NovelToon NovelToon
Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Status: tamat
Genre:Beda Usia / CEO / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Semangkuk Bakso dan Angan yang Tumbuh

​Mobil Rolls-Royce hitam mewah milik Calix membelah keramaian pinggiran kota sebelum akhirnya berhenti tepat di depan sebuah ruko sederhana. Asap mengepul tinggi dari sebuah dandang besar di gerobak bertuliskan "Bakso Solo Mas Slamet". Tempat itu sangat ramai, dipadati oleh aroma kuah kaldu yang gurih dan bisingnya obrolan khas warung tenda pinggir jalan.

​Begitu pintu mobil dibuka oleh Doni, sosok Calix keluar dengan setelan jas kerja lengkap ala CEO bernilai ratusan juta rupiah. Kehadirannya seketika menghentikan kunyahan beberapa pelanggan. Calix berdiri tegap, menyesuaikan jasnya yang kaku dengan ekspresi masam, membuat ruangan ruko yang sempit itu mendadak terasa seperti ruang rapat VIP.

​Di sampingnya, Mireya melangkah turun dengan gaun kasual sederhana dan riasan wajah yang teramat tipis. Namun, kesederhanaan itu justru memancarkan kecantikan yang luar biasa anggun dan lembut. Kulitnya yang bersih diterpa lampu neon ruko membuat beberapa pria di sudut warung tak berkedip, memandang kagum pada pesona alami gadis desa tersebut.

​Melihat tatapan lapar dari pria-pria itu, insting protektif Calix langsung bangkit. Ia melangkah maju, menghalangi pandangan mereka dengan tubuh tegapnya, lalu dengan posesif merangkul pinggang Mireya, menariknya mendekat ke gerobak bakso.

​"Mau pesan apa, Neng? Eh... Masnya juga?" tanya Mas Slamet, si penjual bakso, agak gugup melihat wibawa Calix yang luar biasa menekan.

​Mireya tersenyum manis, memecah ketegangan. "Bakso urat dua porsi ya, Mas. Yang satu porsinya tolong cabainya agak banyakan."

​"Siap, Neng. Ini... pacarnya ya? Ganteng amat kayak artis," seloroh Mas Slamet sembari menyiapkan mangkuk.

​Mireya terkekeh pelan, lalu menoleh sekilas ke arah Calix yang sedang membuang muka demi menyembunyikan kecanggungannya. "Bukan pacar, Mas. Ini suami saya."

​Deg.

​Jantung Calix rasanya seperti berhenti berdetak selama satu detik penuh. Kata 'suami saya' yang meluncur begitu mulus dan polos dari bibir Mireya menghantam dadanya dengan telak. Ada rasa bangga dan letup-letup kebahagiaan yang teramat besar menyeruak di hatinya. Gengsi yang tadi ia agungkan runtuh seketika, digantikan oleh senyuman tipis yang buru-buru ia sembunyikan dengan berdehem berat.

​"Ehem. Cari tempat duduk yang bersih, Mireya," perintah Calix, suaranya melembut meski tetap berusaha terdengar kaku.

​Mereka duduk di sudut meja kayu yang panjang. Calix memandangi mangkuk bakso yang dihidangkan di depannya dengan ragu. "Kamu yakin ini steril, Mireya? Kuahnya terlihat sangat... merah."

​"Ini enak, Calix. Cobalah sedikit," bujuk Mireya, matanya tampak berbinar ceria—sebuah pemandangan yang membuat dada Calix merasa sangat lega. Kesedihan Mireya perlahan mulai terkikis oleh hal sederhana ini.

​Calix mengambil sendok, mencicipi kuah bakso milik Mireya yang penuh sambal. Dan...

​"Uhuk! Uhuk!" Calix langsung tersedak hebat, wajahnya memerah padam dalam sekejap. Tenggorokannya terasa seperti dibakar oleh cabai rawit. "Mireya! Senjata apa yang kamu masukkan ke dalam mangkuk ini?! Ini bukan makanan, ini racun!"

​Mireya tertawa lepas—sebuah tawa yang begitu merdu dan tulus yang baru pertama kali Calix dengar sejak mereka terikat kontrak. "Itu namanya sambal, Tuan Calix yang terhormat. Makanya, minum air tehnya dulu." Mireya dengan telaten menyodorkan segelas es teh manis, membantu Calix meredakan rasa pedasnya.

