NovelToon NovelToon
Tolong Sayangi Aku

Tolong Sayangi Aku

Status: tamat
Genre:Dunia Masa Depan / Balas Dendam / Ketos / Tamat
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: canny***

"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Hukum Tabur Tuai

Tepat pukul dua dini hari, ketika hujan di luar berganti menjadi gerimis yang tipis, kediaman mewah keluarga Ranisatya dikepung oleh tiga mobil patroli polisi dengan sirine yang sengaja dimatikan. Lampu rotator biru yang berputar-putar di dinding pagar marmer rumah itu menjadi penanda bahwa pelarian Kaila telah mencapai ujungnya.

Tok! Tok! Tok!

Pintu jati setinggi tiga meter itu digedor kasar. Ayah Kaila, Baskoro, membuka pintu dengan wajah kusut dan mata merah karena kurang tidur. Di belakangnya, Kaila berdiri gemetar sambil memeluk sebuah boneka beruang besar, matanya sembab setelah berjam-jam menangis melihat kehancuran namanya di media sosial.

"Selamat malam, Pak Baskoro," ucap seorang kompol yang memimpin operasi malam itu dengan tegas, menunjukkan sebuah map dokumen berlogo kepolisian. "Kami membawa Surat Perintah Penangkapan atas nama Kaila Ranisatya terkait kasus kekerasan fisik secara bersama-sama dan perundungan berat terhadap anak di bawah umur."

"Pak, tolong... anak saya masih di bawah umur! Kita bisa bicarakan ini baik-baik melalui jalur kekeluargaan!" Baskoro mencoba menahan tubuh polisi yang hendak masuk. "Saya ini anggota dewan, kita bisa—"

"Maaf, Pak Baskoro," potong Kompol itu dingin. "Perintah ini turun langsung dari Kepolisian Pusat, dan pelapornya adalah Tenggara Group. Tidak ada jalur damai atau penangguhan penahanan. Bawa tersangka sekarang."

Dua polwan melangkah masuk, langsung menarik tangan Kaila dan memasangkan borgol besi di pergelangan tangannya yang mungil. Boneka beruang yang ia peluk jatuh ke lantai kotor.

"Papa! Tolong Kaila, Pa! Kaila nggak mau dipenjara! Arvin... Arvin jahat, Pa!" jerit Kaila histeris saat tubuhnya diseret keluar rumah menuju mobil tahanan.

Tetangga sekitar mulai membuka jendela, beberapa wartawan lokal yang sudah mencium bau berita ini dari unggahan anonim Juna mulai mengambil foto dengan kilatan flash yang menyilaukan.

Di dalam mobil patroli yang dingin, Kaila akhirnya sadar bahwa dunia yang ia bangun dengan keangkuhan, uang, dan status sosial ayahnya telah runtuh dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Dan orang yang meruntuhkannya adalah keluarga yang selama ini ia anggap menelantarkan Aurora.

Sementara itu, di Rumah Sakit Pusat Tenggara, suasana di dalam ruang ICU kembali menegang. Bukannya membaik setelah cairan di kantung jantungnya dikeluarkan, grafik pada monitor Ventricular Assist Device (VAD)—pompa mekanis yang dipasang pada bilik jantung Aurora—justru menunjukkan indikator warna kuning yang berkedip cepat.

Bip... Bip... Bip... Warning: High Output Resistance.

Profesor Gunawan segera masuk ke dalam ruangan bersama tim teknisi medis. Wajahnya mengeras saat memeriksa hasil laboratorium darah terbaru yang baru saja keluar dari mesin sentrifugasi.

"Terjadi reaksi penolakan akut (acute rejection)," ucap Profesor Gunawan dengan suara serak. "Tubuh Aurora menganggap pipa kanula dari alat VAD ini sebagai benda asing yang harus dilawan. Antibodinya menyerang jaringan di sekitar area implan. Sel darah putihnya melonjak drastis."

Arvin, yang duduk di kursi sudut ruangan setelah dilarang mendekati ranjang, langsung berdiri. "Maksudnya gimana, Dok? Alat itu nggak berfungsi?"

"Alatnya berfungsi dengan sangat baik, Arvin. Tapi tubuh adimu yang menolaknya," jawab Profesor Gunawan sambil menyuntikkan obat imunosupresan dosis tinggi ke dalam selang infus Aurora. "

Jika kita mempertahankan alat ini, tubuhnya akan mengalami syok anafilaktik. Tapi jika kita melepas alat ini... jantungnya yang kaku tidak akan kuat memompa darah sendirian lebih dari beberapa jam."

