NovelToon NovelToon
Putri Quraisy Dari Masa Depan

Putri Quraisy Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27 Mila

BAB 27

"KAKAAAAAK!"

Suaraku melengking panjang, membelah suara derasnya air sungai.

Semuanya terjadi di depan mataku, tapi entah kenapa rasanya bergerak sangat lambat. Tubuh Kak Qatilah terhuyung mundur. Ia tak mengeluarkan suara sama sekali. Jatuh berdebum begitu saja ke atas tanah berbatu.

Ada sebatang anak panah menancap di perutnya.

Mula-mula hanya noda kecil. Tapi dengan cepat, warna merah pekat menyembur keluar dari luka itu, terus merembes dan memakan warna jubahnya. Bau anyir darah yang sangat tajam langsung menguar di udara. Bau itu menusuk hidungku, mengusir bau segar air sungai dan dinginnya es.

Lututku lemas. Aku jatuh berlutut di atas kerikil tajam, tapi aku tidak merasakan sakit. Tanganku yang mendadak sedingin es terulur, menyentuh bahu Kakak dengan gemetar. Aku mengguncangnya pelan.

"Kak... Kakak, bangun..." bisikku, suaraku nyaris tak terdengar.

Tapi Kak Qatilah diam saja. Matanya terpejam rapat. Wajahnya yang selalu hangat saat menyisir rambutku sekarang berubah sangat pucat, seputih salju di sekitarnya.

Otakku tiba-tiba berhenti bekerja. Aku hanya diam menatap wajahnya. Ini salah. Kakak sangat pintar, Kakak selalu tahu cara agar kami aman. Kakak tidak mungkin berdarah. Kakak tidak mungkin tidur di atas tanah beku seperti ini.

Di sebelahku, Tante Ruth menjerit histeris. Ia menangis keras, merangkul tubuh Kakak dengan panik. Tante Ruth menoleh padaku, wajahnya basah oleh air mata.

"Qatilah! Tidak, tidak, Nona, bertahanlah!" Tante Ruth mengguncang tubuh Kakak, lalu menarik lenganku dengan tangan gemetar. "Mila! Kita harus bawa Qatilah pulang! Kita harus..."

Kata-katanya terputus. Wanita hamil itu mematung. Matanya melotot menatap lurus ke depan.

Perlahan, aku ikut mengangkat wajahku. Di seberang sungai, orang-orang asing berpakaian tebal mulai turun ke air. Mereka memegang busur dan menuntun kuda-kuda mereka, berjalan menyeberang menembus aliran sungai ke arah kami. Mereka tidak terlihat menyesal. Di saat mataku masih menatap sungai, telingaku yang tajam menangkap suara lain.

Srak... krak...

Suara langkah sepatu menginjak kerikil. Sangat dekat.

Aku menoleh ke belakang. Dari balik tumpukan batu besar tempat kami berdiri, empat pria bertubuh besar dengan mantel kotor keluar dari persembunyian mereka. Rupanya mereka sudah menunggu kami. Orang-orang di seberang sungai hanyalah sebagian dari mereka. Bau keringat asam dan kulit hewan yang basah tercium olehku. Mereka memegang pedang besi. Mereka menyeringai jelek saat melihat kami berdua tak berdaya.

"Pergi!!" jerit Tante Ruth. Ia langsung membalikkan badan, memeluk tubuh Kak Qatilah erat-erat untuk melindunginya dari orang-orang itu. Tante Ruth menatap mereka dengan wajah pucat penuh air mata, lalu menoleh padaku. "Mila, lari! Tinggalkan kami, cepat lari!"

Tapi aku tidak akan lari.

Melihat tangan-tangan kotor orang asing itu terulur hendak mengambil Tante Ruth dan merenggut Kakak, kewarasanku putus total.

Tangisan yang tadi menggenang di pelupuk mataku hilang. Rasa syok yang sedari tadi membekukan otakku menguap. Rasa takut itu mendadak terbakar menjadi kemarahan. Sebagai gantinya, hawa panas meledak dari dasar perutku, merambat naik membakar leher dan wajahku.

Jantungku berdebar sangat keras hingga dadaku sakit.

Dug-dug-dug!

Darahku mendidih. Gigiku bergemeretak merapat kuat. Sebuah geraman panjang bergema dari dasar tenggorokanku. Persis seperti suara serigala saat sarangnya diinjak.

"JANGAN SENTUH DIA!!!"

Aku mengaum sekeras mungkin dan melompat maju.

