NovelToon NovelToon
Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Duda
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.

Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.

Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.

Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24 Anjani, Model Yang Dipilih

Suasana kantor jauh lebih tenang pagi ini dibanding beberapa hari lalu. Tidak ada lagi staf yang berlarian seperti ayam kehilangan induk. Tidak ada lagi wajah-wajah pucat yang nyaris menangis setiap kali rapat dimulai. Setidaknya tidak separah sebelumnya.

Masalah terbesar mereka sudah teratasi. Konsep kampanye yang sempat kehilangan arah kini terasa hidup kembali. Sketsa-sketsa baru memenuhi dinding ruang kreatif. Palet warna yang tadinya terasa dingin kini memiliki emosi. Gaun-gaun yang sebelumnya hanya terlihat mahal sekarang memiliki cerita. Dan semua orang tahu siapa penyebab perubahan itu.

Anjani.

Perempuan yang awalnya dipandang sebelah mata itu perlahan berubah menjadi pusat gravitasi tim Aurora. Anehnya, ia sendiri seperti tidak menyadarinya. Ia tetap datang pagi untuk bekerja dan membantu siapa saja yang membutuhkan. Ia tidak pernah sekalipun bertindak seolah dirinya penyelamat proyek miliaran rupiah. Justru itulah yang membuat banyak orang mulai menghormatinya, meski tidak semuanya. Di sudut lain, masih ada beberapa pasang mata yang memandangnya dengan tidak suka, termasuk Winda.

Namun hari ini bukan Winda yang menjadi masalah. Hari ini ada satu persoalan lain yang membuat banyak orang kembali gelisah, yaitu penentuan model utama Aurora.

Di ruang rapat, beberapa foto model terpampang di layar besar. Model A sampai model D semua ditolak. Suasana mulai terasa aneh, karena tidak ada satu pun alasan jelas yang diberikan Ren.

"Kurang."

Itu saja yang keluar dari mulutnya.

Foto berikutnya muncul. Seorang model internasional. Portofolionya luar biasa. Pengalaman panjang. Nama besar. Bahkan tarifnya cukup membuat divisi keuangan sakit kepala. Namun Ren tetap menjawab sama.

"Kurang."

Kepala divisi pemasaran mulai ingin membenturkan dirinya ke meja. "Kira-kira yang kurang apa, Pak?"

Ren menatap layar, lalu menjawab datar. "Tidak cocok."

"Tidak cocok bagian mana?"

"Semuanya."

Dan seperti biasa, penjelasan Ren sangat membantu. Membantu menaikkan tekanan darah orang-orang di ruangan.

"Pak Ren, kita harus pemotretan secepatnya. Dan ini waktunya sudah terlalu mepet."

"Hm."

"Model utama belum ada."

"Hm."

Beberapa orang mulai ingin menangis, arena 'hm' tidak bisa dipotret.

Sementara itu Anjani yang duduk tidak jauh dari layar hanya memperhatikan. Sejujurnya beberapa model tadi sudah sangat bagus, cantik, elegan, profesional. Sulit mencari kekurangannya. Tetapi entah kenapa Ren menolak semuanya tanpa ragu, seakan lelaki itu sedang mencari sesuatu yang bahkan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Dan sebenarnya memang begitu, karena sejak awal Ren tidak sedang mencari wajah cantik. Aurora sudah terlalu penuh dengan wajah cantik, tapi yang ia cari adalah jiwa. Dan sampai hari ini, ia belum melihatnya pada siapa pun. Selain satu orang.

Sorot mata Ren perlahan bergeser, berhenti pada Anjani yang sedang menjelaskan revisi terakhir untuk salah satu desain.

"Jadi kalau pencahayaannya lebih hangat, kesan bangkitnya akan lebih terasa."

Tatapan Ren belum turun dari Anjani yang masih bicara, menjelaskan konsep, detail, dan emosi yang ingin ditampilkan.

Pria itu diam mengamati, lalu tiba-tiba berkata. "Kamu."

Anjani berhenti. "Hm?"

"Kamu jadi modelnya."

Sunyi jatuh. Bahkan AC seperti lupa berdengung.

Anjani berkedip tercengang. "S-aya?"

"Iya."

Anjani menggeleng tegas. "Tidak."

"Iya."

"Pak Ren, saya bukan model."

"Kamu model."

"Saya desainer."

"Kamu dua-duanya."

