NovelToon NovelToon
Dinikahi Sang Ahli Forensik

Dinikahi Sang Ahli Forensik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.

​Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.

​"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."

​Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."


​Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Persiapan Sandiwara

​"Tepat sekali. Kamu akan menjadi umpan hidup di tempat publik," sahut Ronan tanpa sedikitpun rasa empati. "Kita akan keluar dari apartemen ini, mendatangi tempat-tempat ramai, dan memancingnya untuk menyerang di zona yang sudah dipasangi jebakan taktis kepolisian."

​"Kamu benar-benar gila!" Cala menunjuk wajah Ronan dengan jari telunjuknya yang gemetar. "Siapa yang mau keluar jalan-jalan denganmu saat ada pembunuh berkeliaran? Lagi pula, orang waras mana yang percaya kalau ahli forensik antisosial sepertimu tiba-tiba jalan berdua dengan perencana pernikahan di pusat perbelanjaan? Itu terlihat sangat mencurigakan!"

​Langkah Ronan terhenti. Pria itu menatap Cala cukup lama. Tatapannya menelisik setiap inci wajah Cala yang memerah karena marah.

​"Itu poin yang sangat akurat," gumam Ronan pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Ia kembali menekan tombol di ponselnya. "Komandan, siapkan tim pengawasan jarak jauh berpakaian preman. Kita akan memancing pelaku keluar dari sarangnya. Tutup panggilan."

​Sambungan telepon terputus. Ruang kerja itu kembali hening, menyisakan suara dengung halus dari mesin pendingin ruangan.

​"Jelaskan padaku apa rencanamu sekarang, Dokter," tuntut Cala sambil berkacak pinggang. Ketakutannya perlahan memudar, tergantikan oleh rasa penasaran dan keinginan kuat untuk bertahan hidup.

​Ronan bersandar pada ujung meja baja. "Seperti yang kamu bilang tadi. Sangat tidak logis melihat kita berdua menghabiskan waktu bersama di luar ruangan. Pembunuh itu pasti curiga aku sedang mengawalmu sebagai agen kepolisian. Kita butuh alibi. Sebuah status sosial yang membuat kita wajar menempel satu sama lain selama dua puluh empat jam di tempat publik tanpa dicurigai."

​"Maksudmu pura-pura pacaran?" tanya Cala ragu. Bulu kuduknya meremang hanya dengan membayangkan harus bersandiwara mesra dengan manusia kaku ini.

​"Pacaran itu konsep remaja yang tidak stabil secara emosional," tolak Ronan mentah-mentah. "Terlalu banyak celah logika. Orang yang sekadar berpacaran tidak tinggal satu atap dan tidak saling menjaga secara agresif di depan publik."

​Cala memutar bola matanya malas. "Lalu apa maumu? Kakak beradik? Wajah kita sama sekali tidak mirip."

​"Tunangan," ucap Ronan tegas dan lugas.

​Cala nyaris tersedak ludahnya sendiri. Matanya melotot menatap Ronan. "Apa kamu bilang?"

​"Kita harus memalsukan status menjadi sepasang tunangan," ulang Ronan tanpa mengubah nada suaranya sama sekali. "Dalam ilmu psikologi evolusioner, status tunangan menunjukkan tingkat komitmen proteksi teritorial yang paling tinggi pada mamalia jantan sebelum tahap reproduksi resmi. Dengan skenario tunangan protektif, aku punya alasan rasional yang sangat kuat untuk memeluk pinggangmu di tempat umum, mengawasi setiap orang yang mendekatimu, dan melindungimu dari bahaya."

​Cala membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali. Ia benar-benar kehabisan kata-kata. Dari jutaan skenario penyamaran di dunia ini, pria gila kebersihan yang menganggap cinta hanyalah oksitosin ini justru memilih ide paling romantis dan konyol sekaligus.

​"Ini ide terburuk yang pernah kudengar," gerutu Cala. "Kamu mau kita bersandiwara mesra? Memanggil sayang? Berpegangan tangan? Jangan bercanda. Kamu bahkan nyaris pingsan saat hidungmu mencium bau parfum mawarku. Bagaimana bisa kamu meyakinkan pembunuh bayaran kalau kita ini saling jatuh cinta?"