​Melihat Mireya tertawa lepas seperti itu, Calix melupakan rasa pedas di lidahnya. Ia hanya terpaku menatap wajah cantik istrinya dengan tatapan yang kian melembut.

​Setelah menghabiskan setengah porsi baksonya dengan pelan, Mireya mendongak menatap Mas Slamet. "Mas, tolong bungkuskan sepuluh porsi lagi ya. Mau saya bawa pulang untuk oleh-oleh orang di rumah."

​Calix yang mendengar hal itu langsung menyela dengan gaya tsundere-nya yang khas. "Tambah dua porsi lagi, Mas. Jadi dua belas porsi."

​Mireya mengernyitkan dahi bingung. "Untuk siapa lagi dua porsi, Calix? Di rumah kan pelayannya pas sepuluh orang dengan Bi Ani."

​"Untuk Doni," jawab Calix cepat, memalingkan wajahnya ke arah jalanan. "Doni itu porsi makannya banyak seperti kuli. Kasihan kalau dia hanya kebagian satu porsi."

​Doni yang berdiri berjaga di dekat pintu ruko hanya bisa menahan senyumnya kuat-kuat di balik draf tugasnya. Ia tahu betul bosnya berbohong, dua porsi tambahan itu jelas diniatkan Calix untuk dirinya sendiri yang diam-diam ketagihan rasa kaldu gurih bakso tersebut namun terlalu gengsi untuk mengakuinya pada Mireya.

​Saat mereka sedang menunggu pesanan dibungkus, seorang ibu muda duduk di meja sebelah dengan menggendong seorang anak bayi laki-laki berusia sekitar sepuluh bulan yang sangat lucu dan bermata bulat besar.

​Naluri keibuan Mireya langsung terusik. Ia bergeser sedikit, menjulurkan jarinya ke arah bayi itu sembari membuat suara-suara lucu. "Ciluuk... baa! Halo, Sayang... Namanya siapa? Lucu banget sih..."

​Bayi itu tertawa cekikikan, tangan mungilnya mencoba meraih jemari Mireya. Mireya membalasnya dengan senyuman yang teramat tulus, penuh keceriaan dan kelembutan yang memancar sempurna dari wajahnya.

​Calix tertegun di tempatnya. Ia menopang dagunya dengan tangan, menatap intens ke arah Mireya yang sedang menghibur bayi asing itu. Di dalam benaknya, sebuah angan-angan indah mendadak tumbuh secara liar. Calix membayangkan, beberapa bulan dari sekarang, ketika rahim Mireya sudah terisi oleh benihnya... pemandangan cantik seperti inilah yang akan ia lihat di dalam mansionnya setiap hari. Mireya yang ceria, menggendong anak mereka, dan tersenyum menyambut kepulangannya dari kantor.

​Aku benar-benar ingin melihatnya menggendong anakku sendiri, batin Calix, hatinya berdesir hangat penuh kerinduan yang asing.

​"Tuan Calix, baksonya sudah siap semua," ucapan Doni membuyarkan lamunan indah Calix.

​Calix berdehem, bangkit berdiri dan langsung menggandeng erat tangan Mireya untuk menuntunnya kembali ke dalam mobil. Malam itu, untuk pertama kalinya, perjalanan pulang mereka diisi oleh obrolan-obrolan kecil yang hangat, tanpa ada lagi sekat kontrak yang kaku.

​Namun, di balik kehangatan malam itu, sebuah bayang-bayang kegelapan sedang mengintai dari kejauhan.

​Di dalam sebuah mobil sedan hitam yang terparkir agak jauh di seberang ruko bakso, tiga pasang mata sedang menatap kepergian Rolls-Royce Calix dengan tatapan penuh kebencian dan dendam yang membara.

​Ardan Pradipta dan Fiona duduk di kursi belakang dengan wajah yang tampak frustrasi dan berantakan setelah perusahaan mereka dinyatakan bangkrut total sore tadi. Sementara di kursi kemudi, Bianca duduk dengan senyum sinis yang teramat licik, mencengkeram setir mobilnya erat-erat.