Pria pertama yang paling dekat denganku tersentak kaget. Dia tidak menyangka anak kecil akan menerjangnya. Tapi dia pria besar yang terbiasa berkelahi. Dia langsung memasang kuda-kuda dan mengayunkan pedang besinya untuk menahanku.

Aku tidak berhenti. Saat pedangnya turun, aku menghantam bagian samping bilah pedang itu sekuat tenaga hingga senjatanya terlepas dari genggamannya. Pria itu melotot kaget. Dia buru-buru mengulurkan kedua tangannya yang besar untuk mencekik leherku.

Aku menunduk cepat ke bawah lengannya, lalu melompat ke atas. Aku mengayunkan kepalan tanganku tepat ke tengah wajahnya.

BAM!

Suara tulang wajah yang remuk terdengar sangat keras. Getarannya terasa sampai ke tulang tanganku. Tenagaku melontarkan pria dewasa itu ke udara. Tubuhnya terlempar mundur, kepalanya menghantam batu sungai, lalu dia jatuh ke tanah dan tak bergerak lagi.

Ketiga pria itu langsung berhenti. Wajah mereka memucat. Salah satu bahkan tanpa sadar melangkah dua langkah ke belakang. Tante Ruth membelalakkan matanya yang sembab, sama terkejutnya melihat manusia sebesar itu hancur oleh satu pukulanku.

"Apa-apaan anak ini?!" teriak salah satu dari pria itu, suaranya bergetar.

Namun keterkejutan mereka hanya sesaat. Naluri mereka sebagai pemburu lebih cepat daripada rasa takut. Salah satu pria segera menyergap Tante Ruth, mencengkeram lengan wanita hamil itu dan menariknya paksa hingga ia terseret.

"Lepaskan! Lepaskan aku!" Tante Ruth memberontak, menendang dan memukul tangan pria itu sekuat tenaga, tapi kekuatannya tak sebanding.

"Pemimpin!" teriak pria lainnya ke arah sungai.

Suara tapak kuda memecah air. Tiga pria dari seberang sungai akhirnya sampai di tepi bebatuan kami. Pria yang menunggang kuda paling depan melompat turun. Gerakannya tenang. Matanya sedingin air es. Dia tidak terlihat takut sama sekali melihat temannya yang terkapar.

"Bawa wanita hamil dan gadis yang terluka itu," perintah si Pemimpin datar. Pedang panjang ditarik dari sarungnya, suaranya bergesekan tajam. "Biar aku yang mengurus monster kecil ini."

Mendengar perintah itu, anak buahnya langsung mengikat tangan Tante Ruth yang masih meronta. Pria yang lain dengan kasar menarik jubah Kak Qatilah, mengangkat tubuh Kakak yang penuh darah dari atas tanah.

"Mila! Tidak, tinggalkan dia! MILAAA!" jerit Tante Ruth histeris saat tubuhnya diseret menuju sungai.

Aku mengaum marah. Aku tidak akan membiarkan mereka! Aku merangsek maju untuk menghancurkan kepala mereka, tapi pria Pemimpin itu melangkah cepat dan berdiri menghalangi jalanku.

Aku mengayunkan tinjuku lurus ke arah perutnya sekuat tenaga. Namun, dia tidak ada di sana. Dengan gerakan yang sangat gesit, dia hanya memiringkan pinggangnya. Pukulanku mengenai angin dan menghantam telak bongkahan batu sungai di belakangnya.

Dum Krak!

Batu besar itu pecah berkeping-keping. Rasa sakit menyambar hingga ke bahuku. Tulang-tulang jariku seperti retak, tapi aku tidak peduli.

Mata si Pemimpin membelalak kaget melihat batu yang hancur. Tapi dia tidak mundur.

"Luar biasa..." gumamnya pelan.

"Tidak hanya menangkap panahku, bahkan pukulanmu bisa menghancurkan batu sebesar ini."

Pegangannya pada pedang semakin kuat. Aku memukulnya lagi, berkali-kali dengan membabi buta. Namun dia terlalu cepat. Dia menari ke kiri dan ke kanan, menggunakan pedangnya untuk menangkis pukulanku hingga lenganku tergores dan berdarah.

"Hentikan! Kumohon, jangan sakiti dia! Dia masih anak-anak!" tangis Tante Ruth pecah dari arah belakang. Ia memohon dengan suara serak, tapi para pria itu tidak peduli dan terus menyeretnya menyeberangi air es menuju kuda.

"Kembalikaaan!" raungku putus asa.

