" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.
Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19. Langkah Pertama
Aroma sisa hujan semalam masih menguar di udara Jakarta saat Valerian melangkah keluar dari kafe privat tersebut. Langkah kakinya kini terasa jauh lebih mantap dibandingkan beberapa jam yang lalu.
Di dalam tas jinjingnya, map hitam berisi dokumen aset dan penunjukan dirinya sebagai CEO rahasia terasa begitu berat, namun berat yang kali ini tidak lagi menghimpit dadanya, melainkan memberinya sebuah kekuatan baru.
Kecupan hangat dan janji manis Aksa di sudut kafe tadi seolah menjadi bahan bakar yang membakar habis rasa tidak berdayanya sebagai seorang istri pajangan. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri, juga pada pria di kamar sebelah yang teramat memujanya itu, bahwa ia tidak akan lagi membiarkan Damian menginjak-injak harga diri dan masa depan keluarganya.
Begitu tiba di kediaman Wardhana menjelang sore hari, Valerian langsung menuju ke ruang kerja pribadinya yang kecil di lantai dua, ruangan yang selama ini hanya ia gunakan untuk membaca buku atau mengurus keperluan rumah tangga yang membosankan. Ia mengunci pintu dari dalam, lalu menggelar seluruh berkas dari Aksa di atas meja kayu.
Matanya yang indah menyapu barisan angka, grafik, dan skema bisnis properti dari anak perusahaan baru bernama V-Property Group. Nama yang sengaja Aksa pilih, sebuah simbol kepemilikan tersembunyi yang merujuk langsung pada nama depannya: Valerian.
Tok! Tok!
Ketukan keras di pintu seketika membuat Valerian tersentak. Dengan sigap dan cepat, ia memasukkan kembali seluruh dokumen rahasia itu ke dalam laci meja kerja yang memiliki kunci ganda, lalu membukanya dengan raut wajah sejujur mungkin.
Damian berdiri di ambang pintu. Setelan jas bisnisnya masih rapi, namun gurat kelelahan dan sisa amarah semalam masih membekas di wajah tampannya yang angkuh. Riak cemburu di dalam dadanya tampak sedikit mereda setelah melihat istrinya berada di dalam rumah, tidak berkeliaran di luar bersama adiknya.
"Dari mana saja kau seharian ini, Valerian?" tanya Damian dengan suara baritonnya yang berat, melangkah masuk ke dalam ruangan kecil itu dengan aura mengintimidasi yang kian akrab. "Pelayan bilang kau pergi sejak siang dan baru kembali sekarang. Apakah kau melupakan perintahku semalam untuk tidak keluar tanpa izin?"
Valerian menarik napas dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang netra elang suaminya dengan ketenangan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Aku hanya pergi ke toko buku dan mencari udara segar, Damian," jawab Valerian dengan nada suara yang teratur dan datar. "Ruangan ini terlalu sepi setelah keributan semalam. Lagipula, kau sibuk di kantor, bukan? Urusan penarikan saham Aksa pasti menyita waktumu."
Mendengar nama Aksa disebut dari bibir istrinya, rahang Damian kembali mengeras rapat. Ia melangkah mendekat, mencengkeram dagu Valerian dengan gerakan posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.
"Jangan pernah menyebut namanya lagi di depanku, Valerian. Urusan bisnis Aksa adalah urusanku. Yang perlu kau lakukan hanyalah duduk diam di rumah ini, menjadi istri yang patuh, dan memastikan kau tidak membuat malu nama baik Wardhana Group lagi setelah kelakuan berengsek adikku semalam."
Damian mendekatkan wajahnya, mengecup bibir Valerian dengan kasar dan penuh penekanan—sebuah kecupan sepihak yang tidak lagi didasari oleh gairah murni, melainkan sebuah penegasan hak milik yang merendahkan kebebasan istrinya. "Malam ini, aku ada jamuan makan malam bisnis dengan beberapa menteri. Bersiaplah, kau harus mendampingiku sebagai nyonya rumah yang sempurna."
Setelah melepaskan cengkeramannya, Damian berbalik melangkah pergi. Begitu pintu tertutup, Valerian langsung menyeka bibirnya dengan punggung tangan. Kilat amarah dan tekad yang kuat menyala di matanya. Sabar, Valerian. Sebentar lagi, kau tidak perlu lagi tunduk pada perintah pria angkuh ini, bisiknya di dalam hati.
Keesokan paginya, rencana pembimbingan rahasia dari Aksa pun resmi dimulai. Aksa telah mengatur sebuah pertemuan tertutup di sebuah gedung perkantoran independen di kawasan Sudirman, jauh dari jangkauan mata-mata Wardhana Group ataupun Clarissa Narendra yang licik.
Valerian datang dengan mengenakan setelan blazer formal berwarna marun, menampilkan kesan seksi sekaligus elegan yang memancar dari aura wanita karier yang tangguh. Rambut panjangnya disanggul rapi, mengekspos leher jenjangnya yang kini bersih tanpa jejak kasar dari Damian.