​"Lihat wanita murahan itu," desis Fiona dengan gigi terancam. "Dia bersenang-senang di atas penderitaan orang tuanya sendiri! Dia membiarkan kita jadi gelandangan sementara dia hidup mewah dengan Calix!"

​"Tenang saja, Tante Fiona, Om Ardan," ucap Bianca dengan nada suara yang lambat dan penuh bisa ular. "Calix mungkin sekarang sedang dibutakan oleh gadis desa itu. Tapi kalian jangan khawatir... aku memiliki rencana besar untuk menghancurkan Mireya sampai ke akarnya. Dan untuk melancarkannya, aku butuh bantuan kalian berdua."

​Ardan Pradipta menatap Bianca dengan kilatan mata yang penuh keputusasaan sekaligus keserakan yang kembali bangkit. "Apa pun, Bianca... lakukan apa pun untuk merebut kembali uang dan posisi kami. Katakan, apa yang harus kami lakukan untuk menyingkirkan anak durhaka itu dari hidup Calix?"

​Bianca terkekeh kejam, menyalakan mesin mobilnya dan melesat pergi membelah kegelapan malam, bersiap menyusun badai besar yang akan segera menghantam kebahagiaan kecil yang baru saja tumbuh di antara Calix dan Mireya.

1
umie chaby_ba
kasian calix 🤭
elief
calix sudah menerima hukumannya mireya, sudah cukup. coba kamu sekarang berdamai dengan hati kamu, mencoba memaafkan kembali. semoga hati mu luluh ya mireya dan kembali ke calix. 👍
Ariska Kamisa: Terima kasih kak atas komentarnya ❤️. Memaafkan memang penting, tetapi menyembuhkan luka juga butuh waktu. Kita lihat nanti apakah cinta Calix cukup kuat untuk meluluhkan hati Mireya kembali 🥹✨💕
total 1 replies
umie chaby_ba
kasian juga sih sebenarnya calix...
🤭
Ariska Kamisa: iya ya kak ... tapi mireya juga sakit sih kak
total 1 replies
elief
karya mu bagus thor, tetapi semangat dalam berkarya💪
Ariska Kamisa: MasyaAllah, terima kasih banyak kak. Komentar seperti ini yang bikin saya semangat berkarya dan melanjutkan cerita. Sehat dan bahagia selalu ya ❤️🌷
total 1 replies
elief
lanjut thor, semoga hati mireya luluh kembali.
Ariska Kamisa: siap kak, 👍
total 1 replies
elief
lanjut thor
Ariska Kamisa: siap kak👍
total 1 replies
umie chaby_ba
Ditinggal baru merasa kehilangan lo?! /Right Bah!/
Ariska Kamisa: ya begitulah manusia kak🤭
total 1 replies
Ariska Kamisa
🤭🤭🤭🤭
umie chaby_ba
lanjutkan thor💪
Ariska Kamisa: terimakasih kak🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
tuh kan feeling ku juga Ilana karena belum tertangkap
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭 ketebakbya
total 1 replies
umie chaby_ba
bener mending pergi aja mireya!!!
Ariska Kamisa: iya yuk
total 1 replies
umie chaby_ba
ya Tuhan... rencana zeana KW effort banget sampai di rekannya live lagi!! jahat banget /Panic/
Ariska Kamisa: iyah iih jahatnya kebangeten yaa
total 1 replies
umie chaby_ba
gob**k... /Angry/
itu berarti jebakan si zeana KW
Ariska Kamisa: sabar kak... sabar 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
dih masih ingat aja!
Ariska Kamisa: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
calix... lo awas aja nyakitin! tapi kayanya si calix masih ngarep zeana masih hidup kali 🤭
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
calix lo labil banget dih!! /Angry/
Ariska Kamisa: iyah emang calix nih... nakal🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
sumpah nyesek/Cry/
Ariska Kamisa: sabar ya kak 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
ada lagi aja! baru geh dimanjain bentar!
Ariska Kamisa: namanya hidup kak... selalu ngada-ngada..
stay read kak🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
zeana kw ini!!!
Ariska Kamisa: iyah ka terobsesi banget jadi kesayangannya calix
total 1 replies
umie chaby_ba
kepedean lo Bianca!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!