Eros dan Juna yang baru saja kembali dari mengurus administrasi hukum Kaila terpaku di ambang pintu. Mereka baru saja berhasil membalaskan dendam Aurora di dunia luar, namun di dalam ruangan ini, musuh mereka bukanlah manusia yang bisa mereka hancurkan dengan kekuasaan atau uang. Musuh mereka adalah raga Aurora sendiri yang tampaknya sudah menyerah dan ingin segera pergi.

"Ra..." Arvin berjalan mendekati ranjang, mengabaikan larangan perawat. Ia menatap wajah Aurora yang kini mulai dipenuhi bintik-bintik merah—reaksi alergi berat akibat penolakan alat medis tersebut. "Gue mohon... bertahan, Ra. Cewek yang hancurin lo di sekolah sudah ditangkap. Dia sudah bayar semuanya. Lo harus bangun buat liat dia nangis-nangis minta maaf sama lo."

Air mata Arvin jatuh tepat di atas punggung tangan Aurora. Di bawah pengaruh obat-obatan dan koma medisnya, kesadaran Aurora berada di ambang garis tipis. Di dalam benaknya yang sunyi, bayangan ibunya, Amalia, yang tadi melambaikan tangan di padang kabut perlahan-lahan mulai memudar, digantikan oleh suara tangisan Arvin yang terus bergema memanggil namanya.

Aurora tidak tahu siapa Arvin dalam ingatannya yang hilang, tapi rasa hangat dari air mata yang membasahi kulitnya membuat jiwanya yang hampir pergi kembali tertahan. Sebuah tarikan napas yang berat dan patah-patah keluar dari dada Aurora, membuat monitor jantung kembali berbunyi dengan irama yang sedikit lebih stabil, meskipun tetap berada di bawah garis normal.

"Dia bertahan..." bisik Juna, matanya menatap angka saturasi oksigen yang perlahan naik dari 78 ke 85. "Dia masih mau berjuang, Kak."

Eros berjalan mendekat, berdiri di sisi lain ranjang dan meletakkan tangannya di atas kepala Aurora, mengusap rambut adiknya dengan kelembutan seorang kakak sulung yang selama ini hilang.

"Tetap di sini, Aurora. Kakak janji... setelah kamu bangun, tidak akan ada lagi air mata di rumah kita. Kamar gelapmu sudah Kakak bongkar, Kakak sudah siapkan kamar baru yang penuh dengan jendela agar kamu bisa melihat matahari setiap pagi."

Di luar ruangan, Bramantyo Tenggara duduk sendirian di kursi koridor, memandangi foto tua di tangannya yang kini sudah mulai kusut. Pria itu tidak berani masuk. Ia merasa tangannya yang penuh dengan dosa pengabaian selama belasan tahun terlalu kotor untuk menyentuh tubuh suci putrinya yang sedang sekarat. Ia hanya bisa berdoa dalam hati—sebuah hal yang sudah puluhan tahun tidak pernah ia lakukan—meminta pada Tuhan agar tidak mengambil satu-satunya peninggalan Amalia yang tersisa sebelum ia sempat mendengar kata "Papa" keluar dari bibir putrinya dengan nada sayang, bukan ketakutan.

1
Emily
seharusnya kalian keluarga bramantyio juga sebagai tersangka terutama biang kerok si bramantyio
Emily
wah ini bpak nya bisa di kenakan pasal menelantarkan anak
Emily
bapaknya biang keroknya udah tua Bangka kelakuan macam iblis
Emily
salah lu sendiri nyet
Emily
pesong
Emily
keluarga goblok gak waras pikirannya sinting penampilan aja mentereng
Emily
wah keluarga odgj kah
Emily
apa itu keluarga psikopat dgn anak dan saudara kandung berperilaku kejam
ArchaBeryl
Terimakasih kak untuk ceritanya
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭🥹🥹🥹🥹
Neneng Lesmana
sedih
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭😭😭
ArchaBeryl
Alur ceritanya bagus kak
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹
ArchaBeryl: Pastinya kak💪💪💪
total 1 replies
ArchaBeryl
sedih pakek banget😭😭😭😭
syina chan
hi
ArchaBeryl
sedih kak🥹🥹🥹🥹🥹
ArchaBeryl
lanjut kak tetap semangat 💪💪💪
ArchaBeryl
lanjut kak penasaran
ArchaBeryl
mana lanjutnya kak
merry
hbs in hdp dgn baik Rora nikmati kekayaan kluarga mu 😄😄😄 ,,, ksh kesempatan buat abng mu Bpk mu yg bodoh Percy takhayul itu wlpun gk mudah ya 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!