NovelToon NovelToon
Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Sistem / Harem / Komedi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.

Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.

Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.

Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.

Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.

Sistem 2Bit.

Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.

Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.

Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.

Padahal baru dimulai.


━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Gubuk Raka kini bukan lagi tempat tinggal. Itu adalah sel tahanan dengan dinding bambu.

Hendra dan Joko duduk di teras depan, kaki disilangkan, mata melotot ke arah pintu. Mereka tidak masuk—Laras sudah jelas-jelas mengancam akan menusuk siapa saja yang mencoba menerobos privasi—tapi kehadiran mereka cukup untuk membuat udara terasa pengap. Setiap kali Raka atau Laras keluar untuk buang air atau mengambil air sumur, dua pasang mata itu mengikuti seperti kamera keamanan rusak.

"Sialan," gerutu Hendra pelan, sambil mengunyah sirih. "Kenapa sih kita harus jaga sampah begini? Pak Hardo bisa aja suruh orang lain."

Joko menyenggol lengannya. "Jangan keras-keras. Nanti didengar. Lagian, ini kesempatan. Kita bisa cari-cari kesalahan dia. Kalau ketahuan dia coba kabur atau kontak orang luar... bam! Kita punya alasan buat habisi dia secara 'resmi'."

Hendra tersenyum miring. Gigi hitamnya terlihat menjijikkan. "Benar juga. Awasin tiap gerakannya. Sekecil apapun."

Di dalam gubuk, Raka mendengar semua itu. Dia terbaring di tikar, memejamkan mata, seolah tidur. Tapi otaknya bekerja keras. Tulang rusuknya masih nyeri, tapi rasa sakit itu sekarang menjadi teman lama yang mengingatkan dia untuk tetap waspada.

Laras duduk di sudut, membersihkan parangnya dengan kain lap. Suaranya berbisik, hampir tak terdengar oleh telinga biasa, tapi cukup jelas bagi Raka.

"Mereka bosan," kata Laras. "Dalam dua hari, pengawasan mereka akan lengah. Atau mereka akan provokasi kau supaya kau bereaksi kasar. Jangan termakan."

Raka membuka satu matanya. "Aku tahu."

"Lalu apa rencanamu? Diam sampai mati?"

"Tidak." Raka menggeser tangannya perlahan ke bawah bantal tipisnya. Jari-jarinya menyentuh sebuah gulungan kertas keras. Catatan harian Guru.

"Malam ini," bisik Raka, "kau harus pergi ke rumah Kepala Desa."

Laras berhenti mengelap parang. Dia menatap Raka tajam. "Kepala Desa? Pak Surya? Dia tangan kanan Pak Hardo. Kalau aku ketahuan dekat-dekat sana, Hendra dan Joko akan lapor secepat kilat."

"Makanya jangan ketahuan," jawab Raka datar. "Dan jangan bawa senjata. Bawa ini."

Raka menyerahkan sebagian kecil dari catatan itu. Bukan halaman penuh rahasia. Hanya satu lembar yang berisi daftar nama-nama donor pembangunan balai desa lima tahun lalu. Di situ, ada nama Guru Raka dan jumlah donasi yang sangat besar. Serta tanda tangan terima kasih dari Pak Surya, Kepala Desa saat itu.

"Apa gunanya kertas tua ini?" tanya Laras bingung.

"Pak Surya itu pragmatis," jelas Raka. "Dia peduli pada citra dan uang. Jika dia tahu bahwa murid dari donatur terbesar desa sedang dianiaya oleh Keluarga Bima... dia akan merasa tidak nyaman. Bukan karena kasihan. Tapi karena takut reputasinya ternoda jika diketahui dia membiarkan 'anak emas' donatur disidang tanpa proses yang adil."

Laras mengerutkan kening. "Jadi kau mau pakai suap moral?"

"Bukan suap. Pengingat hutang budi," koreksi Raka. "Guru pernah membantu Pak Surya membangun balai desa saat dana desa macet. Pak Surya berhutang budi. Dan di desa ini, hutang budi lebih berharga daripada uang."

Laras menatap kertas itu, lalu menatap Raka. Senyum tipis muncul di wajahnya. "Kau licik. Aku suka."

"Tapi bagaimana caranya kau keluar?" tanya Laras. "Hendra dan Joko menjaga pintu depan. Jendela belakang juga diawasi dari samping gubuk."

Raka menunjuk ke arah lantai tanah di sudut gubuk. "Ada lubang tikus lama di balik lemari kayu. Cukup kecil untuk manusia kurus sepertimu. Itu mengarah ke semak belukar belakang rumah Bu Siti. Dari sana, kau bisa memutar ke jalan utama tanpa terlihat."

Laras tertawa kecil. "Kau sudah mempersiapkan ini sejak kemarin?"

"Aku selalu punya rencana cadangan," jawab Raka. "Sekarang, tunggu sampai malam. Saat mereka lelah dan mulai mengantuk. Itu waktu terbaik."

Malam tiba dengan lambat. Matahari tenggelam, membawa serta panas terik, tapi meninggalkan kelembapan yang lengket. Hendra dan Joko memang mulai terlihat lesu. Mereka bergantian menguap, mata mereka berat. Joko bahkan sempat tertidur sebentar sebelum Hendra menendang kakinya agar bangun.

Pukul sepuluh malam. Suara jangkrik mendominasi keheningan.

Laras memberi isyarat. Dia merayap ke sudut gubuk, menggeser lemari kayu tua yang berat dengan hati-hati. Debu beterbangan. Di belakangnya, terlihat lubang gelap di tanah.

"Doa yang baik," bisik Laras.

"Jangan mati," balas Raka singkat.

Laras menyelipkan kertas catatan itu ke dalam bajunya. Lalu, dengan gerakan lincah seperti kucing, dia masuk ke dalam lubang. Tubuhnya menghilang ke dalam kegelapan.

Raka mendengarkan. Detak jantungnya berpacu. Ini taruhan besar. Jika Laras ketahuan, keduanya tamat. Jika Pak Surya tidak peduli, usaha mereka sia-sia.

Di luar, Hendra bersin keras. "Sial, debu apa ini?" gumamnya, menggosok hidung. Dia tidak curiga. Dia hanya mengira itu debu dari lantai gubuk yang jarang disapu.

Raka menghela napas lega. Langkah pertama berhasil.

Sekarang, dia hanya perlu menunggu. Menunggu Laras kembali dengan hasil negosiasi. Atau menunggu bencana datang mengetuk pintu.

Sistem di kepalanya tetap diam. Tidak ada bantuan. Tidak ada panduan. Hanya Raka, pikirannya, dan keberanian seorang gadis yang bersedia merayap melalui lubang tikus demi temannya.

Permainan catur ini baru saja memasuki babak tengah. Dan bidak-bidak mulai bergerak.

Bersambung.

1
Chen Haoran
Bagus toh sistem nya lucu
KZ2: Kalau gw tulis sejarahnya sistem 2bit bakalan jadi 10 bab🚬🗿🤣.
thanks udah mampir
total 1 replies
Chen Haoran
menurut ku ini menarik di setiap kata-katanya ada dialog yang interaktif dan tidak kelihatan kaku🙏
Chen Haoran: yap euy
total 2 replies
Chen Haoran
lucu euy sistem nya bisa becanda 🤣
KZ2: wkwkkw emang novel absurd
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!