"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.
Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Distorsi Masa Lalu
Senin pagi di kampus berasa beda banget. Gua jalan di selasar Fakultas Akuntansi dengan kepala tegak.
Bukan cuma karena riset "Harmoni Nada" yang sukses besar, tapi karena ada jaket flanel Dedik yang tersampir di pundak gua, semacam "pernyataan kepemilikan" yang nggak tertulis.
Gua janjian sama Dedik di depan Lab Komputer jam sepuluh buat ketemu Pak Dekan. Pas gua nyampe di sana, gua liat Dedik udah nunggu.
Dia pake kemeja rapi, kacamata hitamnya nangkring di hidung, tapi begitu dia liat gua, ekspresinya langsung melunak.
"Telat 120 detik, Rey," sapa Dedik sambil ngetuk jam tangannya.
"Dih, masih aja diitung! Tadi macet di depan gerbang, banyak wartawan kampus tau," jawab gua sambil nyengir.
Dedik ngeraih tangan gua, terus digenggam erat. "Logikanya, kalau lo telat karena faktor eksternal, gua bisa maklumin. Ayo, Pak Dekan udah nunggu."
Kita jalan bareng masuk ke gedung Dekanat. Tapi, baru aja kita mau ngelewatin pintu utama, langkah Dedik mendadak berenti. Badannya kaku banget, kayak sistem yang mendadak kena Blue Screen of Death.
Gua nengok ke arah pandangan dia. Di lobby Dekanat, berdiri seorang cewek yang penampilannya bener-bener... wow.
Dia pake setelan blazer putih yang sangat pas di badannya, rambutnya lurus panjang berkilau, dan dia lagi ngobrol santai sama salah satu dosen senior.
Cewek itu nengok, dan begitu matanya ketemu sama mata Dedik, dia senyum lebar. Senyum yang kelihatan sangat cerdas sekaligus intim.
"Dedik?" panggil cewek itu. Suaranya halus, tenang, dan punya nada otoritas yang alami.
Cewek itu jalan mendekat ke arah kita. Langkah kakinya kedengeran tegas di lantai marmer. Begitu dia nyampe di depan kita, aromanya.... bau parfum mahal yang sangat elegan langsung nutupin bau keringat kampus di sekitar kita.
"Clarissa?" suara Dedik kedengeran serak, kayak nggak percaya sama apa yang dia liat.
"Ternyata algoritma nasib emang selalu nemuin jalan buat kita ketemu lagi ya," kata cewek itu, Clarissa. Dia nggak ngeliat gua sama sekali, matanya cuma terkunci ke Dedik.
"Selamat ya atas riset bambu kuningnya. Aku udah baca jurnal singkatnya di Singapura kemarin. Sangat... kamu banget."
Dedik benerin letak kacamatanya, sebuah gerakan refleks yang gua tau dia lakuin kalau dia lagi merasa terintimidasi atau bingung. "Ngapain lo balik ke sini, Cla? Bukannya lo lagi ambil program Fast-Track di NUS?"
"Programnya udah kelar lebih cepet dari jadwal. Dan pas aku denger kamu lagi ngerjain proyek besar yang berhubungan sama paten internasional, aku mikir... siapa lagi yang bisa bantu urusan legalitas dan optimalisasi data kamu kalau bukan aku?"
Clarissa ketawa pelan, terus dia nyentuh lengan kemeja Dedik dengan jari-jarinya yang lentik. "Kita kan tim olimpiade matematika terbaik yang pernah dimiliki kampus ini, inget?"
Gua ngerasa kayak jadi pajangan di sana. Gua remes ujung jaket flanel Dedik yang gua pake. "Ehem... Ded?"
Dedik kayak baru sadar dari hipnotis. Dia langsung nengok ke gua, terus nengok lagi ke Clarissa. "Oh, Cla, kenalin. Ini Reyna. Partner riset gua sekaligus... cewek gua."
Clarissa akhirnya nengok ke arah gua. Dia ngeliatin gua dari ujung kepala sampe ujung kaki, terus matanya berenti di jaket flanel Dedik yang gua pake. Dia tersenyum, tapi senyumnya nggak nyampe ke mata.
"Ah, Reyna. Vokalis itu ya?" Clarissa ngulurin tangannya. "Gua Clarissa. Mantan partner Dedik di hampir semua kompetisi nasional."
"Gua udah denger suara lo di rekaman festival kemarin. Bagus, sangat... intuitif. Tapi buat urusan teknis kedepannya, Dedik butuh bantuan yang lebih... presisi."
Gua jabat tangannya. Tangannya dingin. "Gua Reyna. Dan soal presisi, gua rasa kita berdua udah ngebuktiin kalau 'intuisi' gua dan logika Dedik adalah kombinasi paling sempurna buat riset ini."
Clarissa angkat bahu dengan elegan. "Kombinasi yang menarik buat panggung kampus, Rey. Tapi buat industri global? Kita liat aja nanti."
Clarissa nengok balik ke Dedik. "Ded, aku udah ditunjuk Pak Dekan buat jadi konsultan ahli pendamping untuk urusan paten internasional 'Harmoni Nada'. Jadi, mulai besok, kita bakal sering ketemu di Lab. Kayak dulu lagi."
Clarissa ngedipin matanya ke Dedik, terus jalan ngelewatin kita dengan langkah anggun menuju ruangan Pak Dekan.
Suasana mendadak jadi dingin. Gua ngelepas genggaman tangan Dedik.
"Partner lama lo?" tanya gua, suara gua mulai kedengeran nggak enak.
Dedik ngehela napas panjang, dia narik rambutnya ke belakang. "Cla itu... variabel masa lalu yang paling susah gua hapus datanya, Rey."
"Kita menang banyak kompetisi bareng. Dia satu-satunya orang yang bisa ngikutin kecepatan koding gua tanpa gua harus jelasin banyak hal."
"Dan dia mantan lo juga, kan?" cecar gua.
Dedik diem sebentar. "Secara teknis... iya. Kita sempet 'sinkron' selama dua tahun sebelum dia pindah ke Singapura. Tapi itu udah masa lalu, Rey. Gua nggak tau kalau Pak Dekan bakal narik dia jadi konsultan."
"Logikanya, Ded... dia balik ke sini bukan cuma buat urusan paten," gua natap Dedik tajem. "Gua bisa ngerasain frekuensinya. Dia mau ngebajak sistem kita. Dia mau ngebajak lo."
Dedik ngeraih bahu gua, nyoba buat nenangin.
"Rey, dengerin gua. Di riset ini, lo adalah jantungnya. Suara lo nggak bisa digantiin. Clarissa cuma urusan teknis dan legalitas. Jangan biarin variabel luar ngerusak sistem kita yang udah stabil."
Gua cuma diem. Gua tau Dedik jujur, tapi ngelihat cara Clarissa natap Dedik tadi... gua tau ini bakal jadi ujian yang lebih berat daripada mafia korporat mana pun.
Karena musuh gua kali ini bukan orang jahat berjaket kulit. Tapi seorang bidadari jenius yang punya sejarah panjang sama cowok gua.
***
Clarissa resmi bergabung sebagai konsultan paten, membuat dia punya alasan logis untuk menghabiskan waktu berjam-jam bersama Dedik di Lab.
Sementara itu, Reyna mulai merasa "terpinggirkan" karena pembicaraan teknis Dedik dan Clarissa yang sangat tinggi.
Apakah Reyna akan tetap bertahan dengan intuisinya, atau Clarissa berhasil membuktikan bahwa Reyna hanyalah 'variabel sementara' dalam hidup Dedik?