Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?
Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.
Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti awal
Setelah shalat Juhur, misi selanjutnya Amira adalah mengganti lampu-lampu terang di sekitar rumah dengan lampu awal yang Farhan pasang lampu temaram yang mendekati gelap. Setiap mengingat momen Amira merubah rumah Farhan, dia tersenyum miris. Tidak ada manusia sepercaya dirinya yang beranggapan kalau sudah menikah, rumah adalah wilayah istri. Rumah ini selamanya bukan areanya.
"Kak, tukang yang mau pasang lampu udah datang," ucap Ammar memberi tahu Amira.
"Suruh masuk aja. Masih tukang yang sama, kan? Lampu yang waktu itu disimpan di gudang, kamu udah ambil?"
"Iya, Kak. Tukang yang lama dekat rumah kita kebetulan lagi libur kerja. Lampu-lampunya udah siap, tinggal dipasang," sahut Ammar.
"Ok." Tak lama, tukang yang akan memasang lampu masuk ke dalam rumah.
"Pak, masih ingat kan posisi lampu waktu itu? Soalnya Bapak biasa ya pasang lampu kaya gini di rumah orang kaya, hehe," ucap Amira bertanya pada tukang yang udah profesional.
"Iya, Mbak. Saya masih ingat, dan masing-masing jenis lampu yang akan dipasang di mana, insya Allah saya tau. Kenapa diganti ke lampu lama lagi, Mbak? Bukannya udah bagus jadi terang?" tanya tukang penasaran.
Amira tersenyum. "Alhamdulillah kalau gitu, lega saya. Nggak apa-apa, Pak. Setelah dipikir-pikir, lebih nyaman pakai lampu yang sebelumnya, lebih tenang dan nyaman," ucap Amira berbohong.
"Oh gitu. Yaudah, saya mulai ya, Mbak."
"Baik, Pak. Silakan."
Karena hanya mengganti lampu, tidak memakan waktu seharian. Sebelum ashar, sudah selesai semua.
"Kak, semuanya udah beres. Sekarang mau ngapain lagi?" tanya Ammar. Dia yang lebih semangat membantu kakaknya mengembalikan kondisi rumah seperti awal, sedangkan Amara hanya membantu merapikan rumah tanpa banyak berkomentar.
"Ini, Mar. Copot foto-foto yang ada di ruang tamu dan ruang keluarga. Setelah dipikir-pikir, norak juga pasang foto banyak kaya gini, kaya galeri pameran aja, hihihi," ucap Amira lagi-lagi dengan mata berkaca-kaca. Foto momen pas nikah, bulan madu, bahkan jalan-jalan bersama suami dan kedua adiknya harus ia copot dari tembok. Awalnya ia pikir ini adalah momen bersama, nyatanya hanya miliknya.
"Kita pasang di rumah kita aja, Kak, kalau Kakak suka foto-foto ini," ucap Ammar ikut sedih melihat kondisi kakaknya yang pura-pura kuat.
Amira menggelengkan kepalanya. "Jangan. Lebih baik ditaruh di gudang atau dibakar aja. Sekarang zamannya canggih, tinggal lihat di hape aja, udah nggak zaman cetak foto."
"Yaudah, kalau kaya gitu aku ikut Kakak aja." Setelahnya, Ammar membantu Amira menurunkan bingkai foto yang sebelumnya Amira pasang dengan antusias, sekarang dia melepasnya tanpa keraguan.
Setelah foto-foto kebersamaan Amira dengan Farhan dan kedua adiknya diturunkan, Amira kemudian mengeluarkan foto-foto dari bingkainya. Lembaran foto-foto itu ia satukan, Amira membawanya ke taman belakang dan membakarnya di tempat khusus untuk membakar kayu untuk menghangatkan badan.
Sesekali Amira mengusap air matanya, dadanya sesak mengingat kalau hanya dia yang bersemangat dalam rumah tangga ini. "Aku terlalu percaya diri."
Ammar dan Amara melihat Amira menangis, membuat mereka ikut merasakan kesedihan. Amara yang paling tidak mengerti perihal kejadian yang akhir-akhir ini begitu tiba-tiba.
"Bang, Kakak kenapa kok sedih banget? Mas Farhan nggak sayang Kakak lagi ya?" ucap Amara polos.
