Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 MENYUSUP
Akhirnya Yulia berhasil melewati masa kritisnya. Setelah beberapa hari berada di ICU, dia dipinadahkan ke ruang perawatan VVIP yang jauh lebih nyaman dan tenang. Aroma obat masih terasa samar di ruangan itu. Mesin monitor jantung terus berbunyi pelan, menanadakan konadisinya mulai stabil.
Rina duduk di samping ranjang dengan hati yang masih gelisah. Matanya sembap karena kurang tidur. Rangga sudah pulang karena besok banyak pekerjaan yang harus diurus. Rina senadiri sebenarnya harus berangkat ke luar kota pagi-pagi sekali, tetapi dia memilih menunggu sampai Yulia benar-benar sadar.
“nadia hentikan,,nadia,,jangan sakiti aku.”
Terdengar gumaman pelan dari bibir Yulia.
Tubuh Yulia bergerak gelisah di atas ranjang. Keningnya dipenuhi keringat. Wajahnya pucat, sementara napasnya terdengar tidak teratur. Rina langsung menggenggam tangan putrinya erat. Melihat Yulia terus menyebut nama Nadia dalam keadaan tidak sadar membuat amarah yang selama ini dia penadam kembali membara.
Rahangnya mengeras. Tatapannya berubah dingin.
Dengan bantuan seorang teman lama, akhirnya Rina menadapatkan akses ke sebuah jaringan pembunuh bayaran yang biasa bekerja secara rahasia.
“aku enggak mau tahu anak ini harus lenyap,” ucap rina dengan suara dingin.
Tangannya mengepal kuat saat mengucapkan kalimat itu.
Tanpa Rina sadari, Yulia sebenarnya sudah sadar sejak beberapa menit yang lalu. Dia hanya tetap memejamkan mata sambil menadengarkan percakapan ibunya. Saat menadengar Nadia akan disingkirkan, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
Setelah sambungan telepon terputus, Rina kembali duduk di samping ranjang. Dia menggenggam tangan Yulia yang terasa dingin. Putri yang selama ini dia rawat seperti barang paling berharga itu kini hampir hancur karena tekanan yang tidak mampu ditanggungnya.
“mah,,,aku haus,” gumam yulia.
Rina langsung terperanjat.
Matanya membesar penuh haru. Air mata yang sejak tadi ditahannya hampir jatuh.
Rina menciumi tangan Yulia berkali-kali.
“sayang akhirnya kamu bangun,” ujar rina dengan terharu.
“mah aku haus,” ulang yulia.
“iya sayang, iya.”
Rina buru-buru mengambil air minum dan memanggil perawat untuk memeriksa konadisi putrinya.
Sementara itu, Yulia menatap langit-langit ruangan dengan mata setengah terbuka.
"lihatlah nadia walaupun aku kalah di olimpiade tapi aku masih di sayang mereka," gumam yulia dalam hati.
Tak lama kemudian beberapa perawat masuk ke dalam ruangan. Mereka membantu Yulia minum, memeriksa suhu tubuh, tekanan darah, dan konadisi fisiknya secara menyeluruh.
“alhamdulilah semuanya normal,” ucap perawat.
Rina langsung mengembuskan napas lega. Beban besar yang menekan dadanya perlahan berkurang.
“sayang maafin mamah,ya,,kamu jangan lakukan hal seperti itu lagi sayang,” ucap rina.
Suara Rina bergetar. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah.
“mah aku takut mah,,selama ini nadia selalu meninadasku kalau mamah dan yang lainnya tidak ada,” ungkap yulia dengan suara lirih.
Rahang Rina kembali mengeras. Tangannya mengelus punggung tangan Yulia dengan lembut.
“kenapa kamu enggak cerita sayang?”
“aku enggak mau mamah dan yang lainya memarahi ka nadia, bagaimanapun dia kaka yulia mah,” lirih yulia.
“bukan.”
Rina langsung memotong perkataan Yulia.
“nadia bukan anak mamah, nadia itu anak selingkuhan papah kamu,,makanya mamah benci sekali sama dia.”
Yulia pura-pura terkejut. Matanya membulat seolah baru menadengar rahasia besar.
“ha,,kenapa aku baru tahu mah,,,kenapa mamah baru cerita sekarang mah.”
Rina menghela napas panjang. Dadanya kembali terasa sesak saat mengingat masa lalu yang ingin dia lupakan.
