kotak itu hingga Sesok Ansar terlintas di benak nya.
'Ansar aku harus tanyain kak Ansar ada apa sebenarnya ini'batinnya khawatir di tambah ada foto Ansar bersama perempuan yang dia liat di dalam kota itu.
Zahra mencari kesana kemari hp nya, namun nihil hp nya ga ketemu. seketika dia ingat dia tadi ketiduran di mobil Ansar, mungkin saja hp nya ketinggalan di dalam mobil Ansar juga.
ditambah rasa frustasinya begini.
Dia kembali mendekati kotak itu. dia melihat dengan jelas foto Ansar dan perempuan itu.
'apa perempuan ini yang kirimkan kota ini ya'batinnya memandang foto Ansar dan perempuan itu.
Tak lama kemudian kakek Hasan datang, kakek Hasan membantu menenangkan Zahra, dia juga langsung membuang kotak dan boneka itu. Namun sebelum kakek Hasan membuang kotak itu, Zahra lebih dulu mengambil foto Ansar dan perempuan itu.
HARI Dan hari berlalu begitu saja. Sudah dua hari lalu Ansar mengantarkan hp milik Zahra dan sudah 2 hari juga kirimkan boneka itu berlalu. sayangnya bukan Ansar yang ngantar hp nya, Ansar menyuruhnya anggota , Ansar berkata ke Zahra kalau dirinya itu sedang sibuk. Jadi Zahra Tak bisa bertanya ke Ansar langsung. Ingin dia tanyakan lewat wa, Zahra merasa tak enak. Masalah seperti bagusnya di omongin depan wajah langsung.
Tingg
Sebuah notif masuk lagi.
"Sudah menerima kiriman ku manis?"
'apa lagi ini ya tuhan'batin Zahra saat menerima pesan dari nomor yang sama.
"stop ganggu aku, aku tak merebut siapa pun dari mu, sialan"balas Zahra lansung memblokir nomor itu.
"paket!!"teriak pria di depan rumah Zahra, tentu saja teriakan pria itu membuat Zahra terkejut. Zahra melihat tukang paket itu meletakkan paketnya di depan pintu, ingin dia Ambil namun dirinya takut, di tambah kakek dan nenek nya sedang tak berada di rumah, mereka sedang ke kebun sawit yang jaraknya lumayan jauh dari rumah.
Melihat tukang paket itu pergi dan hanya meletakan paket begitu saja, Zahra memberanikan diri turun dan melihat paket itu langsung.
'Degg Degg' dadanya serasa sangat perih. didalam paket itu ada bangkai burung gagak Hitam, namun yang membuat dada nya perih bukan itu. Didalam paket itu terdapat foto, foto saat perempuan itu memeluk Ansar. perempuan yang sama dengan yang mengirimkan nya paket boneka sebelumnya.
'sibuk gini lo ternyata om'batinya merasa nyeri. Dia tau dia tak pernah sekalipun mengungkapkan perasaan nya ke Ansar, namun bukan berarti dia tak menyukai Ansar juga kan?.
dia membuang paket di ke tong sampah. dia langsung menghubungi Ansar namun tak ada jawaban sama sekali.
HariHari pun berlalu, zahra masih sering mendapatkan paket dari Kirimn wanita itu, dan wanita itu pun masih menghubungi nya dengan nomor baru. Zahra memblokir nya dan tak lama kemudian ada lagi nomor baru yang menghubungi nya.
Zahra benar' merasa muak, di tambah lagi Ansar masih tak ada kabar di hubungi tak bisa di telepon ga aktif. Dan saat Zahra mendatangi rumah nya Ansar pun, kata anggota nya.
"Maaf dek Ansar nya ga ada dirumah"begitulah kata anggota perempuan Ansar. Dan saat di tanya Ansar nya pergi kemana perempuan itu hanya menjawab "saya juga ga tau dek, Ansar nya pergi ga ada bilang mau ke mana"benar-benar jawaban yang tak memuaskan.
yang lebih parahnya lagi, saat Zahra datang ke rumah orang tua Ansar, rumah itu serasa kosong tak ada orang sama sekali. Saat di panggil tak ada yang menjawab panggilan nya padahal ada suara anak kecil dari dalam rumah itu. Zahra tau itu suara anaknya Dimas.