"Itu urusan Kakak dan Mas Farhan. Yang terpenting, kita selalu ada buat Kakak dalam kondisi apa pun."
Ammar mengelus pundak adiknya, memberi isyarat agar tidak bertanya langsung pada Amira. Ia tahu, saat ini yang dibutuhkan kakaknya bukanlah pertanyaan, melainkan kehadiran. Api di tempat pembakaran itu perlahan meredup, menyisakan abu hitam yang beterbangan tertiup angin sore. Begitu pula kenangan yang baru saja dibakarnya: lenyap menjadi debu.
"Kak, ayo masuk. Udah mau Maghrib," ajak Ammar lembut pada Amira.
Mereka bertiga berjalan kembali ke dalam rumah. Begitu melangkah melewati pintu, suasana terasa langsung berubah. Lampu temaram yang kembali terpasang menerangi ruangan dengan cahaya kuning redup, persis seperti saat Amira pertama kali menginjakkan kaki di sini sebagai istri Farhan. Bedanya, dulu suasana ini terasa asing dan membuatnya ingin mengubah segalanya agar terasa seperti rumah sendiri. Sekarang, suasana yang sama justru terasa pas, sesuai dengan kenyataan bahwa tempat ini memang bukan miliknya.
Malam itu berjalan sunyi. Amira duduk di ruang tengah, menatap bayangannya sendiri di dinding yang remang. Ponselnya yang sejak tadi diam tiba-tiba bergetar di atas meja. Nama "Mas Farhan" tertera jelas di layar. Jantungnya berdegup kencang, namun ia hanya memandangi layar itu tanpa berniat mengangkatnya. Setelah beberapa saat, getaran itu berhenti, disusul notifikasi pesan singkat masuk.
"Kenapa nggak diangkat? Aku mau kasih tahu, aku pulang besok sore kalau nggak ada halangan."
Amira tersenyum getir. Bahkan dalam pesan singkat, tak ada tanya kabar, tak ada perhatian. Hanya pemberitahuan singkat, seolah ia bukan istri, melainkan penghuni asing yang sekadar numpang tinggal. Ia membalas dengan satu kata singkat, lalu mematikan layar ponselnya.
"Iya, Mas."
Ia bangkit berdiri, memandangi seluruh sudut ruangan. Tak ada lagi foto wajah mereka yang tersenyum bahagia. Tak ada lagi lampu terang yang membuatnya berharap. Semua telah dikembalikan seperti keadaan semula, sama seperti posisinya di sini kembali menjadi orang luar yang menghormati batas wilayah suaminya.
"Ayo kita makan malam. Besok kita lanjutin beres-beres barang-barang lain dan mengganti cat rumah bagian depan yang sempat diganti warna," ucap Amira, suaranya lebih tegas dan tenang, seolah beban berat perlahan mulai terlepas meski hatinya masih terasa perih.
"Cat juga, Kak?" tanya Amara penasaran.
Amira mengangguk. "Iya. Untung waktu itu Mas Farhan nggak setuju diganti semua, jadi pengerjaan lebih cepat karena cuma bagian depan dan ruang tamu aja."
"Mas Farhan nggak suka ya, Kak, rumahnya kita acak-acak?" tanya Amara polos.
"Enggak kok, Mas Farhan suka-suka aja. Cuma setelah dipikir-pikir, bagusan yang awal. Kamu tahu sendiri, selera orang kaya beda sama kita."
"Iya, bener juga yang Kakak bilang. Oiya, kapan kita tidur di rumah kita, Kak?" tanya Amara, merindukan suasana rumahnya.
"Hmm, besok aja gimana?"
"Ok, aku setuju."
Di luar, langit semakin gelap. Dan di dalam rumah itu, cahaya temaram tetap menyala, menjadi saksi bisu perubahan Amira yang mulai belajar menerima kenyataan.
Malam ini, Amira ingin tidur nyenyak, melupakan banyak hal yang kemarin dia lihat. Ia akan belajar memaafkan, mengikhlaskan apa pun yang akan terjadi ke depannya. Sebelum itu, dia ingin menghabiskan airmatanya, agar nanti saat berhadapan dengan suaminya, tidak ada lagi kesedihan itu semoga.