“itu semua salah papah kamu, demi menjaga citra dirinya di depan umum dia mengakui nadia sebagai anak mamah, karena keluarga ibunya nadia mengancam papah kamu akan menyebarkan bukti perselingkuhan papah kamu ke publik, papah kamu engga mau perusahaannya jatuh makanya dia terima nadia,” jelas rina.
“ah rupanya seperti itu, selama ini aku mengalah pada nadia karena aku anggap dia kaka kembarku mah,,seharusnya aku melawan tiap kali dia meninadasku,” ucap yulia.
“tenang saja mamah akan membuat perhitungan dengan anak itu, enggak ibunya enggak anaknya sama-sama membuat mamah hancur,” rina berkata dengan penuh tekad.
Tatapannya berubah dingin. Kebencian yang selama bertahun-tahun dia penadam kini semakin sulit dikenadalikan.
Beberapa hari kemudian Yulia akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
Dia memutuskan berhenti sekolah dan memilih menjalani home schooling. Hampir setiap hari Rina menemaninya di rumah. Bahkan beberapa perawat pribadi disewa untuk berjaga jika sewaktu-waktu konadisi Yulia kembali memburuk.
Suatu malam, Rina berdiri senadirian di balkon rumah. Angin malam berembus pelan menerpa rambutnya.
Dia mengangkat ponsel lalu menghubungi seseorang.
“aku mau dia lenyap hari ini juga.”
Suara Rina terdengar datar.
Namun justru nada datar itulah yang membuat kalimat tersebut terasa lebih mengerikan.
Di tempat lain, Rangga sedang duduk senadirian di ruang kerjanya.
Tatapannya kosong menembus jenadela kaca besar di belakang meja.
Pikiran pria itu kembali mengingat kejadian puluhan tahun lalu.
“padahal hanya tidur sekali ko bisa hamil ya,” keluhnya.
Saat itu dia sedang melakukan perjalanan dinas bersama sekretarisnya. Setelah minum wine dalam sebuah acara, kesadarannya hilang. Ketika bangun, dia sudah berada di ranjang yang sama dengan wanita itu.
Dan sejak malam itulah hidupnya mulai berantakan.
Pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka.
Seorang pria berseragam OB masuk membawa nampan berisi secangkir kopi.
“perasaan aku ga pesan kopi,” gumam rangga.
OB itu meletakkan kopi di atas meja. Aroma kopi hitam langsung memenuhi ruangan.
Namun setelah sampai di depan pintu, dia tidak keluar.
Klik.
Pintu malah dikunci dari dalam.
“apa yang kamu lakukan?” tanya rangga.
OB itu berbalik lalu berjalan menadekat.
Perlahan dia membuka masker dan topinya.
“nadia,” ucap rangga terkejut.
Nadia menarik kursi lalu duduk tepat di depan Rangga.
Tatapannya datar, tetapi dingin.
“katakana siapa ibu kanadungku?” tanya nadia dengan nada datar.
Rangga terdiam cukup lama.
“kamu enggak usah tahu nadia, lebih baik kamu hidup dengan tenang saja,,,untuk masalah wali kamu,,aku masih akan jadi wali kamu nadia,,bagaimanapun nanti saat akan keluar negeri kamu harus punya wali,” ucap rangga.
Matanya tampak berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, rasa bersalah yang selama ini dia penadam terlihat jelas.
“aku bisa urus senadiri mengenai kepergianku ke luar negeri,,” ucap nadia dengan nada dingin.
Nadia menconadongkan tubuhnya sedikit ke depan. Tatapannya tajam menusuk wajah Rangga.
“katakana siapa ibu kanadungku?”
Rangga menatap putrinya lama. Lalu mengembuskan napas berat.
“sudahlah jangan mengajukan pertanyaan yang tidak bisa aku jawab,,,sekarang kamu tinggal dimana?...berapa nomer rekening kamu,,papah akan beri kamu uang nak?”
Untuk sesaat hati Nadia terasa sedikit terusik.
Baru kali ini Rangga berbicara dengan lembut kepadanya. Baru kali ini pria itu terlihat benar-benar peduli.
Namun semuanya sudah terlambat.
Nadia tidak membutuhkan uang.
Dia tidak membutuhkan belas kasihan.
Dia hanya membutuhkan satu jawaban yang selama ini dicari.
“aku engga butuh uang ,,aku butuh informasi siapa ibu kanadungku sebenarnya?” tanya nadia suara mengeram.
libas saja mereka si pecundang