Anjani menatapnya tidak percaya. Pria itu mengambil keputusan seperti sedang memilih menu makan siang saja.

"Pak Ren."

"Apa."

"Saya sudah lama nggak jadi model."

"Hm."

"Terakhir waktu kuliah."

"Hm."

"Itu bertahun-tahun lalu."

"Hm."

Jawabannya masih 'hm'. Entah ada apa dengan kata 'hm', hingga menjadi favorit si CEO bermuka masam itu.

"Dan saya bukan profesional."

Ren mengangguk. "Betul."

"Nah kan."

"Profesional yang kemarin kabur."

Ruangan langsung hening. Anjani terdiam dan yang lain ikut terdiam, karena itu memang benar. Model profesional mereka memang kabur.

Ren menyandarkan tubuh ke kursinya. "Kamu tahu masalah koleksi ini apa?"

Anjani menghela napas. "Kurang jiwa."

"Dan sekarang?"

"Sudah punya."

"Karena siapa?"

"Kita."

Semua yang di sana tentu tahu jawabannya. Bukan 'kita' tapi Anjani.

"Karena kamu."

Anjani tidak menjawab.

Ren melanjutkan. "Dari awal saya nggak butuh model yang hanya modal cantik."

"Saya butuh orang yang mengerti cerita koleksi ini. Tidak ada yang lebih mengerti selain kamu."

Anjani mulai merasa tidak nyaman. Bukan karena tersanjung, tapi karena semua orang kini melihat ke arahnya. Dan ia tidak suka menjadi pusat perhatian.

"Pak."

"Apa."

"Saya gugup kalau difoto."

"Bohong."

"Saya serius."

"Kamu barusan presentasi di depan dua puluh orang."

"Itu beda."

"Tidak."

Anjani hampir frustrasi. "Pak Ren."

"Apa."

"Saya bisa gagal."

Ren mengangguk. "Bisa."

"Nah."

"Tapi saya lebih percaya kamu daripada kandidat lain."

Kalimat itu keluar begitu saja tanpa drama. Semua orang tahu, Ren Aksara bukan tipe yang mudah percaya pada orang lain. Apalagi mengucapkannya terang-terangan.

Ren masih melanjutkan dengan santai. "Kalau gagal...kita gagal bersama. Kalau berhasil...perusahaan untung."

Anjani menghela napas panjang. "Pak Ren."

"Hm."

"Bapak sebenarnya sedang membujuk atau mengancam?"

Ren berpikir dua detik, lalu menjawab jujur. "Dua-duanya."

Beberapa staf langsung menunduk menahan tawa. Anjani memijat pelipisnya. Sementara Ren kembali membuka dokumen. Pembahasan menurutnya selesai, padahal korbannya belum menyetujui apa pun.

"Pak, saya belum bilang iya."

"Kamu bilang iya."

"Saya belum."

"Kamu akan."

"Kalau saya nggak mau?"

Ren akhirnya mengangkat kepala. Tatapan tajamnya langsung jatuh ke Anjani, lalu dengan santai berkata.

"Kalau begitu saya tambahkan ke hutangmu."

Deg.

Anjani membelalak. "Hah?"

"Biaya gaun, biaya studio, biaya investor panik, biaya saya pusing."

"PAK REN!"

Untuk pertama kalinya hari itu tawa pecah di ruang rapat. Sementara Ren tetap datar, tidak ikut tertawa, namun diam-diam ada rasa puas kecil di dalam dirinya, karena sesungguhnya Ren sudah mengambil keputusan itu jauh sebelum rapat hari ini dimulai. Mungkin sejak hari ketika seorang perempuan asing masuk ke belakang panggung menyelamatkan gaun yang dianggap gagal oleh semua orang. Atau mungkin sejak hari ketika Aurora yang kehilangan jiwanya mulai bernapas kembali di tangan yang sama.

Ren tidak tahu pasti. Yang ia tahu hanya satu. Sejak awal, ia tidak pernah mencari model. Ia hanya sedang menunggu Anjani menyadarinya.

Perdebatan panjang yang lebih mirip pemaksaan terselubung daripada proses perekrutan model, akhirnya sebagian besar staf memilih menyerah. Setidaknya sekarang model utama sudah ada, meski model tersebut terlihat jauh lebih syok dibanding seluruh tim yang hadir.