Begitu ia masuk ke ruang rapat privat di lantai tiga puluh, Aksa sudah berdiri menunggunya di balik meja kaca besar. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan sisi maskulin yang teramat seksi sekaligus profesional. Seringai tipis yang hangat terukir di sudut bibirnya yang sempat terluka semalam.
"Selamat pagi, Madam CEO," sapa Aksa dengan nada parau yang menggoda, mengembalikan sisi humorisnya yang sempat hilang akibat badai cemburu di meja makan kemarin.
Valerian tersenyum tipis, meletakkan tasnya. "Jangan menggodaku, Aksa. Aku benar-benar gugup. Hari ini apa yang harus kupelajari terlebih dahulu?"
Aksa berjalan mendekat, memotong jarak di antara mereka hingga aroma kayu manis dari tubuhnya kembali memenuhi indra penciuman Valerian. Namun, kali ini Aksa menahan diri untuk tidak langsung menyentuh tubuh wanita itu. Ia ingin menunjukkan bahwa ia benar-benar serius ingin membimbing Valerian menjadi wanita hebat yang memiliki aset mandiri.
Langkah pertama adalah menguasai medan perang, Valerian," ucap Aksa dengan suara yang berat dan fokus, membuka sebuah layar proyektor besar yang menampilkan peta proyek properti di kawasan Jakarta Barat. "Anak perusahaan yang kuberikan padamu saat ini memegang proyek pembangunan apartemen mewah senilai ratusan miliar. Damian saat ini sedang fokus mengurus pemisahan sahamku di kantor pusat, jadi dia tidak akan menyadari bahwa aliran dana taktis dari sub-holding ini telah dialihkan sepenuhnya ke bawah kendalimu."
Selama empat jam berikutnya, Aksa benar-benar membimbing Valerian dari nol dengan penuh kesabaran. Ia mengajarkan cara membaca laporan keuangan, menganalisis risiko investasi, hingga trik bernegosiasi dengan para kontraktor kelas kakap yang terkenal licik. Valerian mendengarkan setiap instruksi dengan fokus yang luar biasa, mencatat setiap detail penting di dalam buku kecilnya.
Di tengah-tengah penjelasan yang intens itu, kedekatan fisik di antara mereka tak pelak kembali menyulut kehangatan terlarang yang membara. Saat Aksa menunduk untuk menunjukkan salah satu klausul kontrak di atas meja, dada bidangnya yang hangat bergesekan langsung dengan bahu Valerian.
Aksa menghentikan penjelasannya. Sepasang netra gelapnya menggelap seutuhnya saat menatap bibir manis Valerian yang berada tepat beberapa jengkal di hadapannya. Kerinduan posesif yang sempat tertahan kembali meronta di dalam dadanya.
"Kau belajar dengan sangat cepat, Valerian," bisik Aksa parau, jemarinya yang hangat perlahan merayap naik, mengusap rahang lembut Valerian dengan kelembutan yang memabukkan. "Melihatmu seperti ini... membuatku semakin gila dan tidak sabar untuk merebutmu seutuhnya dari tangan suamimu."
Valerian terengah pelan, menatap kilat gairah di mata Aksa yang menuntut kepasrahan total. Ia membiarkan Aksa menarik pinggang rampingnya mendekat, membiarkan tubuh mereka kembali menyatu dalam pelukan yang hangat intens di balik jendela kaca ruang rapat yang terkunci rapat itu. Di bawah bimbingan rahasia sang adik ipar, Valerian tidak hanya belajar menjadi ratu bisnis, melainkan kian tenggelam dalam candu cinta terlarang yang tak lagi bisa ia lepaskan.
Sementara itu, di kediaman keluarga Narendra, Clarissa tidak tinggal diam setelah rencananya memprovokasi Damian di meja makan kemarin gagal memisahkan mereka. Dengan senyuman licik yang kian berbahaya, wanita lulusan London itu mengundang Nyonya Zen Wardhana untuk minum teh sore bersama di sebuah restoran mewah.
"Tante Zen," Clarissa membuka suara dengan nada manis yang penuh racun tersembunyi. "Apakah Tante tahu jika belakangan ini Valerian sering pergi ke kawasan Sudirman sendirian? Aku hanya khawatir... di saat Kak Damian sedang pusing mengurus masalah saham Aksa, Kak Vale justru menyembunyikan sesuatu yang besar di belakang kita semua."
Nyonya Zen mengernyitkan dahi tidak suka, riak curiga mulai merayap di wajah tuanya. "Kawasan Sudirman? Untuk apa dia ke sana? Dia tidak memiliki bisnis apa pun di luar rumah ini."
Clarissa terkekeh pelan, mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari dalam tasnya lalu menggesernya ke hadapan ibu mertua Valerian itu. "Ini adalah foto-foto mobil Valerian yang terparkir di gedung perkantoran independen yang sama dengan tempat Aksa mendaftarkan perusahaan barunya, Tante. Kurasa... ada yang mereka rahasiakan".
Nyonya Zen membuka amplop tersebut, dan matanya seketika membelalak sempurna penuh dengan amarah yang meledak-ledak saat melihat bukti kedekatan tersembunyi antara menantu dan putra keduanya itu.