​"Aku ahli forensik tingkat tinggi. Kemampuan observasi dan rekayasa tingkah lakuku berada di atas rata-rata manusia normal," jawab Ronan sangat percaya diri. "Aku tahu persis letak saraf mana yang harus disentuh untuk memalsukan reaksi kasih sayang. Lagipula, ini hanya manipulasi visual untuk mengecoh target."

​Cala membuang napas kasar. Ia tahu tidak ada pilihan lain. Berdiam diri di apartemen ini hanya tinggal menunggu waktu sampai pembunuh itu menemukan cara menjebol pintu baja, atau lebih buruk lagi, meracuni mereka. Keluar dan melawan adalah satu-satunya cara mengambil alih kendali permainan gila ini.

​"Baiklah," putus Cala akhirnya, mengalah pada logika sinting sang dokter. "Tapi kalau kita mau memainkan skenario tunangan ini dengan meyakinkan, kita butuh alat peraga. Pembunuh sekelas dia tidak akan tertipu hanya dengan genggaman tangan murahan. Dia akan memeriksa setiap detail."

​Ronan tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu merogoh saku dalam kemeja hitamnya. Dengan gerakan sangat cepat dan mulus, ia mengeluarkan sebuah benda pipih dan melemparkannya ke atas meja kaca tepat di depan Cala.

​Bunyi ketukan plastik keras beradu dengan kaca terdengar tajam.

​Cala menunduk. Sebuah kartu kredit berwarna hitam pekat tanpa batas limit, yang biasanya hanya dimiliki oleh segelintir konglomerat kelas atas, tergeletak manis memantulkan cahaya lampu laboratorium.

​Ronan menatap lurus ke dalam mata Cala, sorot matanya tajam dan tidak menerima bantahan sama sekali.

​"Besok kita beli cincin tunangan. Jangan pilih yang norak."

1
Watie Zack
wow keren, serasa ikut didalam cerita👍
Anbu Hasna
Tanteku punya hotel. dan benar, dia lebih jujur ke pihak WO biar printilan pesta bisa masuk tanpa menganggu pelanggan, daripada ke pihak paspampres. masa bodo sama keselamatan presiden, biarkan dia lewat pintu depan 🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
ronan takut terjadi sesuatu pada cala. dia takut gagal dalam melindungi cala.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
puyeng aq
ElHi
seruuu euyyy....kyk detective conan🔥🔥
Savana Liora: maacii
total 1 replies
Nor aisyah Fitriani
uppp truss thirt
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
mulai terkuak semoga saja cepat tertangkap ya mereka" yg jahat sama Cala biar mereka mendekam dlm sel penjara dan di hukum mati 😡😡
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
wajarlah Ronan kesel sama kepolisian karna nyawa mereka td dipertaruhkan untung Ronan bisa menghindar dan saksi satu"nya malah di bawa pergi lelet banget atasan dan bawahannya 😏😏
Watie Zack
semoga kebongkar dalangnya
Watie Zack
wow Ronan aku padamu😍
Watie Zack
ada apa dgn tasnya Cala????
Watie Zack
awalnya drama lama² kecantol beneran nih si Rolan
Watie Zack
jgn² orang dekat cala ada yg terlibat😄
Watie Zack
semakin penasaran semangat Thor
Deasy Suryandari
ikut deg²qn bacanya
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
bagus Ronan kamu sdh antisipasi dngn menancapkan alat pelacak ke pelayan palsu itu 👍👏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ayo bawa ke markas Ronan biar th dalang semuanya
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
gerakan Ronan gercep banget sigap kl enggak pasti Cala dlm bahaya oleh cairan itu 🤗🤗
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Cala bawa tas mu dr sana
Fariedha Rahman Khan
suka bngett
berasa nonton adegan action
Fariedha Rahman Khan: mesame kak
semngt trus up nya ya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!