Vincent Lawson rela meletakkan pistolnya demi menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Ia percaya, cincin itu akan menjadi awal dari selamanya. Namun pada malam yang sama, wanita itu mengganti janjinya dengan sepasang borgol.
Di tengah raungan sirene dan hancurnya seluruh impian, Vincent tak lagi mempertanyakan mengapa ia ditangkap. Ia hanya ingin tahu...
“Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun... adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?” 💔
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Efa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
[ Satu Menit Sebelum Terlambat ]
Fajar menyingsing dengan langit yang kelabu.
Hari itu adalah hari yang selama berminggu-minggu menghantui Zhava.
Hari eksekusi Vincent Lawson.
Semalaman ia tidak memejamkan mata. Map berisi seluruh bukti yang ditemukan dari gudang Leon Ardian kini berada di tangannya. Di dalamnya terdapat dokumen transaksi, rekaman suara, hingga video yang memperlihatkan Leon memerintahkan pembantaian yang selama ini dibebankan kepada Black Raven.
Namun semua bukti itu belum cukup.
Ia membutuhkan satu hal lagi.
Pengakuan Leon.
Di sebuah ruang interogasi rahasia, Leon duduk santai dengan kedua tangan diborgol. Setelah baku tembak di gudang dua hari lalu, ia akhirnya berhasil ditangkap hidup-hidup.
Meski begitu...
Pria itu sama sekali tidak terlihat takut.
Zhava masuk dengan wajah yang dipenuhi kelelahan.
Leon tersenyum tipis.
"Sudah pagi rupanya."
Zhava melempar seluruh berkas ke atas meja.
"Akhiri semuanya."
Leon hanya tertawa.
"Kalau aku diam?"
"Vincent akan mati."
"Itu bukan urusanku."
Zhava mengepalkan tangannya.
"Semua pembantaian itu kau yang memerintahkan."
"Buktikan."
"Aku sudah punya buktinya."
Leon menggeleng pelan.
"Bukti dokumen tidak cukup."
"Kau butuh pengakuanku."
Tatapan Zhava berubah tajam.
"Dan kau tidak akan pernah mendapatkannya."
Leon bersandar santai di kursinya.
"Aku lebih suka melihat Vincent mati."
Kalimat itu membuat emosi Zhava hampir meledak.
Namun ia menarik napas panjang.
Ia tidak boleh kehilangan kendali.
"Tahukah kau..."
Zhava menatap Leon tanpa berkedip.
"Orang yang paling bodoh dalam ruangan ini bukan Vincent."
Leon mengangkat sebelah alisnya.
"Melainkan kau."
Leon tersenyum tipis.
"Kenapa?"
"Karena selama ini kau bersembunyi di balik nama Vincent."
"Kau terlalu pengecut untuk memakai namamu sendiri."
Senyum Leon perlahan menghilang.
Zhava melanjutkan,
"Sejarah tidak akan pernah mengingatmu."
"Semua orang hanya mengenal Vincent Lawson."
"Kau hanya bayangan."
Wajah Leon mulai berubah.
"Apa katamu?"
"Bayangan."
"Diam!"
"Kau bahkan tidak cukup berani untuk menjadi penjahat dengan namamu sendiri."
Brak!
Leon menghantam meja dengan keras.
"SEMUA ITU AKU YANG MELAKUKANNYA!"
Ruangan mendadak sunyi.
Napas Zhava tercekat.
Leon baru saja terjebak.
Di balik cermin satu arah, para penyidik saling berpandangan.
Seluruh percakapan itu...
Telah direkam.
Leon baru menyadarinya beberapa detik kemudian.
Tatapannya berubah panik.
"Tidak..."
Zhava mengambil alat perekam dari meja.
"Terima kasih."
Di saat yang sama...
Di lapangan eksekusi, Vincent berdiri dengan kedua tangan terikat.
Langit masih mendung.
Angin berembus pelan.
Seorang petugas membacakan prosedur terakhir.
"Apakah terpidana memiliki permintaan terakhir?"
Vincent mengangkat wajah menatap langit.
Ada senyum kecil di bibirnya.
"Ada."
"Silakan."
"Tolong..."
"...rawatlah mawar putih di rumahku."
Petugas terdiam.
"Itu saja?"
Vincent mengangguk.
"Ya."
Karena ia tahu...
Orang yang paling ingin ia temui...
Tidak akan sempat datang.
Sementara itu...
Mobil Zhava melaju sekencang mungkin menuju pengadilan tinggi.
Jarum speedometer terus naik.
Sirene mobil polisi meraung di sepanjang jalan.
"Ayo..."
"Ayo..."
Air matanya terus mengalir.
Ia menggenggam flashdisk berisi pengakuan Leon sekuat tenaga.
Ponselnya berdering.
"Zhava!"
Suara Damian terdengar panik.
"Eksekusinya dipercepat!"
Jantung Zhava serasa berhenti.
"Apa?"
"Tinggal beberapa menit lagi!"
Zhava langsung menginjak pedal gas lebih dalam.
Mobil melaju menembus hujan.
Lampu merah diterobos.
Beberapa kendaraan nyaris bertabrakan.
Ia tidak peduli.
Yang ada di pikirannya hanya satu.
Vincent tidak boleh mati.
Di lapangan eksekusi, Vincent telah berdiri di tempatnya.
Petugas mulai mengambil posisi.
Komandan regu mengangkat tangan.
"Siap!"
Para petugas mengangkat senjata.
Vincent memejamkan mata.
Di benaknya muncul satu wajah.
Rhea Azlyn.
Wanita yang datang membawa mawar putih.
Wanita yang mengajarinya tersenyum.
Wanita yang memborgolnya.
Dan...
Wanita yang tetap ia cintai sampai detik terakhir.
Perlahan ia berbisik,
"Zhava..."
"Jangan menangis lagi..."
Komandan regu mengangkat tangan lebih tinggi.
"Bersiap!"
Saat itulah...
Dari kejauhan terdengar suara sirene yang semakin mendekat.
"BERHENTI!!"
Suara seorang wanita menggema di seluruh lapangan.
Semua orang menoleh.
Zhava berlari sekuat tenaga menuju lapangan eksekusi.
Seragamnya basah kuyup oleh hujan.
Napasnya tersengal.
Flashdisk dan map itu masih berada di tangannya.
"JANGAN TEMBAK!"
Ia berdiri tepat di depan Vincent.
Membentangkan kedua tangannya.
Melindungi pria yang dulu ia tangkap dengan tubuhnya sendiri.
Semua orang membeku.
Komandan regu menatapnya dengan wajah tidak percaya.
"Letnan Zhava!"
"Minggir!"
Zhava menggeleng kuat.
Air matanya bercampur dengan hujan.
"Tidak."
"Aku membawa bukti baru."
"Saya minta eksekusi dihentikan!"
Komandan mulai kehilangan kesabaran.
"Ini perintah pengadilan!"
Zhava mengangkat flashdisk itu tinggi-tinggi.
"Dalam rekaman ini..."
"...ada pengakuan dalang sebenarnya."
"Kalau kalian tetap menembak sekarang..."
"...kalian mungkin baru saja membunuh orang yang belum diadili dengan seluruh kebenaran."
Seluruh lapangan kembali sunyi.
Vincent menatap punggung Zhava.
Wanita yang dulu memborgolnya...
Kini berdiri di depannya.
Menjadi tameng hidup...
Agar peluru tidak pernah sampai kepadanya.