Anjani masih memegang map di tangannya sambil menatap Ren seolah sedang mempertimbangkan kemungkinan pria itu terkena demam. Sayangnya wajah datar Ren terlalu sehat untuk ukuran orang yang sedang mengigau.

Kepala Divisi Pemasaran menghela napas lega. "Syukurlah. Berarti besok kita bisa mulai pemotretan."

Ren yang sedang membaca dokumen langsung menyela.

"Sekarang."

Satu kata yang baru saja meluncur bebas dari bibir Ren membuat satu ruangan mendadak kehilangan kemampuan memahami bahasa Indonesia.

Kepala divisi pemasaran berkedip.

"Maaf..?"

"Pemotretannya." Ren mengangkat kepala. "Sekarang."

Deg. Anjani langsung menoleh cepat. "Hah?"

Beberapa staf bahkan refleks melihat jam dinding, seakan berharap mereka salah dengar. Tapi nyatanya tidak. Jam masih menunjukkan pukul satu siang. Dan Ren memang baru saja menyuruh pemotretan dilaksanakan sekarang juga.

"Pak..." Kepala divisi pemasaran mulai terlihat ingin menangis lagi. "Biasanya pemotretan utama perlu persiapan."

"Sudah."

"Make up?"

"Sudah ada."

"Stylist?"

"Siap."

"Fotografer?"

"Menunggu."

"Studio?"

"Kosong."

"Tapi modelnya belum siap."

Ren menunjuk Anjani. "Sudah ada."

Anjani yang ditunjuk langsung membelalak. "Saya belum siap!"

Ren mengangguk. "Saya tahu."

"Nah!"

"Makanya cepat siap-siap."

Orang ini benar-benar tidak bisa diajak hidup damai.

Lima belas menit kemudian, seluruh lantai kreatif Aurora berubah seperti sarang lebah yang baru disiram air. Semua orang berlarian. Tim make up bersiap. Tim wardrobe bergerak. Fotografer dipanggil. Lampu disiapkan. Background dipasang. Asisten produksi berlari ke sana kemari sambil membawa clipboard.

Dan di tengah kekacauan itu, Anjani masih berdiri membeku. "Pak Ren."

"Hm."

"Saya belum bilang iya."

"Kamu sudah berada di sini."

"Itu karena saya diseret."

"Berarti proses adaptasinya berjalan baik."

Anjani menutup mata, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Entah kenapa sejak bertemu Ren Aksara, kesabarannya berkembang sangat pesat. Kalau tidak, mungkin pria itu sudah dilempar pakai kursi.

Di ruang make up, Anjani duduk sedikit canggung di depan cermin besar yang dikelilingi lampu-lampu putih terang. Di belakangnya, dua makeup artist Aurora mulai bekerja.

Salah satu dari mereka mengamati wajah Anjani melalui pantulan cermin selama beberapa detik. Dengan profesional ia meneliti, menganalisis struktur wajah seperti seniman mengamati kanvas mahal.

"Wah." Satu suara kecil keluar dari bibirnya.

Rekannya ikut mendekat. "Hm."

Mereka berdua mengangguk bersamaan. Anjani yang diperhatikan seperti benda pameran mulai merasa tidak nyaman.

"Kenapa...?"

Kedua makeup artist itu saling pandang, lalu salah satunya tersenyum ramah.

"Mbak Anjani sadar nggak kalau wajah Mbak itu termasuk wajah yang dicari fotografer?"

Anjani berkedip. "Hah?"

"Bukan cantik biasa."

Anjani langsung ingin menolak, namun wanita itu melanjutkan lebih dulu.

"Struktur wajah Mbak unik." Ia menunjuk pelan. "Tulang pipi jelas, tapi lembut. Lalu mata Mbak itu menarik."

"Maksudnya?"

"Ekspresif."

Anjani tampak makin bingung, membuat makeup artist itu tertawa kecil.

"Sebagian model cantik saat diam. Sebagian cantik saat tersenyum. Ada yang cantik saat berbicara, bahkan ada yang cantik saat marah.

"Oh..." Anjani sok paham.

"Mbak Anjani semuanya dapat."

Anjani langsung salah tingkah.

Rekan makeup artistnya ikut menyahut. "Dan yang paling enak buat kami..."

"Apa?"

"Wajah Mbak gampang dirias."

Anjani tampak semakin bingung. Bukannya tersanjung, malah terlihat seperti sedang menghadapi soal ujian. Melihat itu, kedua makeup artist kembali tertawa.

