Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.
Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.
Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 : Jebakan Tak Terlihat dan Meja Nomor Tiga
Elleanor menatap kursi kosong di sebelah Jayden seolah benda itu terbuat dari paku berkarat. Sifat barbarnya mendesak untuk menendang kursi itu sampai hancur, namun tatapan puluhan pasang mata anak-anak VULTURES di dalam kelas membuatnya sadar: jika ia memicu baku hantam sekarang, situasinya hanya akan menguntungkan Jayden yang punya kuasa penuh di ruangan ini.
"Gua mending duduk di lantai daripada harus duduk di sebelah cowok manipulatif kayak lo," desis Elle tajam.
Ia memutar tubuhnya, melangkah ke barisan paling depan dan menarik sebuah kursi kosong di dekat meja guru. Elle menghempaskan tubuhnya di sana, melipat tangan di dada, dan sengaja memasang wajah paling judes yang ia miliki.
Erlan yang melihat itu langsung menoleh ke arah Jayden, menahan tawa sampai bahunya bergetar. "Bos, kayaknya umpan lo dikunyah tapi pancingnya dibuang tuh. Si bule jinak-jinak merpati amat."
Jayden tidak marah. Ia kembali menduduki kursinya dengan tenang, menyandarkan punggungnya sambil terus menatap punggung Elle dari kejauhan. Netra hitamnya berkilat penuh teka-teki. "Biarkan aja dulu. Dia cuma butuh waktu buat sadar kalau gak ada tempat lari di kelas ini," ucap Jayden lirih, suaranya teredam oleh bel masuk yang tiba-tiba berbunyi nyaring.
Jam pelajaran pertama diisi oleh Pak prabowo, guru matematika LHS yang terkenal tegas dan tidak suka basa-basi. Selama dua jam penuh, atmosfer kelas XI-IPA 3 berjalan di bawah tekanan ganda. Di satu sisi, materi kalkulus yang rumit membuat kepala Elle pening, dan di sisi lain, ia bisa merasakan sepasang mata tajam dari sudut belakang kelas tidak pernah lepas menguliti punggungnya. Tatapan Jayden terasa begitu nyata, pekat, dan seolah mengikatnya dari kejauhan.
Begitu bel istirahat berbunyi, Elle adalah orang pertama yang berdiri dari kursinya. Ia menyambar dompetnya, berniat menemui Soraya dan Keysha untuk menjernihkan pikirannya yang mulai stres.
Namun, baru saja Elle melangkah keluar pintu kelas, langkahnya langsung terhenti oleh kehadiran Haikal yang sudah berdiri di koridor sambil menyodorkan sebuah ponsel berwarna putih dengan casing berlogo sirkuit balap Amerika.
Ponsel milik Elle.
"Nih, El. Pawang lo minta gua balikin ini ke lo," ucap Haikal dengan cengiran khasnya.
Elle merebut ponsel itu dengan kasar. "Akhirnya! Bilang sama ketua lo yang mukanya kayak tembok itu, makasih karena udah sadar kalau nyuri barang orang itu dosa!"
Elle segera menyalakan ponselnya, berniat menghubungi Alka atau abangnya untuk mengadu tentang pemindahan kelas gila ini. Namun, senyum di wajah Elle lenyap seketika begitu ia memeriksa daftar kontaknya.
Nomor Alka, Nalendra, bahkan nomor kontak Kenzie dan Kenzo tidak bisa dihubungi. Saat ia memeriksa aplikasi pesan, seluruh riwayat obrolannya kosong bersih. Ketika ia mencoba mengetik nomor abangnya secara manual, sebuah peringatan sistem muncul di layar: Akses Panggilan Keluar Dibatasi Oleh Administrator.
"Haikal!!! Ini apa-apaan?!" amuk Elle, menatap Haikal dengan pandangan membunuh.
Haikal langsung mengangkat kedua tangannya, mundur satu langkah dengan wajah panik. "Sumpah, El, jangan liat gua kayak gitu! Gua cuma jalanin perintah sistem. Si Jayden yang minta ponsel lo di-rooting ulang. Sekarang, ponsel lo cuma bisa ngirim pesan dan telepon ke satu nomor doang."
"Nomor siapa?!" desis Elle, giginya bergemertak menahan amarah yang sudah di ubun-ubun.
Haikal menunjuk ke arah dalam kelas menggunakan jempolnya. Di dalam sana, Jayden sedang berjalan keluar dengan santai, memegang ponsel hitamnya sendiri di tangan kanan. Cowok itu berhenti tepat di depan Elle, menatap gadis itu dengan pandangan posesif yang begitu pekat.
"Nomor gua, Elleanor," jawab Jayden dingin, suaranya berat dan mengalun tanpa beban. "Ponsel lo sekarang cuma berfungsi buat hubungi gua. Jadi, kalau lo butuh apa pun, lo gak punya pilihan selain manggil gua."
Elle mengepalkan tangannya kuat-kuat, napasnya memburu cepat. "Lo bener-bener psikopat, Jayden! Lo pikir lo bisa ngontrol seluruh hidup gua?!"
"Gua gak ngontrol hidup lo. Gua cuma membatasi ruang gerak lo biar serigala jalanan itu gak bisa nemuin lo lagi," balas Jayden tenang. Tangan kirinya bergerak maju, mencengkeram dagu Elle dengan lembut namun mengunci, memaksa gadis itu untuk mendongak menatap langsung ke dalam netra hitamnya yang gelap. "Mulai sekarang, dunianya lo cuma ada di sekitar gua. Paham?"
Elle menyentak wajahnya kasar, melepaskan cengkeraman tangan Jayden pada dagunya. Ia menatap Jayden dengan kilat mata penuh kebencian dan perlawanan. "Gua gak bakal pernah tunduk sama lo, Jayden. Inget kata-kata gua, gua bakal hancurin sangkar gila lo ini!"
Setelah meluapkan kemarahannya, Elle berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju koridor luar, meninggalkan Jayden yang masih berdiri diam di tempatnya.
Erlan dan Shaka berjalan mendekati Jayden, menatap punggung Elle yang perlahan menghilang di belokan koridor.
"Bos, lo gak takut dia beneran nekat kabur dari sekolah lewat gerbang belakang?" tanya Erlan agak khawatir melihat ledakan amarah Elle yang tidak main-main.
Jayden menurunkan tangannya ke dalam saku celana, sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringai tipis yang dingin dan sarat akan obsesi yang mutlak.
"Dia gak bakal bisa keluar, Lan. Semua anak buah Vultures di gerbang belakang udah gua perintahin buat jaga. Ke mana pun dia pergi siang ini, dia bakal tetep balik ke meja nomor tiga di samping gua," ucap Jayden dengan suara rendah yang begitu mengerikan. Poros obsesinya kini telah mengunci Elleanor sepenuhnya, dan Jayden tidak akan membiarkan mangsanya lepas, bahkan jika ia harus mengunci seluruh sekolah ini demi gadis itu.