Aku memaksa maju menembus senjatanya, merelakan bahuku teriris ujung pedangnya, dan akhirnya berhasil memukul pinggang si Pemimpin dengan keras.

Bugh!

Pria itu tersedak. Dia memuntahkan air liur dari mulutnya. Wajahnya yang tenang seketika berubah menjadi sangat menyeramkan, penuh amarah.

"Anak sialan..." desisnya.

Sebelum aku bisa menarik tanganku mundur, telapak tangannya yang lebar sudah mencengkeram kerah bajuku. Tenaganya sangat besar. Dia mengangkat tubuhku ke udara. Kakiku tidak menyentuh tanah lagi.

"JANGAN! MILA!" Tante Ruth menjerit melihatku diangkat.

Lalu, si Pemimpin menarikku ke bawah, dan lututnya menghantam telak ke dadaku.

DUAK!

Udara di paru-paruku keluar semua. Napasku putus. Pandanganku seketika memutih. Rasa sakit yang sangat hebat membuat seluruh badanku mati rasa. Aku bahkan tak sanggup untuk menjerit. Mulutku hanya terbuka mencari udara yang tidak ada. Tapi dia tidak berhenti. Saat aku masih melayang lemas di tangannya, sikunya menghantam rahangku. Kepalaku tersentak keras. Telingaku berdenging panjang, menutupi suara jeritan Tante Ruth yang semakin jauh.

Lalu, dia memutar badannya dan menendang perutku dengan tenaga penuh.

Tubuhku terlempar jauh melewati bebatuan dan jatuh ke dalam sungai.

BYURRR!

Air sungai yang membeku seketika menelanku. Rasa dingin merasuk ke tulang, membuat tubuhku kaku. Luka di dada dan kepalaku terasa seperti ditusuk ribuan jarum tajam. Air masuk ke hidung dan tenggorokanku. Aku berusaha meronta. Aku ingin menggerakkan tangan untuk berenang naik. Tapi badanku menolak bergerak. Arus sungai menarikku semakin jauh ke bawah.

Dari dalam air, pandanganku mulai kabur. Melalui riak air di atas sana, aku menangkap bayangan buram dari sisi sungai yang dangkal. Bayangan kuda-kuda yang berbalik arah, memercikkan air sungai, berjalan menjauh. Mereka membawa pergi Tante Ruth yang terus menangis, dan Kak Qatilah yang tak berdaya.

Kakak... jangan bawa Kakak... Kak...

Air mataku bercampur dengan air sungai. Mataku terasa sangat berat. Rasa dingin ini membuatku mengantuk. Aku tidak kuat lagi. Kegelapan perlahan menutup mataku, menyuruhku untuk berhenti dan menyerah.

Namun, tepat di detik mataku akan benar-benar terpejam...

SPLASH!

Air di atasku meledak. Sebuah tangan raksasa yang sangat besar, kasar, dan tak asing menembus air es, mencengkeram lenganku dengan kuat.

1
Eka
agak bosen sih Thor 2 bab dialog semua, walaupun akhirnya banyak yg terungkap 👍
Maya: sabar ya 🤭
total 1 replies
ThuscarRabbit
nih thor bunga 🤭 /Plusone//Rose/
ThuscarRabbit
gw suka ilustrasinya
Maya: makacih 😄
total 1 replies
ThuscarRabbit
pasti gatel geli geli 🤣
ThuscarRabbit
Bagus sih, isekai tema timur tengah
ThuscarRabbit
berani ya authornya bikin isekai model begini but, semangat aja thor 💪, yg penting enggak melenceng dari sejarah asli 🤭
Maya: semoga ya 🤭
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
loh kok? ohhhh maksud nya bab 1 nya di bawah ya? aduhaku bingung🤣
Maya: ooo iya itu 🤭, males ngarang judul 😄
total 3 replies
Eka
Keren Thor di tunggu updetnya
Eka
oh ini ganti POV ya?
Eka
judulnya apa Thor?
Maya: Thats the way it is 😄
total 1 replies
Eka
wajar sih
Eka
🤣🤣🤣🤣🤣
Eka
yg satu kepo GK prnah liat orang tua yg tua cerdik bet kek kancil 🤣
Eka
kasian 🤣
Eka
detail ya juga gambarinnya ya
Eka
buset beda jauh badannya ya😄 padahal di bab brapa gitu yg ada gambarnya juga masih sama kecilnya sama si mc
Eka
oh jadi emang anak kandung si raksasa ya
Eka
time skip lagi
Eka
sebarbar itu emang ya jaman itu
Eka
suka ni udah mulai ada ilustrasi gambarnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!