"Banyak orang cantik, tapi nggak semua fotogenik. Banyak yang fotogenik, tapi nggak semua punya wajah yang bisa bercerita."

Salah satu makeup artist mengambil kuas. "Kalau Mbak termasuk tipe terakhir. Kami nggak perlu mengubah wajah Mbak. Kami cuma perlu membantu orang lain melihat apa yang sudah ada."

Anjani terdiam sesaat. Entah kenapa kalimat itu terdengar jauh lebih menyentuh daripada pujian biasa, karena selama bertahun-tahun, ia justru terbiasa mendengar kekurangannya, bukan kelebihannya.

Sementara di sudut ruangan, salah satu stylist yang ikut membantu persiapan tiba-tiba berkomentar. "Pantes Pak Ren ngotot."

Semua langsung menoleh. Stylist itu buru-buru menutup mulut. "Tolong anggap saya tidak bicara."

Dan suasana langsung pecah oleh tawa kecil.

Sementara itu di luar, Raka sedang memeriksa jadwal, lalu mendekati Ren.

"Pak."

"Hm."

"Kalau boleh jujur."

"Tidak boleh."

Raka diam dua detik dan tetap lanjut. "Saya tetap mau jujur."

Ren melirik. "Berani sekali."

"Saya cuma mau bilang."

"Apa."

"Bapak sebenarnya sudah merencanakan ini dari awal kan?"

Sunyi sesaat. Ren tetap membaca dokumen dengan tenang. Namun itu justru membuat Raka makin curiga. Dia tahu, setiap kali Ren terlihat terlalu tenang, biasanya ada sesuatu yang sedang disembunyikan.

"Bapak sengaja nolak semua model."

"Hm."

"Bapak sengaja bikin Mbak Anjani tidak punya jalan mundur."

"Hm."

"Bapak sengaja percepat jadwal pemotretan."

"Hm."

Raka mengangguk pelan. "Baik."

Ren akhirnya mengangkat kepala. "Apa yang baik?"

"Saya hanya sedang memastikan."

"Memastikan apa?"

Raka tersenyum tipis. "Kalau investor Aurora tidak perlu khawatir."

"Kenapa?"

"Karena ternyata model utama sudah dipilih jauh-jauh hari." Raka berhenti sebentar, kemudian menambahkan, "Dan saya rasa Pak Ren bukan sekedar memilih model biasa, tapi--"

Tatapan Ren langsung berubah tajam. Raka refleks mundur setengah langkah. Insting bertahan hidupnya masih berfungsi dengan baik. Namun sebelum Ren sempat menyuruhnya kembali bekerja selama dua puluh empat jam tanpa tidur, pintu ruang make up terbuka. Sosok yang baru keluar dari sana membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.

Deh. Deg. Deg.

Ujung telinga Ren kembali berkhianat.

Bersambung~~

1
ryuka
lanjuutt thoorrr👍👍👍👍👍👍
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭 eeeiiiiiyyy ada yg makin trrpesona deh nih 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ifana
pasti telinga nya ren langsung merah tu liat Anjani 🤣🤣
Najwa Aini
Aduuhhh...ngakak
Najwa Aini
Nah benar. aku setuju dgn komentar Staf
Najwa Aini
Aku gak bosan kok Sae dengan papamu
Najwa Aini
Itu bapakmu lo Sae
Ayuwidia
Pasti memerah
Ayuwidia
Uhuk, perhatian yang sangat unik, Pak Ren
Ayuwidia
Cemburu, tapi gengsi bossss 😆
Ayuwidia
Woah, aku pernah kena semburan ini
Ayuwidia
Kerja di mana pun pasti ada orang yg dengki ya 😏
ryuka
lanjuutt thoorrr
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭 raka kamu pintarrrr
Ayuwidia
Jiahhhh percaya diri sekali. Plek ketiplek Ren Aksara
ryuka: bapak nya bodoh ga bisa jaga hati dan otakk.. ekhhh anak nyq jadi ketularan juga dehh
total 1 replies
Ayuwidia
Anak ini, selalu sukses bikin orang dewasa ngakak 😆
Ayuwidia
Ikan lohan 😆
Ayuwidia
Nih anak terlalu jujur 😆
Ayuwidia
CK, pasti suara si ulet kekekt 😏
ryuka
lanjuutt thoorr.. double up klo bisa 🤭🤭🤭🤭🤭🤭👍👍👍🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!